My Love Journey's

My Love Journey's
Love is in the air.



...Paul Klug POV....


"Ya, mom. Kami baik-baik saja sekarang. Dan, dia sedang dalam perjalanan kemari." Aku menarik satu kaos dari dalam koper sambil menjawab ibuku. Dia ingin mengetahui bagaimana perkembangan proyek "Memenangkan kembali hati Bianka Becker." Yang tentu saja, berhasil kuraih.


"Oh, Tuhan!" seru ibuku, nyaris berteriak. Kelegaan menyelimuti nadanya. "Kau tidak akan tahu betapa senangnya aku mendengar ini. Ini berita yang paling kutunggu. Aku tak pernah jauh dari ponsel dan terus-menerus berharap kau menelepon untuk memberi tahu ini. Astaga, aku harus memberi tahu Thomas dan Camille. Oh, Ellie akan sangat bahagia. Aku sudah tak sabar..."


"Mom, sudah." kataku memotong. "Aku tahu kau bahagia. Aku juga. Tapi, aku harus bersiap menyambutnya." Kemudian, kudengar suara bel berbunyi. "Kita lanjutkan nanti, oke? Dia sudah datang."


"Baiklah, sampaikan salamku padanya. Aku menyayangimu, nak."


"Ya, dan aku menyayangimu."


Aku meletakkan ponsel di atas nakas, mengenakan kaos, dan melangkah ke pintu depan kamarku untuk menyambut Bianka. Bola mataku nyaris melompat saat mendapati dia berdiri dengan penampilan paling seksi yang pernah kusaksikan. Dengan gaun merah ketat sebatas lutut, bibir menyala dan mengundang, serta tatapan memabukkan. Satu lagi, senyum yang membuat pria manapun linglung tergila-gila.


"Hai," gumamnya lembut, tak tahu bahwa dia hampir membuatku terkena serangan jantung. Ya ampun, ini benar-benar gila! Perasaan ini benar-benar gila!!!


Aku menyipitkan mata, berpura-purang bingung. "Maaf, Miss... sepertinya anda salah kamar. Aku sedang menunggu kekasihku."


Mengikuti permainanku, dia menyeringai, meletakkan sebelah telapak tangannya di pintu dengan gaya menantang. "Apa kekasihmu lebih baik dari ini?" tanyanya genit sambil menunjuk sekujur tubuhnya dengan tangan yang lain.


Aku menggeleng. "Tidak. Tapi, aku pria baik-baik."


Bianka kembali menyeringai, menegakkan tubuh lalu menjalarkan ujung telunjuknya ke sekitar dadaku sambil mendekat. "Benarkah?" Dia menggigit bibir bawahnya, membuatku mengerang dalam hati. "Aku ingin tahu sebaik apa dirimu." Tanpa peringatan, bibir seksinya menghantam bibirku, memberiku satu ciuman panas sampai kami tersengal-sengal.


"Masih bertahan dengan kekasihmu?" desahnya di depan bibirku.


Aku terkekeh, menciumnya sekali lagi lalu mengangkatnya ke pundakku dan menepuk bokongnya. "Dasar, gadis nakal." Aku menutup pintu, lalu melangkah mendekati ranjang sementara Bianka tertawa riang.


"Apa yang merasukimu di luar sana, hm?" tanyaku setelah menghempaskannya di kasur.


Bianka mengedikkan bahu. "Kupikir aku hanya tak sabar ingin segera menciummu." sahutnya cuek.


Aku tersenyum, lalu menindihnya untuk melanjutkan ciuman kami sebelumnya. Kali ini, lebih panas dan menggairahkan. Membuat kami berdua benar-benar nyaris kehabisan napas. Entah berapa lama kami melakukannya, yang jelas sekarang aku hanya mengenakan celana sementara gaun Bianka sudah mendarat di sudut kamar. Leher, dada, hingga hampir setiap sudut bagian atas tubuhnya penuh dengan hasil karyaku.


"Paul, aku membutuhkanmu..." Dengan lembut, Bianka menjalarkan ujung jemarinya ke punggungku dari balik kemeja yang kukenakan.


"Oh, aku tahu, love. Tapi bukan aku satu-satunya orang yang harus melihat betapa cantiknya dirimu. Aku ingin kau melihat dirimu sendiri." Aku mencium kening Bianka sebelum mengangkatnya ke dadaku dan membawanya ke kamar mandi.


Aku menurunkannya kemudian berjongkok di hadapannya, menaikkan sebelah kakinya ke pundakku. "Kau sangat basah. Katakan siapa yang membuatmu sebasah ini, love?" Aku mulai mencium bagian dalam pahanya, sambil menengadah memandang lurus ke matanya.


Mata yang tak pernah gagal memikatku sejak pertama kali kami bertemu, sekarang terlihat menantang sementara aku bersiap menghiburnya dengan mulut dan lidahku.


Bianka mendesah. "Kau... Kau yang membuatku seperti ini, Paul." Suaranya selembut sutra. Dia mencengkeram pundakku selagi mulutku semakin dekat ke bagian tubuhnya yang berdenyut menggiurkan.


Aku menekan bibirku ke pakaian dalamnya, lalu menggesernya ke samping dan menyapukan lidahku disana, menikmati cita rasa tubuhnya yang memabukkan, membuat Bianka menengadah sambil menyebut namaku.


"Lihat dirimu di cermin, dan tutup matamu. Aku ingin kau melihat bagaimana aku melihatmu." Aku menahan kakinya tetap di pundakku, lalu menggerakkan lidahku dengan liar di antara kedua pahanya.


Bianka mencengkeram kuat rambutku dengan sebelah tangannya sementara sebelah yang lain berpindah dari pundakku ke tepi konter.


Aku memasukkan satu jari ke dalam dirinya, lidahku tak berhenti bergerak, kemudian perlahan mempercepat gerakanku dan tersenyum menyadari Bianka ikut menggoyangkan pinggulnya.


"Aku suka rasa tubuhmu, love."


"Paul, aku menginginkanmu... Aku ingin kau mendesakku dengan kejantanannmu. Kumohon..." Seulas senyum puas melintas di bibirku mendengar permohonannya. Aku ingin dia melihat bagaimana aku mendesaknya dari belakang.


Bekas ciuman Bianka di leher, dada, dan pundakku tampak indah di cermin, tapi hasil karyaku yang menempel di hampir setiap sudut tubuhnya terlihat lebih membanggakan. Aku memutar jariku sekali lagi, mencium bokongnya sebelum berdiri dan berpindah ke belakangnya. Bianka tersengal-sengal.


"Kau ingin aku mendesakmu?" Dia tak membuang waktu untuk menjawabku dengan anggukan. "Kalau begitu, aku ingin kau melihatku mendesakmu, aku ingin kau melihat wajah cantikmu seperti aku melihatmu." Aku menggulung rambutnya, menepikannya ke kanan, lalu berbisik di telinganya sementara menatap matanya di cermin. "Bisakah kau melakukannya untukku? Bisakah kau terus membuka mata dan melihatku mendesakmu seperti gadis penurut?" Aku menyeringai saat menyadari kaki Bianka bergetar halus.


Puncak dadanya mengeras di balik pakaian dalam transparan yang di kenakannya, dan pahanya mulai basah oleh gairahnya sendiri. "Ya. Kumohon, Paul... Aku membutuhkanmu. Sekarang..."


Tak mau menyiksanya lebih lama dalam keputusasaan, aku membuka celana dan seketika kejantananku menghantam bokongnya. "Sial, kumohon, Paul. Bukankah kau juga ingin menyaksikanku menggila karena dirimu?" Oh, dia menantangku sekarang.


"Aku takkan pernah bosan memandangmu, Bianka." Aku mengarahkan kejantananku ke bagian paling intim di tubuhnya, menyapunya perlahan sambil terus menatap pantulan diri kami di cermin.


"Oh my..." Ucapannya terpotong saat aku menenggelamkan diri sepenuhnya. Suara geraman bergemuruh dari dadaku ketika kurasakan Bianka mencengkeramku dengan erat dan berdenyut keras.


Aku menarik rambutnya dengan lembut ke belakang, memastikan untuk tidak menyakitinya, lalu menghujamnya dengan keras. Suara tubuh kami beradu menggema di setiap sudut kamar mandi.


"Oh, God.." Bianka mendesah. Aku terus menghantamnya. Tidak ada kelembutan disana, gerakan pinggulku cepat, keras, dan lama.


Aku melihat bagaimana dia berjuang untuk tetap membuka mata dan menatapku. "Tak ada seorangpun yang bisa membuatmu merasakan ini, Bianka. Sama seperti tak seorangpun mampu memberikan apa yang kau berikan padaku." Sambil berbicara, aku terus menatapnya di cermin.


Tak ada yang terdengar darinya selain des@han dan erangan keras sampai aku menyentuh titik terdalam di tubuhnya, barulah dia menutup mata dan mengatakan "Don't stop!"


Untuk membuatnya lebih gila lagi, aku sengaja menepuk bokongnya dengan keras, mengetahui bahwa dia menyukainya. Dan, benar saja... seketika punggung Bianka melengkung.


"Aku akan mengijinkanmu keluar ketika kau mengatakannya, Bianka. Katakan padaku bahwa kau cantik, maka kau akan mencapai puncakmu." Aku menghisap kulit pundaknya yang halus sampai meninggalkan jejak merah disana. "Aku ingin mendengar kau mengatakannya."


Keringat bercucuran dari keningnya, ke leher, dada, hingga ke perut dan pahanya. Cengkeramannya di kejantananku semakin keras setiap kali aku menghantamnya. Aku ingin dia merasakan kenikmatan tiada tanding, tanpa ampun, sampai pahanya tak berhenti bergetar. Aku ingin menghiburnya, memberinya kebahagiaan, menyenangkannya sampai aku tak tahu lagi caranya bernapas. Sampai mataku berhenti membuka.


Bianka mantapku, bernapas tersengal-sengal. Pandangannya turun ke bawah, hingga sekujur tubuhnya sebelum dia kembali beradu dengan mataku. "Aku... cantik." Tepat pada saat itu, setitik air menetes dari matanya.


Aku tersenyum sambil terus menghujamnya. "Ya, kau cantik." Aku mencium pipinya sementara memeluk dadanya. "Sekarang, aku akan memberimu pelepasan paling panjang dan panas seumur hidupmu." Air matanya kembali menetes.


Beberapa detik kemudian, Bianka menjerit, matanya terpejam erat, punggungnya melengkung hebat, sementara sekujur tubuhnya gemetar. Aku ikut menumpahkan gairahku ke dalam dirinya sambil menopang tubuh Bianka yang pasti terhempas ke lantai jika tidak kutahan.


"Fu¢k, I love you, Bianka."