My Love Journey's

My Love Journey's
A Happy Day



Dua tahun kemudian...


Aku menarik nafas dalam-dalam dan merapikan rambutku, baru saja selesai menggunakan testpack. Aku berdiri di depan cermin kamarku dan Paul, dengan seksama mengamati setiap sudut lekuk tubuhku. Mengenakan gaun malam berwarna merah hadiah dari Paul saat aku mengunjunginya di Rusia dua tahun lalu, kini aku sudah siap bertemu dengannya untuk makan malam.


Oh, tadi sore, aku pulang lebih cepat karena mengalami mual parah dan memutuskan berhenti di apotek untuk membeli testpack. Sekarang aku baru menyadari dadaku terlihat agak lebih besar dan kencang, pergelangan kakiku juga sedikit membengkak dalam beberapa minggu terakhir. Aku ragu Paul melihat perubahan yang terjadi pada tubuhku.


Pernikahan kami akan berlangsung minggu depan. Akhirnya... aku bisa merasa lega setelah berbulan-bulan stress mengatur semuanya. Dan karena kesibukan mengurus itu juga aku jadi melupakan jadwal suntik KB-ku, di tambah lagi Paul semakin membuatku frustasi karena ingin membuat pesta pernikahan yang meriah untukku. Aku sudah mengatur daftar vendor untuk pernikahan kami dan sejujurnya yang kuinginkan hanya pernikahan sederhana agar menghemat pengeluaran, dan aku berhasil membujuknya setelah beberapa kali kami berdebat sengit.


Aku mengamati belahan dadaku yang terlihat lebih besar, tapi aku bersyukur pergelangan kakiku tertutup oleh gaun. Tepat saat aku berpikir ingin mengganti gaun, Paul mengirim pesan padaku.


From: Paul: Aku sudah di restoran, love. Meeting hari ini selesai lebih cepat. Kau sudah jalan? x


To: Paul: Okay, aku berangkat sekarang x


Aku tidak tahu kenapa, tapi perasaan cemas merundungku sekarang. Belum lagi aku bingung bagaimana cara menyampaikan soal ini kepada Paul. Well, kehamilanku memang belum terlihat, dan aku berharap semoga dia tidak menyadari perubahan kecil pada tubuhku.


Kehamilan ini tidak direncanakan sama sekali. Dan yang semakin mencemaskan adalah Paul sudah setuju dengan gagasanku untuk mengadopsi anak, dia bilang dia tidak ingin memaksaku melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan. Aku menghargai itu.


"Miaow," Aku menurunkan pandangan melirik Frosty perlahan berjalan ke arahku. Bibirku melengkung lalu mengangkatnya ke dadaku.


"Hei, Sweetie..." gumamku pelan, membiarkannya meringkuk sejenak di dadaku. Aku menjalarkan tangan mengusap bulu halusnya sambil melangkah turun ke bawah. "Mommy's going to have a baby, (Mommy akan punya anak)" kataku memberitahunya, agak terkejut dengan kalimatku sendiri.


Frosty menanggapi dengan suara lembut, membuatku merasa seakan dia mengerti maksud ucapanku. Oh, aku benar-benar sudah gila! Aku menurunkan Frosty setelah mencium kepalanya.


Kemudian kulihat Alfred sudah berdiri di samping mobil yang pintunya terbuka di depan rumah kami, siap mengantarku ke restoran. Kami mengobrol sepanjang perjalanan. Rasa cemas dan gembira bercampur aduk di kepalaku.


Paul dan aku sudah saling mengenal selama tiga tahun, namun efek kehadirannya di dekatku tidak pernah berubah sedikitpun. Daya tariknya masih kuat bahkan tumbuh semakin kuat dalam setiap detik yang kulalui bersamanya, dan caranya memperlakukanku membuatku semakin mengagumi dan menghormatinya.


Tiba di depan restoran, aku langsung menyelinap masuk sambil menghindari beberapa wartawan yang kuyakin sudah menungguku. Seorang staf restoran menuntunku ke dalam hingga tiba di sudut ruangan yang agak terpisah dimana Paul duduk sambil menatap layar ponselnya.


"Paul," panggilku malu-malu. Kesulitan menahan senyum saat dia menatapku dan berdiri.


Paul bersiul kecil sambil melangkah mendekatiku. "Siapa kau, Nona?" tanyanya, meraih pinggulku lalu memajukan wajahnya untuk menciumku. "Cantik sekali, love..."


Dengan lembut aku menyentuh rahangnya dan membalas ciumannya. "Terima kasih. Kau juga tampan seperti biasanya."


Paul mengenakan salah satu setelan jas hitam mewah koleksinya, berpadu dengan kemeja putih polos. Keduanya membungkus tubuhnya dengan sempurna, membuatnya terlihat lebih mengagumkan lagi. Aku memandang sekilas ke sekeliling ruangan yang benar-benar kosong, Paul benar-benar ingin kami memiliki privasi untuk mengobrol dan makan dengan tenang. Ya, hingga hari ini aku masih belum bisa beradaptasi dengan ketenarannya.


"Bagaimana harimu, love?" gumamnya pelan sementara bibirnya menyusuri ceruk leherku, terus naik hingga berhenti tepat di bawah leherku. Dia tahu lututku akan meleleh setiap kali dia mengusik area itu.


"Baik," sahutku dengan lembut, senyumku perlahan memudar. "Kau?"


"Melelahkan karena tidak bisa berhenti memikirkan kau akan segera menjadi istriku," Aku bisa mendengar senyum di suaranya. "Ya ampun, aku tidak percaya ini benar-benar terjadi, love."


Aku menaikkan kedua tangan dan memeluk lehernya erat-erat, dalam hati mengucap syukur berkali-kali karena Tuhan telah berbaik hati mengirimkan pria sebaik Paul. Aku sendiri masih belum percaya pada akhirnya kami tiba di titik ini. Tiga tahun yang begitu panjang, penuh air mata, penuh drama, tapi itu juga yang menghantarkan kami hingga berdiri di tempat ini.


Paul tergelak menahan tawa, namun tetap membalas pelukanku. "Apa kau baik-baik saja, love?" tanyanya, aku mengangguk. Setitik air mata mengalir di pipiku, yang kemudian buru-buru kutepis. "Kau yakin? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Dia menarik diri lalu menatapku.


"Tidak. Tidak ada." kataku mencoba meyakinkannya sambil menggelengkan kepala.


Paul mengalah. Tanpa menanyakan apapun lagi, dengan gerakan anggun dan teratur dia menarik kursi untukku, lalu berjalan ke kursinya setelah aku duduk.


"Hm, ini romantis sekali..." kataku sambil tersenyum begitu kami memesan makanan, menopang dagu dengan punggung tanganku sementara sikuku menumpang di atas meja.


"Benarkah?" Dia menyandarkan punggung ke belakang, memandangku dengan tatapan seakan dia sangat mengagumiku. "Aku ingin memastikan kau tidak ragu dengan rencana pernikahan kita..."


"Ha? Tidak, kok. Bagaimana denganmu? Apa kau ragu?"


"Tidak sedikitpun. Aku justru sudah tak sabar." Senyumnya mengembang. "Aku berharap kau tidur di rumah kita minggu ini."


Aku mengangkat bahu. "Akan lebih mendebarkan kalau kita berpisah sementara dan bertemu saat hari pernikahan."


Paul menaikkan alisnya tinggi-tinggi. "Oh, ya? Atau karena Valerie sudah menyiapkan stripper untuk pesta lajangmu?"


"What?" Tawaku meledak sementara Paul mengedikkan bahu cuek. "Dari mana kau mendengar soal itu? Apa Carl yang memberitahumu, atau...?" Aku menggelengkan kepala dengan perasaan geli dan tak percaya. Sejenak kekhawatiranku soal kehamilan menguap begitu saja dan aku sepenuhnya tenggelam ke dalam obrolan.


"Astaga, Bianka! Aku hanya menebak, dan kau baru saja membenarkannya. Terima kasih."


Mulutku terkatup rapat-rapat sebelum kembali bersuara. "Oh... Well, kurasa tidak ada salahnya menikmati semalam memandangi pria lain sebelum kau mengurungku sampai tua untuk membersihkan popokmu, hm?" dengkurku menggoda, yang membuat Paul tertawa. "Ah, dan kami melakukannya di rumah Stacey. Jadi, kau tidak perlu takut kehilangan pengantinmu."


"Ya Tuhan..." Dia menjepit pangkal hidungnya sambil menggelengkan kepala.


Aku tertawa, mengulurkan tangan dan meraih tangan Paul untuk menarik perhatiannya. "Bagaimana denganmu? Apa teman-temanmu yang gila itu tidak merencanakan sesuatu?" tanyaku penasaran.


"Carl mengatakan Ronaldo dan Eden merencanakan sesuatu semacam itu, tapi dia melarang mereka karena tahu aku tidak akan menyukai kegiatan aneh seperti itu."


"Son of God. Aku jadi sungkan sekarang..."


"No, don't." Paul terkekeh sambik meremas tanganku. "Aku memberimu kesempatan memanjakan mata untuk semalam, karena setelah itu kau akan terjebak dengan milikku selamanya."


Tawaku kembali menggema. "Sounds like a good deal."


Paul melirikku dengan tatapan aneh ketika minuman kami tiba. "Ini pertama kalinya kau tidak memesan wine saat kita makan malam di luar." cetusnya, lalu menyesap wine miliknya.


Aku menurunkan pandangan ke arah segelas air yang kupesan, dan tawa canggung keluar dari mulutku. "Kurasa begitu..."


"Kau tidak seperti dirimu yang biasanya."


Aku kembali menatapnya, matanya lebih gelap dari sebelumnya, satu kilatan bangga terpancar disana. Kemudian dia kembali terlihat normal, jadi aku ragu dia mengetahui soal kehamilanku.


Aku berdeham. "Yah, ini malam terakhir kita bersama sebelum pernikahan, jadi..."


"Tepat sekali. Di rumahmu atau di rumah kita?"


***


"Dia sangat menggemaskan! Kau harus bertemu dengannya." semburku bahagia pada Paul yang mendengarkanku dengan seksama selagi kami menyantap makanan.


"Berapa umurnya?" tanya Paul.


"Lima bulan," Aku menelan makanan. "Stacey dan Elise sangat bahagia saat ini."


Kedua teman dekatku yang mulai menjalin hubungan sejak dua tahun lalu sepakat mengadopsi seorang bayi laki-laki bernama Jack. Saat menceritakan ini pada Paul, keinginan untuk memberitahunya tentang kehamilanku menjadi semakin besar lagi. Aku mengamati setiap perubahan ekspresinya, berharap bisa menangkap isyarat andai dia menyadari sesuatu yang aneh di tubuhku.


"Sepertinya mereka akan sibuk mulai sekarang. Well, anak ini masih bayi, berurusan dengan popok dan segala macamnya akan sangat menyita waktu..." katanya, dan seketika senyumku menghilang.


"No," Aku menggelengkan kepala. "Maksudku, tentu saja itu terjadi, tapi itu bukan masalah... Intinya mereka punya bayi menggemaskan yang akan meramaikan rumah mereka."


"Ya, ya," cetusnya, tampak tidak tertarik sama sekali, lalu lanjut menyantap makanannya. "Aku akan mengunjungi mereka nanti."


Aku terdiam sejenak, menelan ludah pahit sementara air mataku mulai menggenang. Aku harus memberitahunya saat ini juga.


"Paul..."


Dia menatapku, alisnya berkerut dan dia meletakkan peralatan makannya. "Love? Kenapa kau menangis?"


"Aku hamil."


Paul membeku dengan mata terbelalak. Ketakutan lansung menjalar di sekujur tubuhku saat dia tidak mengatakan apapun. "Aku minta maaf." bisikku, lalu memindahkan serbet dari pangkuanku ke atas meja.


Dengan perasaan hancur aku membuang pandangan darinya. Nafasku tersekat di tenggorokan menghadapi kebungkamannya. Hatiku sakit menyadari mungkin dia kecewa dengan kelalaianku. Kemudian aku berdiri, namun sesaat tidak tahu harus melalukan apapun.


Aku mulai melangkah keluar dari ruangan untuk menenangkan diri sejenak, atau setidaknya untuk mempersiapkan mental menerima penolakan dari Paul. Aku hamil. Sesuatu tumbuh dan mengharapkan kehidupan di dalam perutku. Aku tidak mungkin mengabaikannya karena ini anakku.


Lalu kurasakan seseorang meraih tanganku, membuatku berhenti melangkah. Aku berbalik dan menatap Paul sambil menghembuskan nafas putus asa. "Maafkan aku."


"Apa? Kenapa kau minta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan." Dia menyapukan ibu jarinya ke wajahku sambil mengamati wajahku lekat-lekat. "Apa kau sudah yakin?" tanyanya.


"Ya," bisikku halus sementara Paul menangkup wajahku. "Apa kau marah?"


"Kenapa aku harus marah?" Satu tawa kecil terdengar dari mulutnya. Sebelum aku sempat mencerna ucapannya, dia mencondongkan wajahnya dan menciumku. "Aku tidak mau menanyakannya. Aku tidak mau kau merasa terganggu..." gumamnya di bibirku.


"Apa?" cetusku, menarik diri lalu mengerjap bingung beberapa kali. "Apa yang kau bicarakan?"


"Jika aku bertanya apakah kau hamil, dan ternyata tidak, kau pasti akan tersinggung." Paul tersenyum lebar. Amat, sangat lebar.


"Kau tahu aku sedang hamil?"


Dia memutar bola mata. "Aku memperhatikanmu. Aku mengetahui setiap perubahan dalam dirimu, bahkan hal kecil sekalipun..."


"Pergelangan kakiku..." Air mataku kembali menetes. Hormon sialan!


Paul tertawa. "Pergelangan kakimu? Aku sedang membicarakan dadamu."


"Ya, pergelangan kakiku menggemuk." Aku menutup wajah dengan kedua tangan.


Paul tertawa lagi. "Love, tolong bilang kau hanya bercanda."


"Apa kau melihatnya?" Aku menggelengkan kepala. "Aku sangat takut."


"Takut apa? Takut karena pergelangan kakimu gemuk?" godanya, dia terlihat begitu menikmati obrolan ini.


Aku menatapnya sambil menghembuskan nafas. "Aku hamil, Paul! Aku ketakutan setengah mati menghadapi ini..."


"No, kau tidak perlu takut. Aku akan selalu menemanimu, love." gumamnya bersungguh-sungguh sambil menyelipkan rambut ke balik telingaku. "Kita akan melaluinya bersama-sama. Kumohon, jangan khawatir."


"Bagaimana kalau bukan laki-laki? Kau menginginkan anak laki-laki, dan aku..."


Dia membungkan mulutku dengan mulutnya, lalu menarikku kembali ke meja kami dan mendudukkanku di kursi. Kemudian dia berlutut, memandangku yang masih bingung dan terlihat seperti orang bodoh.


"Aku tidak peduli apakah dia perempuan atau laki-laki selama kalian berdua sehat, Bianka." Aku terenyuh mendengar ucapannya sementara Paul menurunkan pandangan ke arah perutku yang masih rata, tapi aku tahu tidak akan lama lagi itu akan menggembung.


Dia mengulurkan sebelah tangannya mengusap perutku. "Kau hamil, love." desisnya mengulangi dengan senyum yang semakin melebar. "Kita akan punya anak."


"Aku sedikit stres mengatur pernikahan kita, dan melupakan jadwal suntikku, dan..."


"Aku senang kau melupakannya, babe. Sangat senang." Paul kembali menatapku, dan aku melihat matanya basah oleh air mata.


Spontan aku menutup mulut melihat reaksinya yang tak kuduga. Untuk kedua kalinya, aku melihat Paul menangis. Pertama ketika dia melamarku di taman dalam perjalanan pulang dari rumah ibunya, dan hari ini aku melihat air matanya lagi. Kemudian aku merunduk untuk memeluknya.


"Aku akan gendut dan emosional..." kataku sambil tergelak setelah perasaanku sedikit lebih tenang.


Paul menyeringai senang. "Eh, kau sudah emosional sejak aku mengenalmu, ya..."


Aku menepuk pundaknya lalu kembali memeluknya lebih erat dari yang pernah kulakukan untuk menyatakan betapa aku bangga memilikinya. Ketika aku menurunkan tubuhku dan ikut berlutut di hadapannya, dia balas memelukku.


"Aku sangat mencintaimu, Bianka. Kita akan menjadi orang tua terbaik di dunia." gumamnya lembut seraya membenamkan wajahnya di rambutku dan menarik nafas dalam-dalam.


Kami mengurai pelukan setelah beberapa saat namun masih berlutut di lantai. Paul memperhatikan wajahku sementara tangannya mengusap perutku seakan dia mencoba merasakan kehadiran anaknya.


"Coba bayangkan betapa sempurna kombinasi keluarga kita. Aku akan bermain bola dengannya dan kau akan mengobati setiap kali kami mendapat luka saat melakukannya..."


Aku tertawa sambil menepuk dadanya lalu menghapus air mataku. "Aku juga bisa bermain bola, Paul."


Dia menyeringai. "Tentu. Tentu saja, love."