
...Author's POV....
Bianka berbaring di atas kasur, memandang langit-langit kamar tamu rumah keluarga Warner. Paul berada di sisi lain ranjang, memunggungi Bianka, napasnya terdengar teratur. Pria itu bertahan di dekat Bianka, memastikan kekasihnya langsung mendapatkan apa pun yang dia butuhkan.
Bianka tesentuh dengan keberadaannya dan menghargai kepedulian Paul. Tapi, entah kenapa dia merasa tidak nyaman. Dia tidak mau membiarkan hatinya menerima kebaikan yang sifatnya hanya sementara, bukan untuk waktu yang lama. Ketenangan itu akan segera berakhir. Bahkan, sekalipun dia telah mengetahui bahwa Paul tidak benar-benar meninggalkan Indonesia untuk selamanya, tetap saja tak mudah baginya menerima deretan peristiwa akhir-akhir ini. Dia merasa hampa dan mati rasa. Dia tidak tahu mana yang seharusnya lebih menyedihkan, kehilangan bayinya atau kehilangan kekasihnya.
Bianka memiringkan kepala dan menatap punggung Paul. Dia begitu dekat, namun terasa sangat jauh. Dia merasa kesepian di tempat yang tadinya menjadi titik ternyaman dalam hidupnya. Bianka menarik napas, beringsut dari ranjang, dan keluar dari dalam kamar. Tak ada alasan baginya untuk berbaring disana lebih lama.
Wanita malang itu berderap ke ruang keluarga, lalu duduk di hadapan televisi, memegang remote. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia duduk disana sambil memandangi layar hitam tanpa menyalakannya. Hanya ketika matanya menangkap cahaya dari sela-sela tirai yang terbuka, barulah dia menyadari bahwa dia telah menghabiskan semalaman dengan duduk di ruang keluarga rumah orang lain.
Sambil menghembuskan napas, dia meletakkan remote dan beranjak kembali ke kamar. Semua penghuni rumah masih terlelap, kecuali seorang asisten rumah tangga yang kebetulan berpapasan dengannya. Dia menyelinap ke dalam selimut, berusaha sepelan mungkin agar tak mengganggu Paul. Beberapa menit kemudian, sisi lain ranjang bergoyang di belakangnya, namun dia tak bergerak. Bianka menunggu Paul keluar dari kamar, dan terkejut saat merasakan satu tangan besar melingkari pinggulnya dan menariknya ke belakang sebelum memeluknya dengan erat.
Hari-hari berlalu tanpa kesan yang berarti baginya. Paul, Anne, keluarga -kecuali ayah dan ibunya-, dan teman-teman Bianka selalu berada di sekitarnya. Satu-satunya waktu yang dia habiskan seorang diri hanya saat malam-malam dimana dia keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu atau di balkon.
Dia melakukan upaya terbaiknya untuk sejenak 'melarikan diri' dari semua orang saat mereka tenggelam dalam mimpi, lalu kembali ke ranjang saat fajar mulai menyingsing dan berpura-pura tidur. Pada siang harinya, dia akan mencuri waktu untuk istirahat. Bianka menyadari kebiasaan itu tidak sehat, tapi setiap kali dia mencoba tidur pada malam hari, dia selalu bermimpi tentang anak-anak lalu bangun dalam keadaan cemas dan hampa.
"Apa yang kau lakukan?"
Bianka tersentak mendengar suara seseorang. Dia sedang berbaring di sofa seperti biasanya, tidak menyadari kedatangan Paul yang kini berdiri di dekatnya. Paul mengusap mata untuk mengumpulkan nyawa.
"Oh! Aku ingin menonton tv." jawab Bianka dengan lembut.
"Mungkin lebih baik kalau kau menyalakannya." kata Paul, suaranya masih terdengar mengantuk.
"Benar. Kembalilah ke kamar, aku akan menyusul sebentar lagi."
Paul menggelengkan kepala dan mengulurkan tangan. "Tidak tanpamu. Ayo, kita sama-sama tidur."
Bianka menerima usul itu dan dengan pasrah menurut. Mereka berbaring, saling berhadapan tanpa ada kontak fisik.
"Kau harus mencoba untuk tidur." gumam Paul.
"Aku tidak bisa. Aku sudah berusaha, tapi tetap saja..."
Paul menariknya lebih dekat, mendorong kepala Bianka ke dadanya sementara wanita itu menghela napas, menikmati kehangatan yang menjalar darinya. Rasanya begitu menenangkan. Untuk pertama kali setelah tragedi minggu lalu, Bianka bisa merasakan sesuatu. Dia menutup mata sejenak sambil meletakkan tangan di dada Paul.
"Maafkan aku, Paul." desisnya halus.
"Hm? Kenapa? Untuk apa?" tanya Paul setelah beberapa saat.
"Maaf atas semua yang telah kulakukan padamu."
"Kumohon, aku harus mengatakannya." desak Bianka.
"Love, aku tahu kau keluar dari kamar setiap malam dan kembali saat hari hampir terang. Dan aku sangat yakin kau tidak tidur sepanjang malam. Maukah kau berusaha lebih keras? Tubuhmu membutuhkan istirahat, sementara yang lain bisa menunggu."
Tak perlu di katakan bahwa Bianka sangat terkejut. Dia mengira sudah melakukannya dengan hati-hati. Tanpa melepaskan kenyamanan dekapan Paul, Bianka menengadah. Tapi tak ada yang bisa dia lihat karena ruangan itu benar-benar gelap, membuatnya sedikit jengkel karena tidak bisa mengetahui ekspresi Paul. Dia berpikir untuk bangun dan menyalakan lampu, namun takut merusak kenyamanan sementara itu.
"Kau bebas melanjutkan tugasmu sebagai perawat pribadiku besok pagi. Tidak masalah kalau kau memang malas berbicara, tapi tolong dengarkan aku."
"Okay." Paul akhirnya mengalah.
"Aku takut kehilanganmu, Paul." gumam Bianka di dadanya. "Tidak peduli sebesar apa ketakutanku, segala yang telah terjadi membuatku menyadari aku tidak bisa terus seperti ini. Karena itu akan membunuhku secara perlahan-lahan. Seandainya kau tahu, jauh di dalam hatimu, bahwa kau tidak bisa menemukan alasan untuk memaafkan dan melupakan masalah kita, maka lepaskan saja aku. Jangan menuntunku ke suatu tempat yang tidak nyata. Kumohon, jangan."
Bianka merasa ingin menjerit dalam tangis ketika dia yang dia dapatkan hanya keheningan. Dengan lembut dia mendorong dada Paul untuk melepaskan diri dari pelukannya. Namun, Paul tidak melepaskannya, alih-alih pria itu justru menariknya lebih dekat ke tubuhnya, mengencangkan dekapannya.
"Kita mampu melewati ini." dengkur Paul pada akhirnya. "Kita harus bisa. Karena aku menolak melepaskanmu."
Bianka menarik napas lega, ketakutannya perlahan memudar. "Apa kau yakin?"
"Bianka, begitu banyak hal yang sudah kita lalui. Kita harus sama-sama belajar. Aku lelah terus-terusan bertengkar denganmu... Aku tidak akan berbohong, untuk sesaat aku sempat menyerah dalam hubungan ini." Dia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Aku sudah memikirkannya berkali kali, dan aku masih mencintaimu, lebih dari diriku sendiri. Aku tidak mau kehilanganmu. Sial, aku tidak sanggup kehilanganmu. Hari-hariku tanpamu terasa seperti neraka, tapi aku mau kau juga siap melakukan hal yang benar-benar kita butuhkan."
"Aku siap. Apapun itu, aku siap melakukannya."
"Baiklah, kurasa kita butuh terapi."
"Oh!" Bianka tampak terkejut. "Kita tidak butuh itu, Paul. Selama kita saling mencintai, aku yakin semuanya pasti baik-baik saja."
"Sadar tidak, kau sedang memakai topeng. Kau berpura-pura terlihat baik padahal sebenarnya tidak. Itu tidak sehat, Bianka. Tak ada salahnya mendengarkan masukan dari seseorang yang ahli, kupikir itu hanya sebatas kita mengakui ketidaksempurnaan dalam hubungan kita dan memerlukan bantuan untuk mencari jalan keluar. Yang harus kau pahami adalah tak peduli betapa pun aku mencintaimu, ada saatnya pikiranku menemui jalan buntu. Aku mau kita menyelesaikan masalah ini hingga tuntas. Jadi, katakan padaku bahwa kau siap melakukan apa pun yang memang harus kita lakukan."
Bianka menarik napas yang sepertinya sudah ke seratus kali untuk malam ini. Paul benar, hubungan mereka memang payah. Alih-alih menghadapi segala rintangan dengan kepala dingin dan dewasa, tanpa sadar mereka justru mendorong diri sendiri lebih dekat ke tepi jurang. Dia ingin bahagia bersama Paul. "Baiklah. Kita minta saran Panda besok pagi. Dia mengenal cukup banyak terapis."
"Bagus." kata Paul, menarik Bianka sambil berguling ke samping, memposisikan dirinya di atas Bianka. Dengan lembut mengusap pipi wanita yang selalu dicintainya, menyusuri pipi, ke rahang, hingga ke bibirnya. "Aku mencintaimu, love." bisiknya sebelum menyatukan bibir mereka.
Bianka tersenyum senang. Mendengar Paul memanggilnya dengan sebutan itu membuatnya menyadari dia benar-benar merindukan kebersamaan mereka. "Aku juga mencintaimu."
Paul menciumnya sekali lagi, sebelum beringsut ke bawah dan mendaratkan dagu di perutnya. "Aku lebih mencintaimu. Kau tidak akan paham sebesar apa rasa cintaku padamu. Sekarang, waktunya tidur. Tutup mata dan jangan pikirkan apa pun, okay? Aku disini bersamamu."
"Okay." jawab Bianka, masih tersenyum. Dan untuk pertama kali dalam beberapa hari belakangan, dia hampir langsung terlelap begitu menutup mata.