My Love Journey's

My Love Journey's
The Day Has Come



Beberapa hari kau memberitahuku tentang perjalanan karir sepak bolanya, proses transfer itu mencapai kata sepakat. Dia dipastikan pindah ke Spanyol.


Manajer dan pelatihnya mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan kabar yang tentunya menggembirakan bagi kebanyakan orang, tapi tidak sanggup menontonnya dan aku bersyukur Paul bisa memahami itu. Rasanya seakan mereka sedang berusaha mengambilnya dariku, meskipun seharusnya aku patut bangga atas pencapaiannya.


Aku tinggal di rumah selama dua minggu penuh untuk menikmati waktu-waktu terakhir kebersamaan kami, berusaha mati-matian untuk menyenangkan Paul sekaligus diriku sendiri sebelum dia benar-benar pergi.


Hari ini merupakan hari dimana ketakutanku pada akhirnya menjadi kenyataan. Aku duduk bersama Paul di bagian belakang kursi penumpang mobil Range Rover hitam yang begitu familiar, sementara Alfred melajukan mobil menuju bandara.


"Jangan menangis, love... Kita akan tetap berhubungan." gumamnya lembut mencoba menenangkanku.


Aku berjuang sekuat yang kubisa untuk tidak menangis, tapi ini sangat menyakitkan dan aku tidak sanggup menahan air mataku. "Tetap berhubungan?" Aku membiarkan satu tawa penuh kesedihan keluar dari mulutku. "Itu terdengar seolah kita hanya berteman, Paul..."


Aku mengusap air mata dengan punggung tangan lalu menggelengkan kepala sementara dia menarik nafas dalam-dalam. "Baiklah, kalimatku tidak tepat." Dia menunduk. "Aku akan meneleponmu malam ini setelah urusan remeh yang berkaitan dengan penyambutan disana beres, bagaimana?"


"Entahlah. Aku.. aku merasa seolah sedang mengalami mimpi buruk." kataku, terisak seperti anak kecil. "Dan kuharap seseorang membangunkanku."


Dia memandangku, dari matanya aku bisa melihat kesedihan yang mendalam. Aku tahu dia juga tidak mau meninggalkanku dan upayanya membuatku tenang selama dua minggu belakangan benar-benar keras. Sungguh, aku tidak sanggup membayangkan bagaimana rasanya berdiri diatas kaki Paul, dari semua orang yang bersedih, termasuk aku sekalipun, beban paling besar tentu berada di pundaknya.


"Tidak akan selama yang kita bayangkan, love. Manajerku sedang berusaha mempersingkat kontrak kerjaku dengan Real Madrid. Kita pasti bisa melewati ini, okay?" Dia meraih tanganku, memberi remasan kecil disana. "Dan jika memang tidak ada yang bisa kami lakukan untuk itu, kontrakku hanya setahun. Tidak terlalu lama, kan?"


Aku menggeleng lemah. "Setahun bukan waktu yang sebentar, Paul. Aku tidak akan sanggup bertahan selama itu..."


Dengan segala macam gosip, tekanan, dan jarak kami yang berjauhan... rasanya mustahil aku bisa melewati ini. Pengalaman membuatku takut setengah mati. Aku berusaha percaya padanya, tapi dengan semua perhatian yang mengarah padanya, aku menyadari ini tidak mudah.


"Love, tenanglah." cetusnya kembali, mulai terdengar frustasi. "Aku yakin kami bisa mengatur ulang kontrak itu." Seberkas senyum terbit di sudut mulutnya. "Percaya padaku, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu terlalu lama. Tersenyumlah, aku ingin melihatnya."


Paul melepas sabuk pengaman dan bergeser hingga lengan kami saling menempel.


"Pasang sabuk pengamanmu, Paul. Apa kau tidak tahu itu membahayakan nyawamu?" cetusku bersungut-sungut sambil mendorongnya kembali ke tempat duduknya.


"Ya Tuhan, Bianka... Kau sangat seksi saat mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan profesimu, kau tahu itu?" balasnya, lalu menyeringai senang karena berhasil menggodaku.


Aku tertawa. Aku pasti akan merindukan saat-saat seperti ini. "Hentikan. Cepat kenakan sabuk pengamanmu. Sekarang!" sinisku mengancamnya.


Dengan segera, dia menurut. "Nah, kau senang?"


"Tidak, tapi sedikit lega."


Paul kembali meenggenggam tanganku, bersandar lalu menatapku. "Aku pasti menepati janjiku, Bianka. Teruslah mengirim pesan padaku, okay? Aku pasti membalasnya setiap ada kesempatan. Kuyakin kita bisa melalui ini."


"Ya, aku akan berusaha. Berjanjilah kau tidak akan lupa mengenakan sabuk pengaman kemanapun kau pergi, dan jangan pernah masuk ke strip club..."


"Ya, aku janji." dengkurnya halus. Dengan gerakan tangannya yang lembut, dia mengangkat tanganku lalu melabuhkan ciuman disana. "Kau juga harus berjanji padaku, love."


"Apa? Tidak masuk ke strip club?" cetusku genit, sengaja menggodanya. "Oh, bagaimana mungkin aku bisa menjauh dari tempat itu?"


Dia tergelak seraya menggoyangkan kepala. "Kau benar-benar... Berjanjilah kau akan bicara padaku setiap kali perasaanmu memburuk. Aku tidak suka kau terus berpura-pura tenang di depanku."


"Okay."


Lima menit kemudian, kami tiba di landasan pacu dimana sebuah private jet dengan mesin menyala sudah menunggunya, siap lepas landas. Dengan perasaan berat, kupaksa kakiku turun dari mobil dan mengikutinya.


Alfred melangkah melewati kami membawa koper Paul ke pesawat, lalu menyerahkannya kepada Pablo yang berdiri layaknya bodiguard profesional. Aku melambaikan tangan dan tersenyum padanya yang kemudian dibalas dengan anggukan ramah.


"Jadi..." Paul berdiri di depanku. "Kau tidak akan menangis lagi, kan?"


Aku terkekeh lalu menepuk lengannya sambil menggeleng. "Tidak akan."


Dia mengangguk. Sebelum Paul sempat mengatakan sesuatu, aku memeluknya dengan erat, ingin melakukannya lebih lama tapi itu tidak mungkin. "Aku pasti merindukanmu." bisikku pelan di lehernya, berharap dia bisa mendengar di antara deru mesin pesawat.


Paul membalas pelukanku lebih erat lagi sampai rasanya menyesakkan. "Aku juga." sahutnya. "Kabari aku setiap waktu. Aku ingin tahu apapun yang kau lakukan, okay?"


"Tentu, tentu," Kami sama-sama tersenyum. Untuk sesaat aku percaya kami bisa melewati ini.


"Mr. Klug, sudah waktunya kita pergi." Paul menoleh ke balik bahunya, melihat Pablo yang bersuara dari samping tangga pesawat.


Kemudian dia merogok saku dan mengeluarkan ponsel untuk melihat jam, sekilas aku menangkap dia masih menggunakan fotoku sebagai wallpaper. "Kau belum mengganti walpapermu, ya?"


Dia mengangkat bahu cuek. "Otakku baru menyadari kalau aku mencintaimu saat aku mengambil foto ini. Aku tidak akan pernah menggantinya sampai kapanpun."


"Aw, manis sekali." lirihku dengan perasaan haru sekaligus bahagia. "Pergilah, atau aku akan menangis..."


Dia tertawa lalu maju menangkup wajahku dan mencium bibirku. Aku membalasnya.


"Bye, love. Kita akan bertemu secepatnya."


"Bye, hati-hati, ya. Aku mencintaimu."


Dia tampak ragu sejenak, kemudian tiba menciumku lagi, lebih keras dan lama. Sambil mencengkeram lengannya, aku menciumnya dengan cara yang sama untuk menyatakan betapa aku mencintainya.


Paul menarik diri, berbalik dan mulai melangkah menuju tangga pesawat sementara aku berdiri di samping mobil bersama Alfred. Aku mengernyit saat dia mendadak kembali memutar arah dan berlari kecil menghampiriku.


"Aku lupa memberikan sesuatu padamu," katanya begitu tiba di hadapanku, lalu mengulurkan tangan. "Ini, pakailah. Aku sudah mengecilkannya. Aku sangat mencintaimu, Bianka."


Dengan sudut bibir terangkat tinggi, aku menerima kotak beludru hitam kecil darinya, lalu meperhatikan Paul yang langsung berlari ke pesawat.


Saat tiba di depan pintu, dia melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku meniupkan ciuman melalui telapak tanganku, kemudian tawaku meledak ketika dia berpura-pura menangkap ciumanku dan menaruhnya ke dadanya.


Pablo mengikuti Paul masuk ke dalam pesawat, pandanganku terus mengarah kesana hingga seorang pramugari menutup pintu.


"Silahkan, Miss." kata Alfred, berdiri di samping pintu mobil yang terbuka.


"Ya, terima kasih."


Dengan perasaan yang sedikit lebih tenang dari sebelumnya, aku masuk ke dalam mobil. Aku sudah tahu hari ini akan tiba dan, suka atau tidak, aku harus menerimanya. Ini demi impian Paul. Persis seperti yang dia katakan kepada ibunya, aku juga tidak mau menjadi seseorang yang menghancurkan mimpinya.


Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencoba peluang, begitu juga dengan Paul. Aku menghormatinya sebagai pria yang kucintai, dan sebisa mungkin mencoba melakukan upaya terbaikku untuk menerima profesinya. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku lebih menyukai pria yang memiliki pekerjaan dan penghasilan yang cukup tapi pekerja keras, bukan seseorang seperti Paul. Namun aku tidak bisa memilih dimana hatiku akan berlabuh, atau kemana langkah membawaku. Tuhan yang mengatur semuanya, dan aku berdoa semoga ada kebaikan dalam hubungan kami.


Tiba di rumah Paul, aku menerima satu pesan darinya.


From: Paul: Kami baru saja lepas landas. Aku sungguh berharap kau ikut denganku. Aku mencintaimu, love x


To: Paul: Have a nice flight. Kabari aku begitu kau mendarat. Oh, sejam lagi aku harus bekerja, tapi aku akan mengabarimu saat sudah berada di rumah.


From: Paul: Kau tidur di rumahku, kan?


To: Paul: Aku akan gila jika bertahan disini sementara kau entah dimana. Aku pulang ke rumah hari ini x


From: Paul: Tinggallah disana, Bianka. Aku tidak keberatan, dan aku percaya kau tidak mungkin mencuri sesuatu dari sana ;)


Aku mendapati diriku tersenyum mengingat hari pertama aku menginap di rumah ini setelah tanpa sengaja kami bertemu di klub. Andai aku tidak kesana malam itu, mungkin tidak akan kisah di antara kami.


To: Paul: Haha! Tetap saja rasanya agak aneh karena rumahmu penuh dengan kamera... Aku akan segera kembali kesini, setelah memastikan rumahku baik-baik saja x


From: Paul: Okay xx


Tepat saat hendak meletakkan ponsel, aku menerima satu pesan lagi.


From: Unknown Number: Hei, sweetheart! Semoga kau baik-baik saja. Ini aku, Anne, ibu Paul. Apa kau punya waktu akhir pekan ini? Aku ingin mengobrol denganmu. Kalau bisa, datang ke rumah, oke?


To: Anne: Hai, Anne! Boleh juga. Biar kulihat dulu jadwal liburku dan aku akan mengabarimu setelahnya.