My Love Journey's

My Love Journey's
Work Day



From: Paul: Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu saat mengenakan gaun malam itu x


Aku tersenyum geli membaca pesannya lalu menyelipkan ponsel ke dalam saku celana seragamku.


"Bianka, bagus!" Dr. Grey menaikkan kacamatanya dan menoleh aku memasuki ruang perawatan.


Di atas ranjang pasien, terbaring seorang pria yang mabuk parah dengan perban membalut kepalanya.


"Aku perlu bantuanmu memeriksa keadaannya, mengganti perban, dan memasang selang infus." Perintah Dr. Grey padaku.


"Baik, Dok." Merasa ingin membuatnya senang, tanpa menunggu lama aku langsung mendekati ranjang pasien sementara Dr. Grey keluar dari ruang perawatan.


"Selamat pagi, Sir." Aku tersenyum kepada pria mabuk gitu. "Apa kau keberatan kalau aku mengganti perbanmu sekarang?"


"Sama sekali tidak, luv." Dia memandangiku, dan aroma alkohol yang kuat menguap dari mulutnya. Berusaha bersikap profesional, aku mengabaikan ketidaknyamanan itu.


Dia memperhatikanku dengan seksama selagi aku mengganti perban di kepalanya. "Eyy, bukankah kau perawat seksi yang sedang ramai diperbincangkan orang-orang?" Dia melantur, mencoba menegakkan tubuhnya.


"Sir, tolong diam sebentar." kataku. "Kalau kau mau duduk, aku dengan senang hati bisa menaikkan sandaran ranjang..."


Rasanya sangat menyedihkan bagiku melihat dia semabuk ini padahal jam baru menunjukkan angka sepuluh di pagi hari. Aku sudah berada di rumah sakit sejak jam empat subuh, namun para pemabuk sepertinya selalu mulai datang pada sekitar waktu ini. Beberapa dari mereka mungkin minum semalaman, sementara yang lainnya minum begitu matahari terbit.


Ketika aku menaikkan sandaran ranjang untuk memudahkan kegiatanku mengganti perban, pria itu dengan cepat menjulurkan tangannya dan mencengkeram bokongku dengan keras, hingga ujung jemarinya terasa menancap di kulitku.


Spontan aku memekik dan melompat atas tindakannya yang kurang ajar. Tidak ingin membuat drama berlebihan yang mungkin bisa saja membuat Dr. Grey menganggapku tidak kompeten, kuputuskan mencoba sekali lagi.


"Sir, itu bentuk kekerasan seksual. Tolong, biarkan aku membantumu dengan tenang." Aku masih perusahaan mempertahankan kesopanan meskipun suaraku cukup bergetar.


Pria ini, yang sedang kehilangan pikirannya, tetap memandangiku. "Apa kau mengijinkan Paul Klug melakukan itu padamu, luv?" tanyanya dengan seringai menjijikan.


Aku menghela napas, menahan diri agar tidak memukulnya. "Aku akan melepas perbanmu sekarang. Aku bisa memanggil petugas keamanan untuk mengurusmu kalau kau berani menyentuhku sekali lagi."


"Ah, kau payah." dengkurnya sambil terkekeh.


Aku lanjut membuka perban sambil terus mengawasi pergerakan tangannya. Kemudian aku membuang perban bekas itu lalu melilitkan yang baru di kepalanya. "Aku akan menyiapkan cairan infus untukmu, Sir, itu bisa membantu menyeimbangkan cairan tubuhmu mengingat besarnya kadar alkohol dalam darahmu saat ini."


"Apa kau tahu apa yang begitu kusukai saat ini, Nona Perawat?" Dia memintaku mendekat. Aku hanya maju selangkah, menjaga jarak aman agar dia tidak bisa menyentuhku.


"Apa yang kau sukai, Sir?" tanyaku, masih bersikap sopan meskipun aku bisa menebak yang berikutnya akan keluar dari mulutnya merupakan sesuatu yang memuakkan.


Sebaris seringai licik yang muncul di sudut bibirnya benar-benar menjijikan. Dan yang membuat situasi ini menjadi lebih tak nyaman adalah karena dia tahu kalau aku dan Paul sedang menjalin hubungan.


"Kau menutup pintu itu, lalu menunjukkan padaku apa yang ada dibalik seragammu..."


Aku memilih mengabaikan ucapannya dan menaruh papan informasi pemeriksaan ke penyangga yang ada pada bagian kaki ranjang pasien. Sepertinya dia terjatuh saat mabuk, menyebabkan dia mengalami gegar otak dan berakhir di rumah sakit.


"Aku akan kembali dalam beberapa menit, Sir. Tetap duduk di tempatmu." Aku memutar kaki lalu melangkah ke luar ruangan.


Belum pernah aku mendapatkan pasien seperti ini sebelumnya di rumah sakit ini. Aku tahu Dr. Grey sedang mengujiku, melihat bagaimana aku akan menangani pasien yang berpotensi melakukan kejahatan seksual.


"Sudah selesai, Sir." Aku mengganyung botol infus pada penyangga, selang yang terbuat dari plastik menjuntai dari sana hingga ke jarum yang tertancap di punggung tangannya. "Ini akan membuat tubuhmu tetap terhidasi dan..."


"Kau pasti mengenakan pakaian dalam yang indah di balik seragammu itu." katanya sambil menarik bagian depan baju seragamku.


"Cukup, Sir." kataku dengan tegas.


Aku menoleh ke belakang untuk melihat Dr. Grey berdiri di depan pintu, mengamati ruangan dengan seksama. Aku mendorong tangan pria itu lalu mundur selangkah dari tepi ranjang. Dia benar-benar sangat mabuk hingga nyaris tak bisa mempertahankan keseimbangan.


"Aku kembali satu jam lagi untuk memeriksamu, Sir. Kau bisa istirahat sekarang."


Dia menggumamkan sesuatu yang tak pantas didengar saat aku melangkah ke arah pintu dan mengikuti Dr. Grey. "Kerja bagus, Bianka." katanya seraya menganggukkan kepala. "Sekarang, aku butuh bantuanmu memeriksa seorang ibu hamil. Usia kandungannya delapan bulan dan mengalami kram pada perut bagian bawah..."


***


"Bagaimana progres hubunganmu dengan Elise?" tanyaku pada Stacey begitu seorang pelayan di sebuah restoran kecil mengantarkan pesanan kami.


Dia tersenyum. "Sangat pesat. Aku sungguh berpikir kami mungkin akan melangkah ke arah yang lebih jelas... Well, kami mengobrol dan berciuman. Sejauh ini, hanya itu yang terjadi."


"Aww, that's sweet." kataku, ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan teman baikku.


"Ya... entahlah, aku tidak ingin terlalu mendesaknya." cetus Stacey, meneguk air minumnya.


Aku mengangguk. "Begitu lebih baik. Ikuti kemana arusnya mengalir." gumamku.


"Aku setuju. Hei, kau tahu? Seseorang membocorkan soal rencanamu menemui Paul di Rusia minggu depan kepada wartawan." kata Stacey mengumumkan.


Aku mengernyit, bingung. Teman-temanku sudah tahu kemungkinan aku akan terbang ke Rusia, tapi aku sama sekali belum mengatakan jawaban yang jelas mereka. Yang tahu pasti soal rencana itu hanya Paul, ayahku, Louis, dan Lucy.


"Oh," Aku kehilangan kata-kata. Ini benar-benar gila, bagaimana mungkin sesuatu yang belum kukatakan pada teman-temanku sudah tersebar luas di media?


Apa mungkin ada orang lain yang mendengar obrolan kami di klub waktu itu dan menarik kesimpulan secara sepihak? Louis tidak mungkin melakukan itu, aku mengenalnya. Begitu pula dengan ayahku. Tapi, Lucy... apakah dia yang membocorkan itu?


"Omong-omong, bagaimana perkembangan hubungan kalian?" tanya Stacey.


Aku mengangkat bahu. "Masih baik-baik saja. Aku tidak tempat menonton pertandingan mereka melawan Belgia tadi malam, aku terkapar begitu sampai di rumah." sahutku sambil tertawa. "Dan sekarang aku merasa tak enak hati."


"Pffft!" Dia menggeleng tak percaya. "Dia tidak bisa memaksamu menonton setiap pertandingan mereka."


"Sama sekali tidak, S. Itu pertandingan pertama setelah cedera yang dialaminya, dan koran pagi ini mengatakan itu bukan performa terbaiknya. Di samping itu, sebentar lagi mereka memasuki babak final..."


"Bianka, dengarkan aku. Sama sepertimu, aku tidak paham apapun soal sepak bola, tapi aku percaya pada apa yang kubaca di koran." Stacey menyeringai. "Jerman pasti bisa menghancurkan Prancis, dan keluar sebagai pemenang." Aku tertawa.


Aku menceritakan kunjungan Paul dan aku ke rumah ayahku akhir pekan kemarin pada Stacey, juga tentang betapa baiknya Lucy padaku, bahkan setelah aku memergoki dia dan Paul diam-diam mengobrol.


"Agak mencurigakan. Aku tidak menyukainya." Stacey langsung menyimpulkan.