My Love Journey's

My Love Journey's
Unexpected.



"Bianka, hei..." Aku tersentak, membuka mata saat merasakan tepukan agak keras di pipiku. "Maaf, aku harus melakukannya. Kau menangis dan berteriak dalam tidurmu. Apa yang kau mimpikan?"


Aku menghembuskan napas tersengal-sengal. Wajahku basah oleh air mata sementara pakaianku basah oleh keringat. Aku menggeleng sembari menutup mata. Benakku kembali memutar pristiwa tiga tahun lalu dengan sangat jelas.


"Bianka? Kau baik-baik saja?"


"Uh?" Aku mengerjap, memandang Yola. "Oh, ya, ya. Aku baik-baik saja. Aku, aku akan ke dapur." kataku, beringsut turun dari ranjangnya.


"Apa perlu kutemani?" gumamnya memawarkan dengan nada khawatir.


Aku menggeleng. "Tidak, aku hanya butuh segelas air. Aku baik-baik saja." sahutku, tersenyum untuk meyakinkannya.


"Baiklah, tapi ganti bajumu lebih dulu. Kenakan apa saja yang menurutmu nyaman di dalam lemari."


Aku mengangguk, mengganti kaosku yang lembab dengan salah satu kaos milik Yola, lalu meraih ponsel dan melangkah menuju dapur. Aku melirik layar ponsel dan menyadari ini baru jam lima pagi. Aku benci terbangun sepagi ini.


Aku duduk di meja dapur, merangkai kembali semua kejadian hari itu dan mencoba memecahkan teka-teki yang hingga saat ini masih menjadi misteri untukku. Kenapa dia menghilang? Kenapa tak satu pun dari orang terdekatnya yang mau berbicara denganku? Apa yang sebenarnya terjadi?


Tak peduli sekeras apapun usahaku untuk menebak sebuah kemungkinan, aku tetap tak dapat menemukan alasan yang masuk akal atas kepergiannya yang tiba-tiba. Kehadiran wanita lain jelas bukan salah satu penyebabnya, dan aku tahu dia tidak mungkin menghianatiku. Dia sungguh-sungguh mencintaiku, atau setidaknya begitulah yang kurasakan.


Charlotte, wanita yang kulihat di dalam kamarku bersama Paul saat aku kembali ke rumah merupakan salah satu pengacara yang membantunya mengurus masalah klub. Hari itu, aku membuat kekeliruan dengan menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang kulihat, dan kami berhasil melewati masalah itu beberapa hari kemudian. Paul tidak menciumnya, tapi siapapun yang berdiri di tempatku saat itu akan melihat hal yang persis sama denganku karena memang kelihatannya begitu.


Yah, semuanya baik-baik saja hari itu dan hubungan kami baik-baik saja. Tentu, itu tak bertahan lama hingga hari mengerikan itu terjadi, dan dia meninggalkanku.


Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di dapur hingga dering ponsel membuatku terkesiap. Aku menunduk dan mendapati nama Franda yang menelepon.


"Panda, hai," sapaku begitu tersambung.


"Oh, syukurlah kau masih hidup." katanya, kelegaan tersengar di suaranya. "Apa kau baik-baik saja?"


Aku mengerutkan kening. "Ya, aku baik-baik saja. Ada apa?"


"Dean baru saja mampir ke rumah dan bilang kau mabuk parah semalam."


Aku memutar bola mata sambil mengembuskan napas geram. "Aku tidak mabuk. Dia terlalu melebih-lebihkan." sahutku. "Lagi pula, aku bukan remaja yang tidak tahu bagaimana mengatasi mabuk, kau tidak perlu khawatir."


"Ya, ya, terserah apa katamu." Lalu, suaranya terdengar menjauh sementara dia berbicara pada seseorang yang kutebak suaminya sebelum kembali berucap, "Datanglah ke rumah. Mom memasak sangat banyak makanan untukmu, aku yakin kita bisa memberi makan separuh penduduk kota hari ini." katanya dramatis.


Aku tertawa. "Apa perlu kubuat pengumuman untuk separuh penduduk kota itu? Kau tahu, makan gratis merupakan impian semua orang." balasku, tersenyum geli.


"Kalau kau ingin dia menggorok leherku, lakukan saja." sahutnya. "Oh, ajak Yola bersamamu. Kau di apartemennya, kan?"


"Ya, aku menginap di sini."


"Baiklah, kalau begitu, sampai jumpa." Dia berseru, lalu memutus sambungan sebelum aku sempat mengatakan sesuatu.


Aku menoleh ke sekeliling dan baru menyadari hari sudah terang. Kulangkahkan kaki kembali ke kamar Yola untuk membangunkannya dan kami segera bersiap-siap ke rumah Franda.


"Kau kelihatan gelisah. Ada apa?" tanyaku saat kami sudah melaju di jalan raya. "Apa Bob mengabaikanmu lagi?"


Yola memutar bola mata. "Itu makananku sehari-hari, untuk apa mencemaskannya? Dasar pria gila kerja. Siang dan malam hanya mengurus proyek dan tak peduli pada istrinya. Bahkan, aku pasti sudah melupakan wajahnya jika foto pernikahan kami tidak menempel di kamar." gerutunya kesal. "Pria memang begitu, ya? Egois dan hanya mementingkan diri sendiri."


"Eh, bilang untuk apa mencemaskannya tapi menggerutu. Aneh." bisikku pelan, dan sialnya dia mendengarku.


"I can hear you," katanya tajam.


"Says to you," balasnya cepat. "Sudah berapa lama kau absen, he? Tiga tahun? Oh, ya ampun, aku tidak akan sanggup bertahan selama itu."


"Don't worry. I'm strong." sahutku, yang tentu saja sebuah kebohongan. Aku tidak sekuat itu.


Dia mendengus. "Bullshit! I know you, b!tch."


"Good for you," kataku cuek, mengakhiri obrolan tak berguna itu dan memusatkan pandangan ke depan.


Tiba di area parkir basement gedung yang menjulang tinggi tempat dimana Franda tinggal, kami langsung naik ke atas. Mia, kakak sepupuku yang lain membuka pintu. "Bianka! Oh, astaga, aku merindukanmu." katanya, memelukku dengan erat sebelum menyapa Yola dan berteriak ke dalam rumah. "She's coming!"


Dia menuntun kami masuk, langsung menuju ruang makan. Aku terkejut begitu melihat ayah, ibu, dan adikku duduk disana. "Dad!" teriakku, berlari memeluknya seperti anak kecil. "Kenapa tidak bilang kalau kau sudah datang?"


"Aku ingin memberi kejutan." Dia menarik diri dan mencium pipiku. "Selamat ulang tahun, Anakku."


"Thank you. I miss you." Aku balas mencium pipinya.


"I miss you, too."


Kuputar kepala menghadap ibuku. "Mom, kenapa kau ada di sini dan bukan di rumah sakit? Seingatku, dokter mengatakan kau belum boleh pulang." ketusku. Terkadang, wanita ini sangat susah di atur.


Dia tersenyum di kursi rodanya. "Omong kosong!" katanya. "Bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan ini? Aku sudah kehilangan banyak waktu bersama kalian." Nadanya terdengar sedih dan rasa bersalah berkelebat di matanya. "Kemarilah, beri aku pelukan seperti ayahmu."


Aku memeluknya. "Kau masih saja cemburu, ya. Padahal, aku lebih sering menghabiskan waktu bersamamu."


"Tidak sebelum kau menerimaku kembali. Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga Tuhan selalu memberimu kebahagiaan."


"Thank you, thank you." Aku tersenyum getir, meragukan kenyataan Tuhan akan memberiku kebahagiaan. Kebahagiaan.


"B," Aku menoleh Louis. "Happy birthday," gumamnya.


"Thank you."


"I have a present for you," kata Lily, keponakanku, sambil menarik ujung gaunku lalu mengulurkan sebuah kertas bergambar padaku.


Aku tersenyum, menerima kertas itu dan merunduk. "What is this?"


"It's you." jawabnya dengan ceria. Aku terkekeh.


"Oh, aku merasa terhormat."


"Ini rambutmu, dan ini kepalamu," gumamnya menjelaskan. Entah sejak kapan rambutku terpisah dari kepala, tapi siapa aku hingga berhak menghakimi kerja kerasnya.


"Wow- that's so good," kataku. Wajahnya berbinar saat dia mengucapkan terima kasih.


Aku mengusap kepalanya sambil menegakkan tubuh dan menoleh Franda yang kini sudah membuka kedua tangan, menunggu giliran memelukku. "Happy birthday, Sissy. I love you."


"Thank's, and I love you, too."


Aku menarik diri darinya. Dan, tepat pada saat itulah aku mendengar suara yang membuat jantungku berhenti berdetak.


"Love."