
Aku kembali ke halaman depan dan duduk di samping Paul. Panda dan Sean duduk di sebelah kanan kami, Mia dan Jason di bagian kiri dan yang lainnya menyebar di sekitar teras dan di dalam rumah. Anak-anak kecil dan orang tua sudah masuk ke kamar. Dean menyalakan musik melalui pengeras suara, mengayun di keheningan malam yang dingin. Bara api bekas memanggang daging layak di apresiasi karena telah membantu menghangatkan malam ini. Sungguh momen yang sempurna.
"Everything alright?" tanya Paul.
Aku melihat mata gelap indahnya, lalu mengangguk. "Yeah," sahutku, memeluk lengannya dan menyandarkan tubuhku padanya. Dia menautkan jemari kami. "Jadi, kau tidak memberitahuku bahwa kau sedang membeli rumah?"
Dia terkekeh. "Maaf. Kupikir aku tidak akan mendapatkannya secepat ini." jawab Paul.
Aku tersenyum. "Di daerah mana?"
"Tak jauh dari rumahmu." Dia memandang ke depan. "Bahkan, sangat dekat."
"Kau harus menunjukkannya padaku."
Paul memutar kepala menatapku. "Tentu saja. Itu akan menjadi rumahmu juga."
Aku menopang daguku di pundaknya sambil menengadah. "I love you, Paul."
Ekspresinya melembut saat mendengar ucapanku dan dia menaikkan sebelah tangan untuk mengusap pipiku. "Kau tidak tahu betapa damainya hatiku mendengar kalimat itu, Rapunzel."
Aku tersenyum. "Apa yang sudah kulakukan hingga kau kembali padaku, hm?" Ujung jemariku bergerak di sepanjang lengan berototnya. "Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
Dia meraih tanganku dan menciumnya. "Percayalah, love, aku merasakan hal yang sama."
Aku menarik napas dengan bahagia. "Kiss me, please..." Aku berbisik. Dia menyeringai, lalu merundukkan kepala. Aku merasakan hatiku meluap ketika bibir kami bertemu lagi. Aku bahkan tidak menyadari betapa hampa hidupku tanpa Paul hingga saat ini, saat dia menciumku lagi. Itu hanya ciuman singkat, tidak ada hasrat menggebu-gebu karena kami tidak sendirian di sini. Kami saling berbalas senyum malu-malu ketika menarik diri.
Aku menyandarkan kepala ke pundaknya dan memandang ke sekitar. Sekarang, ini benar-benar malam yang sempurna.
"Hey!!!" Aku berseru. "Kita belum menyanyikan Happy Birthday!" cetusku sambil berdiri menarik Paul.
Panda meringis di samping Sean. "Itu tidak..." Dia berhenti karena kami sudah menyanyi.
Sambil ikut mengeluarkan suara, pandanganku terus terfokus pada Paul seakan hanya ada kami di sini. Aku bisa membayangkan dia menyanyikan lagu untuk anak kami nanti. Ya Tuhan, dia akan menjadi ayah yang luar biasa. Tenggorokanku tercekat saat ingatan tentang kehilangan anak melintas di benakku, dan aku merasakan dorongan yang lebih kuat untuk mencoba lagi meski trauma yang kualami belum sepenuhnya luput.
"Thank you," kata Panda ketika kami selesai. Dia menatap suaminya dengan senyum penuh bangga dan rasa syukur. "Thank you, Husband."
Sean tersenyum lalu memeluk dan mencium Panda. "Anytime, baby." Sean memandang istrinya dengan penuh cinta seperti yang selama ini dilakukannya. Memang sudah seperti itu sejak pertama kali aku melihat mereka.
Seringkali aku merasa iri dengan pernikahan mereka yang terlihat angat damai dan penuh cinta, tapi aku tahu setiap hubungan pasti punya masalah masing-masing. Begitu juga dengan mereka. Tidak ada yang mudah dalam suatu hubungan, namun kau akan tetap bertahan jika memiliki pasangan yang mengerti dan mendukungmu secara penuh, begitu pun sebaliknya.
Dibutuhkan dua orang untuk menjalani hubungan yang sehat. Dan, untuk membuat hubungan yang sempurna.
"Party time, peeps!" Dean berseru dari pintu rumah, tersenyum licik sambil berjalan membawa dua botol vodka di tangannya.
Aku memutar bola mata dan mengerang. "Tidak ada yang lain? Aku tidak akan minum itu," kataku dengan suara lebih pelan.
Dean mendengus. "Omong kosong! Semua harus ikut mencicipi, paling tidak satu tegukan." Dia menoleh Mia dengan tatapan lebih serius. "Selain kau, tentu saja. Tidak ada alkohol untukmu hingga tahun depan." Itu bisa dimengerti karena Mia baru saja melahirkan Karen dua bulan lalu.
Aku mengerutkan hidung merespon ucapan Dean sementara Paul berbicara. "Kenapa?" tanya Paul. "Apa kebiasaan mabukmu sudah berubah sehingga takut aku melihatmu?"
Aku mengernyit. "Ugh, no. Aku hanya ingin mengingat setiap momen yang kita lewati malam ini."
Dia tersenyum genit. "Kau merencanakan sesuatu yang spesial?" Matanya berkilat penuh gairah. Ya Tuhan, seharusnya aku sudah tahu ini akan menjadi malam yang panjang.
Aku menurunkan lengan sweater yang kukenakan sebelumnya karena udara semakin dingin. Beruntung cuaca malam ini cukup cerah, jadi kami bisa bersantai di luar sambil menikmati desir angin dan melihat bintang bertaburan di langit.
Paul menjulurkan tangannya dan memeluk bahuku. "Mau masuk?" tanyanya lembut.
Aku menggeleng, meraih gelas dan menyesap wineku. "Aku belum mengantuk."
"Okay."
***
"Siapa Dean itu?" Paul bertanya saat kami sudah berada di dalam kamar. Sepertinya dia sudah menunggu saat yang tepat untuk menanyakan itu sejak tadi.
Aku berbicara sambil mengeluarkan sepasang piyama dari dalam ransel lalu berjalan ke kamar mandi. "Dia sepupu Sean. Kenapa?" balasku bertanya dari balik pintu kamar mandi.
Paul menghembuskan napas agak berat. "Apa dia menyukaimu? Aku melihat gerak-geriknya menyiratkan begitu." gumamnya.
Aku tersenyum. Salah satu hal yang paling kurindukan dari Paul adalah saat dia cemburu. "Memangnya kenapa kalau dia menyukaiku?" Aku sengaja menggodanya, masih tersenyum saat kembali ke kamar.
Dia menatapku ragu-ragu. "Well, kalau begitu aku tidak menyukainya." balasnya santai, tapi tetap terdengar serius.
Oh, aku menyukai ini. "Aku wanita bebas. Bukan milik seseorang, jadi sah-sah saja kalau ada yang menyukaiku. Lagi pula, aku tidak bisa melarang seseorang untuk tidak menyukaiku, Paul." kataku, melemparkan pakaian ke dalam keranjang di sudut ruangan.
Aku mengamati ekspresinya yang mendadak berubah tak senang. Rahangnya mengeras sementara kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan gelisah. "Apa kau juga menyukainya?"
Aku mengeryit. Makhluk ini bodoh atau gila? "Kau tidak akan berada di kamar ini jika aku menyukainya, Mister!" jawabku ketus, lalu tersenyum simpul.
Perlahan wajahnya terlihat cerah. Ujung bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai. Dia meraih pinggulku dengan kedua tangan besarnya. "Hanya itu yang ingin kudengar." Dia berbisik, yang sebenarnya tak perlu karena hanya ada kami berdua di kamar ini.
Aku memandanginya dengan perasaan kagum, tenang, dan mendamba sekaligus, sampai tanpa kusadari air mataku menggenang. "Maaf," kataku, menyurukkan wajah ke dadanya untuk menahan isakan. Tidak seharusnya dia melihat ini.
Kuharap aku bisa lebih kuat, tapi Paul adalah kelemahanku dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun. Cara terbaik bagi seseorang untuk menyakitiku adalah dengan menyakiti Paul. Aku takkan pernah sanggup kehilangannya lagi. Aku sudah pernah mengalaminya, aku sudah tau bagaimana rasanya, dan itu sangat menyakitkan.
Pau Klug, tak peduli seburuk apapun dia, tak peduli sebanyak apa dia menyakitiku, dengan sengaja atau tidak, dia tetap satu-satunya pria yang menetap di hatiku. Dia tetap priaku, dan dia memberiku kehidupan yang tak pernah kurasakan sebelum aku bertemu dengannya. Dia membuatku lebih kuat, dan yang terpenting, dia selalu mampu mengembalikan akal sehatku.
Saat ini aku menyadari bahwa aku tidak akan bisa merasakan ikatan sekuat ini pada orang lain karena Paul mengikatku terlalu kencang sampai rasanya menyesakkan, namun dalam arti yang bagus. Aku takkan pernah berhenti mencintainya meski kami tak lagi bersama. Dia akan selalu memilikiku, bahkan jika dia tidak menginginkanku sama sekali. Dan, ya, ini adalah kelemahanku, tapi ini juga cara terbaik yang bisa kulakukan untuk menyatakan perasaanku padanya karena dia memang pantas mendapatkannya.
Dan, inilah cinta yang sesungguhnya. Dengan cara yang paling liar. Kami mengalami perjalanan penuh lika-liku. Kami pernah berada di titik terendah kehidupan, dan juga duduk di atas puncak tertinggi, dan sampai hari ini kami masih merasakan hal yang sama meski telah terpisah selama tiga tahun. Tidak ada yang berubah selain waktu. Inilah cinta. Kami saling mendukung satu sama lain, berjuang ketika diperlukan dan bersorak saat meraih kemenangan.
Dan, inilah cinta. Yang bertahan ketika salah satunya sedang terjatuh. Berusaha sekuat tenaga saat hal buruk terjadi. Melewati badai bersama-sama.
"Kenapa kau menangis?" Paul bertanya di atas kepalaku, dan aku merasakan pergerakan bibirnya disana.
"Karena aku sangat mencintaimu." Aku terisak.
"Kau menangis karena sangat mencintaiku? Love..." Aku bisa melihat senyum di suaranya.
Aku terisak lagi. "Aku bahagia, Paul. Aku bahagia bisa kembali bersamamu. Aku bahagia karena, entah bagaimana, Tuhan mengembalikanmu padaku. Aku bahagia bisa merasakan ini lagi. Merasakanmu. Merasakan kita."
Dia tersenyum ceria saat akhirnya aku menengadah. "Aku pun sama bahagianya, love. Terima kasih sudah memaafkan dan menerimaku lagi. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku andai kau berbalik arah." Dia menangkup wajahku. "Aku mencintaimu, Bianka. Selalu mencintaimu, Sayang."
Aku tersenyum di sela isak tangis. "Aku juga mencintaimu, Klug."