My Love Journey's

My Love Journey's
Before The Lunch



Aku beruntung. Paul benar-benar memberiku waktu persis seperti yang kubutuhkan, bahkan lebih lama dari yang kukira. Dia sama sekali tidak menghubungiku selama dua minggu belakangan, tidak juga mengirim pesan.


Aku tahu kemenangan mereka di Piala Dunia pasti membuat jadwalnya semakin padat, dengan beberapa kegiatan perayaan di depan publik bersama tim nasional sepak bola Jerman. Tepat seperti yang kubilang sebelumnya, seluruh penjuru Berlin menggila pada even luar biasa tahun ini. Skor 2-1 yang dicetak para pemain membuat semua orang bangga dan bersorak gembira sepanjang minggu pertama.


Beberapa video saat Paul berhasil memasukkan bola ke gawang Prancis pada menit-menit terakhir juga masih bertebaran di media. Aku melihat salah satu videonya. Namun dengan cepat segera kuhentikan, karena hatiku sesak mendapati Paul sengaja melakukan kesalahan pada gerakan selebrasinya, meniru gerakanku, alih-alih membuat gerakan yang biasa dia lakukan.


Bahkan setelah semua hal yang terjadi di antara kami, aku benci membayangkan dia bermain dengan sangat baik dan suasana hati yang gembira karena mengira aku menontonnya, sementara yang terjadi adalah aku sedang dalam perjalanan kembali ke Jerman malam itu, meninggalkannya.


Sejak foto Paul dan aku di depan restoran bertebaran di media, orang-orang mulai menyadari kalau Paul melakukan gerakan selebrasi untukku. Membuatku semakin merasa lebih buruk lagi.


Sekarang semua perhatian sedang tertuju padanya karena mendadak dia menghilang dari peredaran. Paul tidak tampak menghadiri beberapa event perayaan atas kemenangan Jerman. Tak ada informasi apapun tentang keberadaannya seolah dia hilang ditelan bumi.


Sebesar apapun kemarahanku padanya yang disebabkan oleh tingkah bodohnya, tak bisa kupungkiri kalau aku begitu merindukannya dan berharap semoga dia baik-baik saja di manapun dia berada.


Ada saat-saat dimana ketika aku sedang sendirian di rumah, keinginan untuk menelponnya muncul begitu kuat mendesakku, sekadar untuk memastikan dia baik-baik saja. Namun, dengan perasaan yang masih bimbang aku selalu berhasil mengurungkan niat itu, karena kami tidak sedang baik-baik saja, atau setidaknya aku masih kecewa padanya. Aku tidak mau buru-buru dalam mengambil keputusan, Paul harus belajar menahan diri.


Ketika mengingat momen dimana aku bekerja seperti orang gila hanya untuk mendapatkan hari libur pada akhir pekan agar bisa terbang ke Rusia menemui Paul, masih membuatku marah dan kesal. Dia jelas mengetahui seberapa besar upayaku untuk menemuinya, mendukungnya secara penuh, tapi dia bahkan dengan egonya tak mau memberitahuku tentang Carmen, Lucy, dan Louis sebelum aku berangkat ke Rusia. Mungkin dia menyadari aku pasti membatalkan keberangkatanku jika dia menceritakan semuanya. Well, memang itu tepatnya yang akan kulakukan.


Malam ini, untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir, Paul mengirim pesan padaku.


From: Paul: Hei...


Jantungku berhenti sesaat berdegup begitu mendapati namanya muncul di layar ponselku. Aku sedang berbaring bersama Frosty yang menumpang di atas perutku, dia tentu tak menyadari bagaimana perasaanku saat ini. Paul dan aku belum membicarakan apapun sejak terakhir kali dia datang ke rumahku ketika aku sedang mengobrol dengan Louis. Aku membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya, dan memang sudah seharusnya kami menyelesaikan masalah ini seperti orang dewasa pada umumnya.


To: Paul: Hei.


From: Paul: Apa kabar?


To: Paul: Baik. Kau?


From: Paul: Aku juga baik. Aku sedang di rumah orang tuaku sekarang.


Aku meringis, teringat dia pernah mengajakku berkunjung ke rumah orang tuanya. Aku penasaran apakah dia menceritakan masalah kami pada mereka atau tidak.


To: Paul: Pasti menyenangkan. Kau berhak mendapatkan itu setelah berjuang di Piala Dunia.


From: Paul: Kau tahu, aku memberitahu ibuku tentang kesalahanku padamu. Dia sangat marah dan tak mau memberiku puding setelah makan malam. Percayalah, dia tidak pernah semarah ini padaku.


To: Paul: Dia melakukan hal yang benar.


Kuharap Paul tidak menganggap serius kalimatku. Butuh waktu agak lama hingga dia membalas pesanku, membuatku gugup menunggu balasan darinya.


From: Paul: Haha. Apa kau sudah mau bicara denganku sekarang?


To: Paul: Sekarang?


From: Paul: Ya, maksudku, besok. Aku sudah cukup memberimu waktu seperti yang kau minta, dan aku juga sudah merenungkan kesalahanku. Aku berharap kau mau meluangkan waktumu, sebentar saja.


To: Paul: Bagaimana jika kita bertemu hari selasa, saat makan siang?


From: Paul: Dengan senang hati. Di rumahmu atau rumahku?


To: Paul: Rumahku.


From: Paul: Terima kasih, Bianka x


Aku tak membalas pesan terakhirnya, dan sebagai gantinya aku malah membalas puluhan pesan dari Stacey, Camille, dan Elise di grup obrolan kami. Valerie dan Red juga mengirim pesan padaku, aku pun turut membalas pesan mereka.


Sepanjang malam aku merenung, mengingat semua rentetan kejadian pada beberapa waktu belakangan, membuatku bingung dan nyaris tak sanggup menghadapinya. Aku tidak pernah menyangka akan mengalami semacam masalah serumit ini dalam hidupku. Bertemu Paul dan terjerumus dalam kehidupannya yang memusingkan, menarikku hingga tenggelam ke dasar situasi menyulitkan.


Sebelumnya kehidupanku terasa tenang dan damai. Aku bebas berkeliaran dimanapun langkahku terhenti, tanpa harus bersembunyi dan mendapatkan tatapan sinis dari orang-orang. Pertemuanku dan Paul di rumah sakit saat itu, tak diragukan lagi, merupakan satu kesalahan besar. Yang lebih membuatku geram adalah karena aku sendiri termakan bujuk rayunya.


Aku begitu bodoh menyerahkan diri padanya. Harus kuakui Paul memang sosok mengagumkan, dia dan segala kemewahan yang melekat di tubuhnya mampu menarik wanita manapun dengan mudah. Satu kata 'Hai' darinya pasti membuatmu meleleh dan menghambur ke pelukannya.


Aku menghela nafas seraya mengusap buli halus Frosty. Kemudian tiba-tiba wajah Louis muncul dalam benakku. Aku bersyukur dia mendengarkan ucapanku untuk benar-benar menendang Lucy dari kehidupannya dan kembali masuk ke pusat rehabilitasi. Aku berencana akan menjenguknya besok.


Louis tidak pernah segila ini sebelumnya. Dia selalu menjadi adikku yang manis. Ayahku dan aku selalu mengutamakan Louis karena dia sering menyalahkan dirinya sendiri akibat kepergian ibuku. Louis menganggap ibuku marah padanya karena dia nakal, tapi sebenarnya tidak begitu.


Saat itu dia terlalu kecil untuk memahami kalau ibuku pergi atas kemauannya sendiri. Aku sendiri tidak pernah mengetahui alasan kepergiannya hingga sekarang, ayahku hanya mengatakan kalau ibuku butuh waktu untuk dirinya sendiri. Namun, hingga bertahun-tahun lamanya, dia tak pernah kembali.


Apa dia benar-benar seterpuruk itu? Entahlah. Ada saat-saat dimana aku sangat merindukannya, ingin melihat wajahnya dan memeluknya, namun dengan cepat keinginan itu selalu berganti menjadi perasaan gusar. Sebagian dari diriku berharap dia sudah mati, namun sebagian lain masih ingin bertanya padanya kenapa dia tega meninggalkan kami. Apa sebenarnya salah kami padanya?