My Love Journey's

My Love Journey's
A night after.



Author's POV.


Perjalanan kembali ke hotel berlalu dalam sekejap. Di dalam taksi, Paul harus berjuang menahan tangan Bianka yang dengan liar terus berusaha menjamahnya, tidak berniat memberi tontonan gratis kepada sang sopir. Namun, begitu mereka masuk ke dalam kamar, pakaian keduanya langsung terlucuti satu per satu, mengikuti hasrat yang membara.


Bianka mendorong Paul ke kasur dan melompat ke atasnya, tak membuang waktu untuk meraup kejantanan Paul dengan mulutnya. Dia menjilat dengan lembut puncak rudal itu seolah sedang menikmati sebuah lolipop. Kemudian mulutnya berpindah ke bagian bawah, menghisap, dan menjilat lagi, sementara tangannya bermain pada bagian batang.


Paul mengerang, menggulung rambut Bianka dan mengarahkan wanita itu dengan kecepatan yang diinginkannya, membuatnya terpejam merasakan kenikmatan yang ada. Bianka mengguncang mainannya dengan sebelah tangan selagi tangan yang lain meremas dada Paul.


Paul terengah-engah, matanya tak berpaling dari wanita cantik yang tengah menghiburnya dengan segenap hati. Saat Bianka menenggelamkan hampir seluruh bagian dirinya ke mulut, Paul mendesah. "Love..." ucapannya terputus, mulutnya mengatup, matanya terpejam. Dia tahu waktunya tidak akan lama lagi jika membiarkan Bianka terus bermain seperti itu, dia ingin memberikan kenikmatan yang sama... dia ingin merasakan Bianka.


Dengan satu gerakan tangkas, Paul menarik diri dan membalikkan keadaan sebelum mendorong dirinya masuk ke bagian yang begitu membuatnya tergila-gila. Tiada kelembutan dalam desakan Paul, dia melakukannya dengan keras dan lama. "Paul..." Bianka mendesah. Paul menahan sebelah paha Bianka, menaruh ke dadanya, dan menjadikannya sebagai pegangan.


Paul menyeringai puas saat menyadari punggung kekasihnya melengkung sementara sekujur tubuhnya gemetar ketika mencapai puncak kenikmatan yang pertama malam itu. Tapi, dia belum selesai. Dia berpindah ke sebelah Bianka, mengulangi kegiatan yang sama sampai Bianka menjeritkan namanya berulang kali sebelum berusaha menahan pinggul Paul.


Namun, entah itu sebuah kesialan atau keberuntungan karena mendapat pelepasan berkali-kali, Paul masih belum mau berhenti hingga sekujur tubuh Bianka kembali bergetar, kali ini lebih kuat.


"Pa... Paul... Brengsek! Pelan... sedikit... Aahhh..."


Paul menyeringai, kau sendiri yang meminta ini, kan? Sekarang terimalah... gumamnya dalam hati.


"Nikmati, Sayang. Aku siap menghiburmu seperti ini setiap malam."


Dua sejoli yang belum lama menemukan kembali ritme kehidupan itu terus berbagi kehangatan di atas ranjang, untuk saat ini rasanya seolah dunia hanya milik berdua. Dan, semoga... selamanya akan seperti itu.


***


Mata Paul berkedut ketika suara getaran ponsel dari atas meja mengganggu tidurnya. Dia mengerang sambil berguling ke kiri, meraba-raba permukaan meja. Begitu memdapatkan ponselnya, benda itu berhenti bergetar, membuatnya refleks memutar mata. Waktu menunjukkan hampir jam sepuluh pagi.


Dia mendorong dirinya beringsut duduk di ranjang sebelum membuka ponsel, mendapati tujuh puluh tiga panggilan tak terjawab dan puluhan pesan, kebanyakan datang dari Julia, asisten barunya yang mengurus segala macam bentuk publikasi, sementara pesan lain dari keluarganya dan juga keluarga Bianka.


Kenapa dia meneleponku sepagi ini? Pikir Paul. Dia yakin tidak memiliki jadwal hingga kontrak berikutnya mencapai kesepakatan. Dia menoleh ke kiri, memastikan Bianka masih terlelap. Malam kemarin cukup melelahkan bagi wanita itu, di tambah lagi kejadian yang sebenarnya sudah bisa di duga.


Flashback...


Ketika lewat tengah malam, Paul membalikkan diri di atas ranjang, mencari-cari Bianka di sekitarnya. Matanya langsung membuka saat tak mendapati apa pun, Bianka tak berada disana. Dia baru akan bangkit begitu mendengar isakan dari sudut kamar, kemudian bergerak mendekat sebelum melihat Bianka berbaring di lantai. "Love?" bisiknya selagi berjongkok, menyentuh pundak Bianka.


Setelah menyalakan lampu, Paul baru melihat wajah wanita itu basah oleh air mata. "Hei," gumamnya memulai. "Ada apa?" Bianka menggeleng, menolak menjawab. "Love..."


Paul menghela napas, tidak menyukai ketidakberdayaan yang merundungnya. Dia tidak tahu apa yang membuat Bianka bersikap seperti ini setelah semalaman tampak begitu bersemangat. Tiba-tiba semuanya menjadi jelas. Dia bermimpi! "Kau melihat mereka lagi, ya?" Itu bukan pertanyaan. Paul tahu itu. Jadi, dia hanya berbaring di sisi Bianka dan menarik wanita itu lebih dekat.


Mereka tetap disana, berpelukan di lantai, ditemani kesunyian malam. Paul tidak pernah merasa selemah ini. Bagaimana cara membantu Bianka sementara dia sendiri tidak tahu harus mengatakan atau melakukan apa. Bianka yang selalu bertindak bijak dalam hubungan mereka. Dia satu-satunya yang berhasil menjaga kewarasan dalam pikiran Paul. Dia ingin memiliki kemampuan untuk menenangkan hatinya, atau menemukan sesuatu yang masuk akal untuk di katakan, tapi saat itu pikirannya buntu.


Maka yang dia lakukan hanyalah menemani Bianka, dan membiarkannya menangis sampai wanita itu puas.


Pada jam lima pagi, barulah segala kerumitan itu berakhir. Bianka tertidur dalam dekapannya.


~


Paul mengayunkan kaki ke balkon, membuka pintu dan segera menutupnya kembali. Cuaca di luar sangat dingin, cukup normal untuk hari-hari pada bulan desember. Dia menghela napas. Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menelepon Julia dan yang lainnya.


Begitu membersihkan diri, dia menyadari bahwa mereka harus mengenakan pakaian kemarin. Mungkin dia bisa cepat-cepat ke rumah Franda dan mengemas pakaian mereka untuk beberapa hari ke depan. Jika dia cukup cepat, maka tidak akan sampai satu jam.


Paul menyambar ponsel dan kunci mobil, lalu berjalan ke pintu. Ponselnya bergetar lagi. Dia menunduk dan mendapati sebuah link yang tertaut ke akun twitter-nya; Paul Klug terciduk bercinta dengan mantan istrinya di depan umum.


Sial! Langkah Paul seketika terhenti. Dia memutar kepala melihat Bianka yang masih terlelap.


Aku benar-benar tamat kali ini!


Paul tersenyum membayangkan peristiwa menggetarkan semalam. Dia tahu kenapa Julia ingin mencecarnya karena berita itu memang mengganggu. Mereka bukan satu-satunya pasangan yang bersenang-senang di klub itu, jadi kenapa orang-orang harus repot menguntit?


Setelah beberapa saat, dia kembali membuka akun twitter-nya dan memberikan klarifikasi disana, satu seringai lebar memenuhi wajahnya. Dia bisa merasakan Julia sedang frustasi dan bertaruh wanita itu akan segera meneleponnya.


"Hello." sapa Paul, saat ponselnya berdering lagi.


"Sungguh, Klug? Apakah tidak ada yang bisa kau katakan selain: 'Aku akan selalu mencintaimu. Terima kasih untuk satu malam yang luar biasa, Love.' Ya Tuhan..."


Paul tersenyum simpul. Terbukti bahwa Julia benar-benar berang, membuatnya ingin tertawa. Beberapa waktu belakangan Paul mulai dekat dengan orang-orang baru di sekitarnya, dan dia merasa lebih senang bisa mengenal mereka semua.


Suara gemerisik dari dalam kamar menarik perhatiannya dan dia melirik Bianka sudah bangun dan sedang berjalan ke kamar mandi. Paul memutuskan untuk mengobrol dengan Julia sebentar lagi.


"Well, selamat pagi juga, Julia."


Julia mengerang di ujung sambungan. "Aku mencoba meneleponmu beberapa jam terakhir, Paul. Kenapa kau mengabaikanku, hm?"


"Tidak terlintas di pikiranmu bahwa mungkin aku sedang tidur?"


"Oh, ayolah... Ini tidak lucu."


"Kau benar, ini tidak lucu. Ada orang tolol yang sengaja merekamku dan Bianka menikmati waktu berdua. Sama sekali tidak lucu, kan?"


"Yah, seharusnya kau lebih hati-hati. Kau bukan orang lain, Klug. Semua orang disini memujamu. Apa yang kau harapkan saat Bianka menari seperti itu di pangkuanmu? Di tempat umum pula. Astaga..." Julia terdengar benar-benar putus asa.


"Julia..."


"Dan, ada apa dengamu dan gadis itu, Klug?"


"Gadis itu kekasihku, Julia! Aku tahu apa yang sedang terjadi, dan aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitinya."


"Okay, jadi apa yang kalian pikirkan? Sudah pasti otak kalian sedang bermasalah, kalau tidak obrolan ini tidak akan pernah ada. Kalian terlalu meremehkan situasi."


"Biar kuperjelas satu hal, Julia. Aku mungkin mulai menyukai cara kerjamu, tapi aku tidak bisa menerima kelancangan. Tidak ada yang salah dengan yang kami lakukan, dan persetan dengan orang-orang yang mengatakan sebaliknya. Silahkan kalau kau ingin menempatkan dirimu dalam kategori itu." Paul tidak bermaksud ketus, tapi Julia telah melampaui batas.


Tak ada suara selama beberapa saat sebelun Julia berujar, "Bisakah kau menghapus klarifikasimu di twitter? Aku sudah menyiapkan sesuatu dan akan segera kukirim." gumamnya, dengan nada lebih profesional.


"Apa isinya permintaan maaf?"


"Ya."


"Siapkan sesuatu yang lain. Aku tidak mau meminta maaf, dan tidak akan menghapus postingan itu."


"Aku yang bertanggung jawab..."


"Tepat sekali!" dengus Paul, mulai geram. "Kau bekerja untukku, bukan sebaliknya. Aku tidak akan meminta maaf karena bersenang-senang dengan kekasihku. Jika menurutmu ada hal lain yang perlu kusampaikan di sosial media, maka tulis dan kirim padaku. Aku akan menilainya. Kalau Bianka dan aku sepakat, kau akan segera melihatnya. Semoga harimu menyenangkan, Julia." Paul langsung memutus sambungan tanpa memberi kesempatan Julia untuk merespon.


Paul tahu sikapnya barusan terkesan kasar dan brutal, dan sudah berencana menyusun permintaan maaf pada Julia nanti. Tapi, gadis itu perlu memahami bahwa Paul tidak mau memberi kesempatan pada siapa pun untuk menyepelekan Bianka.


"Hei!"


Paul mengangkat kepala, melihat Bianka di hadapannya. Dia tidak menyadari bahwa wanita itu sudah berada disana, berdiri beberapa inci darinya. "Hei," balas Paul dengan lembut sembari meraih tangan Bianka dan mendudukkannya di pahanya.


Bianka mengulurkan kedua tangan di sepanjang pundak Paul sebelum mencium bibirnya sekilas. "Apa semuanya baik-baik saja? Siapa yang menelepon?"