My Love Journey's

My Love Journey's
More Gossip



"Aku tahu malam ini akan berakhir kau menarikku ke tempat tidurmu." Aku tertawa pelan dan terengah-engah, menatap langit-langit kamar tidurnya.


"Hei," protesnya sambil menyeringai, menggerakkan lengannya ke belakangku, membalikkan tubuhku dan menarikku ke sisinya. Secara spontan aku meletakkan tanganku di dadanya yang keras, menelusuri kulitnya dengan ujung jariku. "Aku tidak menarikmu, ya. Kau yang menciumku duluan." gumamnya beralasan, merasa terhibur.


Aku merasa lelah, sedikit berkeringat, dan seperti jantungku seakan ingin keluar dari dadaku. Selain itu, aku juga merasa sangat puas, hangat, dan nyaman. "Tetap kau yang salah, karena kalau tidak bersikap manis dengan menyiapkan makan malam, aku tidak mungkin menciummu." kataku sambil menarik selimu lebih tinggi, menutup tubuh kami yang menempel.


Untuk sesaat aku merasa tenang karena berhasil menyingkirkan segala keraguan yang memenuhi kepalaku.


"Omong kosong. Kau tetap akan menciumku meskipun aku memesan Mc Donald untuk menyambutmu, love."


Aku tertawa, sebagian dari diriku tahu bahwa itu benar. Sejenak aku penasaran jam berapa sekarang. "Kau terlalu percaya diri, Paul. Aku mencium setiap orang yang memberiku makanan."


Dia terkekeh, mengeratkan pelukannya. "Kau tahu... jangan terlalu senang, tapi aku masih punya banyak makanan di kulkas." Dia sedang bermain-main, menggoyangkan alisnya ke arahku.


"Kau konyol." Aku memberikan ciuman kecil di rahangnya lalu menjatuhkan kepalaku di lengan atasnya. "Kurasa aku harus segera pulang."


Paul menggeleng. "Tidak, kau tidur disini malam ini. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit besok."


Aku tidak ingin pergi. Sama sekali tidak ingin kehilangan kesempatan menikmati waktu bersamanya, dan ini agak menakutkan karena perlahan tekadku mulai melunak. Aku tahu kalau aku memiliki hari yang panjang besok, dan aku perlu istirahat yang cukup malam ini. Mengobrol sepanjang malam dengan Paul, meskipun kedengarannya amat menarik, itu tidak mungkin terjadi sekarang.


"Okay. Kalau begitu, biarkan aku tidur dengan tenang." Aku menyerah, padanya dan pada keinginanku sendiri.


"Ya, ya. Aku, uhm... ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu." Dia berdeham, mengulurkan tangan ke nakas untuk meraih ponselnya. Aku masih meringkuk di dadanya, merasakan kelelahan perlahan meresap ke dalam tubuhku.


Sepanjang malam yang kami lalui berdua terasa sangat sempurna. Makan malam, mengobrol, bercinta... membuatku nyaris tak sanggup melepaskan diri darinya.


"Apa itu?" gumamku pelan, merasa nyaman dan santai. Aku tidak merasakan ini selama beberapa waktu belakangan.


Aku memperhatikan gerakan Paul selagi dia mencari sesuatu di ponselnya, kemudian semua perasaan tenang dan nyaman yang kurasakan sebelumnya langsung menguap begitu dia menunjukkan sebuah artikel padaku.


...'Paul Klug Kembali Berhubungan Dengan Wanita Misteriusnya, Bianka Becker.'...


Satu foto ketika kami berciuman di hutan tadi pagi tampak disana. Buru-buru aku merebut ponsel dari tangannya, lalu duduk dan membaca isi artikel tersebut sambil menahan selimut menutupi dadaku.


...'Bianka Becker, 22 tahun, seorang perawat magang... pasangan ini tertangkap sedang berciuman saat lari pagi...sumber mengatakan mereka saling mencintai...'...


Aku mengamati artikel itu, semua hal yang diketahui oleh siapa pun yang menulis ini berputar di kepalaku. Mereka bahkan tahu rumah sakit tempatku bekerja dan belajar... Tentu saja, ada beberapa kebohongan untuk membuat cerita lebih menarik, tetapi sebaliknya ada juga kebenaran yang membuatku takut. Kurasa memang tidak ada yang bisa dirahasiakan di jaman sekarang.


"Kau baik-baik saja?" Paul duduk di sampingku, bersandar pada satu tangan sementara dia mengamati wajahku.


Aku ketakutan dan bahkan tidak menyadari air mataku mulai menggenang. Sudah kubilang, aku mendengar sesuatu di balik pohon waktu itu. Yang kuinginkan hanyalah kehidupan yang tenang, dengan atau tanpa Paul. Aku tidak ingin kehidupanku di tulis disebarluaskan seperti ini, aku tidak ingin orang mengira mereka mengenalku.


"Bianka?" Paul mengusap pahaku.


Aku memutar kepala menatapnya. "Bagaimana mereka bisa mengetahui semua hal tentangku?"


Alisnya mengerut, menyadari betapa marahnya aku. Amat sangat marah. "Ada internet yang..."


"Aku tidak pernah memasukkan informasi pribadi di internet!" Aku menggelengkan kepala, usapan tangannya di pahaku mencoba untuk menenangkanku, tapi itu hanya membuatku semakin marah.


Sekarang aku menjadi sorotan media, hanya karena aku tidak bisa menahan celanaku tetap terpasang ketika Paul Klug berada di dekatku. Benar-benar menyedihkan.


"Mungkin mereka bertanya pada rekan kerjamu dan memberi sedikit bayaran... bisa siapa saja, sungguh..." gumamnya menjelaskan dengan hati-hati, seakan tidak ingin membangunkan macan yang sedang tidur. Tapi macan ini sudah lebih dulu bangun, terkikik, dan mendorongnya pelan.


"Aku tahu, love." Dia memijat pangkal hidungnya. "Aku minta maaf. Manajerku menelepon saat kita makan malam tadi dan menanyakan apakah..."


"Tunggu, apa? Kenapa kau tidak mengatakannya begitu kau menerima panggilan itu?" Aku terdiam sesaat mengamati perubahan ekspresinya. "Apa karena kau tidak akan memiliki kesempatan untuk meniduriku setelahnya? Ya Tuhan, Paul..."


"Jangan konyol..." Paul menggeleng frustasi. "Kau sendiri tahu tujuanku mendekatimu bukan karena ingin menidurimu, aku menginginkan sesuatu yang lebih dalam hubungan ini. Aku hanya tidak mau mengacaukan makan malam kita."


"Apa kau bahkan mempertimbangkan untuk mengatakan ini padaku sebelum kau meniduriku?"


"Aku tidak menidurimu, Bianka! Kita melakukannya berdua, atas dasar suka sama suka. Jadi, berhenti berpikir aku yang mengacaukan semuanya." Dia mengusap lembut pahaku, namun tatapan matanya menggelap dan menyiratkan ancaman.


"Okay, kau benar, maaf..." Aku mencoba tersenyum padanya. "Tapi tetap saja, seharusnya kau bilang padaku..."


"Sangat sulit untuk berpikir jernih ketika seorang wanita cantik mencium leherku dan..."


"Oke, stop!" Aku menepuk lengannya seraya menahan tawa.


Dia menyeringai puas, lalu mengangkat bahu seolah dia tidak tahu apa yang sudah dia lakukan padaku. Aku tidak sanggup lagi menahan tawa menyaksikan tingkahnya. Ini benar-benar pengalaman baru sekaligus aneh bagiku.


Ketika aku mengedipkan mata, air mata yang sejak tadi menggenang tumpah begitu saja, menjadi semakin deras seiring aku memikirkan semua peristiwa yang terjadi pada hidupku akhir-akhir ini. Aku mengusap wajah dengan punggung tanganku.


"Aku belum pernah menyaksikan seseorang tertawa dan menangis pada saat bersamaan." dengkurnya setelah membiarkanku menangis selama beberapa menit.


"Oh, please. Kemana saja kau selama ini?" Aku tersenyum, lalu menurunkan pandangan, menatap layar ponselnya yang masih menampilkan artikel tentang kami.


"Entahlah..." Dia menyisir helaian rambutku ke belakang dan kemudian mencondongkan tubuh untuk menciumku.


Untuk sesaat, aku mengutuk diriku yang begitu lemah padanya. Aku membalasnya sejenak, lalu mendorong dadanya seraya menggelengkan kepala. Paul mengerti, dia mengangguk sekali dan menarik diri dariku.


"Berita ini..." Kenyataan menghantamku lagi. "Rekan kerjaku pasti melihatnya, keluargaku, teman-temanku..."


"Ini bukan yang pertama kali, love. Kau 'Wanita Misterius' Paul Klug. Semua orang kagum padamu." katanya begurau.


Aku menggeleng lemah. "Tidak. Foto ini berbeda dari yang sebelumnya. Kita berciuman disini, semua orang pasti mengira hubungan kita lebih dari sekedar teman."


"Manajerku menyarankanku agar mengumumkan hubungan kita di twitter atau media sosial lainnya."


Aku mengernyit. "Jenis hubungan apa yang akan kau umumkan, kalau begitu?"


Aku melihat dia menggaruk bagian belakang lehernya sambil tertawa kecil yang kaku. "Kau pasti memukulku jika aku mengatakan kau kekasihku dan kita sudah resmi menjalin hubungan. Sebenarnya itu yang di inginkan oleh manajerku. Sangat tidak menguntungkan jika aku menghabiskan waktu bersama seorang wanita yang bukan siapa-siapa saat kami sibuk mempersiapkan diri menjelang Piala Dunia, orang-orang akan mengira aku tidak fokus latihan, dan..."


"Apa sebenarnya yang akan kau umumkan tentang hubungan kita, Paul?" tanyaku tak sabaran.


Pau berdeham. "Kita berkencan. Tidak ada yang serius, hanya berusaha mengenal satu sama lain dan meminta orang-orang memberi sedikit ruang untuk kita. Well, semacam itu."


"Itu terdengar..." Aku ragu sejenak, tapi tetap menghargai niatnya meskipun aku tahu setelah dia berbicara tentangku di depan umum, takkan pernah ada lagi privasi bagi kami di luar. "Lumayan."


"Ya?" Mulutnya melengkung tinggi dengan cara yang sangat mengagumkan. "Kau yakin tidak keberatan?"


"Yes."