My Love Journey's

My Love Journey's
Surprise!



Aku bekerja seperti orang sinting selama satu minggu penuh untuk mencari perhatian Dr. Grey dan mengharap belas kasihnya, agar dia mengijinkanku libur pada akhir pekan untuk terbang ke Spanyol, menemui Paul.


Tapi sial, Dr. Grey tidak menangkap isyarat diam-diam yang kutunjukkan, namun dia memberiku kejutan dengan membiarkanku pulang lebih awal pada hari jumat dan memberiku waktu libur lebih panjang sebagai bayaran atas kerja kerasku. Aku berakhir menghabiskan waktu bersama Valerie, Red, Stacey, Elise, Camille, dan Elliot yang sengaja kuajak bergabung dengan teman-temanku karena kami semakin sering mengobrol di rumah sakit. Sudah terlambat untuk terbang ke Spanyol.


Aku belum menyadari apa-apa sampai Paul mengirim pesan dan bertanya apa yang kulakukan, entah dari mana dia mendengar kabar kalau aku sedang berada di bar alih-alih bekerja seperti yang kubilang padanya. Well, aku lupa mengabarinya kalau Dr. Grey membiarkanku pulang lebih awal.


Tentu saja, ini membuatnya mengira aku tak mau terbang untuk menemuinya tanpa alasan yang jelas. Dia tidak mengatakan apapun saat meneleponku, tapi aku tahu apa yang dia pikirkan.


Untuk menyenangkannya, aku memutuskan untuk memberi kejutan kepada Paul. Karena Anne, ibunya, berencana mengunjunginya pada akhir pekan ini dan mengajakku ikut, tanpa ragu alu menjawab iya.


***


"Aku tak sengaja menumpahkan kopi di jas Dr. Grey," gerutu Elliot dengan wajah meringis dan duduk dikursinya selagi kami makan siang bersama Stacey.


Aku tertawa. "Kau harus berhenti menumpahkan kopi kepada semua orang, itu tidak bagus, Elliot."


Stacey menyetujui dengan menganggukkan kepala. "Apa kau sengaja ingin melihat mereka membuka baju?"


"Tidak! Ya ampun, sama sekali tidak." Dia menggeleng dramatis. "Aku sedang buru-buru, dan... Oh, kopinya sangat panas! Aku benar-benar membuatnya mengalami luka bakar level tiga."


Aku meringis, terkejut dengan ucapannya yang sedikit tak masuk akal. "Level tiga? Apa dia tidak mengenakan pakaian?"


"Ah, maaf, mungkin hanya level dua." koreksinya, satu senyum terbit di mulutnya. Elliot punya wajah yang menggemaskan, semakin layak dikagumi dengan sikapnya yang ramah.


"Sebaiknya kau kembali ke kelas jika belum bisa membedakan tingkatan luka bakar." dengus Stacey, dan aku menyikut pelan lengannya.


"Hei, santai sedikit. Kenapa kau sensitif sekali hari ini?" tanyaku penasaran.


Stacey menggelengkan kepala. "Elise sedang berada di luar kota mengunjungi keluarganya, aku belum mendengar kabarnya selama dua hari ini..." katanya menjelaskan.


Aku tersenyum berusaha menghiburnya. "Dia pasti baik-baik saja. Kau tahu Elise sangat dekat dengan orang tuanya, kan?"


"Aku tahu," Stacey menghela nafas. "Aku hanya merindukannya. Bagaimana kau bisa hidup berjauhan dengan Paul, hm? Beri aku pencerahan."


"Itu tidak mudah, say... Tapi kami berusaha mengerti keadaan. Lagi pula, kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing." Aku mengedikkan bahu lalu melempar pandangan kepada Elliot yang juga sedang menatapku. "Apa kau punya teman spesial, Elliot?"


Tatapannya mendadak goyah, kemudian dia berdeham sambil mengalihkan pandangan. "Aku, uh... tidak."


***


From: Paul: Mom akan mengunjungiku akhir pekan ini. Apa kau menonton pertandingan kami?


To: Paul: Ya, dia sudah memberitahuku, dan maaf aku tidak bisa ikut kesana. Aku benar-benar sibuk sekarang. Kuharap kau mengerti xx


Aku sengaja berbohong dan sekarang sudah berada di dalam jet pribadi miliknya bersama ibunya. Paul sama sekali tidak mengetahui rencanaku, dan itu membuatku semakin penasaran melihat ekspresinya nanti.


From: Paul: Okay. Setidaknya kau bisa bersenang-senang di bar dengan teman-temanmu seperti minggu lalu.


Aku bisa merasakan kekecewaan yang dalam dan sedikit sindiran pada pesan yang dikirimnya, dan aku mengernyit. Isyarat kekecewaan darinya benar-benar jelas terlihat. Aku melirik ibunya yang sudah terlelap di sampingku sejak pesawat mulai lepas landas.


To: Paul: Paul, aku benar-benar tidak tahu kalau Dr. Grey memberiku waktu libur lebih panjang, dia mengatakannya tepat pada detik-detik terakhir. Aku minta maaf, okay? Aku tidak mungkin menolak bertemu denganmu jika mengetahuinya lebih awal x


From: Paul: Ya, terserah apa katamu.


Wah, ini akan menjadi malapetaka! Sama sekali jauh dari yang kuperkirakan, aku tak menyangka Paul benar-benar semarah ini. Aku menegakkan tubuh dan memikirkannya balasan pesan untuknya, mencoba menenangkan hatiku dan mengesampingkan kekesalannya padaku. Paul hanya putus asa oleh jarak dan situasi kami saat ini, sama sepertiku, dan mungkin ada masalah dengan pekerjaannya.


To: Paul: Kumohon, jangan marah, Paul x


To: Paul: Paul?


From: Paul: Ya?


To: Paul: Kumohon, jangan marah... Aku pasti akan datang jika Dr. Grey mengatakannya lebih awal. Aku mencintaimu ♥️


From: Paul: Nanti kita lanjutkan, aku sedang sibuk.


To: Paul: Tidak, kau pasti marah padaku. Kita bicara sekarang.


Mendadak namanya muncul di layar ponselku. Aku membeku. Mengangkat teleponnya sudah jelas akan menggagalkan rencanaku, Paul akan mendengar kebisingan deru mesin pesawat. Sambil mengerang, aku menolak panggilannya.


To: Paul: Maaf, aku tidak bisa mengangkat teleponmu saat ini. Paul, kumohon jangan menyalahkanku, kita sama-sama berada dalam posisi sulit.


From: Paul: Hm, sepertinya kau sibuk sekali, Bianka. Nanti kita lanjutkan.


Aku menarik napas dalam-dalam lalu meletakkan ponselku di atas meja dihadapanku. Dengan perasaan putus asa, kuusap wajahku sambil membayangkan bagaimana reaksinya ketika melihatku nanti.


Tak diragukan lagi, kecanggungan akan memenuhi pertemuan kami. Sudah sebulan berlalu sejak kepergiannya, dan kami sungguh baik-baik saja pada dua minggu pertama dengan terus menelepon atau berkabar melalui pesan singkat.


Aku benci mengakui ini, tapi jarak di antara Paul dan aku semakin terlihat seiring berjalannya waktu. Aku sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir sementara kegiatan Paul dengan klub barunya juga tampak sama sibuknya.


Satu jam kemudian, setelah ibu Paul terbangun dan menawarkan sampanye, kami berdua menghabiskan setengah botol sambil mengobrol sampai akhirnya pesawat mendarat, tapi aku tidak mengatakan apapun soal kekesalan Paul padanya.


"Oh, aku benar-benar sudah tidak sabar! Kenapa kau merengut, sweetheart?" tanyanya saat jet yang kami tumpangi perlahan bergerak menuju sebuah mobil Range Rover hitam pekat, terlihat Paul berdiri di sampingnya sambil memegang ponsel.


Aku memandangnya, bahkan dari kejauhan saja dia terlihat sangat mengagumkan dengan rambut yang sedikit lebih panjang dan terikat, membuatku ingin segera menyusurinya dengan jemariku.


Sambil tersenyum gugup, aku membalas ucapan ibunya. "Ah, tidak, kok. Turunlah duluan, aku akan menyusul..."


Ibu Paul menganggukkan kepala dengan raut antusias yang berlebihan. "Ya, dia tidak akan mengira kalau kau datang. Ini menyenangkan!"


Dia berdiri sambil mengambil tas dari meja lalu mulai melangkah dan mengedipkan mata padaku sebelum keluar dari pesawat. Aku masih bertahan di tempat duduk dengan pandangan mengarah ke bawah, melihat Paul menyambut ibunya dengan satu pelukan hangat.


Kemudian kuberanikan diri melangkah setelah berterima kasih pada seorang pramugari. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku turun dari pesawat, berjalan sepelan mungkin selagi Paul mengobrol dengan ibunya. Dia belum menyadari kehadiranku.


Perasaan rinduku semakin menggebu saat menatap punggungnya lebih dekat. Ya Tuhan, aku sangat ingin memeluknya...


"Hey," desisku halus dengan suara yang lebih rendah dari yang kuperkirakan. Aku menahan tanganku yang sudah tak sabar ingin menyentuhnya begitu menyadari dia benar-benar berada dihadapanku, alih-alih di ujung belahan dunia lain seperti yang kurasakan sebulan ini.


Aku menyaksikan bahu Paul menegang, lalu dia berbalik. Matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka sementara ibunya tersenyum lebar disampingnya.


"Bianka?"


"Hai, Paul." balasku dengan suara bergetar akibat bertatapan dengan matanya yang gelap. "Surprise!"


"A-apa... apa yang kau lakukan disini?" tanyanya tergagap-gagap, terkejut karena kedatanganku. Belum sempat aku mengatakan sesuatu, dia menangkup wajahku dan mencondongkan tubuh untuk menciumku. Aku tersenyum sambil mengangkat kedua tangan memeluk lehernya.


"Kau nyata, love!" Paul menarik nafas dan melepaskan diri dariku. Dia mengusap rambutku sementara mengamati wajahku dengan raut senang namun masih agak terkejut. "Ya Tuhan, aku benar-benar merindukanmu!"


Dengan telapak tangan yang menumpang di dadanya, senyumku mengembang. Aku bisa merasakan detak jatungnya yang berdegup kencang. "Aku juga merindukanmu, Paul."


Dia menciumku sekali lagi, membuatku merasa benar-benar utuh dan bahagia.