My Love Journey's

My Love Journey's
I forgive you.



Orang-orang selalu mengatakan bahwa hal yang paling kau inginkan akan datang saat kau berhenti berharap.


Sampai dua minggu lalu, aku masih menunggu Paul mendatangiku. Seringkali aku duduk merenung di depan jendela, dengan harapan dia akan muncul di depan rumahku, atau setidaknya menelepon. Aku membayangkan dia berjalan di trotoar lalu mengetuk pintu rumahku, aku membuka pintu lalu mengatakan, "Apa yang membuatmu begitu lama?"


Aku menunggu, aku berharap, karena dia pria yang kucintai. Aku menunggu karena aku tahu suatu saat kami akan mendapatkan kesempatan kedua untuk memulai kembali semuanya. Aku percaya waktu akan mengikis rasa kecewa, kemarahan, dan sakit hati yang kurasakan. Jadi, aku menunggu. Aku terus menunggu sampai aku merasa seperti orang bodoh.


Aku melihat hari, minggu, bulan, bahkan tahun berganti dan semua orang hidup dengan normal, kecuali diriku. Aku berpikir bagaimana rasanya menunggu seumur hidup dan aku tidak menyukai gagasan itu. Sangat tidak adil, kan? Di sini aku berharap sementara Paul sibuk dengan kehidupannya yang mungkin saja menyenangkan tanpa mengingatku. Pikiran itu selalu menganggu sampai dia muncul di rumah kakakku. Pada hari ulang tahunku.


Ketika Sebastian mengajakku kencan enam bulan lalu, aku menolaknya. Alasanku adalah karena dia paman dari salah satu pasien di rumah sakit tempatku bekerja. Aku merasa itu tidak pantas untuk dilakukan. Lalu, dua bulan kemudian dia kembali mengajakku keluar, dan aku hanya karena dia tidak menyerah. Pada malam harinya aku menangis seperti orang gila mengingat jika Sebastian yang tidak terlalu mengenalku saja mau berjuang, lantas kenapa suamiku pergi sementara aku tahu dia mencintaiku? Sebastian kembali memintaku untuk menerima tawarannya untuk ketiga kali, saat itu kubilang aku mencintai orang lain. Dia bertanya, "Apa kau bersamanya sekarang?" Dan aku menjawab, "Tidak." Aku merasa seperti orang bodoh.


Jadi, saat dia memintaku untuk ke empat kalinya, aku menerimanya. Kupikir sudah waktunya untuk berhenti menunggu. Sudah waktunya melanjutkan hidup. Lalu, tiba-tiba dia datang.


Ketika pada akhirnya aku menyerah dan memilih memberi kesempatan pada orang lain, kedatangannya seolah menawarkan warna-warna baru yang ingin kulihat. Melihat Paul kembali membuatku teringat sebesar apa rasa cintaku padanya, sedalam apa aku jatuh di perangkapnya, dan sekeras apa dia mempengaruhi pikiranku. Aku tahu bahwa aku masih peduli padanya, masih mencintainya... Tapi, dia sudah terlambat...


"Maaf, aku harus membawa Kevin,"


Aku menoleh dan mendapati Sebastian sedang menatapku dengan ekspresi sungkan dari seberang meja. Dia membawa kami ke sebuah restoran yang cukup bagus di tengah kota. Aku ingat ketika pertama kali bertemu Sebastian, kupikir saat itu dia cukup tampan. Sebastian memiliki rambut hitam pekat dan tebal, mata cokelat hazel, dan senyum ramah yang membuat siapa saja senang melihatnya. Keponakannya, Kevin, tampak mirip dengannya. Ibu Kevin, kakak perempuan Sebastian, mengurus Kevin sendirian setelah bercerai dengan suaminya. Dan, Sebastian membantu menjaga Kevin saat kakaknya bekerja.


Kevin berusia tujuh tahun dan menderita Acute Lymphocytic Leukimia. Sebastian dan kakaknya bergantian membawa Kevin ke rumah sakit untuk kemoterapi, tetapi kebanyakan Sebastian yang membawanya karena dia bekerja sebagai pialang paruh waktu, dia bisa melakukan pekerjaannya dari rumah.


"Oh, tidak apa-apa," kataku, tersenyum pada Kevin yang sedang menggambar di sebelahku.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya sebastian, mengambil garpu.


Aku mengangguk. "Ya. Aku hanya sedikit lelah,"


Dia mengamatiku. "Baiklah, tak masalah jika kau tidak mau menceritakannya."


Aku memandangnya. Bagaimana mungkin aku mengatakan padanya bahwa pria yang selama ini kunantikan baru saja menampakkan diri kembali di hidupku? Bahwa pria itu sedang berada di rumahku saat dia menjemputku? Bahwa pria itu mantan suamiku? Sebastian tak banyak mengetahui tentang Paul, yang dia tahu hanyalah seseorang telah menyakitiku. Dia tidak tahu keseluruhan kisahku dengan Paul dan aku tidak mau membahas itu sementara Kevin berada di tengah-tengah kami. "Maaf," gumamku.


Sebastian tersenyum. "Tidak perlu, Bianka. It's okay. Itulah kenapa kita perlu mengetahui satu sama lain."


"Kau pria yang baik, Sebastian." kataku, membalas senyumnya.


"Itu yang sering dikatakan orang-orang." Dia mengerdipkan mata, menggodaku.


"Hei, Uncle, look!" gumam Kevin, mengangkat buku gambarnya dan menunjukkan pada Sebastian.


Aku tersenyum memandang interaksi mereka. Hatiku damai melihat Kevin mendapatkan perhatian penuh dari pamannya setiap kali mereka berbicara. Tanpa diminta, Sebastian menjelma menjadi sosok ayah untuk Kevin dan tak semua laki-laki mampu melakukan itu. Aku benar-benar mengaguminya.


Aku mencoba memusatkan perhatian pada saat ini, namun tak berhasil. Benakku terus mengingat Paul yang mungkin kini masih berada di rumahku. Ya Tuhan, aku tak akan bisa terlepas dari makhluk itu, ya?


Louis mengirim pesan padaku dan mengatakan bahwa dia akan ke rumah Panda. Dia tidak mengenal banyak orang di sini karena kehidupannya masih di Jerman, hanya setiap beberapa bulan sekali dia berkunjung untuk bertemu Mom, Dad, dan aku, dan dia pasti bosan sendirian di rumah.


Ah, Paul mungkin sudah pulang.


Aku menghembuskan napas lega saat Sebastian menghentikan mobil di depan rumahku. "Terima kasih untuk malam ini, Sebastian," gumamku bersungguh-sungguh. Aku tahu malam ini pasti akan berbeda jika Paul tidak datang sebelum Sebastian menjemputku. Dia muncul dan mengguncang seluruh hidupku dalam sekejap. Sangat tidak adil.


"Sama-sama. Ayo, kuantar ke depan rumah," katanya, melepas sabuk pengaman.


Aku hendak mengatakan itu tidak perlu tapi dia sudah lebih dulu keluar dari mobil, sementara Kevin tertidur di kursi belakang. Dia membukakan pintu mobil untukku. "Terima kasih karena sudah menerimaku," desisnya, membuatku tersenyum. "Tidak sia-sia aku menunggumu."


"You're sweet," balasku malu-malu.


Dia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya. "Aku benar-benar menyukaimu, Bianka."


Aku memandang ke dalam matanya, tapi yang kulihat hanya wajah Paul. Sialan! "Sebastian..."


"Aku tahu," Dia menyela. "Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kau butuhkan," Dia memelukku dan mencium pipiku. "Selamat malam."


"Selamat malam." Aku tersenyum, berdiri di depan pintu saat Sebastian melangkah ke mobil lalu melaju dari rumahku. Kemudian aku berbalik dan masuk ke dalam rumah.


Aku merasa terbebani. Aku tak terlalu peduli terhadap hal-hal lain dalam hidupku selama tiga tahun terakhir. Tidak ada yang membuatku bersemangat, tidak ada yang membuatku merasakan apa pun selain merindukan keberadaan Paul di dekatku. Sudah lama sekali aku merasa takut, senang, dan marah pada saat yang bersamaan.


Aku terlonjak saat mendengar seseorang mengetuk pintu rumah. Apakah itu Sebastian? Sambil mengernyit, aku berbalik dan mengintip melalui lubang intip dan jantungku meronta begitu mendapati Paul berdiri di luar. Aku menelan ludah, melempar dompet ke sofa, menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu.


Dia masih mengenakan pakaian yang sama dengan sebelumnya. Celana jins, kaos, dan jaket. Tubuhnya tegap menjulang di hadapanku, aku yakin dia olahraga mati-matian untuk menonjolkan semua otot di dada dan lengan yang tampak menggiurkan di balik kaosnya.


"Hello, again." katanya saat aku tidak mengatakan apa pun.


"Hey," sahutku canggung.


"Kuharap belum terlalu larut untuk mengobrol,"


Aku menggelengkan kepala. "Masuklah,"


Dia melangkah dan aku menutup pintu di belakangnya. Aku tak percaya Paul benar-benar berada di sini. Di rumahku. Berapa banyak waktu yang kulewati untuk membayangkan momen ini? Aku selalu mengira jika saat ini datang, aku akan melompat ke pelukannya dan semua masalah akan selesai detik itu juga, tapi sekarang dia malah terasa seperti orang asing. Kupikir waktu yang membuat kami berubah. Atau aku yang berubah? Entahlah.


Aku tahu Paul pasti bingung dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba menerimanya. Itu tidak akan terjadi jika kemarin ayahku tidak menjejalkan serangkaian nasehat tentang cinta ke otakku seakan dia adalah seorang penyair ulung. Setelah kembali dari hotel dimana Paul menginap, aku mendapati dia sudah menungguku di rumah. "Kalau kau sudah melupakannya, maka pasti ada pemuda lain yang menemuiku sebelum hari ini. Dan, kalau Paul tidak lagi mencintaimu, untuk apa dia jauh-jauh datang kemari? Mendengarkan alasannya tidak akan membuatmu rugi, Sayangku. Tidak masalah kalau kau tidak ingin kembali padanya, tapi setidaknya kau bisa berhenti menebak kenapa dia menghilang. Diam, dengarkan, putuskan. Mudah saja." kata ayahku mengakhiri ceramah panjangnya kemarin.


"Mau kopi?" tanyaku sambil berjalan ke dapur. Dia mengekor di belakang.


"Boleh." Aku mulai menyibukkan diri sembari berusaha mengurangi ketengangan di pundakku, sampai dia berdeham. "Bagaimana kabarmu?"


Aku memutar kepala menolehnya. "Baik," sahutku sementara Paul melepas jaketnya. Aku menyipitkan mata saat menangkap sesuatu di lengan kanannya. "Wow, tato baru?" tanyaku, gambarnya tidak terlalu jelas karena sebagian tertutupi lengan kaosnya.


Dia mengikuti arah pandanganku. "Yah, begitulah."


"Kelihatan keren di lenganmu."


"Thank you."


Aku menuang kopi ke gelas, menambahkan sedikit gula dan krim dan duduk di sampingnya. Di dapur rumahku, aku mencoba menjaga jarak yanh kurasa pantas karena aku tidak mau dia menyentuhku. Satu sentuhan kecil saja, maka aku yakin akal sehatku akan melompat keluar dari jendela dan kami harus berbicara lebih dulu sebelum itu terjadi.


"How was your date?" tanyanya pelan tanpa melihatku.


"It was good," Aku mengangkat gelas dan menyesap isinya sedikit.


Paul menaikkan pandangan. "Apa kalian serius?"


Aku mengernyit. "Apa kau kembali kemari untuk menanyakan urusan pribadiku?" balasku bertanya.


Dia mengeraskan rahang. "Tidak."


Aku terdiam sejenak untuk mengamatinya dan bertanya, "Kenapa kau datang, Paul?"


"Aku datang untukmu," jawabnya tanpa ragu.


"Apa kau sadar sudah tiga tahun berlalu? Kemana saja kau selama ini?" semburku tajam.


Dia mengangguk. "Ya, tapi perasaanku padamu tidak berubah sedikit pun, Bianka. Aku mencintaimu, masih mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu."


Aku mengalihkan pandangan darinya, berjuang menahan air mata yang mulai merebak. "You hurt me."


"Aku tahu," gumamnya. "Aku minta maaf, love. Kumohon maafkan aku."


Aku diam memandang gelasku sementara memikirkan sesuatu untuk dikatakan. Hari berganti minggu, bulan, hingga tahun, kemudian terulang sebanyak tiga kali dan aku melaluinya dengan susah payah. Di awal-awal aku kembali ke Indonesia merupakan saat-saat paling buruk dalam hidupku. Setiap hari terasa seperti berusaha menenggelamkanku. Terkadang, dalam banyak kesempatan, aku bahkan tak sanggup beranjak dari ranjang.


Tepat setelah ayahku mengetahui tentang hubunganku dan Paul, dia mengemas semua barang-barangku dan membawaku ke Indonesia. Aku tidak bisa bekerja selama beberapa bulan. Nyaris tidak ada makanan yang masuk ke perutku, meski ayahku dan Louis berkali-kali memohon. Aku kehilangan minat terhadap apa pun, kecuali tidur. Tidur merupakan satu-satunya jalan agar aku bisa melupakan masalahku dan tak merasakan sakit, setidaknya untuk beberapa jam.


Aku sadar bahwa aku masih mencintainya. Aku sudah jatuh terlalu jauh ke dalam dirinya, dan tidak mudah bagiku untuk bangkit setelah dia menghancurkanku, setelah dia meninggalkanku saat aku masih dalam keadaan remuk. Semua yang kami lalui saat bersama seolah lenyap detik itu juga, dan aku tidak bisa melupakan perbuatannya. Setidaknya untuk sekarang.


Aku berdeham, lalu menatapnya. "Aku sudah memaafkanmu, Paul."