My Love Journey's

My Love Journey's
From Tea To Movie



"Aku tidak percaya kau membuat Frosty mengamuk sampai mencakarmu hanya dalam beberapa menit setelah kau masuk kesini." Aku menggelengkan kepala sambil terkekeh menatapnya.


Dengan hati-hati aku membersihkan luka bekas cakaran Frosty di punggung tangan Paul dengan kapas yang sudah kuberi cairan etanol. "Mungkin alam sedang mengatakan sesuatu padamu." kataku menambahkan, kembali mengalihkan perhatian pada tangannya di pangkuanku.


Aku membuka plester dan menutup lukanya sementara Paul menggerutu. "Hei, aku tidak melakukan apapun. Kucing sialanmu itu yang tidak menyukaiku." balasnya kesal.


Aku mendelik. "Itu bukan salahnya, ya. Dia hanya berusaha melindungiku."


Paul tak mau kalah. "Atau mungkin dia merupakan jelmaan iblis." sinisnya, menarik tangan dari pangkuanku sementara aku merapikan kotak obat.


Aku mengedikkan bahu cuek. "Atau mungkin dia tidak suka pada pria licik yang menipu majikannya agar bisa masuk ke rumahnya." dengkurku sambil memainkan alis.


"Oh, berarti kau juga merasa begitu?" tanyanya menantang.


Tawa halus meluncur dari mulutku. "Tentu, jika pria itu bukan kau. Aku sendiri tidak tahu apa yang kurasakan padamu." Aku menurunkan pandangan ke tangannya yang terluka dan baru saja kuobati. "Kau akan baik-baik saja." sambungku.


Paul menyeringai begitu tatapan kami beradu kembali. "Jika kau terus menatapku seperti itu, aku yakin aku tidak akan baik-baik saja, love."


Meskipun kami hanya duduk di sofa ruang keluarga di rumahku, keremangan di sekitar kami dan jarak kami berdekatan membuat semuanya terasa begitu intim dan hangat. Atau mungkin karena Paul memang memiliki kemampuan dalam menciptakan suasana seperti itu? Aku tidak tahu.


Secara keseluruhan, aku merasa terbakar. Amat sangat terbakar. Keinginanku untuk tidur sebelumnya sekarang tergantikan dengan keinginan untuk memandangnya lebih lama, dan aku sadar kenapa aku melakukannya.


"Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku lagi, love." kata Paul saat aku tidak membalas ucapannya. "Aku berhutang banyak padamu."


"Ya ampun, Paul... itu hanya goresan kecil, kau tidak akan mati karena itu." Aku tertawa, jelas menyatakan ketertarikan melalui mataku. "Jadi... bagaimana kalau aku menyiapkan teh sementara kau memilih film? Aku suka genre apapun..."


Ucapanku terpotong saat Paul tiba-tiba maju dan dengan cepat mencium bibirku. Aku tidak membalas ciumannya meskipun aku sangat menginginkannya. "Paul, kau sudah berjanji hanya mampir untuk segelas teh. Aku benar-benar lelah. Lagi pula, ada beberapa hal yang masih harus kukerjakan." Aku merengut, dengan kesal menggelengkan kepala.


Bukan hanya dia satu-satunya yang kesulitan menahan gairah disini, aku sendiri merasakan hal yang sama. Namun dia seakan tidak peduli dengan dinding pembatas yang sudah kubangun sejak tadi.


"Aku hanya menciummu. Bukan mengajakmu bercinta, Bianka." katanya sambil menyeringai, menatap ekspresiku yang berubah drastis.


"Ya Tuhan..." Aku menghembuskan napas putus asa. "Kurasa aku harus lebih spesifik lain kali."


"Hei, kau terlalu tegang." Dengan genit dia mendorongku. "Aku sangat merindukanmu..."


Aku tersenyum lalu menopang tubuhku pada sandaran sofa dan berdiri. "Kau mau minum teh apa?" tanyaku padanya sebelum melangkah ke dapur. Aku tahu dia tidak benar-benar merindukanku. Dia belum mengenalku sama sedikitpun, dan kami hanya berkencan sekali.


"Terserah. Aku akan meminum apapun yang kau buat." Dia memperhatikanku sesaat sebelum melanjutkan. "Aku akan membantumu..."


"No, no." Dengan cepat aku menggeleng, tawa canggung keluar dari sela-sela bibirku. "Aku bisa membuatnya sendiri. Tetap berada ditempatmu sampai aku kembali, dan hati-hati dengan Frosty, oke?"


Paul terkekeh. "Okay, okay." Kedipan matanya yang genit membuat jantungku semakin berdebar keras selagi aku berbalik dan melangkah menuju dapur. Oh, Lord... apa yang harus kulakukan padanya?


Ketika aku sedang menyiapkan teh sambil melarikan diri sejenak untuk menyelamatkan kesehatan mentalku dari pesonanya yang memabukkan, aku membuka ponsel dan membaca satu pesan masuk.


From: Travis: Apa kau mau makan malam bersamaku nanti? Kuharap kau pulang dengan selamat x


Aku mengeryit lalu melihat jam dan mengerang saat melihat waktu menunjukkan sudah lewat tengah malam. Kuputuskan untuk membalas pesan Travis besok pagi, aku sendiri belum tahu apa yang harus kulakukan untuk menghadapi Paul.


Aku kembali ke ruang keluarga membawa dua gelas teh. "Here you go," Aku menyerahkan segelas teh padanya sambil tersenyum. Dia menerimanya lalu mengucapkan terima kasih sementara aku duduk di sampingnya.


"Film apa ini?" tanyaku, memandang ke arah TV yang menggantung di dinding, menayangkan sebuah film yang belum pernah kutonton.


"Kau tidak tahu ini film apa?" balasnya bertanya dengan nada terkejut yang kentara.


Aku belum menyadari seberapa dekat jarak kami sampai aku memutar kepala menatapnya. Aku menggeleng kemudian mendekatkan gelas ke mulutku, menunggu dia menjawab sambil menyesap teh.


"Memangnya film apa ini?" Aku bertanya sekali lagi, menautkan alis penasaran.


"Avatar. Kau benar-benar tidak pernah menontonnya?" Dia masih tidak percaya. "Ya ampun... ini film bagus, Bianka!"


"Aku bukan pengamat film." balasku cuek. "Aku pernah dengar soal Avatar, tapi tidak pernah menontonnya."


Paul hanya mengangguk, mengembalikan pandangannya ke depan. Aku mengikuti gerakannya, mencoba memahami Avatar atau apapun itu meski aku sudah melewatkan beberapa menit pertama.


"Apa yang akan kita lakukan untuk kencan besok?" Aku bersuara setelah beberapa menit. Aku perlu mengetahui rencananya agar bisa membalas pesan Travis.


Paul menoleh, mata dan mulutnya tersenyum penuh kemenangan. "Bagaimana kalau kau ke rumahku? Aku bisa menyiapkan makan malam, melayanimu dan yah... melakukan sesuatu yang disukai para wanita pada umumnya."


Kenapa tarikannya begitu kuat terhadapku, dan kenapa aku merasa perlu menolaknya? Ugh!


"Bagaimana jika makan siang?"


"Aku latihan. Kenapa? Apa kau bekerja besok?" Paul sudah menghabiskan tehnya dan maju untuk meletakkan gelas ke atas meja, kemudian kembali bersandar di sofa. Dengan santai, dia menjulurkan tangannya di sepanjang sandaran sofa di belakangku dan memainkan rambutku.


"Tidak. Travis juga mengajakku makan malam." Aku mengedikkan bahu dan menghabiskan teh milikku.


Paul terdiam selama beberapa detik hingga suaranya terdengar kembali. "Kau berkencan dengan Travis?"


"Hanya makan malam." balasku. Travis memang tidak mengajakku berkencan.


"Baginya itu kencan, Bianka." katanya menegaskan, masih memainkan rambutku.


Aku tertawa, nyaris menyandarkan kepala ke bahunya. "Skip. Biarkan itu menjadi urusanku dan Travis." Aku mengingatkannya untuk tidak melewati batas dengan mencampuri urusan satu sama lain.


Paul mengangguk. "Baiklah. Ini sudah malam, apa kau keberatan jika aku menginap?"


Aku mengernyit, tak senang mendengar permintaannya, namun segera menjawab. "Okay, tapi kau tidur di sofa."


Ekspersi senang yang sejak tadi menghiasi wajahnya lenyap begitu saja, digantikan dengan raut syok yang sangat jelas. "Apa? Tidak di kamarmu?"


Aku menggeleng tegas. "Kita tahu kemana akhirnya kalau kau tidu di kamarku, Paul. Lagi pula, aku harus bangun pagi."


"Kau libur, kan? Kenapa kau harus belajar di hari libur?"


Kami sudah menghabiskan teh masing-masing sementara TV masih menayangkan Avatar.


"Bagiku belajar dan bekerja sama pentingnya seperti bermain bola untukmu, Paul." sahutku. "Aku yakin kau tetap menendang bolamu di hari libur."


"Ya, tapi belakangan aku benar-benar ingin menghabiskan waktu bersamamu saat libur." Dia menyeringai sementara aku memutar bola mata sambil tertawa.


"Kau sangat menggemaskan saat tertawa, aku menyukai..."


"Cukup." cetusku dengan cepat memotong ucapannya. "Aku akan membawakanmu bantal dan selimut. Tunggu sebentar, oke?"


Paul mengangkat kedua tangan tanda menyerah ketika aku berdiri. Aku melangkah ke lantai atas mengambil bantal dan selimut untuknya.


Saat aku kembali turun, aku nyaris menjerit begitu melihatnya berdiri di ruang keluarga sedang menurunkan celananya. Paul menghentikan aksinya lalu memandangku.


"Apa yang kau lakukan?" gumamku dengan mata melotot sementara tubuhku bereaksi cepat ketika melihat otot dadanya yang menggiurkan.


Aku masih berdiri di anak tangga terakhir saat Paul menjawabku. "I sleep naked, Rapunzel. Kupikir kau sudah tahu itu..."