My Love Journey's

My Love Journey's
Wedding Day!



"No, Paul!" Aku membentaknya, nyaris merasa gila akibat stress memikirkan pernikahan kami.


Dia menghela nafas lalu mengusap kasar wajahnya. "Yes. Kita akan menyewa gedung ini, love... Terima saja, aku tidak mau mendengar penolakan."


Aku menggeleng tegas, tak mau kalah. "No. Aku tidak mau mengadakan pesta besar-besaran. Aku ingin kita melakukannya disini, di rumahmu."


"Rumah kita," koreksinya. "Kalau kau menginginkan itu karena tidak mau aku mengeluarkan terlalu banyak uang..."


"Aku hanya ingin merayakannya dengan keluarga dan teman dekat. Sederhana saja, tidak perlu menyewa gedung..." Aku menghembuskan nafas gemetar. "Bukan tempatnya yang penting, tapi tujuan kita melakukannya. Aku mau kita lebih dekat dengan keluarga dan teman-teman."


"Bianka, aku akan membuatmu merasa seperti ratu. Percayalah..." Dia menyeringai seperti remaja yang baru mengenal cinta.


***


"Aku sangat senang karena semuanya berjalan sesuai rencana." Aku menghembuskan nafas lega, ketegangan yang menyiksaku selama beberapa bulan belakangan akhirnya terlepas. "Merencanakan pernikahan ini benar-benar membuatku gila..."


Ibu Paul tertawa, meremas tanganku di genggamannya. "Keputusan tepat kalian mengadakannya disini alih-alih menyewa gedung. Dekorasinya sangat indah... musiknya..."


Setelah pemberkatan di gereja, mobil-mobil yang disediakan Paul mengangkut semua orang ke rumah kami, yang telah di dekorasi ala White Swan Fantasy. Semuanya benar-benar sempurna dan persis seperti yang kuinginkan.


"Dan kau kelihatan sangat cantik. Aku senang kau melibatkanku dalam pemilihan gaun," Dia tersenyum ceria, dan aku tertawa halus.


"Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan tanpa bantuanmu, Anne."


"Ah, kau wanita serba bisa, Sweetheart. Omong-omong, aku sudah menyiapkan beberapa daftar nama untuk cucuku." gumamnya bersemangat. "Aku akan mengirim daftarnya saat kalian pulang dari bulan madu."


Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. "Sebenarnya aku juga sudah menyiapkan beberapa nama... Jangan beritahu Paul, ya?"


"Jangan beritahu aku apa?"


Kurasakan dia memelukku dari belakang dan menopangkan dahunya di bahuku. Aku selalu bisa mengenali suara serak dan aroma tubuhnya yang jantan itu.


Aku menyandarkan punggung ke dadanya yang keras lalu mengulurkan sebelah tangan menangkup pipinya. "Oh, tidak ada..."


"Mum, Bianka dan aku yang akan memilih nama anak kami..." gumam Paul pada ibunya.


Tidak ada orang lain yang mengetahui soal kehamilanku selain keluarga inti dan teman dekat kami, yaitu ayahku, ibu Paul, Louis, Stacey, Valerie, Carl, Thomas, dan Travis.


"Ya, ya," sahut ibunya sambil tersenyum penuh arti padaku. "Tapi, aku boleh menjaga cucuku, kan?"


"Tentu saja. Kau bebas bermain dengannya selama yang kau inginkan." kataku meyakinkan.


"Selamat atas pernikahan kalian," Cristiano Ronaldo tiba-tiba berdiri di samping ibu Paul, tersenyum riang pada kami berdua.


Tubuhku menegang sedikit. Belakangan dia telah menjadi bagian dari salah satu temanku, namun perasaan kagumku terhadapnya tidak beranjak sedikit pun. Aku masih menggilainya sebagai idola sampai detik ini.


Aku merasakan Paul diam-diam mencium rahangku.


"Terima kasih," Aku berdeham sekali lalu membalas senyumnya. "Sangat menyenangkan kau bisa hadir di pernikahan kami."


"Yah, aku mendapat undangan, jadi..." Dia mengangkat bahu. "Kau sangat cantik, Bianka. Paul benar-benar beruntung men..."


"Hei," kata Paul dari belakangku, melayangkan pandangan kepada pria Portugal seksi yang berdiri di depanku. "Kau sendang membicarakan istriku, Bung. Jangan berani menggodanya seolah-olah aku tidak berada di sini."


Ronaldo tertawa dan mengangkat tangan tanda menyerah sementara aku memegang tangan Paul yang memeluk perutku dan berbicara. "Apa kau menikmati acaranya?" tanyaku, dan dia menganggukkan kepala.


"Aku senang kalian mengadakannya di rumah." Tuh, kan... pria sekelas Ronaldo saja menyukai ideku. "Omong-omong, apa aku boleh berfoto dengan kalian? Aku ingin mempostingnya di twitter."


Sejenak aku ragu, kemudian kulirik Paul yang memundurkan kepalanya untuk melihat ekspresiku. Pernikahan kami tertutup dan belum diketahui masyarakat luas. Berita pertunangan kami saja sebenarnya cukup tersimpan dengan rapi sampai salah satu wartawan berhasil mencuri fotoku memakai cincin yang diberikan Paul, tapi kami tetap mencoba menjaga yang lainnya untuk diri kami sendiri.


"Aku sih tidak masalah..." gumamku lembut meski sedikit ragu. "Paul?"


"Tentu, tentu." Dia tersenyum lalu kembali menurunkan dagunya ke bahuku.


Anne, ibu Paul, tersenyum lebar di samping Cristiano Ronaldo yang sedang mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengarahkan kameranya kepada kami. Mulutku melengkung tinggi-tinggi saat Paul mengejutkanku dengan mencium pipiku.


Ronaldo menunjukkan layar ponselnya ke arahku agar aku bisa melihat foto kami dan caption sudah di ketiknya. "Boleh kuposting?"


Aku terpesona melihat betapa serasinya Paul dan aku. Hatiku merasa hangat dan aman di pelukannya, terutama karena saat ini aku sedang mengandung anak kami.


'@Cristiano: Congratulations to my great friends! Wish you all the best for your life together!'


Kemudian di bawahnya ada foto Paul sedang memelukku dari belakang dan mencium pipiku, ekspresiku terlihat seolah aku sedang tenggelam dalam kebahagiaan. Dan memang itu kenyataannya.


"Ya," jawabku dengan suara pelan.


Lalu kulirik Ellie yang tergesa-gesa mendekat saat tamu yang lain sedang sibuk mengobrol dengan wajah berseri-seri. Dia melingkarkan tangannya di pahaku dan memelukku.


"Hei," sapaku lalu menundukkan kepala dan tertawa memandangnya. "Kau melakukan pekerjaan luar biasa di altar tadi. Terima kasih, ya."


Dia menengadah menatapku sambil tersenyum lebar, matanya berkilat-kilat senang.


"Kau sangat cantik, seperti princess."


"Ya! Tapi Frosty terus-menerus kabur dariku..."


Aku tersenyum geli melihat ekspresi wajahnya yang menggemaskan, dan aku menggelengkan kepala. "Jangan pikirkan dia. Frosty suka malu saat berada di keramaian."


Dengan begitu saja, Ellie langsung kabur dan menghilang di balik tubuh orang dewasa yang sedang mengobrol. Paul dan aku kembali ikut bergabung dan menyapa tamu-tamu kami. Bahkan, aku sempat melihat Dr. Grey tadi, tapi kami belum mengombrol sama sekali. Aku menginginkan pernikahan yang sederhana, namun ada hampir sekitar seratus orang tamu yang datang malam ini, dan itu terlalu banyak dari yang kurencanakan.


"Aku punya hadiah pernikahan untukmu, love." bisik Paul.


Aku membalikkan tubuh dan mendongak menatapnya seraya menaikkan sudut bibirku. "Apa itu?"


Dia mengusap pinggulku lalu mengangkat bahu dengan raut berpura-pura tidak tahu. "Ada di halaman belakang..."


Aku dan mengulangi pertanyaan. "Apa itu?"


"Lihat sendiri," katanya sambil mengedipkan mata.


"Kalau sampai aku melihat kuda pony..." Aku menggelengkan kepala, dan dia tertawa.


"Bukan itu. Lihatlah, aku berjanji kau pasti akan menyukainya."


"Okay," Aku maju dan berjinjit untuk melabuhkan ciuman hangat di bibirnya. "Suamiku."


Dia tertawa lalu menepuk bokongku selagi aku berbalik dan mulai melangkah lebih jauh menembus kerumunan. "Paul bilang ada hadiah untukku di halaman belakang," kataku sambil menggandeng lengan Thomas. "Ayo, temani aku."


"Oh, Lord..." Dia terkekeh dan menggeleng. "Aku jadi penasaran."


"Aku juga," tawaku meletup sementara kepalaku bersandar di pundaknya dalam perjalanan ke halaman belakang.


Kami hampir mencapai pintu kaca saat Thomas berbicara. "Uhm, temanmu yang bernama Camille, apa dia masih lajang?" tanyanya. Aku memutar kepala melihatnya.


Camille memiliki kepribadian yang menyenangkan. Aku selalu berada di sampingnya dan menyaksikan hampir semua proses dalam hidupnya selama empat tahun belakangan. Tujuan hidupnya jelas dan dia selalu tahu harus melakukan apa saat suatu masalah datang merundungnya. Ah, aku baru menyadari kalau tadi sempat melihat sesuatu di antara Thomas dan Camille, dan jujur aku senang. Menurutku mereka cocok.


"Ya. Kau tertarik padanya?" tanyaku dengan alis terangkat sedikit.


Dia mengedikkan bahu. "Mungkin... Kelihatannya dia baik, dan Ellie menyukainya."


"Aww, manis sekali. Kau harus mencoba peluangmu." kataku. "Camille gadis yang sangat dewasa. Aku mengatakan ini karena aku mengenalnya dengan baik, Thomas. Kita akan membahasnya lebih jauh saat Paul dan aku kembali dari bulan madu, okay?"


"Ya, kurasa... OH, MY FVCKING GOD!"


Teriakan Thomas memancing perhatian semua orang yang berada di dalam rumah, dan tiba-tiba sekumpulan orang yang keheranan datang mengerubungi, sementara kami masih berdiri mematung di teras belakang.


"Apa itu..." Mata dan mulutku serentak membuka lebar sementara jantungku terasa akan meledak dan melompat keluar dari dadaku.


Aku masih berdiri disana. Melongo seperti orang bodoh memandangi sosok pria yang sedang tersenyum padaku, diikuti nada awal lagu 'A Sky Full Of Stars' yang terdengar melalui pengeras suara.


"HOLY HELL!" Kesadaranku kembali dan aku mengerjap, masih kebingungan sementara Valerie berteriak dan menarikku turun dari teras.


Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya Paul bisa mendatangkan Coldplay ke rumah kami. Ke halaman belakang rumah. Untuk bernyanyi. INI GILA!!! Memang siapa aku hingga pantas mendapatkan perlakuan seperti ini? Ah, tentu saja, Bianka! Kau istrinya.


"I'M THE WIFE! THE LUCKY FVCKING WIFE!!!"


Hatiku meluap dengan perasaan bahagia, semangat, dan tersentuh akan kebaikan dan perhatian suamiku. Ehm, suamiku. Ya, dia suamiku yang tampan dan penuh kejutan.


"WOOHOO!!!" Aku berteriak selagi menari bersama yang lainnya di halaman belakang. Sinar matahari yang cerah seakan menandakan bahwa alam ikut merasa bahagia hari ini. Jujur, aku hampir menangis mendengar suara Chris Martin karena aku belum pernah menyaksikan dia bernyanyi secara langsung, namun yang lebih membuatku bahagia adalah Paul melakukan ini untukku.


Valerie, Thomas, dan aku merupakan penggemar berat Coldplay. Kami menari di atas rumput seperti orang gila, dengan jarak hanya beberapa langkah dari Chris Martin, Guy Berryman, Jonny Buckland, dan Will Champion.


Aku menyadari Paul memperhatikanku, dia berdiri di teras bersama beberapa orang yang tidak ikut menari namun tetap menikmati musik sambil minum dan mengobrol. Ekspresi mereka menunjukkan kebahagiaan.


Aku menendang hak tinggiku dan mulai melangkah menghampirinya, dia tersenyum manis. Amat sangat manis. "Paul..." bisikku tertahan. Kupeluk lehernya sebelum mencicipi bibirnya dengan bibirku. "Kau gila! Aku tidak percaya kau mendatangkan Coldplay kesini..." Dia tersenyum dan membalas ciumanku.


"Andai saja aku tidak memikirkan tulang panggulku, semua gadis yang ada di sini akan terpana melihat gerakanku." Kudengar suara ayahku berbicara di samping Pauk saat pelukan kami terlepas.


Sambil tertawa, aku memandangnya. "Dad..." Aku menggelengkan kepala main-main.


"Kurasa para gadis tidak akan sanggup mengimbangi gerakanmu, Mr. Becker." kata Felix menimpali seraya menepuk pelan lengan ayahku yang kini tertawa dan mengangguk senang.


Pandanganku kembali mengarah kepada Paul, dia menatapku dengan cara yang membuatku meleleh. "Kau tidak akan mengundang mereka kesini tanpa menari denganku," desisku sembari menyeringai. "Kau tahu itu, kan?"


"Oh, tidak..." Dia kembali menciumku. "Bersenang-senanglah, aku sudah cukup bahagia melihatmu menari bersama yang lain."


Omong kosong. Aku balas menciumnya lalu menariknya ke tengah kerumunan orang yang berjoget.


"Lagu berikutnya adalah 'Adventure Of A Lifetime'..." Chris Martin mengumunkan. Dia melihat kami sambil tersenyum, membuatku nyaris pingsan detik itu juga. "Untuk temanku, Paul dan Bianka... Congratulations!!!" Dia mengangkat sebelah tangan dan mengarahkannya kepada kami sebelum lagu di mulai.


Dengan perasaan bahagia yang meluap-luap, aku melompat dan berbalik menghadap Paul. "Dance!" Aku menariknya hingga dada kami saling bersentuhan, dan dia tertawa. "I love you, Husband."


"I love you, Wife."