My Love Journey's

My Love Journey's
After The Storm.



Untuk merayakan hari kembalinya kedamaian ke dalam hubungan kami, Paul memintaku tetap berada di rumahnya sepanjang hari agar kami bisa bersantai sambil menghilangkan efek mabuk gila-gilaan semalam.


"Aku izin libur hari ini." gumamku saat Paul mendaratkan bokongnya pada sofa disebelahku. Aku menaikkan lutut ke dada dan tersenyum memandang wajahnya yang bingung.


"Izin libur?"


"Ya," jawabku sembari mengangkat bahu lalu bersandar padanya ketika dia merangkuh pundakku. Hatiku benar-benar diliputi kelegaan saat ini.


Paul sudah mematikan lampu ruangan dan kami sudah siap memilih satu film bagus di Netflix. "Apa kau tidak pernah izin sebelumnya?" Dia meletakkan remot di atas pangkuannya, tampak sangat tertarik membahas masalah izin liburku.


Aku memandang matanya berkilat-kilat senang yang seakan bisa menenggelamkanku ke dalam sana. "Bekerja sambil mabuk bukan suatu pengalaman yang ingin kualami... Aku juga harus meluruskan sesuatu denganmu." gumamku menjelaskan, memandang ke layar televisi yang menggantung di dinding.


"Kau tidak masuk kerja karena aku."


"Well, lebih tepatnya karena kita." Aku terkekeh. "Tapi, kujamin ini tidak akan terjadi lagi. Kita harus mulai membuka diri dan jujur terhadap satu sama lain, dan tentu saja tidak melarikan diri ketika ada masalah..."


Dia menggumamkan kalimat setuju lalu membuatku terkejut dengan mencuri satu ciuman kilat di pipiku. "Untuk apa itu?" Aku menolehnya seraya tersenyum genit.


Paul mengangkat bahu cuek, sudut bibirnya tertarik menyunggingkan seringai mengagumkan yang selalu dimilikinya, entah bagaimana tetap berhasil membuatku merasakan gejolak panas membara. "Kau terlalu manis. Dan aku mencintaimu." sahutnya santai, tanpa dia tahu kalimatnya berhasil menaikkan irama detak jantungku. "Apa kau tidak mau aku menciummu?"


Kemudian Paul mengangkat alisnya padaku, meminta jawaban. Ketika aku yakin tidak akan mengalami serangan jantung merespon sinyal rayuannya, aku berucap, "Bukan begitu..."


Dia menangkap nada genitku yang memicu senyumnya beralih menjadi sebuah seringai menakjubkan dan membuat tampangnya semakin menawan, sementara kedua alisnya masih terangkat tinggi-tinggi. "Lalu, bagaimana? Apa kau menginginkan aku menciummu di tempat lain?" suaranya melemah, tatapan matanya terpaku padaku. Darahku berdesir dan kuyakin pipiku pasti merona saat ini.


"Mungkin..." aku tersenyum lalu bergeser hingga dadaku menempel di dadanya.


"Kau benar-benar nakal, Rapunzel..." Paul tertawa dan kembali memandang ke layar televisi.


Aku mengernyit sementara senyumku perlahan meredup. Aku sudah membayangkan hal lain akan terjadi ketika dia menggodaku dengan kata-katanya.


"Mau nonton film apa?" tanyanya kemudian, seakan dia tidak merasa sudah mengalihkan perhatianku.


Aku terdiam sejenak dengan alis masih berkerut, hingga Paul menolehku. "Paul, aku..."


"Film dulu, love. Bukankah kita butuh semacam dorongan agar lebih bersemangat?" Wajahnya terlihat ceria begitu mendapati aku yang melongo seperti orang bodoh.


"Oh," desahku lirih.


Menganggap itu bukan hal penting untuk aktivitas kami berikutnya, aku merebut remot dari tangannya lalu dengan cuek memutar film pertama yang muncul tanpa membaca judulnya. Kemudian kulempar remot ke sofa di sampingku dan langsung meraba lengannya yang keras. Aku memandang Paul yang tampak ragu menyentuhku setelah film di mulai.


"Bianka, boleh aku bertanya sesuatu?" Paul menatapku dengan alis berkerut.


"Apa?"


"Apa kau berharap gairahku bangkit oleh film Toy Story?"


Ketika menyadari film apa yang kupilih, aku tertawa. "Oh, God... Maaf, aku tidak terlalu memperhatikannya." kataku lalu menggelengkan kepala, merasa malu sekaligus geli pada saat yang bersamaan.


Paul ikut tertawa sambil mengacak-acak rambutku, kemudian dia memilih film komedi romantis Amerika yang belum pernah kutonton sebelumnya.


Berselang beberapa menit kemudian, aku sudah berbaring di sofa sementara Paul menindihku. Dada kami saling menempel sementara kakiku melingkar di pinggulnya.


"Aku ingin kau mengatakan padaku kalau kau merasa tidak nyaman dengan gaya hidupku. Aku bisa membawamu liburan, kita akan pergi kemanapun kau mau. Cukup beritahu aku apa yang kau rasakan, oke?" gumamnya berbisik di bawah telingaku, mengirimkan sensasi nikmat di sekujur tubuhku.


Hatiku melambung tinggi dan aku tersenyum. "Ya, aku akan mengatakannya."


"Aku serius, Bianka. Aku tidak sanggup menerima kenyataan saat kau pergi begitu saja dengan alasan agar aku bisa bermain dengan baik." suaranya terdengar lebih serak dan dalam, membuat hasratku semakin terpanggil. "Kita akan terbang ke Yunani untuk berjemur atau menikmati kota..."


Tawaku terlepas tanpa bisa kucegah, hingga Paul mengangkat tubuhnya sedikit untuk menatapku. "Yunani? Kau ingin membawaku ke tempat terpencil karena aku tidak menyukai perhatian berlebihan saat kita berada di luar?"


"Ya, aku akan melakukan apapun yang membuatmu nyaman, love. Berjanjilah padaku." dengkurnya serius.


"Berjanji padamu?" Aku menaikkan kedua tangan menangkup wajahnya.


"Ya, Bianka. Bicara padaku setiap kali kau merasa tidak nyaman. Aku akan menuruti kemauanmu, apapun itu..."


"Okay, aku janji..."


Dia memberiku satu ciuman untuk mengikat janji kami. "Bagus." katanya, kemudian menciumku lagi. Lebih dalam dan menuntut.


***


"Jangan pergi," Paul memeluk pinggangku ketika aku sedang menghabiskan kopi di gelasku.


Aku terkekeh pelan lalu berbalik menghadapnya setelah meletakkan gelas di atas meja dapur. "Shift-ku hanya lima jam hari ini, itu tidak akan selama yang kau pikirkan, Paul."


"Menginaplah semalam lagi, aku masih merindukanmu..." Aku memandang mata hitamnya yang tampak bersinar diterpa cahaya matahari. "Pakaian dan barang-barangmu masih ada disini, kan?"


Genggaman tangannya mengencang di pinggangku sementara satu senyum nakal muncul di sudut bibirnya. Bisa kembali memandang Paul seperti ini merupakan hal paling membahagiakan untukku, aku benar-benar merasa aman dan damai. Dia memang rumah untukku.


Tanpa menjawab tawarannya, aku berucap. "Aku harus segera berangkat. Dr. Grey akan mengomel seharian kalau aku terlambat." Aku menaikkan alis untuk menegaskan ucapanku.


"Biar kuantar. Aku latihan hari ini, tapi pasti sudah selesai saat jam kerjamu habis," katanya memulai. "Setelah itu aku akan menjemputmu, kita tidur bersama malam ini."


"Tidak bisa, Paul. Frosty di rumah sendirian, dia mandiri tapi masih tetap membutuhkanku. Kau tahu itu, kan?" gumamku menjelaskan seraya menyunggingkan senyum.


Paul terdiam sejenak sebelum kembali berbicara. "Karena sekarang hubungan kita sudah lebih baik, jadi aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Apa itu?"


"Aku ingin kau tinggal bersamaku. Di rumah ini." cetus Paul dengan nada serius, membuat jantungku berdegup keras, dan satu tawa halus meluncur dari sela-sela bibirku.


"Itu bukan pertanyaan..."


"Kau benar." kata Paul, lalu mendengkurkan tawa geli dan menunduk sekilas. "Maukah kau tinggal denganku?"


Aku sungguh percaya padanya dan aku benar-benar mencintainya. Tapi aku masih takut akan sesuatu yang buruk mungkin terjadi di antara kami nanti jika kami tinggal bersama. "Aku akan mempertimbangkannya, Paul." cetusku. "Kita bahas nanti ya, karena aku harus segera ke rumah sakit sekarang."


***


"Selamat pagi..." Aku menyapa seorang pasien wanita paruh baya di ruangannya sambil tersenyum.


"Hai, sus..." Dia membalas senyumku dari ranjang pasien, sudut matanya berkerut.


"Bagaimana perasaanmu hari ini, Mrs. Stanley?" tanyaku sambil membaca papan klip yang berisi informasi kesehatannya.


"Lelah," sahutnya, mengangkat tubuhnya sedikit.


Aku lanjut memeriksa denyut nadinya sambil mengobrol sejenak. Membuat pasien merasa tenang dan aman saat berada di rumah sakit merupakan salah satu prioritas dalam bekerja. Dr. Grey semakin mempercayaiku dan membiarkanku berkeliling sendiri untuk mengecek keadaan pasien karena tak lama lagi pendidikan tingkat pertamaku akan selesai. Aku begitu bangga karena berhasil bertahan hingga di titik ini.


Oh, jangan bingung, teman-teman... Aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan sekolahku disini karena aku sudah lebih dulu menjadi sarjana saat di Indonesia. Bisa kubilang melanjutkan kuliah di Jerman hanya sebagai formalitas agar aku bisa bekerja di rumah sakit manapun yang kuinginkan, namun tentu tetap harus melalui prosedur seperti melamar kerja pada umumnya.


Setelah lima jam yang tak terlalu sibuk di rumah sakit, akhirnya aku menyelesaikan shift-ku hari ini. Seakan dia mengetahui kalau aku sudah mengganti seragam, Paul mengirim pesan padaku.


From: Paul: Love, aku sudah di depan, ya x


Aku keluar dari ruang ganti tanpa membalas pesannya, kemudian kulihat Travis berjalan menuju arah yang sama denganku. Aku bergabung dengannya.


"Namanya Mary," kata Travis. Dia sedang menceritakan seorang wanita yang tengah dekat dengannya. "Dia gadis yang menyenangkan, kau pasti menyukainya."


Mulutku melengkung. "Ah, aku tak sabar ingin bertemu dengannya. Kita harus segera membuat rencana untuk itu. Aku akan mengajak Paul..."


"Baiklah, tapi aku perlu bertanya padanya. Hubungan kami belum sedekat itu, aku tak ingin membuatnya berpikir kalau aku mendesaknya." Travis menjelaskan.


Sebenarnya aku tahu Travis pria yang baik dan dia tidak akan membuat seorang wanita merasa tak nyaman. "Kau sungguh pria yang baik, Travis." gumamku padanya. "Aku yakin dia pasti menyukaimu."


Travis terkekeh. "Terima kasih, Bianka. Apa itu Paul?"


Aku menoleh mengikuti arah pandangan Travis dan mendapati sport-car hitam pekat milik Paul terparkir di tepi jalan. "Siapa lagi?" jawabku bergurau. Sekarang, kami berjalan mendekati mobil mewah itu.


"Apa kau keberatan aku menyapanya sebentar? Aku ingin mengucapkan selamat padanya..."


Pintu mobil pengemudi terbuka dan Paul muncul dari sana, senyumnya merebak begitu melihatku. Aku senang karena kami berhasil melewati masa-masa suram, membuatku yakin kalau Paul dan aku benar-benar sudah kembali ke hubungan kami yang hangat dan penuh sukacita. Kurasa kami memang harus segera tinggal di rumah yang sama untuk mempermudah semuanya.


Paul membiarkan pintu mobil terbuka sementara dia menghampiriku. "Hai, baby." Tanpa ragu dia melabuhkan satu ciuman cepat di bibirku, yang kemudian membuatku agak terkejut karena kami sedang berada di tempat umum.


Aku tersenyum. "Hei," kataku, sambil berharap dalam hati semoga orang-orang tidak mengenalinya.


"Apa kabar, bung?" sapa Travis. Aku bertaruh dia sedang gugup saat ini.


Paul memalingkan wajah menatap Travis ketika aku sedang menggenggam tangannya, memberi satu remasan lembut yang menandakan aku memintanya bersikap baik.


Paul tersenyum ramah. "Sangat baik. Kau?"


"Baik, baik.." Travis menganggukkan kepala, tersenyum lebar. "Selamat untuk kemenangan kalian di Piala Dunia, kalian pantas mendapatkannya."


"Terima kasih," Paul terkekeh. "Bundes liga akan segera di mulai, siapa jagoanmu?"


"Tentu saja Bayern. Memangnya tim mana lagi yang lebih layak di dukung?" cetus Travis, masih terlihat gugup.


"Pilihan bagus, Travis." Paul menepuk lengan Travis untuk menunjukkan sedikit sisi ramahnya. "Uhm, aku senang berjumpa denganmu, tapi kami harus pergi sekarang."


"Oh, ya, ya. Silahkan..."


Aku melambaikan tangan pada Travis selagi Paul menggiringku ke mobil. "Sampai jumpa besok." kataku sambil tersenyum, yang kemudian dibalas oleh Travis. Bisa kubilang dia sangat senang dengan obrolan singkat bersama Paul barusan.


"Apa kegiatanmu besok?" tanya Paul begitu dia melajukan mobil menjauh dari area rumah sakit, masih memegang tanganku.


"Oh, terima kasih, Tuhan... Aku libur besok. Tapi ada sekitar lima ratus halaman buku yang harus kubaca." sahutku, bersandar di kursi penumpang. Aku membuka sepatu dan menaikkan lututku ke dada.


Aku memutar kepala untuk menikmati pemandangan parasnya yang indah dan rupawan. Dia benar-benar tampan, mengundang hasrat. Dia mencengkeram stir kemudi dengan satu tangannya yang kuat, lengan hoodie-nya ditarik hingga ke siku, menampilkan otot-otot lengannya yang keras. Aku tidak pernah merasakan gairah seksual saat memperhatikan lengan seseorang sebelumnya.


Kemudian dia melirikku dengan ujung matanya sementara bibirnya menyunggingkan seringai genit yang selalu diandalkannya. "Berhenti menatapku seakan kau ingin menerkamku, love. Apa kau mendengar yang kukatakan?" Dia tergelak, kembali memusatkan pandangan pada jalan di depannya.


"Apa?" gumamku pelan, masih memandangi segaris urat nadi tebal di tangannya.


"Kita akan keluar kota malam ini. Ibuku memintaku membawamu ke rumahnya." kata Paul.


"Oh, benarkah? Jadi, kita akan kesana malam ini?" tanyaku.


"Ya."


"Hey," Aku tertawa, menyadari dia sedang gugup karena rahangnya tiba-tiba mengencang. "Tenanglah. Kau terlihat sangat tegang..."


Paul menganggukkan kepala seraya menarik nafas. "Kita mampir sebentar di rumahmu, ya. Kau harus membawa pakaian ganti." dengkurnya beberapa detik kemudian.


Aku mengernyit selagi menghadapnya. "Apa kita akan menginap?"


"Ya, kalau kau tidak keberatan. Kurasa ibuku tidak akan senang jika kita hanya mengobrol sebentar dengannya. Dia sangat penasaran padamu..."


"Oh, well, maksudku..." Tawa halus meluncur dari sela-sela bibirku. "Aku tidak keberatan, tapi bagaimana dengan Frosty?"


Paul menghela nafas sambil menggelengkan kepala. "Kau tahu? Bawa saja dia."


Tanpa bisa kucegah, sudut bibirku terangkat tinggi begitu mendengar ucapannya. "Benarkah?"


"Ya, dia boleh ikut karena aku mencintaimu. Pastikan dia tetap tenang, karena kalau sekali saja dia berani menyerangku, aku bersumpah..."


Kalimatnya tertahan saat aku dengan cepat memajukan wajah untuk mencium pipinya. "Sebesar itukah kau mencintaiku, hm?"


Paul tertawa riang. "Mungkin." katanya. Aku melihat kilatan bahagia menyilaukan terpancar dari matanya.


"I love you too..."