
From: Stacey: So, bagaimana semalam? Kurasa hasilnya bagus, karena aku tidak mendengar kabarmu sejak tadi malam. Oops!
Aku tersenyum geli lalu dengan cepat melirik ke arah telur yang sedang kumasak di atas kompor untuk memastikan masakanku masih baik-baik saja. Aku menurunkan suhu kompor, kemudian membalas pesan Stacey.
To: Stacey: Sebenarnya.. sangat baik. Kau tahu? Sekarang dia masih tidur di kamarku, dan aku sedang memasak untuk sarapan kami. Belum sanggup membangunkannya..
Stacey membalas secepat kilat.
From: Stacey: OH. MY. GOD! Paul Klug with our little Bianka Becker! Apakah dia hebat?
Aku menahan tawa, tersenyum amat lebar. Aku merasa sangat tenang dan santai pagi ini dan kuputuskan baru akan menyentuh buku saat Paul pergi dari rumahku.
To: Stacey: Rahasia! Sampai jumpa besok, bye..
Tak lama kemudian, satu pesan dari Elise muncul di layar ponselku.
From: Elise: Apa yang dikatakan Stacey itu benar? Well, aku sudah menebaknya ketika membaca ramalan zodiakmu kemarin pagi...
To: Elise: Oh, kalian terlalu berlebihan menganggapi ini, girls... Paul dan aku hanya bersenang-senang untuk semalam. Tidak ada yang spesial, serius deh...
From: Elise: Ya, tapi kau bersama Paul Klug, Bianka! Dia punya daya tarik paling berbahaya, jika kau mengerti maksudku..
"Pelatihku baru saja memajukan jadwal latihan. Aku harus segera pergi..." Terdengar bunyi derap langkah yang cukup keras di tangga, dan aku nyaris melompat dari kursi lalu buru-buru mengunci layar ponsel. Tuhan tidak akan mengijinkan Paul melihat pesan-pesan itu.
Paul memunculkan wajahnya di ambang pintu dapur. Rambutnya basah, sepertinya baru saja mandi. Dia mengenakan celana panjang hitam dan kemeja semalam. Menyaksikan pemandangan seindah itu di pagi hari membuatku ingin menerjangnya lagi.
"Kau sedang menyiapkan sarapan? Ah, kurasa aku harus menginap lebih sering disini." katanya sambil mengedipkan mata genit lalu mendekatiku dan mencium keningku sekilas. Satu tangannya mengusap punggungku, seketika menjalarkan kehangatan di sekujur tubuhku.
Aku terkekeh pelan lalu berdiri dan berjalan ke arah kompor sementara Paul duduk di kursi yang berseberangan denganku. Tatapannya tampak kelaparan memandang roti panggang, kacang, dan beberapa irisan daging dan tomat yang tertata di atas meja.
"Masih ada telur dadar disini." gumamku seraya tersenyum sekilas saat menolehnya.
"Kau tuan rumah yang sangat murah hati, Bianka. Terima kasih."
Aku membelah telur menjadi dua bagian dan meletakkannya di piring kami masing-masing. "Jadi, jam berapa kau harus pergi?" tanyaku selagi kami makan, teringat pada perkataannya saat turun tadi.
Alisnya terangkat ke arahku dengan seringai kecil dan nakal tertarik di sisi bibirnya. "Sepertinya kau ingin aku pergi secepatnya, ya?"
Aku tertawa pelan dan menggelengkan kepala sebagai balasan. "Yah, maksudku, sepertinya kau ingin memakan sarapanku juga, jadi aku harus menjaga makananku tetap utuh..."
"Kau sendiri makanan yang cukup lezat, Bianka. Apa kau tahu itu?"
Alisku terangkat tinggi-tinggi menatapnya, terkejut dengan ucapannya yang tiba-tiba. "Oh, ya? Apa artinya itu?"
"Tentu saja dalam arti seksual, Rapunzel." Dia menyeringai sementara aku menikmati caranya menggodaku.
Aku tersenyum. "Oke. Ganti topik." Aku tahu kemana ini akan berlanjut dan aku tidak ingin itu terjadi. Kehidupan Paul dan aku sangat berbeda, hubungan kami tidak mungkin bisa lebih dari ini. "Jam berapa kau mulai latihan?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Aku menatapnya dengan rasa ingin tahu selagi dia makan, jelas sangat menikmati kegiatan yang nyaris membuatku selalu tersenyum, menyaksikan bagaimana dia terus melirikku setiap kali ada kesempatan.
"Dua jam lagi. Sebenarnya kami harus berlatih di lapangan yang sudah di tentukan oleh pelatih, dan letaknya bukan di Berlin." Paul mendengus pada kalimat terakhirnya, jelas tidak menyukai hal itu.
"Oh," Aku mengangguk lalu menggigit roti. "Kurasa itu menyenangkan..."
"Ya," balas Paul sambil menatapku lekat-lekat. Sebelah tangannya berada di atas meja sementara tangannya yang lain mengusap tepian piringnya. "Apa aku boleh menemuimu lagi, Bianka?"
Wow. Ini agak... mengejutkan? Sejujurnya aku tidak mengira Paul akan mengatakan itu, dan aku yakin dia bisa melihat reaksiku yang melongo. Aku berdeham. "Uhm.. okay. It would be nice."
Paul menghadiahiku senyum nakal seakan mengatakan 'Buka Pakaianmu Sekarang' lalu dia mengangguk. "Bagus."
Kami mengobrol sambil menghabiskan makanan. Tidak terlalu banyak hal menarik yang kami bicarakan, namun Paul entah bagaimana, selalu bisa membuatku tertawa. Dia benar-benar seorang pria yang menyenangkan.
"Aku benar-benar menikmati sarapan disini. Sekali lagi, terima kasih, Bianka." kata Paul sembari mengumpulkan piring bekas makan kami sebelum aku sempat melakukannya.
Aku membiarkan Paul membawa piring kotor ke wastafel sebelum memasukkannya ke dalam mesin pencuci piring sementara aku membaca pesan masuk di ponselku.
From: Stacey: Apa kau sudah melihat berita? Sebaiknya kau bersiap-siap untuk menerima panggilan darurat dari rumah sakit...
Aku mengerutkan alis, mendadak merasa bingung dan gugup sekaligus membayangkan apa yang sedang terjadi saat ini. Tepat sebelum aku berdiri, aku merasakan Paul memelukku dari belakang. Aku tersentak, menoleh ke belakang dan mendapati dia sedang tersenyum padaku. "Hei, maaf kalau aku membuatmu terkejut."
Aku bernafas dengan gemetar, sama sekali tidak tahu kenapa tubuhku harus bereaksi segila ini tiap kali dia menyentuhku.
Paul tidak menunggu balasanku, dia malah merundukkan kepalanya ke lekuk leherku. Hembusan napas lembut keluar dari mulutku saat bibirnya menyapu kulit sensitif di bawah telingaku. Suatu tempat yang sekarang diketahuinya sebagai titik yang membuatku lemah.
Mataku terpejam ketika dia mulai membuka mulut dan mencium leherku dari belakang, satu tangannya terangkat untuk menyibak rambutku, hingga dia bisa mengakses seluruh permukaan kulit leherku. Aku menyandarkan kepala bahunya, sesaat membiarkan diriku menikmati keintiman yang ditawarkannya.
Kemudian tangannya menyusup ke balik kausku, mengusap perutku sementara serangan bibirnya mulai terasa mematikan.
"Berapa lama kau akan berlatih di luar kota?" kataku gemetar menahan gairah, memilih mengakhiri interaksi nikmat itu sebelum segala sesuatunya menjadi semakin tak terkendali.
Aku beruntung Paul paham maksudku, lalu perlahan menghentikan gerakan tangannya. Dia mencium pipiku beberapa kali sebelum berpindah dan duduk di sebelahku. "Paling lama dua minggu. Pelatih ingin kami benar-benar fokus latihan untuk menghadapi Piala Dunia. Dia takut Prancis menang..." katanya sambil menggelengkan kepala.
Aku tersenyum simpul. "Well, mungkin Prancis akan menang kalau begitu," gumamku menggodanya. "Sayang sekali, kau bukan bagian dari tim mereka."
Paul membulatkan mata. "Ah, kau membuatku kecewa, Rapunzel. Bukankah seharusnya kau mendukung negaramu, dan juga mendukungku?"
Aku tertawa. "Pertama, aku bukan hanya warga negara Jerman. Ingat soal ibuku yang keturunan Indonesia?" Paul mengangguk. "Kedua, kenapa aku harus mendukungmu? Memangnya kau siapa?"
"Well, kita bercinta seperti orang sinting semalam, dan kau menyiapkan sarapan untukku. Bukankah seharusnya itu cukup menjadi alasan kau mendukungku?" balasnya bergurau sambil mengusap pahaku.
Aku menunduk, melihat tangannya sekilas lalu kembali menatapnya. "Sikapmu membuatku semakin yakin mendukung Prancis." kataku dengan nada genit.
"Bianka... kau benar-benar tahu bagaimana cara membuat pria bertekuk lutut." Paul menggeleng pelan.
"Oh, kau terlalu serius... aku hanya bercanda, Paul..." Aku menepuk lengannya pelan seraya tersenyum geli.
"Kau tidak bisa lari begitu saja setelah menggodaku, love." seringai kecil tertarik di sudut bibirnya, rautnya jelas mengatakan dia menginginkan sesuatu.
"Oh, no..." Aku menggelengkan kepala, berjuang mengangkat bokongku dari kursi dan menjauh darinya.
"Oh, yes..." balas Paul, ikut berdiri. Aku yakin dengan posturnya yang besar dan kakinya yang panjang, akan sangat mudah baginya menangkapku jika aku berlari.
Satu-satunya alasan kenapa aku tidak ingin mengulangi kegiatan semalam bersamanya adalah karena aku tahu itu tidak akan berakhir dengan baik. Ditambah lagi, sesuatu sedang terjadi di rumah sakit seperti yang di katakan Stacey, dan mereka pasti membutuhkan bantuanku.
Paul bergerak mendekat dan aku mundur hingga bokongku menyentuh kulkas. "Aku masih punya pengaman, love..." katanya mengingatkan, lalu dengan cepat menyapukan lidahnya ke bibirku, membuatku menyerah. Kemudian dia menarikku lebih dekat ke arahnya.
Ada keadaan darurat dan aku harus segera ke rumah sakit, aku tidak boleh terlihat lemah dengan penampilan kacau karena habis bercinta. Aku harus bisa berpikir jernih, meski aku juga tahu berdekatan Paul merupakan sebuah tantangan besar. Aku bisa merasakan kegembiraannya saat dia mendesakku, dan aku mendesah pelan. Aku menciumnya dengan lembut selama beberapa saat lalu menarik diri kembali ketika dia mulai memperdalam ciumannya.
Kemudian perlahan-lahan aku turun hingga berlutut di hadapannya, membuat Paul mengerang. Sekarang tubuhku terjepit di antara kulkas dan tubuh Paul yang menggiurkan, dengan pelan aku membuka ritsleting celananya dan melepaskan ikat pinggangnya. Aku mendongak untuk melihat matanya yang fokus padaku dan memperhatikan gerak-gerikku sementara kedua lengannya bertumpu pada permukaan kulkas.
"Apa kau sedang melakukan apa yang ada di pikiranku sekarang, Bianka?" Dia tersenyum kecil, dan aku terkikik nyaris tanpa suara. Aku tidak tahu apa yang baru saja kutertawakan, persis seperti yang kulakukan tadi malam.
"Tidak, kau harus membayar untuk ini," balasku bergurau. "Tentu saja aku sedang melakukan apa yang kau inginkan, Paul..."
Jantungku berdegup lebih kencang begitu Paul menyeringai genit padaku. Ya Tuhan... kenapa aku berubah menjadi liar seperti ini?
Tepat sebelum aku menikmati kejantanannya yang keras dan penuh dengan mulutku, radio pemanggil dan ponselku berdering keras memekakkan telinga. Paul menoleh kedua benda itu dengan kening berkerut. "Apa-apaan itu?" gerutunya, kesal karena kesenangannya terganggu.
Aku berdiri, dengan cepat meraih keduanya dan langsung menyadari situasi di rumah sakit pasti benar-benar kacau sekarang, dan aku harus segera kesana.
"Ada apa?" tanya Paul sambil mengenakan kembali celananya.
"Bisakah kau mengantarku ke rumah sakit sekarang?