My Love Journey's

My Love Journey's
Watching The Game



Seminggu berlalu.


Beberapa hari yang lalu merupakan terakhir kali aku bertemu Paul saat dia mengajakku makan malam. Terlepas dari semua waktu yang benar-benar menakjubkan yang kami miliki, aku mulai mengabaikannya. Aku tidak menjawab teleponnya atau membalas pesannya.


Aku benci melakukannya, tapi sebisa mungkin aku mencoba bertahan. Kedekatan kami sudah jauh melebihi dari yang seharusnya, mengingat kami hanya berkencan dan tidak ada yang serius soal itu. Juga, belakangan sangat banyak artikel tentang kami bermunculan, yang mengatakan kalau keberadaanku di sisinya mungkin akan mengganggu konsentrasinya dalam latihan menjelang Piala Dunia.


Hari itu, begitu aku tiba di rumah setelah kami makan malam, sebuah foto yang menunjukkan dia sedang menuntun super model Stefanie Giesinger ke mobilnya, mulai beredar. Dan media menggila karena itu.


Foto itu tampaknya di ambil sehari sebelum kami makan malam, lalu dia secara khusus mengirimiku pesan dan mengatakan kalau dia sangat ingin bertemu denganku setelah pertandingan mereka melawan Islandia, yang untungnya Jerman menang, tetapi aku bisa mengerti kalau dia terlalu lelah untuk untuk kembali ke Jerman. Jadi, kubilang padanya bahwa aku tidak masalah dengan foto itu dan dia harus beristirahat menjelang pertandingan berikutnya.


Dia sudah berbohong padaku, dan bermain-main dengan seorang wanita cantik diluar sana. Jujur aku kesal karena terus memikirkannya, dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengatasi itu. Aku sadar semuanya salahku karena memiliki perasaan yang begitu kuat untuknya. Maksudku, bagaimana mungkin pria seperti Paul bisa puas dengan wanita sepertiku? There's no way, dude!


Bahkan judul artikel tentang dia dan si super model itu membuatku lebih sakit hati lagi.


Aku tidak butuh drama berlebihan semacam ini, menjadi sorotan publik setelah mengenal Paul saja sudah cukup berat. Nyaris setiap hari, orang di jalan, di cafe, restoran, rumah sakit... bahkan tetanggaku sendiri tanpa merasa sungkan mengambil fotoku dengan kamera ponsel mereka!


Aku benar-benar tidak lagi memiliki ruang pribadi di tempat umum, dan kenapa dia harus membuat pernyataan tentang hubungan kami kepada publik kalau pada akhirnya tetap bersenang-senang dengan modelnya dan membuatku malu?


***


Namanya muncul di layar ponselku namun aku tidak menjawab panggilannya. Jerman bertanding melawan Kolombia hari ini, dan aku tahu dia sangat ingin menjelaskan soal foto itu sebelum pertandingan mereka di mulai.


Aku berusaha keras mencoba mengalihkan pikiran dari semua hal yang berkaitan dengan Paul, tapi itu tidak mungkin. Dia bintang yang bersinar terang di seluruh penjuru Jerman, orang-orang terus berbicara tentangnya, membahas kehidupan pribadinya dan semuanya. Dan yang lebih menyedihkan dariku adalah, aku masih mengenakan jaketnya saat tidur karena... Sial! Barang itu membuatku nyaman.


Aku membalik layar ponselku dan tersenyum penuh pada Travis. "Maaf, abaikan itu," kataku padanya sambil menggoyangkan kepala untuk mengusir segala hal tentang Paul.


Travis membalas senyumku, menyisip kopinya diseberangku. Dia bergabung denganku di kafe untuk minum kopi pada jam istirahat sore. "Tidak masalah. Omong-omong, apa kau akan menonton pertandingan hari ini di stadion?" tanya Travis.


Aku menggeleng, tidak ingin Travis mengetahui soal hubunganku dengan Paul dan aku juga belum menceritakannya pada siapapun. "No. Aku menonton di rumah." balasku. "Bagaimana denganmu?"


"Sama. Boleh aku bergabung bersamamu?"


Aku terdiam sejenak, ragu-ragu. Travis dan aku tidak pernah melakukan sesuatu yang lebih dari teman sebelumnya. Maka kupikir mungkin tidak ada salahnya kalau kami menonton bersama. "Okay." gumamku pada akhirnya. "Kau bisa menemaniku berteriak di depan TV."


Travis terkekeh. "Aku tidak tahu kalau kau begitu tertarik dengan sepak bola."


"Eh, tidak. Aku bahkan tidak tahu sedikitpun tentang itu... aku hanya berharap Jerman bisa menang di Piala Dunia." kataku menjelaskan lalu menundukkan kepala menatap gelas kopiku.


"Wow, cinta negara, ya? Aku suka gagasan itu." senyumnya berubah menjadi seringai kecil. "Kupikir kita punya peluang paling besar untuk menang, tapi aku juga mendukung Prancis."


Aku memandang sekeliling kafe. Beruntung hari ini kami mendapat meja yang agak tersembunyi, jauh dari jendela, yang berarti tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk mengambil foto diam-diam dari luar seperti yang dilakukan oleh tiga remaja laki-laki sebelumnya. Aku tidak begitu yakin dengan dua orang wanita yang duduk beberapa meter dari meja kami, aku merasa keduanya melirik setiap kali mereka mengira aku sibuk melakukan sesuatu. Mungkin mereka memperhatikan Travis, tertarik padanya, namun sangat mungkin juga mereka mengenaliku.


Terlepas dari semua kemungkinan itu, aku merasa agak kurang nyaman, dan paranoid. Aku tidak ingin orang-orang menyebut ku sebagai wanita yang hanya menghangatkan ranjang Paul selama beberapa minggu.


Aku ingin mengatakan kepada Travis kalau pelatih tim nasional Jerman juga khawatir Prancis akan menang, tapi dengan segera kuurungkan niat itu. Aku tidak bisa berhenti memikirkan Paul, dan heran kenapa aku begitu terganggu dengan hal ini.


Beberapa menit kemudian, Travis dan aku kembali ke rumah sakit. Hubungan kami kurasa mulai membaik dan kembali seperti sebelumnya. Dia lanjut melakukan tugasnya sebagai dokter sementara aku masuk ke kelas perawat, alih-alih mengikuti Dr. Grey mengunjungi pasien. Aku duduk di sebelah salah satu temanku dan mengeluarkan laptopku dari dalam tas, bersiap mengikuti kelas hari ini.


***


Travis dan aku langsung menuju ke rumahku setelah jam kerja kami berakhir. Sambil mengobrol santai, aku mengeluarkan sebotol wine dan beberapa camilan selagi dia duduk di sofa. Kemudian aku bergabung dengannya, menjaga sedikit jarak darinya dan menyalakan TV.


"Apa yang terjadi?" tanyaku, memandang ke arah TV yang menayangkan pertandingan malam ini.


Travis menyeringai. "He? Pertandingannya baru akan dimulai... mereka sedang membahas soal taktik dan semacamnya."


Sejujurnya, aku tidak terlalu nyaman duduk berdua bersama Travis seperti ini, rasanya berbeda ketika aku menghabiskan waktu dengan Paul. Aku putus asa, dan kurasa Paul juga merasakan hal yang sama. Atau tidak? Eh.


Aku melihat wajah Paul muncul di layar, disertai semacam informasi dituliskan dalam persentase di sebelah fotonya.


From: Paul: Jangan mendiamkanku, Bianka. Aku tahu kau melihat foto itu. Bisakah kita bersikap dewasa dan membicarakan ini?


Aku membaca pesan yang baru saja di kirimnya. Aku tidak membalas pesan sebelumnya tapi kurasa aku perlu membalas yang ini karena sepertinya dia begitu gelisah.


To: Paul: Tidak ada yang perlu kita bicarakan dan tidak ada yang serius di antara kita. Good luck for the game.


From: Paul: Kau menonton?


To: Paul: Ya.


From: Paul: Bisakah kita bicara setelah pertandingan selesai? Kita benar-benar perlu membahas masalah ini, aku lelah karena kau terus mengabaikanku.


Aku tidak membalas pesannya lagi, dan meletakkan ponselku setelah menyadari kalau Travis sedang mengamatiku.


"Paul?" tanyanya, dan aku menghela napas.


"Ya, maaf. Dia ingin bicara denganku setelah pertandingan selesai." jawabku.


"Ah, aku mengerti. Tapi kita tidak bisa menonton sampai akhir, lho." katanya mengingatkanku. "Kita harus kembali ke rumah sakit saat istirahat babak pertama."


Aku meringis, pura-pura kesal. "Apa itu artinya kita tidak bisa minum wine?"


Travis tertawa. "Yup."


Aku mengerang dalam hati, kemudian meraih ponselku, membuka Twitter dan mengambil gambar televisi beserta meja yang di atasnya terdapat wine dan beberapa camilan.


Aku menulis 'Go Germany🇩🇪❤️' sebagai caption.


"Kau tahu, pertandingan pertama sebenarnya tidak terlalu penting. Semuanya akan terasa lebih mendebarkan saat memasuki babak penyisihan dan beberapa negara akan mulai tersingkir." gumam Travis. Aku menoleh dan melihat kalau dia juga memposting foto di Twitter.


Sebelum aku sempat meletakkan ponsel ke meja, benda itu bergetar seakan mengamuk saat pemberitahuan tiba-tiba membludak. Aku jarang mengupdate sesuatu di aku media sosialku, tapi kukira sekarang adalah waktu yang tepat. Sampai, tentu saja, aku menyadari kalau aku tidak bisa memposting sesuatu di media sosial tanpa menarik perhatian orang-orang yang akan menggila dengan teori mereka sendiri.


"Aku menandaimu di postinganku, kuharap kau tidak marah." Travis berdeham, menarik kembali pikiranku. "Bianka, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat berbeda hari ini. Ada apa?"


"Oh, tidak. Aku hanya... agak stress, kurasa."


"Apa ini soal pekerjaan?"


"Bukan. Soal Paul. Aku... lupakan. Aku hanya mencoba untuk..."


"Aku melihat beberapa perawat membicarakan soal fotonya bersama seorang model. Apa itu yang mengganggumu sekarang?"


Aku mengernyit dan memandangnya selama beberapa saat. Aku Travis merupakan seseorang yang bisa kupercaya, namun aku tidak membicarakan masalah ini dengannya. Aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang kurasakan soal Paul, jadi bagaimana mungkin aku menjelaskannya pada orang lain?


"Jangan percaya begitu saja pada media," kataku sambil tersenyum, mengutip ucapan Paul. "Hubunganku dan Paul baik-baik saja. Aku hanya tidak suka dengan perhatian yang berlebihan."


"Ahh, sepertinya kau sudah terlatih, ya?" balasnya bercanda, dan aku tertawa.


"Sangat." cetusku riang.