
Aku tidak tahu sudah jam berapa sekarang. Paul dan aku berbaring di kamarku dalam keadaan yang lebih tenang setelah melakukan aktivitas panas yang didasari oleh perasaan rindu yang kuat dan kemarahan yang masih menggebu-gebu. Tentu, aku masih marah padanya. Cara berpikir Paul yang sempit membuatku kesal setengah mati.
"Tidak seharusnya aku menyentuhmu, Bianka." katanya pelan, lebih mirip seperti bisikan.
Aku bergeser untuk memeluknya. "Calm down. I'm on birth control." gumamku mencoba mengurai ketakutannya. Paul takut aku akan hamil karena dia meledakkan gairahnya di dalam diriku tanpa pengaman. Tapi, aku sudah lebih dulu mengambil langkah antisipasi, jauh sebelum kami bertengkar.
Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang di bawah telapak tanganku. Lalu Paul bergeser dan duduk. Hatiku menciut. "Paul..." Aku mencoba meraihnya tangannya untuk menariknya kembali agar berbaring di ranjang, namun Paul menolak. Dia duduk di tepi ranjang sambil menyapukan jemarinya ke rambut. "Paul, kemarilah... Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku tidak akan hamil."
Tiba-tiba dia berdiri, seketika membangkitkan rasa panik dalam diriku. "Paul..."
"Aku hanya ingin ke kamar mandi sebentar, Bianka." Dia menoleh seraya tersenyum tipis, hampir bisa kukatakan sebagai senyum yang bernada sedih. Dia masih berperang melawan keinginannya sendiri.
Aku menelan ludah, agak cemas dia akan meninggalkanku lagi. Kemudian aku mengangguk sekali. Merasa puas dengan jawabannya, aku meringkuk di bawah selimut lalu menutup mata sementara telingaku menangkap suara pintu kamar mandi berderak.
Beberapa menit kemudian, saat aku hampir masuk ke alam mimpi, aku merasakan kehadiran Paul yang ikut bergabung dengan di bawah selimut. Bisa kukatakan aku bangga akan penyerahan diriku padanya, namun aku juga paham kenapa dia seakan masih menjaga jarak dariku. Mungkin terlalu naif kalau aku mengira hubungan kami akan baik-baik saja setelah malam ini karena kenyataannya memang tidak seperti itu. Tanpa disadarinya, Paul sedang membangun tembok untuk memisahkan kami berdua.
"Maafkan aku, Bianka." Suaranya yang serak dan dalam entah kenapa selalu bisa menenangkan pendengaranku. Dia melabuhkan hangat satu ciuman di punggungku.
"Aku sudah memaafkanmu."
Tidak ada aktivitas lain yang terjadi setelah itu karena aku langsung terlelap di pelukan Paul, hingga beberapa jam berikutnya kudengar suara dering alaramku yang memberontak di atas nakas.
Aku melihat sisi ranjang kosong disebelahku dan menyadari Paul tidak ada disampingku. "Paul?" Panggilku sambil melemparkan pandangan ke sekeliling kamar dan berjalan ke kamar mandi. Tapi aku tetap tidak menemukannya.
Seketika perasaan cemas mengusai kepalaku begitu menyadari aku tak melihat selembar pun pakaiannya yang seingatku semalam berserakan di lantai. Aku meraih kaus dan celama pendek bersih dari dalam lemari lalu mengenakannya, kemudian buru-buru turun ke bawah.
Keningku mengernyit dalam karena tidak dapat melihat keberadaan Paul di seluruh sudut ruangan di rumahku. Tak usah diragukan lagi, dia pasti pergi begitu aku terlelap. Ya Tuhan... bagaimana lagi aku harus menghadapi manusia bodoh yang satu ini? Aku merasa sedih, kosong, dan marah akan tingkahnya yang kekanakan.
Dengan tergesa-gesa, kuraih ponsel untuk menghubungi nomornya, tapi yang kuterima hanya jawaban operator.
***
Entah bagaimana prosesnya, aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas hingga sekarang aku sedang di depan pagar rumah Paul, sedang memarkirkan mobil, kemudian melesak turun secepat kilat dan menekan bel tak sabaran.
Tatapanku tertuju pada Pablo yang sedang mengobrol di dalam pagar dengan beberapa petugas keamanan bertubuh tegap. "Pablo!" panggilku, menggerakkan tangan untuk memintanya mendekat. Dengan raut bingung, dia melangkah ke arahku.
"Miss Becker, ada apa?" Alisnya bertaut selagi dia memperhatikanku dengan seksama.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Paul. Sekarang." Tanpa bermaksud melakukannya, nada bicaraku terdengar lebih kasar dan kuharap dia tidak tersinggung.
"Aku, eh... perlu kubantu meneleponnya?" tanya Pablo, menoleh ke balik bahu.
Paul pasti tidak akan mau bertemu denganku jika Pablo meneleponnya. Aku perlu bertemu secara langsung untuk menyadarkan otaknya yang bodoh itu. "Tidak, jangan meneleponnya. Kumohon, buka pagarnya dan biarkan aku masuk." kataku dengan suara gemetar.
Aku tidak sempat memikirkan bagaimana penampilanku sekarang, yang kubutuhkan hanya berbicara secepatnya dengan Paul. Setelah apa yang kami bahas kemarin, aku tidak menyangka dia akan meninggalkanku lagi. Maksudku, kalau memang Paul tidak mau meneruskan hubungan kami, seharusnya dia mengatakannya dengan jelas, bukan pergi begitu saja saat aku tidur.
Pablo terlihat ragu-ragu. Tapi dia mengenalku, dan aku bukan orang gila yang akan membuat keributan di rumah orang lain. Melihat Pablo yang masih bungkam, aku mencoba sekali lagi. "Kumohon, ini sangat penting..."
Dia memperhatikanku selama beberapa beberapa detik sebelum menganggukkan kepala lalu membuka pagar dan membiarkanku masuk. Aku bisa mendengar Pablo meyakinkan rekannya kalau aku bukan ancaman selagi kakiku melangkah menuju pintu rumah Paul.
Aku melesak masuk ke dalam rumah melewati Paul, jelas tampak seperti penyembur api di atas roda yang berjalan sendiri. "Apa-apaan kau? Kenapa kau melakukan itu padaku? Tidur denganku dan pergi begitu saja seperti orang tak tahu aturan?" semburku sambil bersedekap dengan raut marah yang kuyakin sangat kentara.
Dia menghela nafas putus asa dan menutup sebelum berbalik menghadapku. "Aku minta maaf. Tidak seharusnya kita melakukan itu semalam." Dia memberiku satu tatapan prihatin yang membuatku mendengus.
Tenggorokanku tercekat oleh berbagai macam emosi yang kini tertutup kemarahan. "Tapi kita melakukannya. Kuminta kau berhenti bertindak bodoh, Paul. Aku serius!" kataku memulai dengan menggebu-gebu. "Sudah kubilang aku ingin kita melupakan semuanya, memulai kembali apa yang seharusnya terjalin di antara kita. Aku sudah memaafkanmu. Soal Carmen, Lucy, dan Louis... itu bukan masalah besar!"
"Bagaimana mungkin semudah itu bagimu memberi maaf untukku? Apa kau sedikit pun tidak merasa kalau aku membodohimu?"
"Aku marah padamu! Setiap saat sejak kau menceritakan tentang semuanya di Rusia, aku marah padamu! Kau tidak akan tahu berapa banyak waktu yang kulewati untuk mencerna semua itu, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada hubungan kita, dan aku selalu berakhir pada kesimpulan yang sama... Aku mencintaimu. Dan aku tidak ingin mengakhiri hubungan ini, apa kau mengerti?"
Aku diam begitu menyadari apa yang kusampaikan padanya. Aku mengatakan kalau aku mencintainya di tengah-tengah gejolak emosi yang kasar. Merasa malu, aku tak sanggup menatap matanya yang melotot terkejut.
Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum kembali menatapnya dan berbicara dengan nada yang lebih manusiawi. "Kuharap kau bisa sedikit lebih menghormatiku dengan berbicara secara jelas, bukan pergi begitu saja. Itu menyakitkan, Paul."
"Kau... kau mencintaiku?"
"Ya. Ini bukan siasatku untuk merayumu. Kalau memang kau tidak mau melanjutkan hubungan ini, katakan padaku dengan jelas. Aku wanita dewasa, putus cinta tidak akan membunuhku. Aku bisa menghadapinya. Hanya jangan mengatakan semacam omong kosong 'Ini demi kebaikanmu'..."
Pelahan dia mengerjap dan maju selangkah ke arahku. Dengan gugup aku menunggunya mengatakan sesuatu, apapun itu, selain memandangku. "Tidak seharusnya kita bercinta dalam keadaan mabuk seperti itu..." katanya.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk setuju. "Itu sudah terjadi, tak ada gunanya membahas itu lagi."
"Maafkan aku karena meninggalkanmu, Bianka." dengkurnya halus setelah terdiam sejenak. "Aku sendiri tidak menginginkannya."
"Lantas, kenapa kau melakukannya? Hanya karena kau merasa itu sebuah kesalahan?" cetusku seraya mengangkat alis tinggi-tinggi, menyiratkan aku butuh jawaban jujur darinya.
Paul menyusurkan tangan ke rambutnya dengan gelisah. "Karena aku memang harus meninggalkanmu."
"Apa kau mendengar saat kubilang aku mencintaimu? Aku tidak mau kau pergi, Paul. Katakan kalau kau tidak akan melakukan itu atau aku akan keluar dari sini sekarang juga. Percayalah, aku pasti benar-benar menghilang dari hidupmu. Kau tidak akan pernah melihatku lagi."
Mulutnya terbuka seakan hendak mengatakan sesuatu, tapi tak ada satu katapun yang terucap.
"Paul?" Aku mendesaknya dengan lembut, hatiku hancur di setiap detik yang terasa menyesakkan.
Tepat saat aku merasa sudah kehilangan harapan dan menyadari sebuah kenyataan pahit bahwa Paul tidak menginginkanku lagi, dia menarikku ke dalam dekapannya yang hangat. Yang selalu hangat. Tidak ada ciuman, hanya satu pelukan yang kubutuhkan sebagai tempat dimana aku bisa menemukan kedamaian.
"Aku tidak mau meninggalkanmu, bahkan aku tak sanggup melakukannya."
Aku tersenyum puas lalu balas memeluknya kuat-kuat. Kemudian aku menarik diri dan memintanya mengatakan maksudnya dengan jelas. Aku berdeham. "Lalu, bagaimana status hubungan kita sekarang?" tanyaku dengan mata menatap ke dalam matanya.
Untuk pertama kali setelah di Rusia, aku bisa melihat kembali senyum ceria Paul. "Kita baik-baik saja. Kau kekasihku. Maafkan aku sudah menyakitimu, Bianka. Sungguh, aku bodoh karena melakukan itu."
"Lupakan semua. Aku memaafkanmu..."
Alih-alih mengatakan sesuatu, Paul menangkup wajahku dan menciumku.