
Aku sungguh-sungguh beruntung hari ini jam kerjaku tidak terlalu panjang, jadi aku bisa pulang sebelum tengah malam.
Paul masih berada di rumah sakit hingga saat ini, kurasa sengaja menunggu sampai aku pulang agar kami bisa ke rumahnya bersama-sama. Aku benar-benar tidak mengharapkan apapun, yang kuinginkan hanya menerima sedikit kenyamanan saat berdua dengannya. Sungguh, tidak lebih.
Setelah mengganti seragam, aku keluar dari ruang ganti dan segera menuju ke ruang perawatan Daniel, aku ingin mengobrol sejenak dengannya sebelum aku menemui Paul.
Aku menerima tawaran Paul untuk ikut ke rumahnya karena memang ada beberapa hal yang perlu kami bicarakan. Aku ingin dia tahu kalau kebencian yang kuterima dari orang-orang karena sudah berhubungan dengannya sangat menggangguku saat ini. Di samping itu, aku juga tidak terlalu besok, hanya beberapa jam kelas sore bersama Dr. Grey yang harus kuikuti. Jadi, kurasa tidak masalah kalau aku menginap di rumah Paul malam ini.
Aku mengerutkan alis bingung, memelankan langkah begitu mendekati ruang perawatan Daniel dan mendapati beberapa orang perawat sedang memandang ke dalam ruangan yang terbuka, mereka tertawa geli dan berbisik dengan raut antusias yang sangat jelas.
"Hei, ada apa?" tanyaku pada salah satu perawat, sebelum ikut melirik ke dalam ruangan.
"Paul Klug! Dia di dalam." salah dari mereka menjawab dengan bisikan histeris.
Dengan pelan aku melewati mereka, melangkah maju dan menoleh ke dalam. Disana Paul sedang duduk berhadapan dengan Daniel yang dudul di kursi rodanya. Dia menunjukkan sesuatu di ponselnya pada Daniel, dan keduanya tertawa melihat itu. Aku mengamati sesaat selagi Daniel mulai menceritakan sesuatu kepada Paul, suara kecilnya terdengar sangat antusias.
Salah satu dari perawat di sampingku mengambil foto mereka dengan kamera ponsel dan flash-nya menyala, entah sengaja atau tidak, aku tidak tahu. Paul memutar kepala, tampak tidak senang dengan kegiatan mereka namun tidak mengatakan apapun karena Daniel sedang dalam mode semangat yang berlebihan.
Kemudian dia menatapku dan tersenyum. "Hei, Bianka! Kemarilah..."
Daniel menoleh dengan wajah berseri-seri lalu memintaku mendekat dengan gerakan tangannya. "Ya, Miss... kau boleh bergabung."
Aku sempat mendengar beberapa gumaman heran dari beberapa perawat di sampingku sebelum aku melangkah ke dalam.
"Love, bisakah kau menutup pintunya?" Paul menambahkan, memajukan dagu menunjuk ke arah para perawat yang nyaris meneteskan air liur memandangnya.
Aku mengangguk. "Ya," gumamku pelan, mengabaikan tatapan penasaran para perawat itu lalu berbalik ke arah Paul dan Daniel. "Apa yang kalian lakukan?" tanyaku selagi duduk di samping kursi roda Daniel.
"Aku bilang ke Daniel kalau aku menghabiskan waktu sekitar lima menit menggoda salah satu rekanmu agar dia menunjukkan ruang perawatan Daniel." Paul menjelaskan, dengan sengaja menyeringa padaku. Aku merasa seakan dia menyampaikan bahwa dia melakukan ini karena aku memintanya dan aku senang menyaksikan dia terlihat menikmati waktu bersama Daniel.
Aku terkekeh, "Oh, wow." cetusku, memalingkan wajah ke Daniel. "Apa dia mengganggumu?"
"No! Kami menonton ulang pertandingan Jerman vs Kolombia." kata Daniel dengan raut bersinar.
Aku tersenyum mendengar suaranya yang kecil dan menggemaskan sementara menyadari Paul sedang mengamatiku. "Bagus. Siapa yang menang?"
"Tentu saja kita!" serunya, dengan semangat melakukan high-five dengan Paul.
"Ah, tentu saja!" Aku mengangguk, lalu menatap Paul. "Aku sudah selesai, kita pulang sekarang? Ini sudah larut, Daniel... aku yakin ibumu ingin kau segera tidur sekarang."
"Aku sanggup begadang, lho." gumamnya menyombongkan diri pada Paul yang mengangguk paham. Sangat mengagumkan menyaksikan mereka mengobrol seperti ini dan aku tidak bisa berhenti tersenyum.
"Bianka seperti nenek-nenek, dia akan masuk ke kamar begitu matahari terbenam." kata Paul sambil terkikik sementara Daniel terpingkal menatapku.
"Benarkah?" tanyanya penasaran.
"Oh, okay." Daniel mengangguk.
"Senang mengobrol denganmu, little man." gumam Paul seraya mengacak-acak rambut Daniel.
"Maukah kau mengunjungiku lagi? Aku akan meminta izin pada ibuku, dan kita bisa bermain bola di taman dekat rumah sakit." Dia kembali bersemangat, membuat hatiku sedikit hancur. Setidaknya, mereka bisa menendang bola sedikit, meskipun aku tahu Daniel tidak akan bisa bermain sepak bola lagi.
"Tentu saja. Namun aku perlu menyembuhkan kakiku lebih dulu dan membuat negara kita menang di Piala Dunia." sahut Paul, menepuk pundak Daniel.
Aku menyaksikan mereka saling berpamitan sambil mengenakan jaket. Sebelum kami benar-benar pergi dari ruang perawatan Daniel, keduanya menyempatkan foto bersama.
"Kau berhasil mengembalikan semangatnya," gumamku pada Paul saat kami berjalan di lorong rumah sakit. Beruntung, tidak terlalu banyak petugas disana, jadi kami bisa berjalan dengan santai tanpa mendapat perhatian berlebih.
"Dia anak yang baik. Aku mengerti kenapa kau sangat menyukainya." balas Paul riang sambil tersenyum.
Aku memperpendek langkah agar bisa mengimbanginya. "Tentu. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk menemuinya."
"My pleasure." Tanpa peduli tempat kami berjalan saat ini, dia membuatku terkejut dengan menggandeng tanganku.
Aku ingin menepisnya, namun kurasa itu tidak perlu. "Bagaimana kakimu?" tanyaku begitu kami mendekati pintu belakang rumah sakit.
"Tidak terlalu baik, love. Cedera ini datang di saat yang paling buruk. Seharusnya besok aku terbang ke Rusia." dengkurnya, meremas tanganku dengan lembut. "Bagaimana kalau kita kalah sebelum kakiku sembuh?" lanjutnya dengan nada putus asa.
"Tim Jerman merupakan salah satu yang terbaik. Kau tidak akan melewatkan banyak pertandingan selama kau benar-benar istirahat, kau bisa kembali ke lapangan sebelum babak penyisihan di mulai." Aku mencoba menghiburnya, tapi aku ragu itu bisa membantu, terutama karena aku tidak terlalu paham soal sepak bola.
Dia terdiam selama beberapa saat sebelum mengejutkanku dengan responnya. "Kurasa kau benar." Oh, wow! Aku menari-nari dalam benakku.
Kemudian mendadak ponselnya berdering. Dia melihat sebentar namun tidak menjawab panggilan itu. "Manajerku menelepon. Aku yakin dia ingin membahas bagaimana kelanjutan tim kami karena aku tidak mungkin bermain selama seminggu ke depan." Dia membuka pintu mobil untukku.
Aku menggumamkan terima kasih padanya dan masuk ke dalam. Paul menyusul dari pintu lain. "Kau bisa berbicara dengannya kalau memang harus. Aku tidak masalah." Aku tidak ingin dia mengacuhkan orang lain saat bersamaku. Sudah terlalu banyak orang yang menghujatku dan mengira aku hanya mengacaukan karirnya.
"Dia ingin membuat konferensi pers soal kondisiku. Pesan saja sudah cukup, tidak perlu menelepon."
Aku mengalihkan pandangan ke Alfred, menyapanya dan mengobrol sebentar sebelum dia menutup kaca pembatas di dalam mobil. Lalu tiba-tiba Paul menarikku ke arahnya.
"Paul..." gumamku terkejut.
"Sshhh..." Dia menciumku, mengusap pipiku dengan ibu jarinya, lalu memindahkan tangannya ke bagian belakang kepalaku.
"Tidak sekarang," kataku pelan, melepaskan diri darinya.
"Kenapa?" tanyanya dengan raut bingung. "Apa kau mengalami hal yang buruk?"
Aku menggelengkan kepala. "Bisakah kita membahasnya di rumahmu?"