
Aku tidak ingin Paul pergi.
Kami baru saja mengobrol selama satu jam berikutnya, sama sekali tidak menyadari waktu yang berlalu cepat karena begitu menikmati kebersamaan satu sama lain. Aku tidak pernah merasakan sesuatu sekuat ini terhadap siapa pun, terutama pada seseorang yang baru kutemui.
Aku mencoba berkali-kali mengatakan pada diri sendiri bahwa semakin lama 'kencan' ini berlangsung, semakin sedikit energi yang kumiliki untuk bekerja besok pagi, tetapi aku masih tidak bisa menemukan cara untuk mengakhiri percakapan ini. Dia menarik dan menawan, dan tampak jelas mulai sedikit tertarik padaku.
"Terima kasih untuk malam ini. Aku sangat senang." kataku padanya begitu kami perlahan mulai berjalan menuju pintu depan.
"Sama-sama, love." Paul menyentuh punggungku, ibu jarinya bergerak perlahan dengan cara yang amat menyiksa gairahku. "Sekarang, kupikir aku belum membayarmu dengan pantas karena telah menyelamatkan hidupku saat dirumah sakit, kan?"
"Lantas, bagaimana dengan minuman di klub kemarin? Apakah itu tidak termasuk bayaran?" Aku terkekeh pelan. Kami berhenti perlahan dan berputar menghadap satu sama lain. Aku sangat tidak ingin dia pergi karena ragu kami akan bertemu kembali.
Paul mengedikkan bahu seraya tersenyum. "Kalau begitu, kurasa aku perlu menjadwalkan gegar otak berikutnya dan masuk rumah sakit agar bisa membayar minumanmu lagi."
Aku tertawa. Terbahak-bahak. Aku lupa kapan terakhir mengalami ini, bahkan terkikik di depan seorang pria pun rasanya nyaris tak pernah. Sebelum aku sempat menjawab, Paul dengan lembut menangkup rahangku lalu mencondongkan tubuhnya dan menempelkan bibirnya ke bibirku.
Aku terkejut pada awalnya, tetapi dengan segera menenangkan diri dan menaikkan tanganku ke dadanya yang keras, nyaris mengerang merasakan sentuhan bibirnya yang lembut. Satu tangan Paul turun ke pinggulku dan menarikku lebih dekat kepadanya.
Ciuman kami lembut, tidak terburu-buru atau terlalu bergairah. Paul mencoba merasakanku, seolah aku adalah bagian dari dirinya. Kusapukan lidahku pada bibir bawahnya, dan tak lama kemudian lidah kami bertemu. Ini bukan ciuman yang menunjukkan siapa yang lebih berkuasa, tapi hanya sebuah interaksi kecil dan damai sebelum Paul memutuskan mengambil alih. Saat itulah ciuman itu semakin dalam dan berubah menjadi lebih... bergairah.
Paul mendesakkuku ke dinding di belakangku, sekarang kedua tangannya meremas pinggulku. Bagian depan tubuhnya menempel di dadaku, dan aku terkesiap saat Paul dengan lembut menggigit bibir bawahku.
"Aku sudah menantikan momen ini semalaman." Dia terkekeh pelan di bibirku, lagi-lagi tidak memberiku kesempatan untuk menjawab sebelum melanjutkan ciuman panas dan mematikan itu. Dia sangat tahu cara berciuman, tak perlu diragukan lagi.
Aku menggerakkan tangan dari dadanya naik hingga ke bahunya, meremasnya dengan lembut seraya menopang tubuhku yang mulai gemetar melawan gairah.
"Penampilanmu dalam balutan gaun itu... dan dengan rambutmu yang seperti itu..." Paul menggumam dengan suara sangat rendah saat dia mengarahkan bibirnya ke rahangku, sebelum membuka mulut lalu mencium leherku. "Dan, Ya Tuhan... tatapan matamu membuatku sangat bergairah sepanjang makan malam tadi." Dia menyiksaku dengan mengisap titik sensitif di lekukan leherku, dan aku mengerang.
"Paul..." Aku berhasil menahan diri, meski tidak tahu apa yang kuinginkan darinya. Apakah aku ingin dia berhenti?
Bibirnya menyapu di bibirku lagi, dan tanpa ragu aku membalas ciumannya.
Frosty terdengar mengeluarkan suara menggeram dari suatu tempat, jelas tidak senang menyaksikan bagaimana pemiliknya di desak ke dinding seperti ini, dan seorang pria yang luar biasa sedang mencoba mencuri napas majikannya dengan setiap sapuan lidahnya yang lihai.
"Enyahlah," aku mendengar Paul bergumam pada Frosty, dan aku tidak bisa menahan tawa lagi.
Apa yang salah denganku hari? Aku bukan seseorang yang mudah tertawa!
"Boleh?" Paul bertanya, dan aku menyadari sebelah tangannya sudah berada di belakang punggungku, memainkan ritsleting kecil pada gaunku.
Aku membeku sejenak, sebelum melanjutkan ciuman kami sementara berbagai pikiran mulai berlarian di kepalaku. Paul menarik diri sedikit agar bisa menatap mataku. Aku merasakan betapa senangnya diriku dan tidak mampu menyangkal bahwa aku menginginkan pria ini, meski untuk semalam saja.
Mungkin akan lebih baik jika seperti itu. Semua kebutuhan akan interaksi seksual dan perasaan yang dia berikan kepadaku akan hilang malam ini, dan aku tidak akan pernah melihatnya lagi.
Setelah mendapat anggukan persetujuan dariku, Paul mulai menurunkan ritsleting gaunku. Matanya menatap ke dalam mataku, membuatku semakin terbakar oleh bergairah.
Aku mengibaskan gaun itu dan membiarkannya jatuh menyentuh lantai. Sekarang tubuhku hanya berada dalam balutan sepasang pakaian dalam berenda dengan warna serasi... merah maroon.
Paul mulai menciumku lagi, bergerak dengan ahli membuat gairah yang tersimpan dalam diriku memohon agar segera dilepaskan. Perlahan-lahan aku membuka kancing kemeja putihnya, menunjukkan kulit mulusnya di bawah ujung jemariku, sementara tangannya juga menjalari bagian pinggulku.
Setelah aku berhasil melepaskan kemejanya, aku mulai meraba ikat pinggangnya. Paul tampak tidak terlalu fokus pada kegiatanku, dan malah dengan cepat membuka braku hanya dengan satu tangan.
"Sangat berpengalaman, huh?" godaku, menarik diri sejenak dan tertawa terengah-engah sembari menatap matanya yang menggelap indah dengan seringai nakal menghiasi sudut bibirnya.
Tanpa menjawab, Paul mencium bagian tepi bibirku sebelum memusatkan pandangannya ke dadaku, dengan pelan melepaskan braku. Mendadak rasa panas menjalari sekujur tubuhku ketika matanya menatapku dan tangannya meremas sisi pinggulku, lalu ibu jarinya bergerak menyapu dadaku, sebelum matanya terangkat kembali menerjang mataku. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menciumku lagi.
Aku membuka ritsleting celananya lalu dengan perlahan menyelipkan tanganku ke dalam. Ciuman Paul menjadi lebih panas begitu aku menggenggam kejantanannya yang sudah penuh dan keras.
Aku tidak bisa menghentikan jantungku yang berpacu, untuk beberapa detik menyadari seharusnya kami tidak perlu bertindak sejauh ini, namun harus kuakui aku juga menyukai setiap detik yang kami lalui saat ini.
Paul mendorongku lebih keras ke dinding, bibirnya menyentuh tanganku, tanpa suara memintaku melakukan sesuatu. Dengan lembut aku menarik tanganku dari celananya, dan perlahan-lahan mulai bergerak menyusuri tubuhnya yang keras.
"Ahh, fvck!" Paul menggeram, melepaskan ciumannya lalu mengarahkan bibirnya yang panas ke leherku, menyalakan api gairah yang terus membakarku. Aku bisa merasakan bagaimana hasratku berdenyut tersiksa dalam satu-satunya pakaian yang masih kukenakan.
Dengan kasar paul menurunkan pakaian dalamku hingga ke paha dan membiarkannya jatuh ke lantai. Aku tersengal-sengal, dalam hati berteriak memohon agar dia segera mendesakku sekarang juga.
Paul mengangkat kaki kananku lalu mengarahkan ke sisi pinggulnya, lututku tertekuk melilit bagian belakang punggungnya dan aku menariknya lebih dekat padaku sementara tanganku semakin liar meraba otot punggungnya yang keras dan menggiurkan.
Dengan satu ciuman cepat, aku meraih dadanya berusaha menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh.
"Aku akan mulai," gumam Paul, sembari menciumi rahangku. Tubuhku sudah terbakar, dan aku nyaris mengerang nikmat saat merasakan ujung kejantanannya menyapa kewanitaanku.
Lalu, mendadak aku tersadar...
"Oh, no," Aku menangkup dadanya, mendorongnya sedikit ke belakang untuk menatap matanya yang dipenuhi gairah. "Aku tahu tentang Penyakit Menular Seksual... dan itu tidak akan terjadi padaku."
Tawa terengah-engah meluncur dari bibirnya, dan sikapnya yang tegang perlahan mulai menjadi lebih santai. Rambutnya tampak sangat berantakan sementara pipinya dihiasi semburat merah muda yang menggemaskan.
"Maaf, aku lupa kalau kau seorang perawat." kata Paul, suaranya jauh lebih rendah karena kegiatan kami barusan, ditambah posisi kami saat ini terlalu intim.
"Perawat magang, big boy," balasku, dengan lembut menepuk dadanya sementara Paul melepaskan kakiku cengkeraman tangannya yang kuat. Kami masih sangat bergairah untuk menyelesaikan aktivitas ini.
"Apa kau punya pengaman?" Kami bertanya pada saat yang bersamaan, dan aku tertawa.
Aku menunduk melihat jarak di antara kami, dan mendapati Paul masih memegang kejantanannya yang sudah siap tempur. Bagian ujungnya berkilau dengan cairan nikmat yang beraroma khas, membuatku terpaksa menjilat bibir dan menelan ludah.
Paul berdeham. "Ada pengaman di mobilku," katanya, ekspresi geli masih terlihat jelas di wajahnya yang tampan dan mempesona.
Aku mengangkat alis padanya karena sepertinya dia tidak ingin buru-buru mengambil pengaman itu. "Kau ingin aku yang mengambilnya?"
"Yeah." Dia mengangkat bahu cuek, seringai di bibirnya melebar. Paul tampak sangat menikmati momen ini.
"I'm naked! Aku tidak mungkin keluar dalam keadaan seperti ini." Aku menggelengkan kepala sambil tertawa, melipat kedua tangan di dada.
Paul beringsut mendekat dan meletakkan tangannya yang bebas ke lengan atasku lalu menariknya ke bawah dengan lembut, hingga menunjukkan dadaku lagi. Jemarinya bergerak perlahan menyentuh puncak dadaku yang mengeras, dan aku tercekat.
"Orang-orang mengenalku, love..." Paul mencondongkan tubuhnya, napasnya yang panas menyapu kulit sensitif di bawah telingaku, membuatku merasakan getaran panas mengalir dalam darahku dan berujung di antara kedua pahaku. "Beritanya akan langsung tersebar begitu salah satu dari mereka melihatku di depan rumahmu." lanjutnya, dengan menyapukan bibirnya di sepanjang lekuk leherku.
"Well, kalau begitu kau harus memasukkan kembali kejantananmu ke dalam celana dan berlari secepat kilat mengambil pengaman itu". cetusku, dengan suara sedikit lebih keras dari yang kukira. Tanganku masih menempel di dadanya, secepat kilat mendorongnya lebih jauh. "Aku tidak akan keluar, dan kita tidak akan bercinta tanpa pengaman, Paul."
Paul mengembuskan napas menyerah. "Baiklah, aku akan mengambilnya. Tunggu sebentar..." Paul mundur selangkah, membuatku kedinginan dengan tubuh tanpa pakaian yang menempel pada permukaan dinding.
Aku mengangguk setuju. "Aku akan menyibukkan diri. Lakukan dengan cepat, atau aku akan memulainya tanpamu." Sambil mengedipkan mata, aku berjalan melewatinya.
Paul menggeram. "Astaga, jangan katakan itu... aku berusaha untuk tenang, jadi jika salah satu tetanggamu kebetulan keluar, aku tidak akan marah, love. Mungkin dia bisa membantuku sebentar." Dia balas mengedipkan mata.
Aku tertawa sambil memandangi Paul berjuang menyembunyikan kejantanannya yang mengeras di balik celananya, kemudian dengan tergesa-gesa dia melangkah melintasi ruangan dan keluar dari rumahku.