My Love Journey's

My Love Journey's
Surprise!



...Bianka Becker POV....


Saat ini aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah setelah mendapatkan ijin dr dokterku untuk pulang lebih awal. Beberapa hari yang lalu, ibu mertuaku memintaku menemaninya berbelanja. Aku tidak tahu kenapa dia tidak bisa pergi sendiri, padahal ada supir yang selalu siap di apartemen Paul, dan dia juga sudah mulai mengenal seluk-beluk kota, dan malah memaksaku menemaninya.


Aku parkir di depan gedung apartemen. Beberapa minggu lalu, aku dan Paul sudah pindah ke rumah baru, yang kami sebut 'future house', karena begitu banyak harapan yang kami tanamkan disana. Tapi, rumah itu terasa kosong tanpa pria yang kucintai. Karena merindukannya, aku menyempatkan menelepon Paul sebelum keluar dari mobil. Dua hari ini kami tidak mengobrol sama sekali, hanya berbalas pesan singkat. Aku tahu dia sibuk, tapi ini sama sekali tidak seperti biasanya. Paul selalu berusaha meneleponku setidaknya sehari sekali.


Ponselnya aktif, tapi dia tidak menjawab panggilan. Pasti ada yang salah. Apa dia sengaja mengabaikanku? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia tidak mengangkat telepon atau menelepon balik?


Aku mengela napas, menyandarkan kepala ke stir kemudi. Aku amat sangat merindukannya.


Setelah merapikan rambut dan merapikan lengan kemeja, aku turun dan mulai berjalan ke apartemen. Seperti biasa Benji, yang kutitipkan disini, berlari menyambut kedatanganku begitu aku membuka pintu. Dia melompat-lompat girang, ekornya bergoyang-goyang. "Hei, buddy! Bagaimana kabarmu?" Aku berlutut dan bermain sejenak dengannya di depan pintu, mengusap kepalanya dan menggelitik perutnya. Anjing ini selalu membuatku terhibur. "Apa yang kau lakukan hari ini, hm? Berlarian kesana-sini? Tidur? Aww, anak baik. Ya, kau! Kau!"


"Hai, bagaimana denganku? Kau tidak rindu padaku?"


Aku tersentak, memutar kepala saat tiba-tiba mendengar suaranya. Paul berdiri disana, dengan senyum merekah di bibir. Aku tak menunggu lama untuk berlari dan melompat ke dadanya, membuat Paul terkekeh sambil mengayun tubuhku. Dia menurunkanku, menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Aku sangat merindukanmu, love." bisiknya di depan bibirku, lalu menciumku dengan lembut.


"Aku juga sangat merindukanmu, Klug." balasku saat ciuman kami terlepas, mulutku meniru senyumnya. "Seharusnya kau bilang kalau kau pulang hari ini! Aku akan pulang lebih awal dan menjemputmu!"


"Dan, tidak ada kejutan untuk kekasihku? Itulah kenapa aku tidak menelepon atau mengangkat teleponmu. Maaf, ya?"


"Tak masalah, alasanmu cukup bagus." gumamku, berjinjit untuk menciumnya sekali lagi. "Apa kau yang meminta ibumu berpura-pura mengajakku berbelanja agar kau bisa memberi kejutan untukku?"


"Ah, aku ketahuan!"


Tawaku meledak. "Well, mungkin kita bisa beranjak ke kamar dan bersenang-senang sedikit?" kataku, dengan nada rendah dan menggoda sambil menyapukan telapak tangan ke dadanya.


Paul mengerang dan melepaskan tangannya dari wajahku. "Kuharap kita bisa. Sungguh. Tapi kegiatan itu masih perlu menunggu. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."


Paul menggenggam tanganku dan mulai berjalan ke ruang keluarga. Langkahku secara otomatis terhenti begitu kami tiba di sana. "Mom? Dad?" Kedua orangtuaku dan adikku duduk bersama Anne. Aku memandang mereka dengan terkejut sekaligus bingung, kemudian berderap memeluk ibuku.


"Senang melihatmu, Mom!" desisku padanya.


"Aku juga, Sayang." sahut Mom, lalu mencium pipiku dan menurunkan tangan.


Aku berputar ke ayahku. "Hai, Dad."


Dia menarikku ke dalam pelukannya. "Aku senang melihatmu baij-baik saja, Nak." Dia tersenyum lembut padaku.


Aku lega karena setelah hari Natal tahun lalu dia mulai bisa menerima Paul, walau tidak sepenuhnya. Tapi, sikap itu pun pantas di hargai, bukan?


"Aku tidak mendapat pelukan?" Aku mendengar Louis berbicara.


"Oh, fu¢k off, Lou!" dengusku, kemudian tertawa.


"Berhenti menggoda kakakmu, Lou." kata Mom, membuat Louis mengerang.


Aku kembali mengarahkan pandangan pada ayahku dan bertanya. "Bagaimana..."


Dia menyela. "Seseorang memintaku datang berkunjung. Dia bilang kau mungkin membutuhkan kami hari ini."


Aku mengernyit dan menoleh ke balik bahu, ke arah Paul. Dia berdiri beberapa meter dariku, kedua tangannya tersimpan di saku celana. Gerak-geriknya terlihat agak gelisah. Aku tahu hubungan Paul dan ayahku belum sepenuhnya baik, tapi aku bangga pada upayanya untuk membuatku bahagia. Aku melihat selagi dia berjalan mendekatiku, dan menyadari yang lainnya kembali duduk di sofa.


"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Paul meraih tanganku. "Aku mencintaimu, Bianka. Lebih dari yang bisa kubayangkan akan terjadi padaku." Aku mulai gugup, tidak yakin apa yang sedang dia lakukan sebenarnya. Mengetahui bahwa kedua orang tuaku dan Anne mendengarkan apa pun yang akan di ucapkan Paul membuatku gugup.


"Beberapa hal tidak selalu berjalan dengan mudah. Aku minta maaf atas setiap waktu sulit yang kita lalui bersama. Maaf untuk saat-saat ketika aku tidak memperlakukanmu dengan layak. Aku tidak sempurna, love... bahkan jauh dari kata itu. Tapi kau membuatku ingin menjadi seseorang yang lebih baik. Setiap hari aku terbangun dengan rasa syukur karena bisa bersamamu lagi. Aku tahu aku tidak pantas untukmu, kau anugerah terbesar dalam hidupku. Kita pernah menikah sebelumnya, tapi hancur karena kebodohanku."


Pipinya basah oleh air mata, namun dia tidak berusaha menyembunyikannya. Aku bisa mendengar beberapa gumaman 'aww' dari belakang, tapi perhatianku terpaku pada pria tampan di hadapanku.


"Aku mencintaimu dengan segenap hati. Aku ingin menua bersamamu, karena aku tahu apa pun yang di hadapkan dunia pada kita, kita tidak akan kalah. Kau satu-satunya wanita yang kucintai, hingga akhir waktu. Hari ini, dengan restu kedua orang tuamu dan juga ibuku, aku berjanji akan selalu mengutamakanmu dan hubungan kita."


Aku tidak mampu merangkai kata untuk meresponnya, dan yang kulakukan hanya mengangkat tangan mengusap air mata Paul sementara dia melanjutkan.


"Kebahagiaan terbesar yang pernah kurasakan adalah saat melihatmu bahagia. Aku akan selalu menjadi temanmu, kekasihmu, pendengarmu, tempatmu berlindung, dan bahu untukmu bersandar. Aku ingin menjadi yang terbaik bagimu karena kau pantas mendapatkannya. Itulah kenapa hari ini aku akan bertanya. Bianka, maukah kau menjadi istriku?" Dia mengakhiri sambil berlutut di hadapanku.


Aku tertawa pelan, sembari mengusap air mataku sendiri. "Aku sudah pernah menjadi istrimu, bodoh!"


"Aku tahu. Tapi, maukah kau menjadi istriku lagi? Setelah mengenalku lebih baik? Dengan semua yang telah kita lalui?"


Aku menganggukkan kepala cepat. "Yes."


Dia berdiri dan menciumku sekilas. "Apa kau percaya padaku?"


"Tentu saja."


"Kalau begitu, ayo menikah sekarang juga!"


"Ugh!" Aku melempar pandangan kepada orang lain di ruangan itu. Mereka semua sedang menatap kami, dan saat mataku beradu dengan ayahku, aku terkejut melihat dia masih tersenyum. Tidak ada kemarahan atau ekspresi tak suka di wajahnya. Dengan perlahan dia mengangguk, memberi persetujuan. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan." kataku, kembali menoleh Paul. "Kita bisa mulai menyusun rencana."


"Semuanya sudah diatur, love. Dan, kita akan melangsungkannya hari ini. Keluarga dan teman-teman dekat kita akan hadir disana kurang dari enam jam lagi, sekaligus pendeta. Yang kubutuhkan darimu hanya satu kaya 'ya.'"


"Aku... Aku... Aku tidak punya gaun!" desisku, tergagap-gagap. "Enam jam tidak akan cukup untuk mendapatkan gaun pengantin dan merias wajahku."


Paul tersenyum usil. "Sejujurnya, sudah ada tiga jenis gaun yang menunggumu di kamar, juga perias wajah yang kau butuhkan."


"Oh!" Aku kehilangan kata-kata. "Oooooh, sial!" Tanpa sadar aku mulai melompat kegirangan. "Aku akan menikah, Mom!" Aku berlari menghampiri ibuku dan menariknya ke dalam kamar Paul, membuat semua orang tertawa karena sikap brutalku yang tiba-tiba.