
Mendadak tadi pagi rumah sakit memanggilku karena mereka kekurangan staf, tepat setelah Paul pulang, dan mau tidak mau aku harus kesana.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, untuk pertama kalinya sepanjang hari ini, akhirnya aku bisa beristirahat sebentar. Aku sedang duduk di ruang ganti, berusaha mengembalikan tenagaku dengan satu cup kopi yang kubeli di cafetaria rumah sakit.
To: Paul: Maaf, aku akan sedikit terlambat.
Semenit kemudian, dia membalas pesanku.
From: Paul: Kok bisa?
To: Paul: Rumah sakit agak sibuk hari ini dan mereka membutuhkan perawat tambahan. Aku akan pulang sebentar untuk mengganti baju lalu ke rumahmu.
From: Paul: Oke, tidak masalah. Alfred akan menjemputmu.
To: Paul: ☺️
***
Aku kelelahan begitu tiba di rumah.
Travis tidak bertanya kenapa aku menolak makan siang bersamanya hari ini, sepertinya dia mengira karena aku aku sibuk hari ini. Well, aku memang sibuk. Tapi alasanku sejujurnya menolak tawaran Travis adalah karena Paul.
Meskipun begitu, Travis tetap menanyakan kapan aku ada waktu untuk makan siang dengannya, tapi aku belum mengatakan apapun. Situasi antara Travis dan Paul membuatku bingung karena aku tidak siap menjalin hubungan yang serius untuk saat ini. Yang kuinginkan sekarang hanyalah menikmati malam ini bersama Paul, melupakan semua konsekuensinya dan fokus pada proses.
Setelah mandi, aku memutuskan mengenakan gaun hitam sederhana yang tidak terlalu ketat namun tetap berhasil menunjukkan lekuk tubuhku dari dada hingga hingga sebatas lutut, disertai riasan tipis dan sepatu hak tinggi yang senada dengan gaunku. Aku meraih tas tangan dari nakas sebelum keluar dari kamar.
"Maaf, aku terlambat." gumamku pada Alfred yang sudah menunggu di samping mobil Range Rover hitam mengkilat dengan pintu terbuka, lalu buru-buru masuk ke dalam.
Dia tersenyum ramah padaku. "Tidak masalah, Miss. Mr. Klug sudah memberitahuku soal jadwalmu yang padat di rumah sakit. Itu bisa dimaklumi."
"Terima kasih." Aku membalas senyumnya.
Sepanjang perjalanan kuhabiskan waktu dengan mengobrol bersama Alfred. Dia orang yang sangat menyenangkan dan juga pintar.
"Sampai jumpa lagi, Bianka." kata Alfred seraya mengulurkan tangan untuk membantuku turun dari mobil.
Aku tersenyum menerima uluran tangannya. "Terima kasih."
Jantungku berdegup kencang menyadari bahwa aku sudah berdiri di depan gerbang rumah Paul, mengingat saat pertama kali berada disini kondisiku amat sangat memalukan. Mabuk dan terbangun sendiri.
Aku berdiri disana selama beberapa saat, mendengar pintu gerbang yang perlahan terbuka sementara mobil yang dikemudikan Alfred mulai melaju. Aku menenangkan diri dengan menarik nafas beberapa kali sebelum masuk ke area rumah Paul.
Rumahnya benar-benar moderen, berbeda jauh dengan rumahku. Salah satu hal lain yang membuat perbedaan di antara kami semakin jelas. Jika Paul dan aku, seandainya, menjalin hubungan yang lebih serius, kami tidak mungkin bisa hidup di tempat yang sesuai dengan selera kami berdua. Aku menyukai rumahku, meskipun kecil dan tidak memiliki teknologi secanggih rumah Paul, tapi aku merasa nyaman tinggal disana.
Dengan gugup, aku menekan bel di samping pintu masuk. Apa yang akan terjadi malam ini? Dan, kenapa aku menerima tawarannya?
"Hei," Begitu aku melihat Paul muncul di ambang pintu, mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam yang mempertontonkan lekuk tubuhnya yang indah dan menggiurkan, kegugupanku semakin naik hingga ke ubun-ubun. "Wow. Kau tampak luar biasa." katanya sambil memelukku.
Aku membalas pelukannya. "Terima kasih. Kau juga..."
"Masuklah, aku sedang menyiapkan makan malam." Dia tersenyum antusias.
"Kuharap kau tidak membakar rumahmu sendiri." balasku bergurau, dan Paul tertawa.
Paul menutup pintu, kemudian tiba-tiba dia mencium bibirku. Kedua tangannya menahan pinggangku dan menarikku lebih dekat padanya. Gerakannya yang tiba-tiba membuatku tersentak dan aku nyaris mengerang, namun sedetik kemudian aku membalasnya.
"Hai," suaranya melembut di bibirku.
"Hei," balasku tersengal-sengal. Kami tertawa.
Aku hanya mengangguk. Makanan apapun tidak masalah selama aku bersama Paul. Tunggu. Apa? Oh, Lord... you must be crazy, Bianka! Bitches!
"Kau tidak menyukainya." gumam Paul sambil menggelengkan kepala, memperhatikanku selagi aku menghabiskan suapan pertama lasagna yang dibuatnya.
Aku terkekeh. "Aku suka, kok. Aku baru tahu kalau kau bisa masak."
Aku tidak sampai hati mengatakan padanya bahwa ada sebagian pasta yang kurang matang. Agak sulit bagiku menelannya, tapi bisa kukatakan rasanya benar-benar enak. Rasa pedas dan bumbunya sangat cocok dengan selera lidahku. Hah, apakah ada hal lain yang tidak bisa dia lalukan?
"Aku jarang memasak. Itu resep nenekku, dia keturunan Italia. Kau tidak merasa terlalu banyak kemangi?"
Aku menggeleng, tersenyum padanya. "Tidak. Ini benar-benar enak, Sayang." cetusku sedikit menggodanya.
"Baiklah. Sekarang, katakan padaku kenapa kau sangat ingin menjadi perawat."
Ini merupakan satu-satunya topik pembicaraan yang paling ingin kuhindari. "Sudah kubilang, aku ingin membantu orang lain."
"Ya, kupikir setiap orang juga memiliki keinginan yang sama soal membantu orang lain. Tapi aku yakin, alasanmu tidak akan sesederhana itu."
Aku merasa semakin aku terbuka padanya, semakin banyak yang hilang saat kedekatan kami berakhir. Hanya beberapa orang di antara orang-orang yang paling dekat denganku yang tahu tentang masa laluku, dan akal sehatku melarang untuk memberi tahu Paul semuanya.
"Kenapa kau ingin menjadi atlet sepak bola terkenal?" Aku ingin memutar arah pembicaraan, tahu bahwa itu cukup mengalihkan pikirannya.
Paul menyeringai, menyadari kalau aku sedang mengubah topik sementara aku mengedikkan bahu. "Aku hanya melakukan sesuatu yang kusukai, Rapunzel. Terkenal bukan tujuan utamaku, itu hanya bonus kecil untuk apa yang sudah kucapai selama ini." Dia mengedikkan bahu. Aku tahu tujuannya mengatakan tentang ketenaran merupakan upayanya untuk menipis jarak di antara kami.
Hanya melihatnya makan membuatku merasa panas. Ditambah dia mengenakan setelan kemeja dan celana panjang yang memamerkan bentuk tubuhnya yang menjadi impian setiap wanita. Membuatku kesulitan memusatkan pikiran.
"Tapi bisa kukatakan, secara tidak langsung itu menguntungkan bagimu." balasku.
"Memang. Aku bersyukur karena itu juga yang membuatku bisa terhindar dari kehidupan buruk. Ketenaran membuatku takut menyentuh obat-obatan terlarang dan semacamnya. Banyak orang yang memilih itu, padahal ada hal lain yang lebih pantas untuk untuk dilakukan."
"Jadi, apa yang kau lakukan? Kurasa kau bukan tipikal orang yang menyukai seni dan sebagainya untuk pelarian." Aku tersenyum merespon ucapanku sendiri.
Paul terkekeh. "Kau benar, aku memang tidak terlalu tertarik pada seni. Aku lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temanku. Teman-teman di luar klub sepak bola, tentu saja. Dan juga ada kau..."
"Hm... rasanya tidak mungkin aku, atau orang lain, cukup menyelamatkanmu dari ketenaran dan perhatian." gumamku beralasan.
"Itu lebih seperti tempat istirahat sejenak. Aku sudah mencoba beradaptasi dengan ketenaran yang kudapatkan, tapi akan selalu ada saat dimana orang-orang terdekatku tetap merasa risih dan perlahan menjauh dariku."
Aku tahu berbicara tentang siapa kami atau apa yang akan terjadi ke depannya bukanlah sesuatu yang baik sekarang, tapi aku ingin tahu apa yang dia pikirkan atau inginkan. "Apa kau pernah memikirkan kehidupan selain yang kau jalani saat ini?" Aku mencoba mengutarakan pertanyaanku sedemikian rupa agar dia bisa membaca maksudku.
Paul memandangku selama beberapa detik, kilatan di matanya sekilas menandakan kalau dia paham maksud perkataanku. "Seperti hidup bersamamu? Ya, aku memikirkannya. Mungkin kau tidak akan takut padaku kalau kehidupanku tidak begini."
"Aku takut pada perhatian yang berlebihan dari orang-orang, dan pada dorongan untuk melarikan diri dari itu. Kau tahu, saat ini banyak sekali orang yang menjerumuskan diri pada narkoba hanya karena mengira itu bisa menyelamatkan mereka. Aku tidak mau itu terjadi padaku."
"Aku tahu, love." Paul tersenyum tipis, menyiratkan rasa bersalah. "Aku hanya..."
"Paul, aku peduli padamu." Aku memutuskan untuk jujur padanya. "Kau pria yang luar biasa. Aku tahu kau tidak akan menjadi dirimu sendiri tanpa bermain bola, dan aku benar-benar menyukaimu. Dan sekarang perkataanku mulai terdengar tidak masuk akal..." Aku menggeleng tak percaya pada kata-kataku sendiri.
"Tidak, aku paham maksudmu. Aku senang mendengarmu mengatakan sesuatu tentangku, biasanya kau sangat tertutup dan sulit kupahami." Paul tersenyum penuh arti.
Ugh. Bianka, bitches!
Aku baru saja mengungkapkan apa yang kurasakan padanya, dan tidak mungkin menarik kembali semua perkataanku.
Terjadi kehebingan selama beberapa saat di meja makan, kami memandang satu sama lain sambil memikirkan sesuatu di kepala masing-masing, yang kutebak isinya sama. Arah hubungan kami selanjutnya.
Kemudian mendadak kami tersentak saat ponselnya berdering, dia meminta maaf lalu berjalan ke ruangan lain untuk menjawab panggilan.