
Aku membawa gelas kosong bekas wine ke dapur, benda terakhir yang tersisa di atas meja makan yang telah kami bersihkan bersama-sama. Kuletakkan kedua gelas itu di wastafel dan begitu aku menegakkan tubuh lalu berbalik, kulihat Paul sedang menghembuskan hidungnya.
Rasanya sulit menahan tawa menyaksikan pemandangan ini. Sangat menggemaskan memandang tipikal laki-laki kaku seperti Paul meniup hidungnya dengan ekspresi seakan tidak terganggu dan amat cuek. Dia menaikkan pandangan saat aku melipat tangan di dada dan bersandar di konter dapur. Lalu, dia mengusap hidungnya dengan tisu dan mendengus sekali.
"Kau tidak sakit, kan?" tanyaku selagi dia menempelkan bokongnya di konter yang berseberangan denganku.
Sebelah tangan Paul mengudara sementara bibirnya tersenyum penuh arti. "Kalau iya, apa kau mau merawatku? Well, kau sendiri tahu aku tergila-gila saat kau mulai bertingkah sebagai perawat..."
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. "Kontrol hormonmu, Paul."
"Hm, aku tidak sakit. Hanya kurang istirahat dan kurasa karena efek perubahan cuaca." Dia mengangkat bahu, mengikuti gayaku dengan melipat tangan di dada.
"Apa kau yakin?" tanyaku memastikan.
"Sangat yakin."
"Okay. Tapi aku akan tetap memberimu obat." Aku melangkah ke meja yang terletak di sampingnya dan meraih botol pil yang biasa kuminum setiap pagi.
Kurasakan Paul bergerak di sampingku, hingga tangannya perlahan menyentuh bagian belakang paha dan naik ke bokongku, membelaiku disana sebelum akhirnya berhenti di punggungku. Panas dadanya menjalar ke tubuhku, dan aku manarik nafas gemetar untuk menahan diri.
"Ambil satu, aku akan menyiapkan a..." Tepat saat aku hendak menyerahkan obat padanya, dia menangkup wajahku dan memaksaku menghadapnya.
Sebelum aku sempat bereaksi atau mengatakan sesuatu, dia mencium bibirku dengan serakah. Botol obat di tanganku terjatuh begitu saja selagi mulutku buru-buru membalas ciumannya. Dengan kedua tanganku yang kini menumpang di lehernya, perasaan lega menjalari sekujur tubuhku yang haus akan dirinya.
"Gadis pintar," desahnya di bibirku. "Ini milikku, mengerti? Tidak untuk Travis atau Elliot."
Aku terkikik geli. "Tidak untuk Travis atau Elliot. Hanya untukkmu."
Aku kembali menyusurkan bibirku ke bibirnya sementara tanganku menyusuri rambut hitam tebalnya, aku menyukai cara tangannya bergerak di sepanjang tubuhku, seolah-olah aku merupakan semacam dewi baginya.
Kewanitaanku berdenyut merespon setiap gesekan lidahnya, hasratku mengumpul di bagian perut, memohon untuk segera dilepaskan. Aku merasakan sengatan gairah yang luar biasa pada sentuhannya.
"Aku merindukanmu... sangat merindukanmu..." desisku di sela-sela kenikmatan ciuman.
Nafas Paul yang tersengal-sengal membuktikan dia juga merasakan hal yang sama; putus asa mengharapkan pelepasan. "Aku lebih merindukanmu. Kau takkan pernah tahu betapa gilanya pikiranku saat berjauhan denganmu, love..." Kemudian dia menciumku lagi.
Mendadak Paul memutar tubuhku hingga membelakanginya dan terjepit di antara tubuhnya dan konter dapur. Aku bisa merasakan kejantanannya mengeras, membuatku sedikit terkejut.
Paul menyusupkan tangan ke balik kemejaku dan membuka pengait bra-ku. Kemudian aku tersentak ketika dia tiba-tiba merobek bagian bra-ku.
"Paul!" Aku mendorongnya, memandang tajam ke arahnya meski tubuhku sudah terbakar gairah. Dia mundur selangkah. "Kau merusak bra-ku." ketusku sambil mengernyit, mengeluarkan bra yang malang itu dari kemejaku.
Aku menundukkan kepala. "Aku tidak menyukai pria kasar... Kau bisa saja menyakitiku..."
"Aku memang ingin menghancurkan semua bra milikmu agar kau tak perlu memakainya lagi." Dia mengangkat bahu cuek, seolah itu bukan apa-apa. Seringai nakal dan genit melintas di sudut bibirnya sementara aku menghela nafas. "Aku tidak mungkin melakukan hal yang akan menyakitimu, percayalah..."
"Paul..." Aku mulai menggelengkan kepala, namun Paul kembali menyerangku. Dia menangkup wajahku sambil mendorong maju tubuhnya yang besar.
"Aku punya hadiah yang akan membuatmu melupakan bra sialan itu, Rapunzel," bisiknya di depan wajahku.
Tidak ada ruang tersisa di benakku untuk mengomentari soal hadiah yang disebutkan Paul, karena yang kusadari terjadi berikutnya dengan satu gerakan tangkas kembali membalikkan tubuhku dan menekanku dari belakang.
"Oh," desahku, paham kalau dia tidak berencana membawaku naik ke kamar.
"Kau masih minum pil, kan?" Aku merasakan nafasnya menyapu leherku, membuatku merinding.
Aku menganggukkan kepala. "Ya."
Perlahan Paul melabuhkan satu kecupan panas di leherku, mengerang pelan setiap kali aku mendesah dan mendorong bokongku ke belakang. "Sial, oke, aku minta maaf..." Aku terkejut saat dia tiba-tiba menarik diri. Tapi begitu aku hendak berbalik karena bingung, dia justru menurunkan celana berikut pakaian dalamku.
Paul tidak memberiku kesempatan untuk mengomentari sikapnya dan buru-buru melepas kemejaku. Sebelah tangannya menangkup dadaku sementara tangannya yang lain menggoda bagian berdenyut di antara kedua pahaku.
Aku menahan nafas lalu mendesah begitu Paul mendorong dua jarinya ke titik yang paling membuatku gila. Aku menyandarkan kepalaku di pundaknya, mengulurkan satu tangan ke tangannya dan mengikuti gerakannya meremas dadaku ketika tanganku yang lain berpegangan pada tepian konter. Aku benar-benar tenggelam ke dalam dunianya.
"Sial, Bianka..." dengkurnya serak di telingaku. "Kau sangat basah..."
"Kau siap, Bianka?" suara seraknya membuatku nyaris merintih, tak sanggup menyuarakan kegembiraan berikut kenikmatan yang kurasakan.
Aku mengangguk lagi. "Ya, ya," Aku meremas tangannya seakan hanya itu yang bisa menolongku saat ini, menjagaku agar tidak jatuh dalam keadaan kacau yang menyedihkan sekaligus membutuhkan.
Punggungku bersandar di dadanya ketika aku merasakan kejantanannya yang penuh dan keras menyapu kewanitaanku. Dengan sebelah tangannya yang terbebas, Paul mengarahkan dirinya masuk ke dalam duniaku yang lembut dan berdenyut-denyut mendamba, menyalakan perasaan hangat dan penyatuan paling indah yang tak pernah kurasakan dalam tiga bulan terpanjang dalam hidupku.
"Ah, itu dia, love..." geram Paul di telingaku.
Paul mulai menggerakkan pinggulnya mendesakku sambil menahan pinggangku dengan sebelah tangannya. Punggungku melengkung, bokongku beradu dengan bagian depan pinggulnya sementara kepalaku masih menopang di bahunya.
"Aku mencintaimu, Bianka." Paul memutar kepalaku agar dia bisa menciumku. "Kau nikmat. Sangat nikmat..."
Kedua tanganku kini berpegangan pada tepian konter, berharap aku bisa menemukan bantal dan menancapkan kukuku disana.
Desakan Paul berubah menjadi lebih cepat, membuatku mendesah dan ikut menekan bokongku saat dia menghantam titik yang tepat di dalam tubuhku, menyapu di tempat yang paling memabukkan.
Hanya Paul satu-satunya pria yang tahu cara memujaku dengan baik. Hanya dia yang bisa menghantarkanku ke dalam perasaan paling liar sekaligus penuh kenikmatan.
Mendadak dia menekan punggungku hingga dadaku menempel dengan permukaan konter yang dingin. Kedua tangannya mencengkeram pinggulku erat-erat, membuatku mendesah.
"Ahhh, yes!" Aku tidak bisa menahan reaksi menggelora dalam diriku merespon gelombang mengagumkan yang mengalir dari kepala sampai ke kaki ketika dia mengarahkan sentakannya dengan tepat. "Holy fvck... that's so good..." umpatku keras-keras.
Semoga tetanggaku tidak ada yang mendengar suara-suara kenikmatan kami.
"Aku takkan pernah bosan menikmati tubuhmu, Bianka... Oh, sial!" Paul menggeram, membuatku nyaris menangis karena merasa nikmat menerima hujamannya.
"Ah, Paul..." desahku halus.
"Aku ingin melihat matamu, Bianka." Dia mengertak, dan tiba-tiba dengan satu gerakan tangkas namun hati-hati, dia membalikkan tubuhku dan mengangkatku hingga duduk di tepi konter. Kemudian kembali menghujamku dengan keras.
"Lihat aku, love... Lihat mataku..." bujuknya lembut, dan aku menurut. "Matamu sangat liar, Bianka. Sialan!" Rahangnya mengeras sementara desakannya semakin mendekatkan kami pada kepada pelepasan.
Tiga bulan merupakan waktu yang sangat lama untuk kami lewati tanpa bercinta. Jadi, kegiatan ini membuatku merasa seakan semua pikiran buruk yang menghantui selama ini menghilang begitu saja, dan yang paling penting adalah aku mencintainya dan dia mencintaiku. Hanya ini yang perlu kuketahui dan rasakan.
"Paul, aku hampir sampai..." bisikku, dengan tangan mencengkeram lehernya sementara kakiku melilit bokongnya.
"Aku tahu, love." desisnya sebelum menciumku.
"Oh, God..." Aku melepaskan ciuman dan menjerit, gelombang nikmat mengejutkan menjalar di sekujur tubuhku yang meledak.
"Nikmati, Bianka. Rasakan puncakmu..." geram Paul. Dia menggigit pelan leherku, membuatku semakin gemetar. Bibirnya turun ke dadaku selagi dia juga meledakkan gairah panasnya di dalam tubuhku.
"Fvck!"
Kami terdiam selama beberapa saat untuk menenangkan nafas kami yang tersengal-sengal, hingga suara Paul kembali terdengar. "Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada berat.
"Ya," sahutku lemah. "Kau?"
Paul menyeringai, ekspresinya terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Ini yang kuinginkan terjadi setiap hari, Bianka." katanya. Aku melepaskan belitan kakiku di pinggulnya.
"Apa? Bercinta di dapur?" cetusku sambil mengangkat alis tinggi-tinggi.
Paul tertawa dan mencium bibirku sekilas. "Tidak hanya di dapur, love. Di setiap sudut ruangan. Aku ingin mengobrol denganmu, makan bersamamu. Intinya aku ingin hidup berdua denganmu."
"Apa kau tidak akan bosan denganku?" Aku tersenyum padanya. Pertanyaanku tidak serius, tapi juga tidak bercanda. Yah, kalian pasti paham maksudku.
Paul menggeleng tegas. "Tidak akan pernah. Bagaimana denganmu?"
Aku berpura-pura kesulitan menjawab pertanyaannya. "Uhm, ya, mungkin..." Seketika tawaku meledak saat wajah Paul mendadak merengut. "Bagaimana mungkin aku merasa bosan mencicipi cita rasamu yang memabukkan. Aku menggilaimu, Klug!"
"Aku lebih menggilaimu, Becker!"