My Love Journey's

My Love Journey's
Too late?



...Paul Klug POV....


Sudah terlambat.


Aku sudah terlambat.


Terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia.


Aku begitu bodoh. Tak seharusnya aku melepaskan Bianka.


Rasanya gila menyadari betapa cepatnya waktu berlalu bahkan ketika kau tidak bahagia. Bahkan meski kau adalah orang yang paling menyedihkan di dunia. Waktu tidak peduli apakah kau sedang bahagia atau sedih. Waktu akan terus berjalan tanpa kau minta dan tak bisa kau hentikan. Dan sekarang, mungkin aku sudah terlambat.


Aku tidak menyadari bahwa aku sedang menunggu waktu yang tepat hingga semuanya berlalu tanpa kurencanakan. Menunggu sepertinya hal yang benar, tapi itu juga memiliki resiko amat tinggi. Tiga tahun berlalu tanpa mendengar suaranya, melihat wajahnya, senyumnya, tawanya, bahkan amarahnya. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Mungkin dia sudah menemukan pria lain, dan jika itu terjadi, maka satu-satunya orang yang pantas disalahkan adalah aku.


Aku melewati tiga tahun belakangan ini dengan marah dan kecewa pada keputusanku sendiri. Dalam banyak kesempatan, aku ingin sekali melihatnya tapi aku sanggup melakukannya, karena aku tahu aku tak bisa menawarkan sesuatu yang pantas baginya. Aku bukan pria yang kuinginkan untuk menjadi suaminya, bahkan hingga sekarang, tapi aku berhasil mengalahkan rasa takut dan membebaskan diriku sendiri dari sesuatu yang menjeratku. Rasa tak percaya diri.


Dan aku ingin berusaha sekali lagi.


Sebelum pergi, aku memutuskan berbicara sebentar dengan ibuku. Hubungan kami juga memburuk setelah segala yang terjadi di antara aku dan Bianka dan itu kesalahanku sendiri. Aku menjaga jarak darinya. Perasaan bersalah karena telah menyakiti Bianka benar-benar menelanku dan itu membuat keselahanku semakin menggunung.


Suatu pagi, setelah Thomas memberiku pencerahan yang pada akhirnya berhasil menggoyahkan pendirianku, aku menghubungi Louis melalui Facebook. Dia satu-satunya orang yang bisa menghubungkanku dengan Bianka. Beruntung, Louis membalas pesanku dan mengatakan ayahnya ingin berbicara denganku. Yah, kami mengobrol. Tentu saja, bukan obrolan ringan mengingat dia sendiri marah padaku karena aku telah menyakiti putrinya, tapi aku berusaha meyakinkannya dan dia luluh.


"Mom," kataku saat dia keluar dari kamarnya.


"Oh, Paul, kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


"Aku..." Aku menghela nafas dalam-dalam. "Aku tidak pernah benar-benar meminta maaf karena telah menyakitimu. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa, Mom."


"Aku tahu," katanya. "Tentu saja kau tidak bermaksud begitu. Kau tidak mungkin sengaja membuatku kecewa. Aku hanya ingin kau bahagia, Paul. Aku tidak akan mengatakan omong kosong untuk membenarkan apa yang kau lakukan, tapi aku senang kau berhasil mengatasi rasa takutmu. Aku bahagia kau bangkit."


"Ya,"


"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku ingin bertemu dan berbicara dengannya. Meminta maaf padanya." sahutku.


Dia tampak ragu-ragu. "Apa kau... memikirkan kemungkinan dia sudah melupakanmu? Mungkin saja saat ini dia bersama orang lain, Paul. Aku tidak mau melihatmu kecewa."


Aku menelan ludah mendengar ucapannya. Tentu saja aku berpikir begitu. Terutama setelah dia meninggalkan ibuku, bahkan sebelum aku sempat berbicara dengannya. Apa pun bisa terjadi dalam tiga tahun ini. Aku membayangkan dia akan membanting pintu begitu melihatku muncul di depan rumahnya. Dan melihatnya bersama orang lain merupakan skenario terburuk yang paling ingin kuhindari. "Aku ingin mencoba, Mom." kataku putus asa. "Aku mencintainya dan di satu sisi aku juga telah menyakitinya. Tapi, aku ingin mencoba sekali lagi."


Ibuku tersenyum getir. "Kau selalu gigih terhadap sesuatu yang kau cintai." Dia menganggukkan kepala. "Bianka wanita yang baik. Dia luar biasa. Aku masih mengaguminya meski dia mengabaikanku kemarin."


Aku mengangguk pelan lalu meraih ponselku yang bergetar di saku celana dan mendapati pesan masuk dari Louis. Dia mengirim alamat Bianka berikut pesan mengerikan, 'Jangan datang jika kau ingin menyakitinya lagi'. Dia tidak membenciku, tapi tidak juga menyukaiku seperti dulu. Tak masalah. Aku akan mendapatkan kembali kepercayaan Bianka dan keluarganya.


"I have to go," kataku pada ibuku, lalu berdiri.


Dia ikut berdiri. "Hati-hati," balasnya.


Aku mengangguk kemudian memeluknya. "I will. Thank's, Mom."


Aku berkendara seperti bebek. Itu benar karena aku tidak ahli berkendara dengan stir kemudi di sebelah kanan, belum lagi jalanan dan lalu lintas kota ini yang luar biasa mengagumkan. Dalam arti yang kurang baik. Serius, jakarta terlalu padat, dan aku akan menambah populasi di sini jika Bianka mau menerimaku kembali. Well, semoga saja.


Kecemasanku meningkat selagi berkendara. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Aku bahkan tidak mampu menduga bagaimana reaksinya ketika melihatku. Apakah dia benar-benar membenciku? Apakah dia akan memaafkanku dan mau mengulang kembali semuanya? Persetan dengan apa yang akan terjadi. Aku harus mencoba. Setidaknya aku harus melakukan sesuatu, apa pun itu. Kupikir keadaan akan semakin memburuk jika aku membiarkannya, lagi pula sudah terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia.


Waktu menunjukkan angka tujuh lewat sedikit saat aku tiba di depan rumahnya. Lingkungannya cukup ramah dan tenang, tak seorangpun tampak sejauh yang bisa kulihat. Aku memeriksa penampilanku di jendela mobil dan menyadari bahwa aku cukup buruk. Aku hanya mengenakan celana jins, kaus, dan jaket.


Aku menghela napas saat berjalan mendekati pintu. Sial, seharusnya aku membawa bunga! Seharusnya aku membawakan sesuatu untuknya. Tapi itu sudah terlambat sekarang, dan kuharap lidahku tidak akan mengkhianatiku. Aku penasaran apakah Louis mengatakan padanya bahwa aku akan datang.


"Hei," katanya saat membuka pintu. "Kau terlalu..." Dia berhenti saat melihatku.


Senyumnya meredup, digantikan oleh ekpresi terkejut yang tak dibuat-buat. Bisa kubilang dia tak menyangka aku akan datang, itu berarti Louis tidak mengatakan apa pun padanya. Napasku tersekat saat bertatapan dengannya dan aku ingin sekali menendang bokongku sendiri karena telah begitu bodoh hingga membiarkannya terluka sendirian.


Aku bisa merasakan cintaku padanya kembali muncul dari persembunyian setelah tahun-tahun menyesakkan tanpa dirinya, seakan tak ada waktu yang terlewati sedikit pun. Yang kurasakan masih sama, atau justru jauh lebih dalam dari sebelumnya.


Dia masih terlihat sama dan juga berbeda. Rambutnya terlihat lebih panjang, tergerai di balik punggungnya. Mengenakan gaun putih ketat menggoda yang berujung di atas lututnya. Sial! Dari penampilannya, sepertinya dia akan pergi berkencan dan aku harus bersusah payah menahan diri agar tidak mengucapkan komentar bodoh yang akan memancing kemarahannya meski sebenarnya aku sangat ingin memujinya saat ini.


"P-paul?" katanya pada akhirnya.


"Bianka," sahutku, terkejut dengan nadaku yang terdengar stabil. "Hei."


Kerutan di keningnya tak beranjak. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya, menoleh ke belakangku untuk mencari alasan.


"Aku ingin melihatmu," kataku, menatap mata cokelatnya. Aku teringat saat terakhir kali melihatnya di rumah kami, hari dimana aku marah dan meninggalkannya sendirian tanpa peduli dia sedang kesakitan. Aku mengingat luka di matanya hari itu dan ingin sekali aku memeluknya andai itu cukup untuk mengobati lukanya. Tapi, aku tahu tidak semudah itu.


"Dari mana kau tahu rumahku?" tanyanya.


"Uh..."


"B?"


Dia berbalik untuk melihat Louis yang kini berjalan mendekat. Louis tampak terkejut saat melihatku meski dia sendiri yang memberiku alamat Bianka. Mungkin dia tidak mengira aku akan benar-benar datang.


"Pasti kau yang memberitahunya, kan?" kata Bianka padanya dan bisa kubilang dia marah.


"Hei, brother," Louis mengabaikan kakaknya. "Kau terlihat keren,"


"Louis," kataku malu-malu. "Terima kasih. Senang berjumpa denganmu."


Bianka kembali menatapku sementara Louis mulai mengikik. "Wow, canggung sekali. Aku akan ke dapur, okay. Take your time, bro."


Bianka memutar bola mata. "Masuklah." gumamnya sambil membuka pintu untukku. Aku cukup terkejut dia tidak mengusirku. Seharusnya ini pertanda bagus, bukan?


"Thank you," Aku melangkah masuk ke dalam. Rumahnya cukup nyaman, bersih, dan rapi. Tampak ruang tengah sebelah kananku dan dapur di sebelah kiri. Aku berdiri seperti orang linglung sebelum berbalik.


Dia mencoba tersenyum selagi menyapukan rambut ke belakang telinga. "Kuharap kau bilang padaku kalau kau akan datang,"


Sekali lagi, aku terkejut mendengar responnya. Kenapa tiba-tiba seakan kemarahannya telah meredup? Aku berdeham. "Ya, benar. Aku minta maaf,"


"Tak masalah," katanya kemudian menoleh ponselnya yang bergetar. "Hanya saja, aku akan keluar."


Aku mencoba tidak meringis, tapi kuyakin aku melakukannya. "Oh, begitu ya," Aku berdeham sekali. "Baiklah, aku akan kembali besok."


Aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Bianka buru-buru meraih dompetnya dari sofa. "Tinggallah kalau kau mau," gumamnya. "Aku akan kembali dalam dua jam."


Kulihat seorang pria keluar dari dalam mobil dan aku merasakan sakit yang menusuk di dadaku.


"Aku minta maaf," kata Bianka, melihatku sekali lagi lalu berjalan dan keluar dari rumah. Aku memandangnya menghampiri pria itu. Dia mencium pipi Bianka dan membuka pintu untuknya.


"Namanya Sebastian," kata Louis dari belakangku. "Pria malang yang tak pernah mundur untuk satu kata 'Yes'."


Fu¢k! Apa yang sudah kulakukan?