
Aku benar-benar tenggelam dan larut dalam pikiranku sepanjang sisa pagi itu. Setelah Valerie dan Elliot pulang dan rumah sudah dalam keadaan layak huni, aku langsung mandi dan bersiap-siap menyambut Paul dan segala kemarahannya.
To: Paul: Hei, Valerie dan Elliot sudah pulang. Datanglah, kita harus bicara x
From: Paul: Sepuluh menit aku sampai x
Saat ini bukan hanya Paul yang marah karena melihat Elliot menciumku, tapi aku juga merasa sama tak senangnya karena dia menyerah akan mimpinya agar bisa terus bersamaku. Aku tidak mau menghalangi jalannya mencapai sesuatu yang sangat diinginkannya, karena aku tahu sebesar apa rasa cintanya terhadap sepak bola. Dengan prestasinya yang luar biasa sebagai pemain terbaik dunia membuktikan dia punya begitu banyak peluang dalam berkarir, dan jika dia memilih menyerah untuk mempertahankan hubungan kami, maka usahanya selama ini menjadi sia-sia belaka.
Kupandangi meja makan yang baru saja selesai kutata. Aku sengaja menyiapkan makanan karena kupikir dia pasti lapar. Tepat saat aku merapikan kemeja yang kukenakan, bel pintu rumahku berbunyi.
"Hei," sapaku begitu membuka pintu sambil menyunggingkan senyum hati-hati.
Dia terlihat lelah dan itu membuatku merasa buruk karena sudah memberinya sambutan ajaib pagi tadi. "Hei," sahutnya lalu berdeham.
Paul melangkah masuk. Segera setelah menutup pintu aku berbalik dan maju hendak mencium pipinya. Hatiku sesak ketika dia menghindar dariku, tapi aku paham alasannya melakukan itu. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika mendapati dia mencium seseorang tepat di depan mataku. Membayangkan itu saja sudah membuat perutku mual.
"Dia menciumku, aku menarik diri. Persis seperti yang kau lakukan." kataku mengingatkan, dan Paul mengangguk dengan ekspresi tak peduli, kedua tangannya berada di saku hoodie yang dikenakannya. Gerak-geriknya menjelaskan perasaannya saat ini, dia sedang marah dan kecewa padaku.
"Aku senang bisa melihatmu lagi," kataku mencoba menepis kecanggungan. "Aku merindukanmu. Sangat."
"Aku juga merindukanmu." gumamnya, sedikit lebih tenang. "Aku minta maaf karena beberapa waktu belakangan tidak sempat mengabarimu. Waktu habis untuk mengurus perpendekan masa transferku dengan Real Madrid, ditambah lagi jadwal latihan dan pertandingan yang cukup padat..."
"Ya, ya... Aku mengerti situasimu." cetusku sungguh-sungguh. "Omong-omong, aku menyiapkan makan siang untuk kita." Kakiku mulai berderap menuntunnya ke ruang makan.
"Benarkah?" tanya Paul, dia tersenyum ketika aku menoleh kebalik bahu.
"Hm, kupikir kau mungkin lapar. Apa kau sudah makan? Atau bahkan sarapan?" tanyaku.
Paul menggelengkan kepala. "Belum."
Kami duduk berseberangan di meja makan dan mulai menyantap salad yang kubuat. Paul mengambil ayam lebih banyak dari biasanya untuk dirinya sendiri.
"Protein," katanya saat aku menaikkan alis.
"Okay, fine." balasku tanpa merubah ekspresi, yang kemudian membuat Paul menyerah dan terkekeh pelan. Mulutku melengkung ketika dia maju dan menaruh sepotong ayam di piringku. "Jadi..." Aku memulai setelah suapan pertama.
"Aku tidak mau menjadi laki-laki yang menggoda kekasih atau tunangan orang lain, atau apapun itu namanya, dengan alasan pertemanan. Dan aku tidak mau kau berteman dengan Elliot." kata Paul, seolah dia sudah menyusun kalimat ini sejak tadi. "Aku tahu apa yang ada di kepala para pria. Dia mengetahui fakta bahwa kau tunanganku, dan kau hanya menganggapnya sebagai teman, tapi dia tetap menciummu. Aku tidak suka itu."
"Paul, aku juga marah dengan sikapnya yang kurang ajar. Dia jelas bersalah. Dan mungkin karena aku tidak sengaja mengatakan bahwa hubungan kita sedang kacau... jadi, dia salah mengartikan maksud ucapanku."
Alis Paul bertaut. "Hubungan kita sedang kacau? Kenapa kau bilang begitu?"
Aku mengedikkan bahu. "Yah, aku tidak bisa berhenti memikirkan fotomu dan model Spanyol itu. Belum lagi komunikasi kita yang belakangan... Well, kau tahu sendiri."
"Model yang mana? Apa yang kau maksud itu Sara?" tanyanya dengan raut bingung.
"Aku tidak tahu namanya." jawabku, lalu menghela nafas. "Tapi model Spanyol yang berfoto denganmu. Banyak rumor mengatakan kau berhubungan dengannya, tapi tidak sekalipun kau menjelaskan soal itu padaku, dan tentu saja itu membuatku gila."
"Astaga... Gosip yang memberitakan Paul Klug bersama wanita bertebaran setiap hari, Bianka. Apa kau pikir aku punya waktu untuk membaca semua berita itu dan menjelaskan satu persatu padamu?" Paul mengangkat alis, membuatku baru menyadari arti ucapanku sendiri.
"Tidak, tidak." Aku menggeleng tanda menyerah selagi kami makan. "Tentu tidak."
"Sara itu temanku. Aku menceritakan tentang hubungan kita padanya, dia paham bagaimana rasanya dan sejujurnya dia sangat membantuku selama berada disana." gumam Paul menjelaskan. "Tidak ada hubungan seksual sama sekali. Aku tahu batasanku, Bianka."
"Yah, aku minta maaf. Tidak seharusnya aku menyimpulkan sesuatu seperti itu." kataku sembari memijat hidung, merasa malu.
"Sudahlah, love. Tapi, aku tetap tidak mau kau berteman dengan Elliot."
"Paul, tidak mungkin aku menjauhinya karena kami bekerja di rumah sakit yang sama, dan Stacey sangat dekat dengannya... Namun, aku akan berusaha menjaga jarak."
Paul mengangguk setuju. "Kau tidak akan tahu sebesar apa keinginanku untuk menghajarnya tadi." gumamnya dengan nada serius. "Tapi kurasa aku sudah terlalu tua untuk melakukan itu. Belum lagi kau pasti marah padaku atau itu bisa jadi skandal konyol jika seseorang melihatnya."
"Bagus kalau kau tahu..." Sebersit senyum melintas di bibirku. "Aku akan berbicara padanya kejadian tadi pagi agar dia tidak mengulangi kesalahan yang sama..."
"Ya, itu harus." katanya, membalas senyumku.
"Aku tidak mau hidup berjauhan denganmu. Lagi pula, hidupku lebih bahagia disini. Kau, keluargaku, teman-temanku... Semua orang yang kusayangi ada disini, di Jerman." katanya.
"Jika kita tidak bertemu... jika kita tidak menjalin hubungan... Apa kau akan bertahan di Spanyol?" tanyaku.
"Kemungkinan besar begitu," Paul membenarkan ketakutanku. "Hidupku sudah kacau, Bianka. Dan hanya sepak bola yang sedikit menghiburku, tapi semuanya berubah sejak kita bertemu."
Aku menghembuskan nafas berat. "Paul..."
"Love, aku kembali agar bisa bersamamu. Aku tidak peduli klub mana yang akan menampungku, bukan itu masalahnya. Aku bermain bola karena aku menyukainya, bukan karena ingin terkenal." Mendadak dia mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku dengan lembut.
Tatapanku terpaku pada matanya, sentuhan kecilnya membuatku merasa ingin lebih dari sekedar memukulnya, aku ingin memeluk dan menciumnya, menyatukan kembali perasaan kami yang sempat kacau karena keadaan.
"Apa kau tidak merasa bahagia dengan kepulanganku." sudut mulutnya tertarik sedikit.
"Tentu, aku bahagia." sahutku, dengan wajah merengut. "Tapi itu membuatku merasa egois. Sudah kubilang, aku benci menjadi seseorang yang menghalangi jalanmu..."
Paul tertawa. "Apa kau tidak mendengar yang kukatakan, Rapunzel? Aku tidak peduli klub mana yang menampungku selama aku bisa bermain bola, okay? Itu merupakan gagasan paling masuk akal untukku... untuk kita..."
Aku menurunkan pandangan ke arah tangan kami yang saling menggenggam.
"Sudah, jangan berpikir berlebihan. Aku kembali ke Jerman, itu keputusanku." sambungnya. "Kita harus memulai kegiatan mandi bersama, setiap hari..." Aku terkekeh dan kembali menatapnya. "Kau luar biasa, love. Aku rela mengorbankan apapun agar bisa bersamamu."
"Terima kasih," desisku seraya tersenyum. "Kau benar-benar keras kepala."
Paul mengangkat bahu acuh. "Jadi, apa sekarang kita berbaikan? Atau masih ada yang mengganggumu?"
"Banyak sekali hal yang mengganguku saat ini, tapi ya, kita baik-baik saja." jawabku. "Aku benar-benar berharap kau tidak menyesali keputusanmu meninggalkan Real Madrid."
"Tidak akan pernah." Dia mengangguk tegas. "Apa saja yang kau lakukab belakan ini? Ceritakan padaku."
Aku terdiam sejenak memandangi wajah pria yang begitu kurindukan, lalu kembali bersuara. "Waktuku habis untuk belajar dan bekerja. Nyaris tidak ada yang tersisa untuk melakukan hal lain."
Kami mengobrol dengan suasana hati yang lebih tenang. Paul menceritakan kegiatannya selama beberapa bulan terakhir di Spanyol dan aku melakukan hal yang sama.
"Apa dia baik-baik saja?" tanyanya dengan raut sedih begitu aku mengatakan Frosty di vaksin minggu lalu.
"Ya, sudah lebih baik sekarang." jawabku sambil terkikik pelan, lalu menyesap wine sedikit. "Penyembuhannya cukup cepat."
"Hm, dia bahkan tidak menyambutku..." katanya sembari mengarahkan pandangan ke sekeliling mencari Frosty.
"Dia di kamarku." Aku menegakkan tubuh.
Paul menyeringai genit. "Apa kau sengaja menaruhnya di sana agar aku masuk ke kamarmu? Astaga... kau benar-benar licik, Bianka."
Aku terperangah seraya tertawa. "Kau konyol, Paul. Kau bisa menyapanya nanti. Apa kau lelah?"
"Lelah?"
"Ya, tadi pagi kau bilang belum tidur sama sekali... Well, yah, begitulah..." Aku menggerakkan tangan agar dia paham maksudku.
"Ya, sedikit. Tapi tidak selelah sebelumnya, karena sumber energiku sekarang berada di depanku."
Aku tersenyum. "Pujianmu agak berlebihan hari ini, dan kau membuatku curiga..."
"Curiga?" Dia tertawa. "Apa lagi yang harus kulakukan kalau memuji tunanganku saja tidak boleh?"
"Mungkin sesuatu yang lain, seperti... Membuatku merasa lebih baik?" kataku menantangnya.
Paul menyipitkan mata sambil tersenyum nakal. "Dan, apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu merasa lebih baik? Beri aku perncerahan, love..."
"Oh, kau tahu maksudku, Paul..." kataku sembari mengedip, lalu berdiri dan mulai membereskan meja makan.