
"Ya, Lou?" Aku menjepit ponsel ke telinga dengan bahuku.
Aku sedang mengemas pakaian Paul ke dalam koper. Malam nanti dia harus terbang ke luar kota untuk pertandingan tandang melawan klub Borussia Dortmund dan akan berada di Dortmund selama empat hari. Ini bukan hal baru bagiku, dan aku sudah cukup terbiasa berpisah dengannya selama beberapa hari.
"Hei, B. Apa kabar?" tanya adikku dengan gugup, atau setidaknya begitulah yang kutangkap dalam nadanya.
"Baik. Aku baik. Bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja, kan?"
"Ya, ya, aku juga baik." Dia terdiam sejenak lalu melanjutkan. "Uhm, apa kau sedang sibuk?"
"Tidak. Kenapa?"
"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu dan Paul. Aku, emm, bagaimana kalau aku ke rumah kalian siang ini?" Suaranya dipenuhi kecemasan, membuat rasa penasaranku semakin bertambah. Dan, aku yakin ada sesuatu yang salah. Louis tidak akan gugup jika dia tidak melakukan kesalahan. Dia cukup santai dan pembawaannya selalu tenang. Terakhir kali aku melihat Louis merasa bersalah yaitu empat tahun lalu saat Carmen dan adiknya memanipulasinya untuk menyingkirkanku dari Paul.
Setelah kejadian itu, dia kembali ke pusat rehabilitasi dan keluar setahun kemudian. Saat itu, aku melihat adik kecilku telah pulang ke rumah. Maksudku, dia benar-benar sudah bersih dan aku percaya itu karena hingga saat ini aku terus mengawasinya.
Aku mengernyit. "Oke." kataku, merasa lebih baik menunggu hingga dia tiba dan menceritakan masalahnya. "Tapi, kurasa Paul tidak bisa bergabung dengan kita siang ini. Dia sedang latihan, dan mungkin nanti sore baru kembali."
"I'll talk to you, then. Baiklah, sampai jumpa nanti."
"Alright, bye."
"Bye."
Setelah selesai mengemas pakaian Paul ke dalam koper, aku bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk makan siangku bersama Louis. Tepat ketika aku meletakkan salad di atas meja makan, suara bel pintu terdengar.
"Hei," Aku memeluk Louis sementara dia mencium keningku. "Ayo masuk, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." kataku, lalu memimpin jalan ke dalam rumah.
Dia tersenyum. "Bagaimana kabarmu?"
"Selain bosan karena terkurung di rumah dan tak tahu harus melakukan apa, aku baik-baik saja. Setidaknya aku masih bisa bertahan tanpa membutuhkan terapis."
Gelak tawa halus Louis terdengar. "Kau tidak akan membutuhkan terapis, B." katanya.
"Well, sekarang tidak. Tapi, aku tidak yakin sanggup mempertahankan kewarasanku lebih lama." Aku duduk berseberangan dengannya di meja makan, tersenyum bangga melihat adikku yang tampak sangat bugar. Dia terlihat tampan dengan setelan kemeja putih, celana jins biru cerah, dan sepatu kets putih. Otot lengan dan dadanya tercetak dengan indah di kemejanya.
"Kau akan baik-baik saja, B." gumamnya. "Daging panggang dan salad, huh? Tidak sia-sia aku datang kemari." katanya sambil mengusap kedua tangannya, tak sabar ingin segera melahap makanan.
Aku senang melihat semangatnya, meski tak terlalu yakin akan berapa lama lagi ekspresi itu akan bertahan. Jika menilik nadanya dalam panggilan telepon tadi, Louis sepertinya sedang berada dalam masalah yang cukup serius.
Kami melakukan santap siang sambil mengobrol tentang Dad yang belakangan sedang tergila-gila pada kegiatan berkuda. Paul dan aku membelikannya sebagai hadiah ulang tahunnya tiga bulan lalu. Dia sangat senang, dan sehari-hari hanya menghabiskan bermain dan mengurus kudanya yang dia beri nama Crackers.
"Jadi, ada apa, hm?" tanyaku begitu kami menghabiskan makan siang dan sekarang duduk di halaman belakang rumahku. Aku membuatkan kopi untuk Louis dan teh untukku sendiri.
Louis berdeham, mendadak terlihat gelisah. Dia melirikku sekilas lalu kembali membuang pandangan ke arah kolam renang. Mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu. "Well," Dia menelan ludah, berdeham sekali lagi. "Ada sesuatu yang terjadi di...."
"BIANKA!!!"
Aku mengerutkan kening, berdiri lalu melangkah mendekatinya. "Paul, hei, kenapa..." Tiba-tiba dia berlari dan menerjang adikku membabi buta.
Mata dan mulutku membuka lebar. Aku begitu terkejut hingga untuk beberapa saat hanya terdiam dan melihat Paul memukul Louis.
"Paul, aku bisa menjelaskannya. Ini hanya masalah..." kata Louis, tapi dia tidak sempat melanjutkan karena Paul terus memukulnya.
"Aku tidak butuh penjelasanmu, brengsek!" Dia kembali mengayunkan tinjunya ke wajah Louis yang kini sudah berdarah.
Dengan tubuh gemetar akibat panik, aku memaksa langkah mendekati mereka. "Paul, hei, hei, hei..." Aku berhasil menahan tangannya tepat sebelum dia kembali memukul Louis. Sekuat tenaga aku mendorongnya menjauh dari Louis lalu berlutut dan menangkup wajah adikku. "Oh, God..."
Aku memutar kepala, menoleh Paul dengan tatapan bingung sekaligus marah. "What is wrong with you?" semburku sebelum beralih kepada Louis dan membantunya duduk.
"Biarkan aku menghajarnya, Bianka!" bentak Paul penuh amarah. "Kau tahu apa yang dia lakukan? Dia baru saja menghancurkan hidupku, Sialan!" Paul mengertakkan rahang.
"Apa maksudmu?" Aku memandang mereka berdua bergantian dengan kening berkerut. Louis diam, menyeka darah yang mengalir dari hidung dan mulutnya. "Are you okay?"
Dia mengangguk. "I'm good." Tatapannya beralih kepada Paul. "Aku minta maaf. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."
Pau mendengus. "Omong kosong! Keluar dari rumahku dan jangan pernah muncul di hadapanku. Aku tidak berjanji akan melepaskanmu jika kita bertemu lagi." kata Paul, lalu meludah dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Louis dan aku di halaman belakang.
Aku masih berdiri di sana, menatap punggungnya dalam keadaan bingung. Selama mengenalnya, belum pernah aku melihat Paul semarah itu, apa pun yang terjadi. Barusan aku merasa tidak mengenalnya sama sekali. Aku baru menyadari dia bahkan tidak menatapku. Ini benar-benar mimpi buruk.
"Maafkan aku, B." Suara Louis menarikku kembali.
Aku terpejam sejenak, menghela nafas beberapa kali lalu berbalik dan menolehnya. "Apa-apaan itu, Lou? Kenapa Paul sangat marah padamu?" tanyaku sembari mencoba menenangkan detak jantungku.
Dia menghindari tatapanku. "Ada masalah di klub." katanya, berdiri dari tanah dan duduk di kursi dengan menunduk. Kedua tangannya berada di kepala. Dia mulai menceritakan apa yang menyebabkan Paul begitu marah.
"Ya Tuhan, Lou..." Aku menutup mulut dengan kedua tangan. "Kau, bagaimana mungkin kau melakukan itu?" Aku tidak sanggup mempercayai ini. Paul sudah sangat berbaik hati membantunya tapi yang dia lakukan justru menusuknya dari belakang. Ya Tuhan!
"Aku tahu, aku tahu aku salah. Aku hanya berpikir itu bisa menambah pemasukan dan membuat klub semakin ramai. Dan, aku tidak mengira akan seperti ini pada akhirnya." katanya dengan ekspresi penuh sesal.
"Berapa lama kau melakukan itu?"
"Setahun belakangan," desisnya pelan, belum berani menatapku.
"Sungguh, Louis, narkoba? Astaga..." Aku menggelengkan kepala. "Apa yang ada di kepalamu hingga kau berani mengambil langkah itu? Kau tahu betapa buruknya kehidupanmu dulu karena barang sialan itu, kan? Apa kau lupa apa yang terjadi dulu? Apa kau bahkan memikirkan Paul yang sudah memberimu kesempatan dengan membiarkanmu mengurus klub itu? Dia membeli klub itu untukmu agar kau memiliki masa depanmu sendiri. Oh, Lord... Apa kau tidak memikirkan Dad atau aku?"
"Aku tidak tahu bagaimana menghadapi ini. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Paul untuk meredakan amarahnya. Kau tahu betapa seriusnya masalah ini, bukan?" sambungku, dan dia mengangguk.
"Aku benar-benar minta maaf, B. Aku..."
Aku mengangkat sebelah tangan untuk menghentikannya. "Pulanglah, tidak ada gunanya kau di sini sekarang." Aku menepuk pundaknya beberapa kali. "Aku akan meneleponmu nanti." kataku, lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah.