My Love Journey's

My Love Journey's
Try, At Least



Hatiku masih sesak mengingat setiap kata yang diucapkan Paul saat kami di ruang keluarga. Aku menangis seperti orang gila di kamar mandi, dan tadi kukira aku mampu melepaskan tangisanku disana dan keluar dengan perasaan lega, tapi ternyata tidak begitu. Aku terus menangis hingga kembali ke kamar.


Paul mencoba berbagai macam cara untuk membuatku tenang. Dia memelukku, menciumku, merayu dengan makanan, bahkan melontarkan kalimat-kalimat aneh yang pada akhirnya berhasil membuatku terkikik geli di antara isak tangis.


"Kau sudah tidur, love?" suaranya begitu lembut, selembut usapan tangannya di rambutku. Aku meringkuk di pelukannya, berbantal lengannya, menikmati kegelapan yang menyelimuti kami.


"Tidak," kataku dengan suara serak akibat menangis berjam-jam. "Aku tidak bisa tidur."


Terlalu banyak hal yang berlarian di kepalaku saat ini, membuatku tak sanggup memejamkan mata bahkan untuk semenit saja. Aku akan kehilangan Paul, tepat saat dia baru saja melamarku. Jika mengingat kembali apa yang sudah kulalui bersamanya, aku tidak yakin akan sanggup menghadapi semacam perpisahan menyakitkan seperti ini.


"Aku juga." katanya, lalu berdeham. Aku menggeser kepala hingga menumpang di dadanya dan meringkuk seperti bayi sambil mendengar detak jantungnya yang teratur.


Beruntung, tidak ada yang harus kulalukan besok selain membaca ulang beberapa buku yang diberikan Dr. Stanley, namun kurasa itu pun sulit untuk kulakukan.


"Oh, aku punya ide.."


"Please, Paul... Aku, aku tidak mau membahas apapun sekarang." ketusku tajam.


"Bukan itu, love." Mendadak dia mengangkat tubuhnya dan duduk, yang kemudian juga membuatku ikut terduduk.


Di kegelapan ruang kamar, aku menatap ke dalam matanya yang mengagumkan seakan dia bisa menenggelamkanku ke dalam dirinya kapan saja.


"Ayo pergi jalan-jalan." Paul memberiku satu senyuman, aku mengernyit.


"Jam berapa ini?"


Dia meraih ponselnya dari atas meja, dan ketika layarnya menyala, aku bisa melihat wajahnya lebih jelas. "Jam empat pagi."


"Kau mau jalan-jalan dimana di pagi buta seperti ini?" Seruan tawa halus terdengar mencelos dari mulutku, kemudian berdampak pada perubahan ekspresi Paul yang mendadak sedikit lebih cerah.


Dia menatapku lekat-lekat sambil tersenyum. "Ada sesuatu yang ingin kulakukan. Percayalah, kau pasti suka." Lalu dia menepis jarak dan mencium bibirku sementara sebelah tangannya bertopang pada kasur.


Dengan segera aku membalas ciumannya, menaikkan kedua tangan meremas rambut hitam tebalnya. Setelah beberapa saat menikmati momen intim yang sepertinya akan hilang sebentar lagi, Paul menarik diri dan menuntunku ke ruang ganti di kamarnya.


Aku mengenakan setelan celana joger dan sweater biru muda milikku, sementara Paul juga mengenakan setelan yang mirip, namun berwarna hitam. Begitu yakin aku sudah siap meskipun dengan mata sembab seperti tersengat lebah akibat menangis semalaman, Paul mengajakku turun ke garasinya.


"Mau pakai yang mana?"


Aku terperangah pada pemandangan luar biasa menakjubkan dihadapanku, seumur hidup aku belum pernah melihat garasi sebesar ini, yang dipenuhi beberapa jenis koleksi mobil mewah miliknya. Aku bisa mengenali beberapa di antaranya, tapi yang lain sama sekali di luar dugaan. Dia pasti punya mesin pencetak uang di rumahnya hingga bisa memiliki puluhan koleksi mobil mewah.


"Mana yang paling kencang?" Aku menoleh Paul yang kini menatapku dengan senyum mematikan.


Kedua alisnya terangkat sedikit. "Kau yakin bisa mengendalikan diri? Aku punya beberapa yang kecepatannya lumayan tinggi..."


Aku mengedikkan bahu. "Jangan meremehkanku. Aku ingin sesuatu yang bisa membuatku terbang."


Paul mengeluarkan satu tawa geli sebelum menganggukkan kepala dan memintaku mengikutinya. Aku menurut. Kami berjalan melewati beberapa mobil yang tidak semuanya berjenis sport car, ada juga mobil biasa yang tampaknya mobil klasik, hingga dia berhenti di samping sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilat. Lamborghini Aventador!!!


Paul membuka pintu bagian penumpang untukku. "Silahkan masuk, Rapunzel."


"Hm, perlakuan istimewa, ya. Aku suka itu." Aku tersenyum, menghargai usahanya yang ingin membuatku lupa akan masalah kami untuk sementara. Sebelum masuk ke dalam mobil, aku menangkup wajahnya lalu melabuhkan ciuman dalam di bibirnya. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." lirihku di mulutnya.


"Aku juga mencintaimu, Bianka."


Kami masuk ke dalam mobil dan Paul langsung melaju ke jalan raya. Untuk sesaat, aku bisa menyingkirkan segala kekhawatiran yang melintas di kepalaku dan menikmati momen mendebarkan bersamanya.


"Woohoo!" seruku sambil tertawa ketika Paul menginjak pedal gas kuat-kuat, seketika membuat mobil yang kami tumpangi seakan benar-benar terbang ke udara.


Kami melintasi jalanan yang lebar dan kosong dengan mata memandang waspada pada sisi jalan, jangan sampai kami tertangkap kamera pengawas. Paul benar-benar menunjukkan padaku bagaimana cara menikmati hidup, terutama saat ini, dan aku sangat bersyukur akan itu.


Oh, satu lagi... Dia juga memutar Coldplay untuk memaksimalkan upaya membujukku, dan tentu saja itu berhasil. Paul tahu apa yang kusukai dan dengan senang hati memberikan semua itu kepadaku. Suatu bentuk perhatian kecil terkadang jauh lebih bermakna dibanding barang-barang berharga fantastis.


"Apa kau menikmatinya, love." tanyanya sambil menyeringai, menolehku sekilas.


"Tentu saja. Ini menakjubkan!" sahutku. "Kenapa kau tidak pernah membawaku naik Lambo sebelumnya?"


Dia mengeluruhkan tangan ke pahaku, perlahan memelankan laju mobil dan berhenti di sebuah taman kecil di tepi jalan. Jantungku berdegup kencang, dan adrenalin mengalir deras di sekujur tubuhku.


"Kau cantik sekali, Bianka." gumamnya lembut memanjakan telingaku dengan suara seraknya. "Kurasa aku harus lebih sering membawamu naik Lambo, hm?"


Aku tertawa sambil menyikut lengannya, kemudian kurasakan tatapannya mendadak aneh, seakan dia sedang berusaha menikmati momen ini untuk berjaga-jaga andai ini kesempatan terakhir baginya untuk menyaksikanku tertawa.


Aku berdeham sekali, "Kurasa kita sudah membangunkan separuh penghuni Berlin." gumamku tanpa mengalihkan pandangan darinya.


"Ya, kurasa juga begitu." Dia mengedikkan bahu sambil menyeringai. "Ayo turun dan menyaksikan matahari terbit."


Pada awalnya aku merasa ragu karena taman ini merupakan ruang publik yang terletak di tengah-tengah kota, dan bukan tidak mungkin orang-orang akan segera berkeliaran di sekitar sini. Sekarang saja aku sudah melihat beberapa dari mereka berlari melewati kami, bahkan meski jam masih menunjukkan angka lima di pagi hari. Paul dan aku sama-sama menutup kepala dengan hoodie lalu berjalan perlahan.


Kemudian kami berhenti saat menemukan sebuah kursi kayu dan memutuskan duduk di sana hingga matahari mulai terbit. Aku menjulurkan kaki di atas pahanya sementara tangannya memeluk bahuku.


"Apa kau tidak merasa kita seperti tunawisma?" tanyaku, tersenyum geli pada diri sendiri.


"Tidak, lupakan itu." tolakku mentah-mentah. "Kau lupa kejadian terakhir saat kita melakukannya? Aku nyaris masuk rumah sakit!"


Aku sengaja melebih-lebihkan untuk memberi sedikit hiburan kepada Paul. Dan, ternyata berhasil. Dia tertawa.


"Kau hanya lecet, Bianka. Kau tahu, sebenarnya hari itu aku udah tergila-gila padamu, kita belum saling mengenal, tapi entah kenapa daya tarikmu begitu kuat menghantamku."


"Dan aku sangat takut sampai rasanya bisa gila saat itu, aku tidak suka mendapat perhatian berlebihan." tawaku terlepas ketika benakku kembali memunculkan ingatan pada masa-masa awal kami mengenal satu sama lain. "Kau ingat? Kau pernah mengatakan kalau kau kesepian, dan kupikir itu hanya alasan yang kau buat-buat untuk mendekatiku."


Dia tertawa lagi, lalu menggelengkan kepala. Pelukannya terasa sedikit menguat selagi dia mencium kepalaku.


"Apa kau masih kesepian?" tanyaku pelan, mengarahkan tangan ke pahanya.


"Tidak. Maksudku, saat ini banyak orang yang berusaha menunjukkan kepedulian sejak namaku muncul di papan pemain terbaik Fifa, dan aku punya teman-teman yang luar biasa, aku hanya... well, begitulah, kau pasti paham." dengkurnya menjelaskan dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh orang lain. "Aku merasa duniaku berubah sejak bertemu denganmu, Bianka."


Merasa tersentuh dengan kalimat terakhirnya, aku memajukan wajah untuk mencium pipinya. Dia tersenyum lalu meletakkan sebelah tangannya yang bebas di atas lututku.


"Paul?"


"Ya?"


"Aku agak cemas memikirkan semuanya... Soal kemungkinan kau akan ke Spanyol sementara aku tetap berada di sini, di tambah lagi setelah itu pasti banyak sekali gosip tentangmu yang akan beredar, dan..."


"Kau tentu tahu, aku tidak mungkin menghianatimu, love." gumamnya mengingatkan, dan aku menghela nafas.


"Ya, aku tahu... tapi kita juga sama-sama tahu, terkadang gosip bisa terlihat sangat meyakinkan jika disertai foto dan semacamnya. Aku tidak mungkin sanggup menghadapi itu sendirian. Kita tidak bisa melanjutkan ini. Kumohon, mengerti apa..."


"Aku paham, Bianka. Tapi, setidaknya kita bisa mencoba, kan?" Dia menegakkan posisi duduknya. "Maksudku, hubungan jarak jauh."


Aku menghembuskan nafas gemetar sementara bahuku melemas.


"Aku akan menelepon dan mengirim pesan padamu setiap hari, okay?" cetusnya lagi, mencoba membujukku. "Aku tahu ini tidak mudah, terutama bagimu karena kau pasti sangat tertekan jika membaca berita tentangku..."


"Aku takut rumor akan membuatku melupakan hal-hal baik yang terjadi di antara kita, Paul. Kau berada jauh dari jangkauanku, dan bagaimana mungkin aku percaya padamu sementara saat kita bersama saja banyak sekali masalah yang terjadi.


Paul menggeleng keras. "Love, dengar... Itu tidak akan terulang. Aku akan kembali kesini sesering mungkin dan kau bisa tinggal di rumahku selama yang kau inginkan, kau pegang kuncinya, kan?"


"Ya..."


"Dan kau juga bisa mengunjungiku setiap libur. Percayalah, ini tidak seburuk yang kau bayangkan, love." Dia tersenyum untuk menenangkanku.


Dengan begitu saja, kepercayaan diriku mengalir deras. Kalimat terakhir Paul benar-benar menamparku. Ya, kuarasa kami pantas mencobanya. Terlepas apapun hasilnya, setidaknya kami sudah melakukan upaya terbaik.


"Baiklah, ayo... kita sama-sama berjuang menghadapi ini." gumamku tanpa ragu.


"I love you, Rapunzel."


Aku tersenyum dengan suasana hati yang lebih cerah, "I love you more."


"Tidak mungkin, aku yang lebih mencintaimu." katanya lalu tertawa.


***


"Mom, jangan berteriak, dia masih tidur." samar-samar aku menangkap suara Paul berbicara dengan suara pelan. "Ya, ya, aku tahu." cetusnya lagi.


Aku merasakan kehangatan kulitnya di bawah telapak tanganku sementara dia lanjut berbicara. "Tidak, dia tidak akan ikut ke Spanyol andai tranfer itu disepakati." Dia terdiam sejenak, mendengarkan ibunya. "Tidak, mom. Bianka sudah berjuang sangat keras untuk hidupnya, dan dia juga akan melanjutkan sekolah untuk meraih gelar master. Aku tidak mau menjadi seseorang yang menghancurkan mimpinya. Lagi pula, aku tidak akan selamanya bermain dengan Real Madrid..."


Seiring kesadaranku yang perlahan mengumpul, aku bisa mendengar nada marah ibunya di ujung sambungan telepon.


"Aku, manajer, pengacara, dan pelatihku sedang berusaha mempersingkat masa transferku. Dan klub-ku yang sekarang sengaja menaikkan harga agar tim Real Madrid setuju dengan penawaran kami..."


Keputusasaan terdengar jelas di suaranya. Ini memang menyulitkan, bukan hanya untukku, tapi juga keluarga dan teman-temannya disini. Aku yakin ibunya juga kurang setuju, tapi ini merupakan kesempatan langka untuk Paul, dan menolaknya sama sekali bukan pilihan bijak.


Dengan mata yang masih terpejam, aku mulai membayangkan perjalan kami sampai hari ini. Tadinya aku yakin bisa menghadapi apapun selama Paul berada di dekatku, tapi sekarang keraguan kembali mengusai pikiranku.


Ini pasti sudah lewat tengah hari, dan BBC jelas sudah meluncurkan berita tentang transfer itu. Aku akan menutup akses terhadap sosial media mulai hari ini hingga beberapa hari berikutnya, atau kepalaku akan meledak jika membaca beragam spekulasi memuakkan.


Dengan perlahan, aku membuka mata, agak mendongak untuk menatapnya dan tersenyum. Paul menyadari gerakanku lalu dia membalas senyumku dan hendak mengakhiri telepon.


Dengan genit, aku menjalarkan ujung jemariku di sepanjang dadanya yang keras, menyusuri ototnya perlahan sampai turun ke bagian perut, pinggul, dan berhenti sejenak.


"Mom, aku akan meneleponmu kembali, okay?" fokusnya teralihkan saat aku mencium lehernya. "Ya... Oh, tidak, nanti saja. Dia masih tidur, okay? Love you, bye."


Buru-buru dia mematikan sambungan telepon dan melempar ponselnya ke nakas. "Apa yang sedang kau lakukan, love?" tanyanya, pura-pura bodoh.


Aku memberinya senyum jahil. "Mencoba mengucapkan terima kasih dengan pantas karena kau sudah begitu peduli padaku." gumamku, lalu menggoda lehernya dengan bibir, lalu membelainya dengan ujung lidahku.


Paul menggeram, rahangnya mengeras sementara deru nafasnya terdengar memberat. "Oh, sial... teruskan!"