
From: Travis: Maaf, kemarin aku tidak sempat mengatakan ini di rumah sakit, tapi kuharap perjalananmu menyenangkan!
To: Travis: Thank you!
Aku masih tidak percaya bisa berada di tempat ini sekarang, di dalam sebuah jet mewah yang lebih pantas disebut sebagai lounge pribadi, dimana berbotol-botol minuman berharga fantastis dan berbagai camilan orang kaya teronggok di atas meja. Hanya aku, Valerie, dan Red yang duduk mengisi kabin dalam penerbangan kami ke Rusia.
Semalam, tim nasional Jerman menang melawan Kroasia, yang berarti pertandingan berikutnya mereka akan melawan Portugal atau Prancis, itu baru akan diketahui setelah pertandingan tim nasional kedua negara itu berakhir nanti malam. Menurut penuturan Paul, kemungkinan besar Prancis yang akan menang.
"Uuh, aku pasti mabuk begitu kita mendarat." Red menghela napas ketika seorang pramugari mengisi gelasnya dengan sampanye.
"Jangan khawatir, aku akan menemanimu." kataku sambil tersenyum. "Apakah memang seperti ini rasanya menjalin hubungan dengan pemain sepak bola terkenal? Maksudku, ini agak berlebihan, bukan?"
"Ini jarang terjadi. Piala Dunia merupakan momen pengecualian, terutama setelah tim Jerman melaju ke final." Valerie menjelaskan. "Aku tidak yakin pelatih mereka mau berbaik hati menyediakan untuk kita saat pertandingan pada babak penyisihan, tapi kurasa sekarang dia perlu sesuatu untuk menggempur semangat para pemainnya."
"Apa menurutmu kita bisa menang?" tanyaku.
"He, tentu saja!" seru Red berapi-api, menyesap sampanye. "Hanya itu yang ada di pikiranku."
"Hm, Paul agak tertekan memikirkan mereka akan berhadapan dengan Prancis." gumamku pada mereka berdua. "Bagaimana kalau Jerman kalah?"
"Kita tetap mendapatkan juara dua." Valerie berbicara sambil tersenyum. "Aku tahu mereka akan kecewa, itu terjadi pada Piala Dunia sebelumnya."
"Oh. Kalau begitu, kita perlu memaksimalkan 'kemampuan' kita menyemangati mereka, anggap saja sebagai ungkapan cinta negara." cetusku, menyeringai nakal sambil mengedipkan mata.
Red tertawa sementara Valerie menggelengkan kepala sembari terkekeh pelan. Kemudian tiba-tiba ponselku berdering di atas sofa kulit di sampingku. Telepon dari Paul. "Boleh kuangkat sebentar?" tanyaku pada mereka seraya menggoyangkan ponsel dan meletakkan gelasku.
"Ya, silahkan." jawab Red.
Aku berdiri lalu melangkah ke bagian bagian belakang kabin, dimana terdapat sebuah kamar disana. "Hei," aku tersenyum selagi menyapa Paul dan duduk di tepi ranjang. Sungguh, aku sangat merindukannya.
"Hai, love. Kalian sudah berangkat?"
"Ya. Ini gila, Paul... aku tidak pernah mendapat treatment seperti ini seumur hidup."
Aku mengalami begitu banyak hal-hal baru sejak mengenal Paul. Sebagian kecil dari diriku menyukainya, namun sebagian yang lebih besar membuatku merasa tak pantas. Aku menyukai Paul bukan karena uang atau kemewahan materi yang dia miliki, perasaanku murni hanya padanya.
Paul tergelak. "Kuharap kau menikmati perjalanmu, love."
"Tentu saja. Kau tahu, sampanye disini sangat luar biasa..."
"Oh, benarkah?" Aku membayangkan dia sedang menyeringai senang sekarang. "Kau tidak mabuk, kan?"
"Sama sekali tidak. Hanya sedikit oleng." kataku mengakui. "Aku akan sadar begitu kami mendarat."
"Kira-kira berapa lama lagi penerbangan kalian?" tanya Paul.
"Sekitar satu jam. Apa kau menjemputku?"
"Tidak, aku minta maaf, love." dengkurnya halus. "Aku harus latihan. Tapi, kupikir aku sudah selesai saat kau tiba di hotel. Alfred yang akan menjemputmu."
"Okay."
Paul berdeham sekali. "Aku baru saja hendak sarapan dan meneleponmu sebentar untuk memastikan kau benar-benar datang."
Mulutku melengkung tinggi. "Kau kedengaran semangat sekali. Sudah tidak sabar ingin berjumpa denganku, ya?" gumamku genit menggodanya.
Paul terkekeh. "Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu, Rapunzel. Nikmati penerbanganmu."
"Terima kasih."
***
Sambil tertawa cekikikan, Red, Valerie, dan aku menuruni tangga jet dan berjalan di atas landasan pacu. Tiga mobil mini van hitam sudah menunggu kami disana, dan aku langsung mengenali Alfred yang berdiri di samping salah satu mobil itu.
Aku membalas senyumnya. "Selamat pagi. Senang berjumpa denganmu lagi."
"Aku juga." sahutnya dengan nada riang.
Aku asyik mengobrol dengan Alfred sepanjang perjalanan menuju hotel tempat para pemain menginap. Dia memberitahuku beberapa tempat yang kami lewati sementara pikiranku mulai menjalar kemana-mana.
Tak diragukan lagi, aku sudah jatuh cinta pada Paul, dan itu membuatku takut. Aku tidak pernah jatuh cinta pada seseorang sekeras ini. Kata 'cinta' merupakan sesuatu yang kuat, aku ingin segera mengatakannya pada Paul dan semoga dia juga merasakan hal yang sama.
"Kita sudah sampai, Miss. Pengawal pribadi Mr. Klug akan mengantarmu ke kamarnya." Alfred mengumumkan begitu mobil yang dikendarainya berhenti di area parkir bawah tanah, dimana aku melihat seorang pria yang parasnya cukup familiar. Kuyakin dia pria yang kulihat di bandara saat aku mengantar Paul.
Alfred membantu menurunkan koper kecil milikku lalu menyerahkannya kepada pria itu, yang kemudian kuketahui bernama Pablo. Aku juga baru menyadari ternyata Pablo merupakan salah satu petugas keamanan yang menuntunku di stadion ketika aku menonton sesi latihan Paul bersama Valerie dan Red untuk pertama kalinya.
Pablo tidak terlalu ramah, jadi setelah Alfred meninggalkan kami, aku mengikuti langkahnya ke arah lift dengan tenang.
"Kau keren dengan setelan jas itu." gumamku, mencoba memecah keheningan.
Dia menoleh dengan raut datar. "Terima kasih."
"Apa kau pernah tertembak?"
"Maaf?"
"Oh, maksudku, kau bekerja sebagai bodyguard, siapa tahu kau pernah terjebak dalam situasi..."
"Tidak." sergahnya secepat kilat, kemudian kembali membuang pandangan ke depan.
Postur tubuhnya sangat tinggi dan besar, jelas sekali mampu memberi keuntungan pada bidang pekerjaannya. "Apa kau pernah menonton film Bodyguard?" tanyaku, tersenyum padanya.
Pablo melirik sekilas melalui sudut matanya. "Maaf?"
"Kau tahu..." Aku tergelak menahan geli, kemudian mulai bernyanyi. "And I.... will always... love you..."
Tatapannya tidak beranjak sedikitpun dari pintu lift yang tertutup, namun aku bisa melihat sebaris senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Ya, aku pernah menontonnya. Kami tidak di ijinkan mengobrol secara pribadi dengan klien." katanya, suaranya yang serak menggema di dalam lift.
"Romantis sekali, bukan? Filmnya? Whitney Houston benar-benar mengagumkan disitu." Aku tersenyum mengingat adegan di film itu.
"Bukan salah satu film favoritku."
"Kalau begitu, apa film favoritmu?" tanyaku lagi, tepat saat itu lift melambat diikuti bunyi 'ting', kemudian pintunya perlahan terbuka.
"Sudah sampai." katanya agak ketus sebelum melangkah sambil membawa koperku.
Aku bersenandung pelan dan mengikutinya. Kami berjalan melintasi sebuah koridor yang cukup besar hingga berdiri di depan pintu kamar terakhir. Pablo mengeluarkan kartu akses dari saku celananya lalu membuka pintu. "Silahkan, Miss." Aku meraih pegangan koper dari tangannya, tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Dengan pelan, kututup pintu di belakangku. Koridor di luar tadi benar-benar mewah, tapi tidak cukup jika dibandingkan dengan pemandangan kamarnya. Orang Rusia jelas mengetahui estetika desain ruangan yang mengagumkan.
"Paul?" panggilku, memelankan langkah sambil menarik serta koperku. Melihat kamar hotel Paul yang luar biasa indah dan luas, aku bahkan tidak mampu menebak berapa banyak uang yang dikeluarkan negara untuk membayar hotel ini. Itu belum termasuk akomodasi lainnya.
Tunggu, apa dia disini? Kurasa...
"Bianka?" Aku melompat dan memekik terkejut mendengar suaranya yang tiba-tiba dari belakangku. Aku menoleh, seketika hatiku dipenuhi kelegaan begitu melihat wajahnya. Dia hanya mengenakan selembar handuk melilit pinggulnya.
"Ya ampun, Paul! Kau menakutiku." Aku tergelak seraya menggelengkan kepala.
Satu senyum genit tertarik di sudut bibirnya sementara matanya menatapku lekat. Aku terpana pada pesonanya. "Apa kau tidak ingin memelukku?" tanyanya, membuka kedua tangan lebar-lebar.
Dengan segera, kulepaskan tanganku dari koper dan menghampirinya. Aku menangkup wajahnya, mencium bibirnya dengan serakah sampai rasanya jantungku akan meledak saat ini juga. Paul tersenyum sebelum membalas ciumanku dan menarik pinggulku hingga menempel padanya.
Tak butuh waktu lama sampai gairah kami terpanggil sepenuhnya, kegiatan itu menjadi lebih liar lagi saat aku meremas rambut Paul yang masih basah dengan pelan, membuatku semakin berdenyut tersiksa ketika mendengar geraman tertahan di mulutnya. Paul menarik blouse yang kukenakan, menghentikan ciuman kami sementara untuk melepaskan blouse itu lalu melemparnya ke sembarang arah.
Kemudian, aku menciumnya lagi.