My Love Journey's

My Love Journey's
Drunk Bianka



Author's POV.


Bianka dan Paul sama-sama mengenakan jubah mandi hotel saat sambil menikmati pizza. Tak satu pun dari mereka yang menginginkan keluar untuk makan malam. Keduanya menghabiskan sisa haribitu dengan mengobrol, bercanda, dan minum. Rasanya sudah begitu lama sejak mereka sesantai dan sebebas itu.


Paul menoleh potongan pizza terakhir yang seolah menari menggodanya ketika dia melirik lalu menyesap bir. "Kita tidak punya pakaian ganti."


"Yup. Tapi, kurasa tidak masalah. Kau bebas berjalan tanpa pakaian disini kalau kau mau." jawab Bianka, sementara memandang Paul dari kepala sampai ke kaki. Sebaris senyum menghiasi bibirnya, kemudian pandangan mereka beradu.


"Benarkah?" balas Paul sambil menyeringai senang, melupakan pizza tadi.


Dengan lembut dan agak menggoda, Bianka menurunkan bahu jubahnya, menunjukkan pundaknya yang mulus. Dia menunduk, menggigit bibir, lalu kembali menaikkan pandangan, dengan raut polos. "Kita belum mencoba ranjang hotel ini, kan? Kupikir itu gagasan sempurna."


"Oh, sebuah tawaran yang menarik." Paul mencondongkan tubuh ke depan, sikunya bertumpu pada meja. "Tapi, mungkin aku butuh lebih banyak dorongan." Dia menjilat bibir.


Bianka meniru gerak-geriknya, meletakkan siku di meja, kemudian menautkan jemari mereka. Matanya nakal, dia maju sedikit ke arah Paul, meninggalkan jarak sekitar satu inci di antara bibir mereka. Lantas, menjilat dan menggigit bibirnya.


Paul tersenyum penuh kemenangan. Dia baru saja berencana melingkarkan lengannya pada Bianka saat wanita itu tiba-tiba mundur, mengikik senang. Setelah beberapa detik barulah Paul menyadari bahwa dia telah ditipu. Bianka berhasil mendapatkan potongan pizza terakhir.


"Oh, dasar licik!" Paul terkesiap, membuat Bianka tertawa. "Ayolah, ini tidak adil. Aku masih menginginkannya." Dia cemberut, melipat kedua tangan di dada, merajuk saat Bianka membuat satu gigitan besar di pizzanya.


"Loh, kau tidak boleh marah pada wanita yang sedang kelaparan." Bianka tertawa, mulutnya penuh pizza.


Paul tidak dapat mengingat kapan terakhir kali mereka bersenang-senang bersama. Dia senang melihat Bianka begitu tenang dan bersemangat.


Ya Tuhan, aku sangat mencintai wanita ini. Masih belum percaya bahwa aku nyaris saja kehilangannya. Sial! Itu merupakan kesalahan terbesar dalam hidupku. Hubungan kami jelas kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Coba lihat dia! Dia tidak tahu betapa cantik dan seksinya senyum itu, bahkan tanpa harus berusaha.


Paul memandang bibir Bianka dan membayangkan kejantanannya tenggelam di dalam sana.


"Aku tahu isi kepalamu saat ini, jadi kusarankan sebaiknya kau berhenti membayangkan hal tak senonoh, Paul." Bianka terkekeh setelah menelan potongan pizza terakhir itu.


"Oh, ya? Kau yakin tidak tertarik untuk bergabung dengan pikiran kotorku?" balas Paul, menaikkan alis menantang, kepalanya agak miring sedikit. "Mungkin... itu akan menyenangkan."


"Tidak. Kau mabuk, dan kau perlu istirahat."


"Kau tidak membantu sama sekali." gumam Paul, bangkit dari sofa dan menghempaskan diri di ranjang. "Sekedar informasi, Mrs. Klug-soon-to-be, aku tidak mabuk, hanya sedikit oleng."


"Baiklah, terserah apa katamu, Kapten!" sahut Bianka, meringkuk ke dalam dekapannya.


Paul mengencangkan genggaman, Dia lega melihat bahwa perhatian penuh ibunya telah membantu Bianka mendapatkan kembali berat yang sempat hilang. Tubuhnya terasa sangat pas di pelukan Paul, jadi dia tidak ingin malam itu segera berakhir. Dia belum mau tidur. "Ayo pergi ke klub malam."


Bianka mengangkat kepala, sebelah tangannya di dada Paul. "Siapa kau? Apa yang kau lakukan pada kekasihku?"


Paul tertawa. "Aku belum mau mengakhiri malam ini. Aku ingin menari, dan aku ingin kau menari untukku... di pangkuanku." Paul mengakui, memandang Bianka dengan tatapan berharap. Dia masih ingin bersenang-senang.


"Kita tidak punya pakaian yang layak, Paul. Kalau kau mau, aku bisa bergoyang disini."


Bianka terdiam, tidak terlalu yakin dengan gagasan itu.


"Kumohon, love..." gumam Paul. "Kau berhutang potongan pizza terakhir yang kau habiskan."


"Hah?!"


"Bilang saja 'okay, sayang.' Apa susahnya, sih?" rengek Paul sekali lagi.


"Tidak."


"Ya."


"Tidak."


Dengan gerakan cepat Paul melompat dan mulai menggelitik perut Bianka. Bianka mencoba kabur darinya tapi Paul menekannya ke kasur. Paul tak berhenti sampai wanita itu hampir kehabisan napas. "Okay. Okay. Kau menang." Bianka mendengus, tersengal-sengal.


Dua setengah jam kemudian, Paul dan Bianka duduk di ruang VIP sebuah klub terkenal di Jakarta, dua botol sampanye sudah kosong sementara yang ke-tiga hampir habis. Tak diragukan lagi, keduanya telah mabuk. Paul mengenakan kaos putih polos yang tertutup jaket hitam, celana jins biru serta sneakers putih. Dia memastikan Bianka mengenakan pakaian yang serasi dengannya, yaitu gaun putih ketat tanpa lengan dengan panjang hanya mencapai pertengahan pahanya. Ini membuat Paul menyeringai sepanjang malam karena dia bisa memandang lekuk indah tubuh kekasihnya.


Begitu tiba di klub, Bianka langsung melepaskan jaket yang dikenakannya, memberikan pemandangan bokong yang menggiurkan. Sedetikpun Paul tidak mau beranjak dari sisi Bianka, tangannya terus menempel di pinggul wanita itu. Karena pengaruh alkohol, tanpa sadar Bianka terus menari.


Pada saat itu, Paul tak memperhatikan alunan musik sama sekali, semua perhatiannya tertuju hanya pada satu orang. Bianka Becker.


Bianka menggerakkan pinggulnya dengan lihai, menempelkan bokongnya ke bagian depan pinggul Paul dan membuat gerakan memutar yang nakal, tersenyum puas saat Paul tak mampu berpaling darinya. Kemudian, mendadak dia berlutut di antara kedua kaki pria itu, menyusurkan tangan ke pahanya, naik hingga ke selangkangannya, sebelum kembali berdiri dan melayangkan senyum genit.


Bianka berputar sekali lagi sebelum mencondongkan tubuh ke Paul, dengan bokong sedikit merayu, dia turun ke pangkuan Paul. Tanpa pikir panjang Paul membantu Bianka dengan menahan bokongnya sementara wanita itu bergerak naik-turun perlahan dan sensual, sambil melingkarkan lengannya di leher pria itu.


Bianka bisa merasakan bagian tubuh Paul yang mengeras. Dia tersenyum jahil, matanya penuh dengan intrik. Bianka mencondongkan tubuh ke depan mengecup bibir Paul, lalu berpindah ke rahangnya sebelum menjilat telinganya. Paul mengerang dan refleks mendorong pinggulnya ke atas. Bianka tersenyum sekali lagi sebelum menarik diri dan menjulang di antara kaki Paul.


Paul merasa perlu berterima kasih kepada alkohol atas pertunjukan di depan umum barusan. Dia mengamati setiap gerakan Bianka yang penuh sensualitas, gairah, dan semangat saat pinggulnya meliuk dari satu sisi ke sisi lain, lalu seakan dia sedang mencoretkan angka delapan dengan pinggul itu.


Paul benar-benar tegang, celananya mendadak sempit hingga ke level menyakitkan. Bianka memang gila, tapi dia tetap, dan akan selalu menjadi Bianka-ku... pikirnya dalam hati.


Paul menepuk bokong Bianka agak keras. "Ya Tuhan, seksi sekali..."


Bianka terkesiap, terkekeh halus. "Ayo pulang, sayang." rengeknya di telinga Paul, sambil terus meliukkan pinggul.


Paul mengeratkan cengkeraman di pinggul Bianka, menggeram. "Sial! Kau mencoba membunuhku, ya?" jawabnya dengan suara serak dan berat.


"Komohon, Paul. Bukankah kau juga ingin mencicipi bagian tubuhku yang paling kau sukai itu?" tantang Bianka, mengedip nakal. "Aku sudah sangat basah dan siap untukmu. Aku ingin kau membuatku menjerit sampai suaraku habis. Aku ingin hancur dibawah kendalimu."


Paul membulatkan mata, rahangnya menganga, sementara sesuatu mendesak celananya lebih keras. Tak perlu dijelaskan bahwa dia benar-benar terkejut menyaksikan Bianka segila dan seliar itu di depan umum. Ini... lain daripada biasanya, tapi bukan berarti dia tidak menyukainya.


Selama bersama Bianka, tak pernah sekalipun dia mendengar wanita itu berbicara vulgar di depan umum, dan tadi... "Sial, sepertinya aku benar-benar akan mati malam ini," gerutu Paul, putus asa menahan hasratnya, sebelum menarik Bianka keluar dari sana.