
"Kalau The Bodyguard bukan salah satu film yang kau sukai, lantas film apa yang mampu membuatmu tergila-gila?" tanyaku kepada Pablo, dalam hati berharap bisa lebih mengenalnya pada perjalanan singkat kami di dalam lift.
Dia melirik tanpa memutar kepala. "Aku tak punya waktu untuk menonton."
Aku tergelak sembari menggeleng tak percaya. "Ah, tidak mungkin. Kalau begitu, film apa yang terakhir kali kau tonton?"
Matanya tetap tertuju pada pintu lift dengan tatapan yang keras dan dingin. "The Lorax."
"The Lorax? Film anak-anak?" tanyaku dengan rasa penarasan yang berlebihan. Mendadak aku di serang gugup begitu kami mendekati lobby.
Pablo berdeham. "Itu film favorit anak perempuanku. Aku sudah menonton film itu beberapa kali dengannya."
Hatiku diliputi kehangatan sementara aku tersenyum. "Ah, manis sekali... Aku berani bertaruh kau pasti menghapal semua lagu di film itu."
Aku bisa melihat seringai senang di sudut bibirnya. "Memang." katanya dengan bangga.
"Boleh kutahu nama anakmu?" tanyaku penasaran.
"Ella. Umurnya baru lima tahun."
Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana gambaran seorang bodyguard sekaku dan sedingin Pablo menonton The Lorax bersama seorang anak berumur lima tahun. Namun, kurasa itu cukup mengagumkan.
"Kuharap kau bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama anakmu." cetusku. "Pekerjaanmu saat ini pasti membuatmu jarang bertemu dengannya."
Dia terdiam selama beberapa saat. Awalnya aku mengira dia akan diam, sampai aku mendengar helaan nafasnya yang agak berat. "Itu resiko pekerjaanku. Aku hanya bertemu dengannya ketika waktuku senggang."
Aku mengangguk paham. Tepat saat itu pintu lift membuka lebar dan aku mengikuti langkah Pablo keluar menuju lobi. Aku tidak terlalu merasa penampilanku berlebihan dengan gaun merah menyala yang membungkus tubuhku karena hotel tempat Paul menginap juga sama mewahnya.
Setelah berbelanja tadi, Paul dan aku menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sebentar di danau yang tak jauh dari hotel. Setelahnya, kami melewati sebuah tempat yang sepertinya menjadi lokasi tertua di kota ini, terdapat begitu banyak gedung dengan menara beratap kerucut. Aku benar-benar menikmati kota ini layaknya turis sungguhan.
Yang mengejutkan adalah, meskipun kami berada di tengah-tengah kota tertua di Rusia, orang-oramg tetap mengenali Paul, namun hanya beberapa dari mereka yang memaksa mendekati kami untuk sekedar foto bersama atau meminta tanda tangan, seakan mereka paham kalau Paul dan aku butuh ruang pribadi untuk menikmati kota mereka, dan itu membuatku terkesan.
Sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan hatinya mengajakku kesini, aku memutuskan masuk ke sebuah toko perhiasan ketika Paul sedang menelepon.
Pablo dan aku melangkah lebih jauh ke dalam lobi sampai aku melihat Paul berdiri membelakangi kami. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dengan indah menunjukkan lekuk tubuhnya yang jantan.
Langkahku perlahan terhenti ketika menyadari dia sedang mengobrol dengan seorang wanita yang tak asing bagiku. Wanita dengan rambut gelap dan kulit cokelat yang pernah menghinaku saat aku menonton Paul latihan bersama Valerie dan Red. Dia yang mengomentari hubunganku dengan Paul, mengatakan kalau Paul hanya ingin menjadikanku sebagai teman tidur karena penampilanku yang biasa saja.
Entah siapa namanya. Aku ingat saat itu Red mengatakan namanya. Carmen?
Aku tak tahu bagaimana harus menghadapi ini. Ini tidak benar, dan aku membencinya sekarang.
Sementara Paul mengucapkan sesuatu, aku memusatkan perhatian pada tangan wanita itu yang naik ke wajah Paul. Ibu jarinya menjalar di sepanjang rahangnya hingga membelai pipinya. Dan sekali lagi, Paul tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia tak menyukai aksi wanita itu.
Hatiku langsung terpilin begitu teringat wanita mengatakan padaku kalau dia sudah berjuang untuk mendapatkan Paul selama bertahun-tahun. Membuatku yakin pasti ada sesuatu di antara mereka saat ini.
Lalu Paul menyerahkan sebuah map padanya. Map yang sama dengan yang diberikan Steve, pria yang masuk ke kamar hotel, mengganggu di tengah-tengah kegiatan panas kami. Aku ingat dengan jelas Steve menyinggung soal pengacara hari itu. Carmen tentu saja bukan seorang pengacara, jadi kenapa Paul menyerahkan map itu padanya?
Darahku mendidih selagi dia menyusupkan kartu akses kamar hotelnya ke saku celana Paul, tangannya terlalu jauh ke dalam kalau hanya ingin memasukkan kartu. Kemudian dia mencondongkan tubuhnya dan mencium rahang Paul sebelum berjalan ke arahku.
Aku masih memusatkan pandangan pada Paul. Dia belum menyadari kalau aku sudah melihat semuanya karena dia masih membelakangiku. Carmen berjalan tanpa melirikku sedikitpun, aroma parfumnya yang menyengat tajam seketika menusuk penciumanku.
Jantungku berdegup semakin kencang hingga rasanya dadaku siap meledak detik ini juga. Aku marah dan merasa tertipu. Sebagian dari diriku ingin pergi meninggalkannya, namun sebagian lain ingin berbicara dan meminta penjelasan dari Paul. Meskipun aku tahu Paul akan sangat mudah mengalihkan perhatianku, persis seperti yang selalu dilakukannya.
Paul meremas rambutnya dengan kedua tangan lalu berbalik seraya menjepit pangkal hidungnya. Dia kelihatan marah, sampai tatapan kami bertemu.
Dia belum mengatakan apapun soal obrolan diam-diam yang dilakukannya bersama Lucy di rumah ayahku, tapi sudah kupastikan dia harus menceritakannya padaku selama aku berada disini.
"Kau cantik sekali, love." Berani sekali dia tersenyum di saat seperti ini. "Aku benar kan, Pablo?"
"Ya, Mr. Klug." Pablo menjawab seraya mengangguk sopan.
Bagaimanapun dia memujiku, itu tidak akan sanggup mengaburkan apa yang baru saja kulihat. Dia harus menjelaskan padaku tentang semua teka-teki yang disimpannya sebelum hubungan kami hancur karenanya. Itu merupakan skenario terburuk yang bisa kubayangkan.
"Alfred sudah menunggu di depan. Kita harus segera pergi sekarang..." katanya tanpa mengalihkan pandangan dariku.
Paul mencoba meraih tanganku, namun aku menepisnya. Dia tahu apa yang kupikirkan saat ini. Walaupun aku tak bermaksud menciptakan drama disini, Paul tahu aku sedang marah dan bingung pada apa kulihat barusan.
"Let's go." kataku dengan nada dingin ketika aku melangkah keluar dari lobi.
Aku bisa mendengar Paul berbicara dengan Pablo sebentar sebelum derap langkahnya terdengar mengikutiku.
Tidak ada obrolan di dalam mobil sepanjang perjalanan ke restoran. Aku bahkan tak mau melihatnya. Aku perlu mencari cara agar Paul mengatakan padaku, menjelaskan tentang Lucy, Carmen, atau apapun yang sedang berusaha ditutupinya saat ini.
Paul harus jujur. Apapun alasannya, aku berhak tahu sebelum aku melarikan diri darinya. Aku tak sanggup lagi menahan diri lebih lama, semua batas toleransiku sudah habis. Kupastikan malam ini akan menjadi malam yang menarik, terutama untuk Paul.