My Love Journey's

My Love Journey's
Deja Vu



Aku menerima balasan pesan dari Paul pada jam empat sore di hari yang sama. Ini hari sabtu, aku bekerja sejak pagi dan sudah menyelesaikan jam kerjaku. Sekarang aku sedang mengerjakan beberapa tugas dari Dr. Grey di rumahku.


From: Paul: Apa maksudmu?


To: Paul: Pinjaman mahasiswaku. Aku tahu kau yang membayarnya, Paul.


From: Paul: Oh, ya. Aku memang melakukannya.


To: Paul: Kenapa, Paul? Kau jelas mengetahui bahwa aku tidak pernah suka kau menghabiskan uangmu untukku, dan aku sudah bekerja keras selama ini untuk melunasinya karena itu TANGGUNGJAWABKU. Kau sama sekali tidak berhak mencampuri urusanku, Paul!


Tidak ada balasan darinya meskipun dia sudah membaca pesanku, maka aku mengirim pesan lagi padanya.


To: Paul: Jangan coba-coba bermain denganku. Sekarang, kuminta kau menariknya kembali.


From: Paul: Menarik apa?


To: Paul: Uangmu, brengsek! Cepat hubungi pihak bank dan bilang kalau kau salah membayar. Salah nama, atau apa saja...


From: Paul: Kau kira mereka akan percaya jika aku mengatakan telah membayar pinjaman mahasiswa dan kemudian tiba-tiba menyadari kalau aku bukan mahasiswa yang punya pinjaman?


To: Paul: Paul, jangan main-main denganku. Ini sama sekali tidak LUCU. Aku tidak mau berhutang padamu. Kumohon bereskan semuanya hari ini juga.


From: Paul: Aku tidak pernah mengatakan kau berhutang padaku, Bianka. Anggap saja itu sebagai bayaran karena aku sudah mengacaukan hidupmu.


To: Paul: Aku akan menelepon bank. Mereka akan mengurusnya. Terima kasih telah membuat hidupku semakin kacau!


Aku beralih menelepon bank yang memberiku pinjaman mahasiswa, mencoba berdiskusi dengan seorang wanita ramah yang kutebak berumur sekitar tiga puluhan, namun berakhir tanpa menghasilkan apapun. Dia bilang pinjamanku sudah lunas dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menarik kembali pembayarannya.


Dengan perasaan marah yang menggebu-gebu, aku mengirim pesan kepada Stacey.


To: Stacey: Panggil semua orang karena kita akan ke club malam ini.


***


"Hei, tenanglah, aku baik-baik saja." Aku terkekeh. "Aku akan pergi memesan minuman tambahan. Ingat, jangan turun ke lantai dansa sebelum aku kembali." kataku bergurau mengancam Stacey, Elise, Camille, dan Valerie.


"Aku ikut," kata Red menawarkan diri sambil berdiri. Suara musik yang menggema di seluruh ruangan dan kadar alkohol yang sudah masuk ke dalam darahku membuatku sedikit lebih tenang dan santai.


Aku berjalan menyelinap di antara kerumunan manusia yang berada di dalam klub. Aku mengenakan celana jins hitam dan atasan ketat dengan warna yang sama serta hak tinggi. Aku juga merias wajahku sebaik mungkin untuk malam ini karena aku benar-benar sedang marah, dan ingin melampiaskan kekesalanku dengan melakukan apa saja yang kuinginkan.


Aku menopang kedua tangan pada meja bartender sementara Red berdiri di sampingku. Kami menunggu si bartender melihat ke arah kami.


"Ini akan lama sekali." Red mengerang, dan aku tertawa. "Sir, kami butuh minuman!"


"Bianka?"


Seperti deja vu, sebuah suara serak dan berat menghantam telingaku, persis seperti saat terakhir kali aku berada di klub ini. Tapi kali ini aku tidak sampai nyaris menjatuhkan ponsel dan kartu kreditku setelah mendengar suaranya.


Irama gelak tawaku terhenti lalu aku menoleh ke samping. Dia terlihat sangat tampan. Sialan!


"Apa yang kau lakukan disini, Bianka?" tanya Paul dengan suara lebih keras untuk mengatasi dentuman musik, kemudian dia melirik Red sekilas.


"Menunggu si bartender menyadari kehadiranku." jawabku, kembali mengarahkan pandangan pada bartender yang sedang mennampur minuman.


Aku bisa merasakan tatapannya tertuju padaku, membuat kulitku diterpa hawa panas yang asing namun menggoda. Jantungku berdegup kencang saat suaranya kembali terdengar. "Kau mabuk. Akan akan menyuruh Albert mengantarmu pulang." gumamnya, menyentuh punggungku.


"Kau tahu itu merupakan salah satu bentuk kejahatan seksual jika aku tidak mengijinkanmu, kan?" Aku menatapnya seraya menaikkan alis tinggi-tinggi. "Dan juga, aku tidak mabuk. Setidaknya belum."


Paul dengan cepat menarik tangannya dari punggungku lalu meminta maaf. "Aku minta maaf." Kesedihan jelas terdengar di nadanya.


"Apa yang kau butuhkan, Klug?" tanya bartender yang baru saja tiba di hadapan kami, mengucapkan kalimat yang hampir sama seperti terakhir kali.


Perhatian Paul mengarah padanya. "Tiga Corona," katanya sementara aku memandangi wajahnya dari samping, merasa pusing karena dia tampak begitu tampan. "Berapa banyak Malibu Cocktail yang kau butuhkan, Rapunzel?"


Hanya mendengar nama panggilan bodoh yang selalu di ucapkannya padaku, membuat semua kesedihan yang kurasakan semakin bertambah.


"Ha?"


"Berapa banyak Malibu Cocktail yang kau inginkan?" cetusnya mengulangi sambil menghadiahiku sebuah senyum manis.


"Oh, enam." gumamku pada si bartender, yang kemudian mengangguk dan buru-buru menyiapkan pesananku.


"Yes." jawab Red mewakiliku dengan antusias. "Kau tahu, ini malam para cewek."


"Ah," Paul menganggukkan kepala. "Sepertinya menyenangkan. Apa Valerie juga disini?"


"Yep." balas Red sementara aku berpaling menghadap Paul.


Dia mengangguk, tak berani menatapku. "Bagus kalau begitu." Dia sangat tahu kalau Valerie bisa menjadi sosok ibu di antara kami. Dia tahu Valerie tidak mungkin membiarkan ku berada dalam masalah. Paul masih memikirkanku, tentu saja.


Aku tersenyum simpul, mengulurkan tangan ke lengannya yang keras dan besar untuk menarik perhatiannya. "Apa kau ingat saat terakhir kali kita... kita berada disini?" tanyaku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa ingin terus berbicara dengannya. Apa mungkin karena aku sudah agak mabuk?


"Ya, aku ingat."


"Apa kau merasa kalau kita sedang berada di masa-masa peralihan saat ini?" Aku menarik tanganku darinya. "Kau tahu, kita sudah menutup semua jalan kembali, kan?"


Paul menatapku ke dalam mataku. "Menurutmu begitu?"


"Ya. Bukan kemauanku, tapi alam benar-benar bekerja dengan cara yang misterius."


Paul tergelak. "Ya, memang." Dia meremas tanganku saat aku hendak menurunkannya.


"Aku suka gaya rambutmu yang sekarang." gumamku padanya sambil mengusap punggung tangannya dengan ibu jariku.


Ya Tuhan, aku benar-benar merindukannya. Ada saat dimana aku berpikir untuk kembali bersama Paul, tapi dengan segera kusadari begitu kami memperbaiki apa yang telah rusak dan mencoba menjalaninya dengan tenang, aku tahu takkan ada jalan keluar yang mudah jika suatu hari hubungan kami kembali berada dalam masalah.


Paul tersenyum. "Benarkah? Tapi, aku tidak melakukan apapun dengan rambutku, love."


Aku mengangkat bahu cuek. "Well, kau terlihat keren."


Seakan sengaja menghindari tatapanku, Paul terus membuang pandangan dariku. Sekarang dia melihat ke arah bartender. Aku tahu dia sedang berjuang melawan keinginannya sendiri untuk kembali denganku, dan aku yakin dia sangat tersiksa. Lantas, kenapa dia menyapaku tadi? Bukankah lebih baik baginya menunggu hingga Red dan aku mendapatkan minuman kami lalu kembali bergabung dengan yang lainnya, jadi dia tidak berbicara denganku seperti sekarang.


"Apa kau mau menemaniku di lantai dansa?" tanyaku, mengeratkan genggaman tanganku untuk menarik perhatiannya.


"Apa kau akan bertukar pakaian dengan seseorang lagi?" balasnya bertanya.


Butuh beberapa detik bagiku untuk menyadari maksud kalimatnya. Ketika ingatan tentang hari itu melintas di kepalaku, aku tertawa sambil mencondongkan tubuh ke arahnya.


Sesaat aku merasa seakan semuanya begitu normal, seperti hubungan kami masih terjalin dengan baik dan tak terlihat seolah kami sudah kehilangan segalanya. "Tidak akan. Aku janji." kataku.


"Lain kali saja, ya?" Dia menolah sehalus mungkin. "Maukah kau membantuku, Bianka?"


"Tergantung apa yang kau butuhkan."


Perhatianku sepenuhnya tertuju untuk Paul. Aku bahkan melupakan Red yang saat ini berdiri di belakangku sementara Paul memanggil si bartender.


"Berikan aku segelas air, tanpa es." gumamnya, si bartender mengangguk patuh.


Tak butuh waktu lama, segelas air putih mendarar di atas konter, Paul langsung mendorongnya ke arahku. "Minumlah..."


"Apa?" Ucapannya tenggelam di antara dentuman suara musik.


"Minum ini, Bianka. Kau membutuhkannya."


Tidak ada gunanya menolak. Aku akan selalu kalah jika berdebat dengannya. Jadi, kuraih gelas itu dan menghabiskan isinya dalam satu tegukan.


"Bagus." katanya selagi aku meletakkan gelas kosong di atas konter. "Bilang padaku kalau kau membutuhkannya lagi, oke?"


Dia menatapku dengan cara yang membuatku tergila-gila padanya, seakan aku merupakan satu-satunya hal paling berharga untuknya, namun aku begitu jauh dari jangkauannya.


"Oke, terima kasih. Tidak perlu mencemaskanku, aku akan baik-baik saja."


kemudian pesanannya tiba di depan kami, dan tepat sebelum Paul pergi aku menanyakan satu pertanyaan yang terus menghantuiku hingga saat ini. "Kenapa kau meninggalkanku hari itu?"


Dia menghela nafas sembari memalingkan wajah. "Ini bukan tempat dan waktu yang tepat untuk membahas masalah itu, Bianka. Kehidupanmu pasti jauh lebih baik sekarang, ya kan?"


"Kenapa kau egois sekali, Paul? Kau mengira yang kau lakukan merupakan hal yang benar, tapi sebenarnya tidak. Aku yakin kita bisa membicarakannya baik-baik, bukan dengan meninggalkanku seperti itu, seolah kau mengetahui apa yang kuinginkan meskipun pada akhirnya itu hanya tebakanmu. Aku berharap kau bisa bersikap lebih dewasa."


"Ayo, Bianka." Red memanggilku tepat setelah aku menyelesaikan kalimatku. Aku memutar kepala menoleh dan mengangguk padanya, lalu kurasakan Paul melepaskan tangannya dariku dan saat aku mengembalikan pandangan, dia sudah pergi meninggalkanku.