My Love Journey's

My Love Journey's
Another break down



...Author's POV....


Keseluruhan ekspresi Bianka berubah seketika. Dia tampak sangat ketakutan, matanya membelalak dan berlinang air mata. Keterkejutan yang di alaminya tak perlu di jelaskan dengan kata-kata. Kata 'Jerman' terus berdengung di benaknya. Dia merasakan jemari Franda di pipinya sementara wanita itu menangkup wajahnya.


"Itu bukan berarti akhir dari segalanya, Bianka. Aku tahu kau sangat mencintai Paul. Berjuanglah untuk mendapatkannya lagi. Jangan menyerah."


"Aku... Aku," Wanita malang itu kehilangan kata-kata. Pada saat ini, apakah memang ada sesuatu yang bisa di perjuangkan? Dia tidak yakin.


"Baiklah, aku akan..."


Suara itu! Mata Bianka semakin membulat saat dia mendengarnya. Paul! Dengan perlahan dia berbalik dan melihat kekasih yang begitu dicintainya, berdiri di samping kakak iparnya, memandangnya dengan raut terkejut yang sama. Namun, dengan cepat ekspresi itu berganti menjadi jijik.


"Kenapa aku tidak di beritahu kalau dia disini?"


Bianka merasa hatinya lebih remuk dari sebelumnya. Pria yang biasanya hangat, tenang, dan manis itu sekarang berada dalam ruang kemurkaan dan kebencian. "Paul." Bisik Bianka pada dirinya sendiri, tapi Paul mendengarnya.


"Jangan mengatakan apa pun!" Pria itu mendengus kasar sambil menatap Bianka sekilas sebelum kembali memandang Sean. "Kurasa kita tidak bisa membahasnya sekarang. Kutelepon nanti?"


"Hei, tinggallah sebentar lagi," Sean berusaha membujuk, tapi Paul menggeleng cepat.


"Aku tidak bisa berlama-lama berdekatan dengannya. Jika dia disini, maka aku harus pergi. Selamat malam, bung."


Bianka berdiri, ingin berlari mengejar Paul dan memohon. Memohon untuk sebuah kata maaf. Memohon agar Paul menerimanya. Memohon satu kesempatan lagi. Tapi tubuhnya membeku, dia tak pernah merasa begitu putus asa. Mengingat sorot di mata Paul... Perutnya terasa melilit, dan dia bisa merasakan kram pada bagian bawah perutnya. Bianka sangat ketakutan.


"Aku juga harus pergi. Terima kasih, Kak."


"Bianka..."


"Aku tidak apa-apa." gumamnya lemah, nyaris berbisik sambil menguatkan dirinya sendiri. "Aku akan menelepon taksi."


"Tidak. Aku yang mengantarmu pulang. Setidaknya aku bisa tenang setelah memastikan kau tiba di rumah dengan selamat."


***


"Sissy, aku tidak yakin meninggalkanmu sendirian disini."


Bianka melemparkan seulas senyum sedih kepada kakaknya. Mereka sudah berada di rumahnya dan Franda tak mau pulang. Bianka tidak memiliki kekuatan untuk mengusirnya. Namun, pada saat itu dia tidak menginginkan siapapun menemaninya.


"Aku baik-baik saja, Panda. Aku hanya lelah, kau tidak perlu cemas." Dia mencoba meyakinkannya.


"Entahlah, Sissy. Kurasa tidak sebaiknya kau sendirian saat ini. Aku tidak suka ini. Kau tidak sedang dalam kondisi baik untuk menjaga dirimu. Apa ada seseorang..."


"Panda, hentikan. Aku tidak apa-apa, okay. Aku hanya butuh istirahat yang cukup dan semuanya pasti baik-baik saja."


"Baiklah, kau bisa tidur. Aku akan tetap disini dan meminta mommy datang agar ada sesuatu yang bisa kau makan saat bangun nanti. Lagi pula, rumah ini butuh sentuhan manusia." Franda mengatakannya tanpa malu-malu, membuat Bianka tersenyum tipis. Kakaknya yang satu ini memang sangat payah dalam urusan dapur, serta tak ragu mengungkapkan apa pun.


"Sebenarnya tidak perlu..."


"Berhenti mendebatku atau aku akan menyumpal mulutmu dengan bantal." tegas Franda dengan nada tak terbantahkan, di iringi sorot mata mengancam seolah dia benar-benar akan melakukannya.


Bianka terlihat kehabisan tenaga. Franda menyadari lingkaran hitam di bawah matanya, lalu matanya yang berkaca-kaca, dan kedua tangannya yang gemetar... Bianka tampak menahan sakit. Franda terus bertanya-tanya kapan sebenarnya wanita itu tidur dengan baik.


Momen pertemuan tak di sengaja dengan Paul sebelumnya jelas tidak menguntungkan bagi Bianka. Saat itu, dia terlihat seakan berdiri di ambang kehancuran. Franda tidak akan mampu memaafkan dirinya sendiri andai sesuatu yang buruk terjadi.


Dia menatap adiknya yang tampak berusaha mencari-cari alasan. Tapi pada akhirnya menghela napas kalah dan berdiri. "Kurasa kau benar. Terima kasih, Kak. Aku ada di kamar jika kau membutuhkan sesuatu."


***


"Permisi, aku mencari ruangan 214 A."


"Paul?" Paul berputar dan mendapati Marissa bersandar di dinding.


Dia terlihat... takut?! Paul mencoba mengamati sosoknya untuk mencari sesuatu yang salah, seperti cedera atau semacamnya. Tapi dia tak menemukan apa pun. Kemudian dia menghela napas lega menyadari Marissa baik-baik saja.


Marissa menelepon Paul tepat saat pria itu baru saja tiba di apartemennya, menangis dan meminta Paul agar menemuinya di rumah sakit. Berbagai macam skenario bermunculan di benaknya, yang seluruhnya menakutkan, karena Paul benar-benar memiliki kepedulian terhadap wanita tua itu. Kedekatan yang terjalin di antara mereka membuat Paul merasa seolah ibunya selalu berada di sisinya.


Lalu, apa yang dia lakukan di rumah sakit?


"Marissa, kau mengejutkanku setengah mati. Ada apa? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Paul, masih mengamati Marissa.


"Ini Bianka." jawabnya.


Paul memutar mata ketika mendengar nama kekasihnya di sebut. Jelas sekali bukan seseorang yang ingin dilihatnya saat itu. "Sungguh, Marissa?" Dia memulai, sebelah alisnya terangkat tinggi. "Aku tidak mau mendengar apa pun tentang wanita egois itu. Dan aku tidak mengapresiasi upayamu menipuku untuk berbicara dengannya." Bisik Paul dengan kasar, berusaha tidak menarik perhatian.


"Dia pingsan dan belum sadar sampai saat ini." kata Franda, yang tiba-tiba muncul dari belakang Paul dengan wajah pucat.


Paul merasa jantungnya berhenti berdegup sesaat. Dia tahu keluarga Bianka tidak mungkin berbohong untuk sesuatu seserius itu. Tak peduli sebesar apa kemarahan yang dirasakannya, dia tidak akan pernah mengharapkan sesuatu yang buruk menimpa Bianka.


"Apa yang terjadi? Dimana dia?" tanya Paul, suaranya serak dan berat.


"Mereka membawanya ke bagian radiologi. Ayo, ikuti aku. Akan kujelaskan selagi kita menunggu di ruangannya." ujar Franda, menggamit siku ibunya dan langsung melangkah.


"Okay."


Perjalanan menuju ruang perawatan terasa begitu lama sementara Paul menebak-nebak apa yang terjadi pada kekasihnya. Dia tidak mengira perpisahan mereka begitu mempengaruhi Bianka. Setelah melihatnya di rumah Sean tadi, sebenarnya Paul tak tega untuk berbalik, tapi amarah di dadanya masih membengkak.


Dia menyadari kondisi Bianka yang memprihatinkan, membuat hatinya terpilin. Namun, itu bukan apa-apa di banding ucapan dokter yang menangani Bianka. Dunianya seketika jungkir balik dengan cara yang sangat mengerikan.


Keguguran!


Kata itu terus terngiang di benaknya. Dokter sudah meninggalkan ruang perawatan beberapa menit yang lalu, meninggalkan mereka bersama Bianka yang masih tak sadarkan diri. Diagnosa dokter Bianka mengalami keguguran, kelelahan, dehidrasi, tekanan darah rendah, dan gegar otak ringan. Hasil pemeriksaan radiologi telah mengkonfirmasi gegar otaknya. Beruntung, tidak ada cedera serius. Kemungkinan besar Bianka diperbolehkan pulang dalam satu atau dua hari. Setidaknya begitulah yang disampaikan oleh dokter.


Paul tidak bisa mengalihkan pandangan dari tubuh rapuh kekasihnya yang terbaring tak berdaya. Lingkaran hitam di sekitar matanya, tulang pipi yang menonjol, dan kulitnya pucat. Ini bukan penampakan wanita yang membuatnya tergila-gila.


"Dia terlihat sangat lemah." Keputusasaan terdengar pada suara lirihnya, hatinya berdenyut menyakitkan.


Paul merasakan remasan Marissa di pundaknya. "Dia pasti baik-baik saja, Paul. Bianka wanita tangguh."


"Benarkah?" tanya Paul, menggelengkan kepala, matanya berlinang air yang siap luruh.


"Paul..."


"Aku mencintainya, Marissa. Tak peduli sebesar apa kesalahannya, aku tetap tidak..." Dia meledak dalam tangis, tak sanggup meneruskan kata-kata. Dengan lembut Marissa memeluk pundaknya.


"Dia akan baik-baik saja." gumamnya mengulangi. "Everything will be okay."


"Ini kesalahanku. Sepenuhnya salahku."