
"No, Paul. Jangan lakukan itu," kataku, memandangnya tegas ke arahnya. "Kau tidak mengenal Louis, dan aku tidak mau kau mempercayakan klub itu padanya."
Paul dan aku sedang duduk di ruang kerja di rumahnya. Dia menunjukkan dokumen-dokumen terkait klub yang baru dibelinya dua hari lalu padaku dan memintaku mengizinkan Louis menjadi manager di klub itu. Kami sudah berdebat sepanjang tiga puluh menit terakhir, aku tahu ini tidak akan mudah untuk kumenangkan.
Dan, aku benar-benar tidak setuju dengan gagasan Louis diberi tanggung jawab sebesar itu. Bukan karena aku meragukan adikku sendiri, tapi lebih kepada rasa was-was dengan kemungkinan gagasan ini akan berdampak pada pernikahan kami. Kau tidak bisa mencampurkan bisnis dan keluarga karena segala sesuatu yang berhubungan dengan uang bersifat sensitif, sangat sensitif, dan aku tidak mau menggabungkan kedua hal itu. Potensi akan dampak buruknya lebih menjanjikan.
"Oh, ayolah, love. Dia adikmu, bukan orang lain. Kenapa kita tidak memberinya kesempatan untuk membuktikan dirinya sendiri?" Paul meletakkan kertas di tangannya ke atas meja. "Bukankah lebih baik dia yang bertanggung jawab di sana? Aku tidak perlu repot-repot merekrut seseorang. Lagi pula, dia juga belum memiliki pekerjaan tetap."
"Tidak," kataku bersikeras. "Aku tidak setuju. Klub tempat yang sangat rentan untuknya. Dia memiliki rekam jejak yang buruk terhadap dunia malam. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali keluar-masuk penjara dan pusat rehabilitasi. Aku baru merasakan ketenangan terkait Louis dalam dua tahun belakangan. Kuharap kau paham maksudku."
Dia menarik napas dalam-dalam, mengalihkan pandangan sejenak sebelum kembali menatapku. "Kau ingin mengurungnya di rumah?" tuduhnya sekonyong-konyong.
"Apa? Tentu saja tidak. Aku hanya ingin dia tetap berada dalam jarak pandangku sehingga aku bisa terus mengawasinya."
"Kau tetap bisa mengawasinya, love. Bahkan ini lebih mudah karena aku juga bisa membantumu memantaunya. Aku akan membuat sistem keamanan yang ketat di klub itu, tidak mungkin Louis berani mengambil resiko melakukan sesuatu yang dia sendiri tahu akan menjadi bumerang baginya."
***
Aku mengetuk pintu ruang kerja Paul setelah mendengar dia memutus sambungan telepon dengan seseorang dan mengumpat dengan kasar. Tidak ada jawaban. Aku hendak mencoba sekali lagi, namun dia tiba-tiba menyentakkan pintu keras-keras.
"What?!" semburnya begitu melihatku.
Aku terlonjak, tanpa sadar mundur selangkah karena terkejut dengan nadanya yang ketus. Dahiku berkerut. "Bisakah kau tenang?" sahutku pelan. Tidak ingin terpancing dan membuat suasana semakin kacau.
"Tidak!" jawabnya secepat kilat. "Kau memintaku tenang? Apa kau tahu yang terjadi saat ini? Adikmu yang bodoh itu baru saja menghancurkan hidupku." Dia mengusap rambutnya dengan gusar. "Sialan, tidak seharusnya aku percaya padanya."
Aku ingin meneriakkan 'Aku sudah memperingatkanmu, tapi kau bersikeras dan berpikir kau bisa mengatur semuanya! Kenapa tidak kau nikmati saja hasil dari kepala batumu itu?' padanya. Tapi, aku sadar itu akan memperkeruh keadaan. Alih-alih, aku berderap mendekatinya dan meraih tangannya, tapi dia langsung menepis tanganku dengan satu sentakan keras.
"Jangan mencoba mengalihkan perhatianku, Bianka!" dengusnya tajam.
Aku mengernyit, amarahku mulai tersulut. "Mengalihkan perhatian? Kau pikir aku sedang mengalihkan perhatianmu? Sungguh, Paul?"
"Ya. Itu yang coba kau lakukan sekarang." Dia berjalan ke meja kerjanya. "Pergilah, suasana hatiku sedang buruk. Aku tidak mau menyakitimu. Lagi pula, masih banyak hal yang harus kulakukan untuk membereskan kekacauan yang disebabkan oleh adikmu."
Tidak mau salah menangkap maksud ucapannya, aku pun mencoba meluruskan. "Tunggu dulu, kenapa aku merasa kau ikut menyalahkanku? Bukankah..."
"Ya, aku menyalahkanmu." What the hell! Dia menolehku dengan tatapan seakan ingin mengulitiku hidup-hidup. "Aku menyalahkanmu karena kau terlalu payah, terlalu cengeng, terlalu pengecut untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Kau tidak pernah mau tahu apa yang terjadi di luar sana. Kau terlalu sibuk dengan dirimu sendiri sampai tidak menyadari bahwa adikmu sudah menghancurkanku."
Kurasakan kerutan di keningku semakin dalam. "Apa yang kau bicarakan sebenarnya?" tanyaku, bingung. "Ini tentang kekeliruan Louis, Paul, bukan tentang kita. Aku..."
"Apa bedanya? Kau dan adikmu sama saja!" katanya membentakku.
Adikmu. Adikmu. ADIKMU!!!
Aku terdiam. Nafasku tercekat di tenggorokan sementara dadaku sesak seakan sesuatu yang berat menghimpitku. Ini tidak adil. Aku tidak melakukan apa pun dalam urusan klub, bahkan aku tidak pernah bertanya pada Paul atau pada adikku. Itu urusan mereka. Tapi, saat sesuatu terjadi, kenapa dia justru mengatakan omong kosong tentangku dan menyalahkanku.
Aku menelan ludah, menggigit bagian dalam pipiku saat daguku bergetar menahan tangis sementara kurasakan mataku memanas oleh air mata.
"Paul," desisku tertahan.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, aku berbalik. Berjalan tergesa-gesa menaiki tangga dan masuk ke kamar. Kututup pintu kamar lalu bersandar di sana. Air mataku mengucur deras seiring rasa sakit yang kurasakan saat mengingat semua ucapannya.
Ini tidak nyata, kan? Apa aku sedang bermimpi? Kalau iya, siapa saja, tolong bangunkan aku sekarang juga. Aku ingin terbangun dari mimpi buruk ini.
Tidak pernah sekali pun dia membentakku selama kami berhubungan. Tidak peduli apa pun jenis masalah yang terjadi di antara kami, dia tidak pernah bersikap seperti itu. Aku bahkan belum mengetahui persis sebesar apa kekacauan yang tengah dihadapinya akibat perbuatan Louis. Oh, dan Louis, Ya Tuhan... Apa yang ada di benaknya sampai dia berani melangkah sejauh itu?
Merasa membutuhkan waktu untuk diriku sendiri, untuk berpikir dan mencari ketenangan sekaligus memberi waktu kepada Paul, kuputuskan pergi ke rumahku. Rumah kecil tapi selalu terasa nyaman dan hangat. Aku tidak membawa apa pun selain ponsel dan dompet. Beruntung, aku tidak menjual rumah itu, jadi masih ada tempat bisa kugunakan untuk saat-saat seperti ini.
Tiba di sana, aku berbaring di ranjang. Larut dalam pikiran. Ingatan akan kata-kata Paul tidak mau lenyap dari benakku, hingga kudengar ponselku berdering di nakas.
Aku berdeham sekali. "Ya, Val?" Upayaku agar terdengar biasa tidak terlalu berhasil, karena dia menyadari nadaku.
"Oh, Honey... Kau baik-baik saja?" katanya dengan khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja." sahutku, menelan ludah pahit.
"Barusan Paul menelepon Carl dan mengatakan soal masalah yang terjadi di klub. Dari nadanya aku yakin dia sangat marah. Apa dia melakukan sesuatu padamu?"
"Tidak." jawabku. "Aku ingin bicara padanya tapi sepertinya dia membutuhkan waktu. Dia membentakku dan menyuruhku pergi. Well, sekarang aku berada di rumah lamaku... dan... aku..." Nafasku kembali tersekat. Aku tahu aku sedang bernapas, tapi tidak merasakan adanya udara masuk ke paru-paruku. Lalu tanpa sadar aku mulai mengeluarkan suara tercekik.
"Bianka? BIANKA! Kau kenapa?"
"Aku... tak... bisa..."
"Tarik nafas, Bianka. Ambil nafas panjang, pelan-pelan. Kau mungkin sedang panik."
"Mmm hmmm." Pelan-pelan. Tarik nafas. Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, merasakan air mataku mulai meleleh, panasnya seolah membakar kulit. Aku berjuang setengah mati menghirup udara.
"Ya, begitu, Bee. Sekarang, aku minta kau menjerit dengan keras. Lepaskan semuanya."
"Tidak... aku... tidak bisa... aku..." Suaraku terdengar seperti orang yang baru menelan sebutir telur bulat-bulat.
"Percaya padaku! Aku tahu kau berusaha untung tenang, tapi kau tak bisa bernafas karena keberanianmu menghalangimu. Kau harus melepaskannya. Menjerit! Sekeras mungkin!"
Mendadak, lengkingan panjang membahana memecah keheningan. Yang paling mengejutkan adalah, sumber lengkingan itu rasanya berasal dari dalam dadaku. Melalui gemerisik telepon, aku mendengar suara Valerie mengucapkan kata-kata hiburan yang lembut di telingaku, menyuruhku melepaskan beban itu. Jeritanku mereda seiring isi paru-paruku terkuras habis, dan aku pun menarik nafas dalam-dalam.
"Bagus, girl. Bagus sekali." kata Valerie. "Sekarang, beri aku nomor telepon Stacey. Aku baru mengganti ponsel dan beberapa kontak hilang. Aku akan meneleponnya dan memintanya ke rumahmu."
"Oh, tidak! Aku tidak mau bertemu siapa-siapa." protesku.
"Bianka, aku tidak sedang meminta izin. Saat ini, kau tidak boleh sendirian. Walaupun kau berencana berbaring di ranjang dan hanya tidur sepanjang hari, harus ada seseorang yang menemanimu. Kalau kau tidak mau Stacey yang datang, beri aku nomor telepon orang lain. Aku harus memastikan ada orang lain di dekatmu saat ini."
Dengan terpaksa, aku pun menyebutkan nomor Stacey.
"Bagus, tunggu sebentar. Aku akan meneleponnya. Kalau sudah, aku akan kembali padamu dan kita terus bicara sampai dia tiba di rumahmu, oke?"
"OK!"