My Love Journey's

My Love Journey's
Leaving To Russia



Sekarang pasti sekitar jam satu pagi saat aku terbaring di ranjang dengan pikiran dipenuhi berbagai kemungkinan yang berbeda pada penyebab obrolan Paul dan Lucy, yang membuatnya mengabaikanku sepanjang sisa malam ini, hingga sekarang.


Ketika dia pergi sekitar dua jam untuk olahraga di sekitar tempat tinggal ayahku, aku menghabiskan waktu bersama ayahku, Louis, dan Lucy di ruang keluarga. Kami menonton film hitam putih mengikuti permintaan ayahku, karena itu film favoritnya.


Kemudian Louis dan Lucy pamit untuk ke kamar lebih dulu sebelum Paul pulang, meninggalkan ayahku dan aku di ruang keluarga. Kami mengobrol ringan hingga pada akhirnya Paul muncul. Dia mengucapkan selamat malam dan selamat ulang tahun kepada ayahku sekali lagi, lalu dia juga melakukan hal yang sama padaku. Aku bahkan tidak mendapatkan ciuman selamat malam darinya.


Aku merasa jembatan yang tempat rusak di antara Louis dan aku sudah bisa dilalui kembali dan hubungan kami perlahan membaik, namun yang terguncang sekarang adalah hubunganku dan Paul. Atau itu mungkin hanya dari sudut pandangku karena aku berpikir berlebihan?


Aku merasa seakan aku baru saja melakukan suatu kesalahan besar. Kenapa dia seperti berusaha mendorongku menjauh?


Aku mendengar suara derit pintu kamarku yang terbuka di belakangku. Karena sikapnya yang aneh, aku tidak mau repot-repot berbalik untuk menyambutnya. Lalu pintu kamarku tertutup, dan aku mendengar suara langkahnya mendekatiku. Aku tetap terpejam, menunggu pergerakan berikutnya.


"Bianka?" Suaranya serak dan lembut, kehangatan mengalir di sekujur tubuhku begitu mendengarnya.


Aku bertahan pada posisiku membelakanginya. Lagi pula, aku ragu bisa melihatnya meskipun aku berbalik karena kamarku sangat gelap. "Ya?" bisikku pelan.


"Boleh aku tidur disini?"


Aku lelah. Sangat lelah. Aku bisa saja bangkit duduk dan memintanya menceritakan apa yang dia bicarakan bersama Lucy, atau aku bisa mengatakan 'Tidak' sebagai balasan atas sikapnya yang memuakkan. Tapi yang kulakukan malah kebalikan dari keduanya. "Okay."


Aku mengembuskan napas lega beberapa detik kemudian ketika Paul naik ke atas ranjang dan menyusup ke balik selimut. Aku hanya mengenakan celana pendek dan hoodie miliknya. Karena biasanya Paul tidur tanpa mengenakan pakaian, aku penasaran apakah dia melakukan itu sekarang. Tapi kurasa dia tidak mungkin berani mengambil resiko di rumah ayahku.


"Apa kau bisa mengantarku ke bandara besok?" tanyanya setelah beberapa saat terdiam.


Aku membuka mata, dadaku terasa menyempit. Aku benar-benar mengira dan berharap dia akan mengatakan sesuatu yang lain, menjelaskan apa yang terjadi dan kenapa dia bersikap dingin padaku, namun ternyata tidak.


"Ya," jawabku pelan. Aku membenci jarak yang begitu kentara di antara kami. Bukan hanya secara fisik, namun juga secara emosional karena aku tahu dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku saat ini.


Aku merasakan dia sedang bergerak di belakangku, dan aku memutuskan bertanya padanya. "Paul..." kataku memulai. Dia pasti tahu apa yang ingin kusampaikan, karena dia langsung memotong ucapanku.


"Tidak sekarang, Bianka." gumamnya pelan dengan nada putus asa. Perlahan dia menarik pinggulku agar lebih dekat padanya.


Aku menggenggam selimut kuat-kuat di depan dadaku. "Kalau begitu kapan?" Aku menghela napas, menyadari apapun yang mereka bicarakan pasti sesuatu yang serius kalau itu sampai merubah sikapnya padaku, dan sekarang dia tidak ingin membahasnya.


"Tidak sekarang." ulangnya kembali, napasnya yang panas menghantam tengkukku. Aku merasakan keningnya bersentuhan dengan bagian belakang kepalaku, dia menarik napas dalam-dalam. "Aku pasti akan merindukanmu."


Hatiku mendadak terpilin, sesuatu mengatakan kalau dia tidak hanya membahas soal kepergiannya ke Rusia, tapi lebih dari itu.


"Katakan padaku ada apa, Paul." bisikku lemah, sehingga dia pasti menyadari betapa pentingnya masalah ini bagiku.


Paul mencium leherku sekilas. "Tidak ada yang terjadi, love."


"Kau tahu, tidak seharusnya kau tidur di sini, seseorang bisa saja menyadari kau tidak berada di kamarmu besok pagi dan pasti akan memeriksa kamarku..."


Aku menyesal dan berdosa telah melakukan ini diam-diam di rumah ayahku, tapi tidak ada hal lain yang bisa kami lakukan.


"Aku akan bangun lebih cepat dan kembali ke kamarku, aku hanya... Besok aku berangkat, aku ingin tidur bersamamu, setidaknya malam ini."


Alu terdiam. Pasti ada alasan lain, dan aku benci dia tidak mengatakan apapun soal itu.


"Paul, kita sedang tidak baik-baik saja sejak sikapmu berubah tiba-tiba. Apa kau tidak bisa percaya padaku?"


Dia terdiam selama beberapa saat. "Tidurlah, ini sudah larut. Kita harus bangun pagi besok. Selamat malam, Bianka."


Aku ingin menunjukkan sifat kepala batu yang kumiliki dan memaksanya bercerita padaku atau mengatakan apapun soal hubungannya dengan Lucy, tapi aku mengenal Paul dengan baik. Sekali dia bilang tidak, maka tidak akan ada yang berubah. "Selamat malam." kataku dengan nada putus asa dan frustasi.


***


"Tidak ada yang ketinggalan?" tanyaku pada Paul selagi aku mengenakan sabuk pengaman di kursi pengemudi.


Dia sedang membalas email di ponselnya. "Tidak, sudah kumasukkan semuanya."


Aku melajukan mobil perlahan-lahan hingga masuk ke jalan besar setelah kami berpamitan pada ayahku, Louis, dan Lucy. Aku meraba-raba kabel sambungan yang menghubungkan ponsel dan pemutar musik di mobil untuk memutar playlist dari ponselku.


"Mereka cinta pertamaku." sahutku sambil tersenyum. "Khususnya Chris Martin."


"Dan Ronaldo... Apakah masih ada pria lain yang belum kutahu?" katanya, dengan nada menggoda. Dia berhasil menaikkan suasana hatiku.


Aku tertawa halus. "Tidak ada sejauh yang bisa aku pikirkan sekarang. Musik apa yang kau sukai?"


"Apapun yang berbau Jazz dan Reggae. R&B juga bagus." jawabnya, menyisipkan ponsel ke saku depan hoodie-nya. Aku mengangguk, pemusatan perhatian ke depan ketika kami memasuki jalan tol. "Omong-omong, Cristiano bilang kau manis."


Aku tersentak, nyaris membanting setir untuk berhenti. "Paul! Kau hampir membuatku membunuh kita berdua..." kataku histeris, menolehnya secepat kilat untuk melihat seringai senang di sudut bibirnya.


"Ya ampun, apa kau tidak melihat sosial media belakangan ini?"


"Tidak, aku berusaha menjauh dari semua hal yang berhubungan dengan itu."


Dia terkekeh. "Ingat videomu yang kuposting? Cristiano mengomentari itu dan bilang kalau kau manis."


"Apa?" pekikku histeris. "Kurasa aku akan pingsan sekarang."


"Jesus, Bianka." Paul tertawa. "Kau bisa bertemu dengannya di Rusia."


"Kumohon, berhenti mengatakan apapun tentang Ronaldo. Aku mengkhawatirkan keselamatan kita." Aku menghembuskan napas gugup membayangkan bertemu dengan Ronaldo.


Kami terdiam selama beberapa menit hingga aku teringat pada kecanggungan sebelumnya dan kembali bertanya. "Paul, bisakah kau katakan padaku sekarang apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Lucy?"


"Tidak ada yang perlu kau cemaskan, love. Aku bisa mengatasi itu."


"Dengar, ini masalah serius. Kenapa kau merasa aku tidak berhak mengetahuinya?"


Dia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri di sebelahku. "Aku akan memberitahumu saat kau menemuiku di Rusia. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahasnya."


"Apakah itu akan menghancurkan hubungan kita?"


"Tidak." jawab Paul cepat.


"Ada kemungkinan ke arah sana?"


"Bisa jadi."


***


Tiba di bandara, kami sama sekali tidak peduli pada puluhan paparazi yang berkeliaran. Aku turun dari mobil untuk memeluk dan menciumnya. "Kabari aku begitu kau mendarat." gumamku di bibirnya, lenganku dengan santai melingkar di lehernya.


"Ada wifi di jet, aku bisa mengabarimu kapanpun aku mau." Dia menciumku. "Aku berharap kau ikut denganku sekarang."


"Kita akan berjumpa minggu depan. Kau mungkin mati menunggu selama itu." kataku seraya menarik diri lalu tersenyum padanya.


Aku masih terganggu dengan sesuatu yang belum dikatakannya padaku, tapi kuabaikan semua itu untuk saat ini.


"Aku akan meneleponmu begitu sampai di hotel, oke? Mungkin sudah malam saat aku tiba disana, tapi perbedaan waktunya hanya dua jam. Rusia lebih cepat, tentu saja." Dia mundur selangkah untuk meraih kopernya.


"Mr. Klug." Dua pria mengenakan setelan jas hitam tiba di dekat kami.


"Tolong bawakan barangku, ya." Paul menyerahkan ransel dan kopernya kepada salah satu pria itu, yang kutebak sebagai pengawal keamanannya.


Mereka diam dan tetap berdiri disana, terlihat agak mengintimidasi.


"Bianka?" Paul menarik perhatianku kembali.


"Hm?"


Dia menciumku.