
Aku terbangun dengan rasa sakit yang keras menghantam kepala. Kulirik Valerie yang masih lelap di sampingku, lalu kujulurkan tangan meraih ponsel dan melihat apakah ada pesan dari Paul. Tapi tidak ada.
Masih pagi pikiranku sudah kacau dan melayang kemana-mana. Sakit kepala yang kurasakan bercampur kekhawatiran dan ketakutan yang kini kembali berkecamuk, ditambah lagi ingatan tentang model Spanyol itu dan komunikasi kami yang tak diragukan lagi perlahan terputus. Semuanya seakan memberi isyarat jelas kalau Paul dan aku tidak bisa bekerja sama mempertahankan hubungan kami.
Aku beringsut dari ranjang dan turun ke lantai bawah. Sejenak memperhatikan keadaan rumahku yang sebenarnya tidak terlalu berantakan seperti isi pikiranku saat ini, tapi kurasa sedikit beres-beres pasti sangat membantu menyegarkan kekalutan di kepalaku.
Tiba di dapur, aku langsung membuat kopi lalu membawanya melintasi ruang keluarga dan berdiri di depan jendela sambil memandang jalan di depan rumahku. Hari ini cuaca di luar sedikit berawan, yang tampaknya mendukung suasana hatiku yang juga mendung.
Setelah Valerie dan Elliot membantuku membersihkan rumah dan pulang, aku berencana tetap berada di rumah, bersantai sembari menonton film dengan Frosty, dan menjauhkan diri dari segala hal yang membuat pikiranku terus mengingat Paul.
Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini, atau kemana alam akan menuntunku mengarahkan langkah ke depannya. Ketika di Spanyol, Paul sangat terbuka padaku, membuatku merasa kalau perasaan di antara kami semakin kuat. Untuk beberapa waktu aku percaya kalau jarak tidak akan mungkin bisa memisahkan kami.
Tapi sekarang, setelah empat bulan berlalu sejak kepergiannya, aku merasa ikatannya terhadapku sudah terlepas. Yang lebih menyedihkan lagi, terkadang aku berpikir kehadiranku di sisi Paul tak ada bedanya dengan Carmen atau deretan model seksi yang hanya menghangatkan ranjangnya.
Aku tidak bermaksud merendahkan diri sendiri atau tidak percaya pada janjinya, aku hanya mencoba berpikir realistis, memandang sesuatu dari arah yang berbeda, dan bukan tidak mungkin ketakutanku menjadi kenyataan. Kenyataannya hingga saat ini aku masih belum bisa beradaptasi dengan kehidupan glamornya. Aku hanya gadis biasa yang menolak percaya pada kisah Cinderella, bahkan hingga saat ini, dan mungkin selamanya akan seperti itu.
Ada saat dimana terkadang aku berharap tidak terlalu mencintai pekerjaanku sebagai perawat, maka mungkin aku bisa mengikuti Paul kemanapun dia pergi dan menyerahkan seluruh hidupku padanya. Namun, itu sama sekali bukan diriku. Aku tidak mau memaksakan diri dan terjebak dalam situasi yang aku sendiri tidak menyukainya.
"Hey,"
Aku terlonjak mendengar suara berat dari belakangku, menyadarkanku dari lamunan. Kuputar kepala dan mendapati Elliot berdiri di tepi sofa. "Hei. Apa tidurmu nyenyak?"
"Ya. Terima kasih." Dia menganggukkan kepala, kemudian mengambil langkah kecil mendekatiku. Dia hanya mengenakan celana boxer, yang sejujurnya agak mengganggu kenyamanan mataku. "Bagaimana denganmu?"
"Tidak terlalu. Rasanya kepalaku mau pecah." sahutku lalu kembali melempar pandangan ke luar rumah.
Elliot terkekeh pelan. "Aku juga."
"Di dapur ada kopi, kalau mau buat sendiri." kataku menawarkan sebelum mengangkat gelas dan menyesap kopiku.
"Terima kasih..." Dia maju hingga tepat berdiri disampingku. "Bianka?"
"Hm?" Ragu-ragu, aku berputar menghadapnya.
Aku memandang gerak-gerik Elliot yang tampak gugup. Dia mengusap tengkuk sambil menundukkan pandangan sejenak sebelum kembali menatapku. "Mungkin kau sudah mengetahuinya dengan jelas, tapi aku menyukaimu. Sangat menyukaimu." katanya memulai, dan hatiku langsung menciut.
Rasa sakit kepalaku yang berdenyut-denyut meredam suaranya, dan juga segala sesuatu di sekitar kami. Bahkan deru suara mobil tetanggaku kini terdengar samar-samar berhenti di luar, meski aku tidak yakin apakah itu benar-benar mobil tetanggaku atau bukan.
"Bianka?"
"Apa?" Suaraku terdengar lebih keras dari yang kukira, nyaris membentak. Perubahan ekspresi Elliot membuatku merasa bersalah. "Maaf. Pikiranku sedikit kacau belakangan ini karena masalah pribadi sampai urusan pekerjaan dan yang lainnya... Sebenarnya hubunganku dan Paul sedang memburuk, dan... aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu."
Aku menggelengkan kepala, ingin secepatnya menghilang dari hadapan Elliot tapi tidak mungkin aku terus menerus kabur darinya. Elliot harus tahu posisinya.
"Tidak apa-apa," katanya dengan lembut. "Kau wanita luar biasa, Bianka. Kurasa Paul tidak menyadari betapa beruntungnya dia memilkimu jika hubungan kalian sedang bermasalah."
"Terima kasih. Aku juga beruntung memilikinya." satu tawa bernada sedih keluar dari mulutku, kuharap Elliot tidak menangkapnya. "Semoga kau senang dengan kejutan semalam."
Elliot terdiam. Kemudian, alih-alih mengatakan sesuatu untuk merespon kalimatku, dengan satu gerakan cepat dia justru memajukan wajahnya, menangkup pipiku dan menciumku. Wajahku langsung terasa panas karena sikapnya yang lancang dan aku berjuang menarik diri sambil mempertahankan gelas kopiku agar tidak terjatuh. Begitu berhasil terlepas darinya, dengan kasar kujauhkan tangannya dariku.
Aku mendengus, menatap tajam Elliot yang kini gugup. "Aku minta maaf... Aku hanya... aku bisa memperlakukanmu lebih baik. Akan kubantu kau melupakannya, Bianka."
"Sudah kukatakan padamu semalam, Elliot. Kau hanya teman bagiku. Aku..." Ucapanku terpotong saat bel pintu tiba-tiba berbunyi lalu diikuti ketukan keras dan tak sabaran. "Jangan pernah berharap padaku." dengusku gusar, kemudian melangkah ke pintu.
"Bianka, aku..."
Aku membuka pintu, gelas di tanganku nyaris terhempas karena terkejut dengan pemandangan yang kusaksikan. Jantungku seakan berhenti berdetak begitu melihat Paul berdiri di depan pintu sambil memegang sebuket bunga mawar merah di tangannya.
"P-Paul?" kataku tergagap.
Tanpa mengatakan apapun, Paul menyodorkan bungan ke tanganku dengan kasar lalu masuk ke dalam rumah. "Siapa kau?" tanyanya gusar.
Buru-buru kuletakkan bunga dan gelas ke atas meja kecil lalu mendekatinya. "Paul. Kumohon, jangan..."
Paul berdiri dengan gaya amat mengancam beberapa langkah dari Elliot yang terlihat sangat ketakutan dan secara fisik lebih kecil dan lemah. Aku tahu pasti Paul bisa dengan mudah menyakiti pemuda kurus itu, dan berharap dia akan tenang dan mendengarkanku sebelum membiarkan emosinya mengambil alih.
"Aku hanya... Uhh, aku ingin membuat kopi." gumam Elliot tergagap.
"Omong kosong. Kau pikir kau siapa berani mencium tunanganku? Apa kau bahkan tahu siapa aku?" kata Paul sembari mendekati Elliot dengan gerakan mengancam.
"Ini hanya salah paham, tenanglah..." kataku lalu berdiri di depannya. Aku mengangkat tangan memangkup rahangnya yang mengeras.
"Apa kalian tidur bersama semalam?" cetus Paul tiba-tiba menyimpulkan, kemudian dia mengambil langkah mundur dengan raut jijik menatapku. Tatapan kami bertemu saat aku menggelengkan kepala.
"Apa? Tentu saja tidak! Ini Elliot, teman kerjaku di rumah sakit. Kami merayakan ulang tahunnya disini tadi malam." gumamku menjelaskan. Jantungku berdegup semakin kencang melihat wajah Paul yang memerah. Aku menoleh ke balik bahu. "Elliot, pergi."
Elliot menurut, dengan langkah tergesa-gesa berderap ke dapur, meninggalkan Paul dan aku. "Kenapa kau bisa berada disini?" tanyaku sambil melipat kedua tangan di dada.
Paul mendengus kasar. "Aku membawa berita baik dan ingin memberi kejutan untukmu. Kenapa dia berpakaian seperti itu, Bianka? kenapa kalian berciuman?"
"Kami tidak berciuman. Dia menciumku dan aku mundur." jawabku. "Elliot menyukaiku, tapi dia hanya teman bagiku. Itu saja... Sekarang, berita baik apa yang kau punya?"
Aku sangat ingin memeluk dan menciumnya, namun perasaan takut akan penolakan dari Paul menguap lebih besar.
Paul menggelengkan kepala. "Aku ingin dia keluar dari sini sekarang juga."
"Paul," desisku seraya mengernyit. "Dia baru bangun dan Valerie masih tidur di kamarku. Mereka akan membantuku membereskan kekacauan disini sebelum pulang. Ayolah, kumohon jangan membuat drama tak penting pagi-pagi begini."
"Tidak. Suruh dia pergi sekarang." Paul bersikeras, dan aku tahu pasti dia tidak mungkin melunak dengan mudah. "Aku serius, Bianka. Dia baru saja menciummu! Ya Tuhan... aku tidak mau dia berada di dekatmu lagi. Selamanya."
Aku paham bagaimana takutnya Paul andai aku menemukan pria lain sementara dia berada di Spanyol dan tak bisa melakukan apa-apa. Aku mengerti kenapa dia bersikap sangat protektif sekarang, dan aku juga akan melakukan hal yang sama jika melihat wanita lain menciumnya.
Aku mulai membayangkan bagaimana sakitnya saat mendapati seorang wanita tidur di rumah Paul, dan menyaksikan wanita itu menciumnya. Meskipun dia menolak seperti yang kulakukan pada Elliot, aku pasti tetap akan marah.
"Aku bisa menendang bokongnya dengan senang hati kalau kau..."
"Tidak perlu, Paul." sergahku. "Aku akan membangunkan Valerie lalu kami akan bersih-bersih sebentar sebelum mereka pulang." Aku mencoba tersenyum sambil berharap semoga ini tidak menyebabkan masalah baru pada hubungan kami.
Paul menatapmu selama beberapa saat sebelum akhirnya bersuara. "Bagus. Aku, aku harus pergi."
Dengan alis berkerut, aku mendekatinya. "Kenapa? Tunggulah sebentar, kami tidak akan lama." kataku sambil tersenyum lagi. "Atau kau bisa istirahat di kamarku. Apa kau tidak lelah? Kapan kau tiba di Jerman?"
"Satu jam yang lalu." Dia berdeham, perlahan mundur selangkah. "Aku butuh waktu untuk berpikir. Dan tolong, suruh dia pergi secepatnya, Bianka. Kalau bisa sekarang."
"Ya, ya. Aku akan mengatakannya pada Elliot." kataku meyakinkannya. "Tak ada alasan kau marah, aku tidak..."
Seakan tidak mau mendengarkan apapun lagi, Paul berbalik dan mulai melangkah cepat ke arah pintu. "No. Don't leave." Aku meraih pergelangan tangannya.
"Aku belum tidur sama sekali. Aku sengaja pulang dan berniat memberi kejutan untukmu, tapi malah aku yang terkejut dengan pemandangan yang kusaksikan." Paul mendengus. "Aku membuang kesempatan besar dalam karirku untukmu, Bianka. Aku melakukannya karena kau!"
"Apa? Apa maksudmu?"
Dia menyusurkan jemari ke rambutnya dengan kasar lalu menggelengkan kepala. "Aku datang untuk memberitahumu kalau kami berhasil memotong masa transferku di Real Madrid. Kontrakku hanya sampai bulan depan. Manajer dan pengacaraku..."
"Apa? Kau serius?" Tanpa sadar, aku mundur selangkah darinya. "Kau membuang mimpimu untukku? Paul, sudah kubilang aku tidak mau menjadi penghalang bagimu. Kau... Astaga..."
Aku benar-benar tidak menyukai ini. Bukan sekali dua kali aku mengatakan padanya untuk tidak mengutamakanku, tapi berkali-kali. Aku tidak suka dengan gagasan dia mengorbankan mimpinya agar bisa terus bersamaku. Tentu, aku paham maksudnya melakukan itu, tapi aku juga tahu betapa besar rasa cintanya terhadap sepak bola, dan aku tidak mau menghancurkan harapannya.
"Aku melakukannya agar kita bisa bersama, Bianka."
"Tidak, Paul." Aku menggeleng lagi. "Real Madrid merupakan satu-satunya kesempatan bagimu. Aku sendiri melihat betapa bahagianya kau saat bermain dengan mereka. Kau..."
"Kau tidak akan pernah mengerti, Bianka! Dengar, kabari aku saat kau sendiri. Aku akan kembali nanti." Dia membuka pintu dan hendak melangkah keluar.
"Paul..." panggilku pelan, dan dia menoleh. Aku maju lalu memeluknya erat-erat. "Aku akan mengabarimu secepatnya."
Dengan ragu-ragu, dia balas memelukku sejenak sebelum akhirnya benar-benar pergi.