
"Hei, bangun." Mimpi indahku terganggu oleh suara Paul yang berat.
Aku menggerutu dan memandanginya begitu membuka mata. "Ada apa?"
"Kita akan lari pagi."
Aku mengerang sambil menggeliat tak senang sementara menutup mataku kembali. "Dalam mimpimu, Paul. Jam berapa sekarang?"
"Jam 7. Ayolah, love, bangun. Aku sudah memberi makan kucing jelmaan iblis itu, kurasa dia mulai melunak padaku. Cepat bangun, kita akan lari sebentar, beberapa kilometer saja."
"Beberapa kilometer? Ini masih terlalu pagi, biarkan aku tidur sebentar lagi." protesku, berguling ke samping memunggunginya. Kubiarkan selimut yang jatuh ke lantai dan mencoba tidur kembali.
Paul mencium bahuku sementara tangannya membelai lekukan tubuhku. "Hanya sebentar, tidak banyak orang yang keluar sepagi ini, jadi tidak akan ada yang mengganggu kita." katanya padaku, napasnya yang panas menyapu kulitku dan bibirnya menyusuri punggungku. Aku merasa nyaman.
"Fine, kalau begitu buatkan aku kopi." Aku menyerah. Aku pikir itu akan sedikit memperlancar aliran darahku dan aku bisa belajar hari ini.
Paul melangkah ke dapur sementara aku naik ke lantai atas untuk mandi dan bersiap-siap. Olahraga bukan kebiasaanku, tapi kukira tak ada salahnya melakukan itu sesekali.
***
"Ada taman disana, kan?" tanya Paul begitu kami keluar dari pintu rumahku.
"Ya," balasku, mengancingkan ritsleting jaketku. "Omong-omong, dari mana kau mendapatkan baju itu?" Paul mengenakan kaos putih dan celana basket, yang entah dari mana datangnya. Sangat tidak mungkin dia menemukan barang-barang itu di lemariku.
Paul menoleh sambil menyeringai dan mengedikkan bahu. "Aku menelepon Alfred dan memintanya membawakan pakaian bersih."
Aku terkekeh. "Kau benar-benar bos yang menyebalkan. Apa dia pernah tidur?"
"He, kau lucu." Dia menyapu rambutnya dengan satu tangan. "Ayo, waktu kita tidak banyak, aku harus latihan dua jam lagi."
Aku mengernyit. "Kau akan berlatih dan sekarang kau mengajakku lari pagi? Aneh."
"Ya. Sekarang, hentikan ocehanmu. Kita lari mengitari taman dan kembali ke rumahmu, oke?"
Aku mengumpat pelan, yang kuinginkan saat ini hanya membuka buku dan mempelajari kembali semua yang sudah dijelaskan oleh Dr. Grey, alih-alih lari pagi. Khususnya bersama Paul Klug.
Perlahan kami mulai berlari menuju taman tak jauh dari rumahku. Cuaca pagi ini cukup cerah dan tepat seperti yang dikatakan Paul, tidak banyak orang yang berada di luar di jam-jam seperti ini. Lagi pula, siapa yang akan lari pagi di hari Selasa?
"Ini menyenangkan, bukan?" Paul tersenyum, dengan santai berlari di sebelahku.
Aku menggerutu dalam hati. Rasanya seakan kami sudah berlari selama berjam-jam. Bahkan aku tidak sempat menikmati pemandangan di sekitar taman karena terlalu sibuk mengatur nafasku yang tersengal-sengal.
"Ya," Untukmu, bukan untukku. Kakiku sudah terbakar!
"Bagaimana kalau kita masuk ke hutan lalu memutar arah lalu pulang?" Paul melangkah lebih cepat kemudian berbalik menatapku dan berlari dengan gerakan mundur.
"Ya," Aku mengangguk sekali. "Tapi, bisakah kita pelan saja?"
"Hm? Aku baru saja ingin menyuruhmu lebih cepat, but okay..." Dia tertawa sejenak lalu kembali membalikkan tubuhnya dan menggiringku menuju hutan kecil.
Aku melihat beberapa pesepeda dan pejalan kaki yang membawa anjing. Tampaknya mereka tidak peduli pada Paul, dan lebih memperhatikan pria tampan lainnya di sekitar mereka.
"Kakiku lebih pendek darimu," gumamku beralasan. "Dan kau... kau bermain... Ah!"
Tepat saat kami akan memasuki hutan, kakiku tersangkut di salah satu akar yang menyembul dari tanah.
"Oh, God... Apa kau baik-baik saja, love?" Paul mengangkat tubuhku.
Dia berdiri di depanku, menyeka lumpur yang menempel di rambut dan bagian depan jaketku. "Aku tidak apa-apa. Kau tahu, aku bukan pelari." Aku menghela napas sambil menjepit pangkal hidungku.
"Kau cukup bagus, birdie." Dia tersenyum, untuk sesaat membuatku terkejut.
Dia terlihat sangat tampan, terlalu tampan untukku yang berantakan dan lelah dengan tubuh penuh keringat. Dan di atas semua itu dia bersikap sangat baik padaku, berlari menyesuaikan kecepatanku tanpa berkomentar sedikitpun, bahkan meski aku tahu bisa saja melakukannya dua kali lebih cepat.
"Kau sangat gigih, aku menghargai..." ucapnya menambahkan, suaranya perlahan tenggelam ketika dia menundukkan kepala. "Sial, kakimu berdarah."
Aku mengikuti arah pandangannya, debaran jantungku yang mendadak menggila saat beradu mata dengannya membuatku tidak merasakan kulit lututku yang terkelupas. Ya ampun, celana olahragaku bahkan robek.
"Ah, itu hanya luka kecil." gumamku, terkekeh pelan. Aku menggelengkan kepala mengusir pikiran liar tentang Paul yang mulai merasuki otakku. "Aku akan membersihkannya begitu..."
Paul maju lebih dekat, sebelah tangannya masih menangkup rahangku. "Mau kugendong?"
Alisku terangkat tinggi-tinggi merespon tawarannya. Aku ingin menjauh darinya, serbuan pesonanya yang menerjangku bukan sesuatu yang kuinginkan terjadi saat ini. Kami sedang berada di hutan!
"Aku baik-baik saja, Paul." gumamku lagi.
Tepat sebelum dia berhasil menciumku, aku menarik diri darinya. Bukan karena aku tidak menginginkannya, tapi ini tempat terbuka dan aku masih agak paranoid, seseorang bisa saja bersembunyi di balik pepohonan dan mencuri foto kami lalu menyebarkannya. Itu bencana!
"Tidak ada orang disini, love." Paul memalingkan wajahku agar menatapnya, ibu jarinya mengusap lembut pipiku.
Aku menarik nafas begitu tatapan kami beradu kembali. Sekujur tubuhku bereaksi dengan cara yang amat memalukan, darahku berdesir dan jantungku berdegup kencang tak karuan. Sungguh, ini diluar kemampuanku untuk mengendalikannya. Sejenak aku membenci pesona Paul yang begitu kuat menarikku ke dalam dirinya, semakin lama aku menatapnya, semakin jatuh tersungkur aku padanya.
Sialan!
Aku menyerah pada hasratku. Perlahan kutepis jarak di antara kami dan langsung menyerang mulut Paul dengan mulutku, tak butuh waktu lama baginya untuk membalas ciumanku. Aku benar-benar kehilangan akal, kedua tanganku melilit lehernya sementara Paul memeluk erat pingganggku.
Kemudian tiba-tiba aku mendengar bunyi 'krak' dari belakang Paul, seakan seseorang baru saja menginjak ranting pohon yang kering. Buru-buru aku menarik diri darinya dan mengarahkan pandangan ke balik bahunya.
"Tenanglah," Paul menggumam sambil menoleh ke belakang. "Lihat, tidak ada siapa-siapa, love."
Aku merasa gugup sekaligus takut. Aku yakin ada seseorang yang bersembunyi di balik pepohonan atau semak belukar di sekitar kami. "Ayo pulang, sebelum darahku keluar lebih banyak."
Paul merangkul pundakku sambil tertawa pelan, kemudian dia menuntunku keluar dari hutan dan langsung menuju rumahku dengan mengambil jalan memutar.
Begitu tiba dirumah, sisa pagi itu dipenuhi dengan ejekan, rayuan, ciuman cepat, dan tawa riang yang keluar dari mulut kami. Itu adalah momen paling sederhana namun terbaik yang kurasakan selama beberapa saat, setelah aku memutuskan melepaskan semua keraguan dan kekawatiran untuk sementara.
Setelah Paul selesai membersihkan luka di lututku dan menutupnya dengan plester, kami saraoan bersama sebelum dia pulang. Jadwal latihan Paul semakin panjang dan ketat karena mereka sedang mempersiapkan diri untuk Piala Dunia.
Aku masih berdiri di depan pintu rumahku seperti orang bodoh, agak linglung merasakan ciuman perpisahan yang panas darinya sebelum dia masuk ke mobil. Kemudian masuk ke dalam rumah dan melihat jaketnya tertinggal di sofa.
Aku mengerang pelan lalu meraih jaket itu, jaket hitam berlogo klub sepak bola yang merekrutnya di luar Piala Dunia, Bayern Munchen.
To: Paul: Jaketmu tertinggal di rumahku. Aku akan membawanya nanti malam.
From: Paul: Simpan saja. Sampai jumpa nanti malam, love xx
Oh?