My Love Journey's

My Love Journey's
Family Call



"Dia sangat manis..." kataku pada Paul. "Dia bilang kau idolanya dan ingin menjadi pemain bola sepertimu saat dewasa."


Paul tersenyum, duduk di kursi yang berseberangan denganku di dapur rumahku. Aku memegang gelas wine yang baru saja ku isi kembali sementara Paul baru menghabiskan miliknya. Aku juga menyiapkan whipped cream dan stroberi dari kulkas untuk kami berdua.


"Kau bilang namanya Daniel? Kenapa dia menggunakan kursi roda?" tanya Paul sambil mengamatiku lekat-lekat selagi aku menggigit stroberi.


"Katanya karena kecelakaan mobil," Aku mengingat kembali wajah Daniel yang ceria, agak sedih karena dia harus mengalami kejadian itu. "Dia juga bilang padaku kalau dokter mengatakan dia tidak akan bisa bermain bola lagi. Itu benar-benar menyedihkan."


"Kau tampak sangat terpikat padanya." kata Paul.


"Memang. Kuharap kau bisa bertemu dengannya, dia pasti sangat senang." Aku berbicara sambil menyisipkan sejumput rambut ke belakang telinga.


"Aku pasti berjumpa dengannya suatu hari nanti." Dia menatap genit padaku dan aku tertawa.


"Aku berencana akan melihatnya besok begitu jam kerjaku berakhir." gumamku, menggigit stroberi lagi.


"Sampaikan salamku padanya."


Aku tersenyum. "Dia pasti senang mendengar itu."


Sebelum salah satu dari kami sempat mengatakan sesuatu, ponselku berdering di atas meja di hadapanku. Paul dan aku memandang nama yang muncul di layar bersamaan.


"Siapa Louis?" tanyanya dengan kening berkerut.


"Oh... dia, uhm... dia adikku." Tiba-tiba aku merasa sangat kesal. Dia tidak pernah menghubungiku, rasanya sudah berabad-abad lamanya sejak terakhir kali kami berbicara.


Keluargaku benar-benar kacau, dan aku jarang berhubungan dengan mereka. Ibuku seorang pecandu alkohol kronis, dia meninggalkan kami sejak aku kecil. Adikku terjerumus dalam kehidupan buruk beberapa tahun setelah Ibuku pergi, dan aku tidak pernah berbicara lagi dengannya sejak aku kuliah. Aku hanya menjaga hubungan dengan ayahku, namun percakapan kami selalu membuatku teringat betapa kacaunya kehidupan kami.


"Maaf, aku harus mengangkatnya." gumamku lalu meraih ponsel dan melangkah ke ruangan lain begitu Paul mengangguk.


"Louis?" ucapku agak gemetar. Aku takut dia membuat masalah lagi, atau melakukan sesuatu seperti sebelumnya.


"Hei, B... lama tidak mendengar kabarmu." Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku mendengar suaranya yang nyaris kulupakan.


"Ya. Kenapa meneleponku? Apa kau baik-baik saja?" Aku duduk di sofa, menyandarkan siku ke lututku dan memijat pangkal hidungku.


"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin mengatakan kalau beberapa minggu lagi dad ulang tahun, dan mungkin kita bisa merayakannya bersama?"


Wow. Bukan hal yang kubayangkan akan keluar dari mulut Louis. Dia tidak pernah menunjukkan kepedulian pada keluarga kami sedikitpun, terakhir kali dia meneleponku hanya untuk meminta uang, dan itu terjadi saat aku masih berada di Indonesia. Jadi, tidak salah kalau aku terkejut kali ini.


"Oh, ya?"


"Ya." Dia terdengar senang. "Dengar, aku sudah menjalani rehabilitasi selama enam bulan terakhir dan sudah bersih. Aku juga sudah bekerja di sebuah coffee shop."


"Apa?"


Aku tidak tahu apakah aku harus merasa senang atau khawatir dengan apa yang dikatakannya. Setelah semua yang terjadi, aku tidak bisa percaya lagi padanya. Sebagian besar dari diriku yakin kalau dia akan kembali melakukan sesuatu yang buruk.


"Lou... aku tidak tahu harus mengatakan apa," gumamku pelan, kurasakan air mataku mulai menggenang. "Aku... aku bangga padamu. Dan ya, kurasa kita bisa merayakan hari ulang tahun Ayah bersama-sama."


Dia terdiam selama beberapa saat sebelum membalas ucapanku. "Baiklah. Aku akan meneleponnya dan mengatakan kalau kita akan mengunjunginya di hari ulang tahunnya, bagaimana?"


"Yes, okay." kataku pelan, nyaris berbisik.


"Hei, B? Aku merindukanmu. Aku tahu kita perlu berbicara lebih banyak... tapi aku ingin mengatakan sekarang kalau aku minta maaf untuk semuanya." Dia terdengar benar-benar menyesal.


Tanpa sadar air mataku menetes dan dengan cepat aku menghapusnya. "Okay." Hanya itu yang keluar dari mulutku.


Beberapa hal yang pernah dia lakukan padaku perlu diselesaikan lebih lanjut sebelum aku memaafkannya. Mungkin menghabiskan waktu di rumah ayahku akan sangat membantu kami dalam hal ini.


Aku memutuskan sambungan telepon setelah kami berbicara sekitar dua menit berikutnya. Aku masih duduk di sofa, memandang ponselku sambil terus mengingat semuanya. Apa ini nyata? Kenapa rasanya seperti aku sedang bermimpi?


Aku menatapnya yang kini berdiri di hadapanku lalu menganggukkan kepala. "Ya,"


Paul duduk, mengamatiku. "Apa kau yakin?"


"Ya. Aku hanya agak bingung dan terkejut, dan bahagia. Ya, aku bahagia." Aku meletakkan ponsel di atas meja dan memutar tubuhku menghadapnya. "Soal dapur, terima kasih sudah membereskannya."


Paul masih belum percaya dengan apa yang kukatakan. Dia terus memandangku dengan tatapan menyelidik. Seakan bisa membaca raut wajahku dengan mudah, dia bertanya lagi. "Apa sesuatu terjadi pada adikmu?" katanya hati-hati, meletakkan tangannya di sandaran sofa.


"Tidak." Aku tidak mau Paul merasa terganggu dengan kehidupan keluargaku yang kacau, dan tidak ada seorangpun di antara teman-temanku yang mengetahui ini.


"Ceritakan padaku, love." Aku menatapnya seraya menggelengkan kepala. "Kau bisa percaya padaku, kau tahu itu?" sambungnya.


"Ya, aku tahu, aku hanya... entahlah." Aku menarik napas berat, mencoba menahan air mataku agar tidak turun. "Uhm, ibuku... dia meninggalkan kami saat aku dan Louis masih kecil. Dia kecanduan alkohol, dan aku tidak tahu dimana dia sekarang. Mungkin sudah mati atau mungkin juga masih hidup di suatu tempat, aku tidak tahu." gumamku jujur, sedikit tenang saat merasakan Paul mengusap bahuku. "Aku hidup bersama ayah dan adikku sejak dia pergi meninggalkan kami."


Aku menarik napas lagi. "Louis, dia... saat remaja dia terjerumus ke dalam lingkungan yang tidak sehat. Dia mulai mengonsumsi obat-obatan dan semacamnya. Saat aku memutuskan kuliah di Indonesia, dia berulang kali memaksaku memberinya uang. Kau tahu, aku memilih kuliah disana karena kupikir itu jauh lebih murah dibandingkan disini, dan beruntung aku punya paspor Indonesia. Jadi aku tidak perlu susah payah tinggal disana."


Aku terdiam sejenak sebelum melanjutkan kembali. "Lalu suatu hari, aku kembali ke Jerman untuk mengunjungi mereka. Harusnya aku senang karena bisa bertemu dengan keluargaku, namun itu tidak bertahan lama. Saat itu Louis masuk ke kamarku sambil membawa pisau... dia mengancam akan membunuhku jika aku tidak memberinya uang. Untuk membeli narkoba, tentu saja. Percayalah, aku selalu memberinya uang, kujamin dia tidak kekurangan kalau dia menggunakannya dengan baik. Tapi dia menggunakan uang itu untuk hal lain, dan berapapun yang kuberikan tidak akan pernah cukup."


Aku menggeleng tak percaya pada ironi yang kualami. "Aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya sejak saat itu dan kembali ke Indonesia. Tapi sebulan berada disana, ayahku menelepon dan mengatakan Louis ditangkap polisi, yang secara tidak langsung memintaku pindah kesini."


"Lalu, kenapa dia menghubungimu sekarang?" tanya Paul kemudian.


"Dia bilang kalau dia menjalani rehabilitasi dan sudah bersih. Ayahku akan ulang tahun sebentar lagi, kurasa Louis ingin keluarga kami kembali seperti dulu, atau setidaknya mempertahankan apa yang tersisa dari kami."


Kami terdiam selama beberapa menit, Paul masih mengusap bahuku sementara aku sibuk memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika aku bertemu kembali dengan Louis. Aku belum menceritakan semuanya pada Paul, tapi dengan membuka garis besarnya saja, aku merasa bebanku sedikit terangkat.


"Kau tidak terlihat senang dengan gagasan itu." gumam Paul setelah beberapa saat.


"Gagasan apa?"


"Bertemu dengan adikmu. Kau takut, kan?"


Aku menatap Paul, dia benar-benar tahu apa yang ada di kepalaku. Aku bisa menangkap kekawatiran muncul sekilas di matanya. "Ya. Well, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi lagi, tidak di depan ayahku. Aku mencoba untuk percaya padanya, tapi itu sulit." kataku menjelaskan, lalu memaksa diriku tersenyum.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya hidupku saat ibu meninggalkanmu dan adikmu terjerumus dengan pergaulannya yang buruk," Dia menyisipkan sejumput rambutku ke belakang telinga. "Tapi aku percaya itu yang membuatmu menjadi wanita luar biasa. Kau baik, mandiri, dan peduli pada orang lain... kau wanita yang sempurna, love".


"You're sweet, Paul." Aku tersenyum, merasa nyaman saat dia mengusap pipiku dengan ibu jarinya. "Terima kasih."


"Kau tahu, aku bisa menemanimu kalau kau mau." Dia menawarkan diri, dan aku mengeryit bingung. Namun Paul dengan cepat menyadari itu. "Bertemu dengan adikmu, setidaknya aku bisa menjagamu jika dia mencoba melakukan sesuatu untuk menyakitimu."


Aku menggeleng. "Aku akan berada disana selama beberapa hari sementara kau harus mempersiapkan diri menjelang Piala Dunia. Tapi, terima kasih untuk tawarannya."


Dia mengedikkan bahu, lalu mengangkat sudut bibirnya tinggi-tinggi. "Ya, kau benar. Omong-omong soal Piala Dunia, pertandingan pertama kami dijadwalkan disini, tapi kebanyakan kami bertanding di Rusia. Aku ingin kau ikut kesana dan melihatku bertanding, ada jeda beberapa hari di antara pertandingan dan kurasa akan menyenangkan jika kau ada disana saat itu."


Aku mengernyit. "Kau memintaku mengunjungimu di Rusia?"


"Ya, kalau kau mau. Kita juga bisa menikmati liburan gratis di negara lainnya yang menjadi lokasi pertandingan kami, bagaimana?"


"Sepertinya menarik, aku akan memikirkannya." kataku. "Kau tahu, aku bekerja di rumah sakit dan mereka yang mengatur jadwalku."


"Okay. Sulit ya, mengatur waktu bersamamu."


"Memang. Aku sendiri kesulitan mengatur hidupku." balasku sambil terkekeh, lalu menangkup rahangnya dan mencium bibirnya sekilas.


"Demi kebaikanmu, Rapunzel, kuharap kau tidak memiliki jadwal besok pagi." katanya, kemudian dengan pelan mendorongku hingga terbaring di sofa.


Aku terkikik. "Kau beruntung, Mister."