My Love Journey's

My Love Journey's
Bed Time Call



"Paul, hei..." Aku menjawab telepon setelah benda itu berdering di atas nakas.


"Hei, love. Apa kabar?"


Kenapa rasanya jadi aneh begini? Suaranya membuatku merasa seakan dia sedang berada di sampingku sekarang, di dalam keremangan kamarku, dan berbaring di balik selimut yang sama denganku. "Aku baik. Baru mau tidur, bagaimana denganmu?" sahutku.


Paul terkekeh. "Tidur? Kalau aku tidak salah, sekarang di Berlin masih jam 6 sore, bukan?" Nadanya begitu hangat dan menenangkan.


"Memang." Aku tertawa. "Rumah sakit agak ramai hari ini, dan kau tahu, sepanjang minggu ini aku bekerja mulai jam empat subuh. Dr. Grey benar-benar menggunakan kesempatan ini untuk menghajarku karena meminta libur pekan depan."


"Menyebalkan sekali."


Aku menggeleng walau tahu Paul tidak mungkin melihatku. "Tidak juga. Dia hanya sedikit tegas. Aku mengaguminya, dia membuatku terbiasa bekerja keras dan aku suka itu."


"Aku penasaran, kau pasti selalu menjadi murid kesayangan setiap guru di sekolah, hm?" tanya Paul, membuatku tertawa. "Penurut sekali, Bianka."


"Paul, please..." protesku main-main, meggilai suaranya yanh melambungkanku ke surga. "Bagaimana kabarmu disana? Kudengar kemarin kalian menang melawan Belgia, ya?"


"Aku baik, terima kasih. Baru saja selesai mandi. Aku punya waktu istirahat sebentar sebelum keluar untuk makan malam bersama tim-ku." Aku mendengar langkahnya di ujung telepon. "Dan, ya, kami mendepak Belgia. Aku belum pernah melihat Kevin dan Eden semarah itu, aku ragu mereka mau bicara padaku hingga beberapa minggu ke depan."


Dia tertawa geli. Aku membayangkan dia sedang menjepit hidungnya sambil menggelengkan kepala. Aku tidak tahu siapa Kevin dan Eden yang dia bicarakan, tapi itu tidak penting.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" lanjutnya.


"Apapun selain phone s-e-x."


Dia terdiam selama beberapa detik sebelum gelak tawanya terdengar memekakkan telingaku. "Ya Tuhan... otakmu benar-benar mesum, Rapunzel."


Aku tergelak, memeluk salah satu bantalku sementara Frosty dengan tenang menempelkan bulunya di kakiku.


Paul berbicara lagi. "Aku ingin tahu, siapa saja yang mendengar tentang rencanamu bertemu denganku di Rusia?" Sepertinya dia sengaja memilih kalimat agar tidak terdengar seolah dia sedang menuduhku.


Aku berdeham. "Malam saat aku di klub bersama teman-temanku, Valerie dan Red, kami sempat membahas itu, dan kubilang mungkin aku akan menemuimi di Rusia." kataku. "Tapi aku hanya memastikan kepada ayahku dan Louis kalau aku akan pergi. Lucy juga berada disana saat itu. Aku meragukan salah satu dari mereka yang menyebarkan berita itu, kupikir seseorang di klub sempat mendengar obrolan kami dan dialah yang menyebarkannya."


"Lucy," kata Paul mengulagi. "Kau bilang padanya?"


Aku mengernyit, suasana hatiku yang tenang langsung menguap. "Tidak, tapi aku yakin dia mendengar saat aku berbicara pada ayahku dan Louis. Paul, sekarang cepat katakan ada apa sebenarnya?"


Paul menghela napas, terdengar sangat berat. "Aku tidak bisa mengatakannya di telepon, Bianka."


"Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan sekarang." Aku mengancamnya.


"Oh, ayolah... kita sama-sama lelah. Aku menelepon karena ingin mendengar suaramu Itu membuatku tenang." gumamnya dengan nada putus asa. Dia pasti latihan seharian ini.


Aku mengembuskan napas. "Aku tidak suka kau menyembunyikan sesuatu dariku, Paul. Terutama jika itu berkaitan dengan hubungan kita."


"Sama sekali tidak, love. Aku bisa mengatasinya. Aku harus menunjukkannya padamu, jadi percuma kita membahasnya di telepon."


Aku tidak sanggup berdebat melawan pria keras kepala yang satu ini. "Aku mengalami kekerasan seksual hari ini." cetusku, mengalihkan topik pembicaraan.


"Kau, apa?" Dia berdeham, terdengar bingung. "Kalau kau sedang bercanda, ini tidak lucu sedikitpun..."


"Aku tidak bercanda. Seorang pria meremas bokongku dan bertanya apakah aku mengijinkanmu melakukan itu padaku. Dia juga mengatakan ingin melihat pakaian dalamku, dan mengomentari ukuran dadaku." Aku memutar bola mata memikirkan pria itu. "Dia amat, sangat mabuk. Tapi, aku bisa masih mengatasinya. Dr. Grey tidak mungkin sengaja menempatkanku pada situasi yang tidak bisa kuhadapi."


"Itu bukan masalah kecil, love. Tidak seharusnya dokter itu meninggalkanmu disana bersama orang mabuk." kata Paul dengan tegas sambil mengumpat pelan. "Apa kau sudah mengajukan keberatan atau menuntut pria itu?"


"Tidak..."


"Kalau sampai hal itu terjadi lagi, tuntut mereka, Bianka."


"Bodoh sekali. Kau pasti tidak mencatat namanya, kan?" tanyanya kemudian.


"Sudah kok, tapi aku tidak mau memberitahunya padamu." dengkurku, tersenyum geli.


Paul menarik napas dalam-dalam. "Kalau dia benar-benar ingin melihat belahan dadamu, dengan senang hati aku akan mengajarinya cara menggunakan mata."


Aku tertawa. "oh, wow. Kupikir sudah waktunya membicarakan hal lain."


"Okay. Tapi aku mau mendengarkan ucapanku, Bianka. Kau juga harus berbicara dengan Dr. Grey dan..."


"Ya, ya." potongku cepat. "Aku tahu."


Kami terdiam sejenak, sebelum aku kembali bersuara. "Kau sedang apa?"


"Berbaring di ranjang."


"Loh, bukannya tadi kau bilang mau makan malam dengan tim-mu?" tanyaku, mengeratkan pelukanku pada bantal.


"Kurasa lebih baik memesan makanan dan mengobrol denganmu sepanjang malam." Aku membayang kan dia sedang menyerinai genit sekarang.


Aku terkikik. "Aku lelah, Paul. Mungkin mataku hanya sanggup bertahan sepuluh menit lagi. Maksimal."


"Aku berharap kau ada disini bersamaku, love." dengkurnya, dengan suara yang lebih rendah.


"Kita akan bertemu dua hari lagi. Omong-omong, bagaimana suasana disana?"


"Amazing. Kau pasti jatuh cinta pada keramahan orang-orang disini, dan juga pada keindahan arsitektur bangunannya." sahutnya antusias menjelaskan. Mereka memberikan treatment khusus untuk tim yang tersisa, menunjukkan budaya mereka pada kami, dan masih banyak lagi."


"Jadi, apa kau sudah menemukan model seksi yang bisa menggantikanku disana?" selorohku, dan dia terkekeh.


"Sebenarnya sudah ada tiga, tapi masih banyak yang mengantre." balasnya, lalu kembali ke pertanyaan yang lebih serius. "Apa kau keberatan kalau aku membawamu jalan-jalan selama berada disini? Maksudku, semua orang sudah tahu soal rencana kedatanganmu, love, mustahil kita bisa bebas berkeliaran."


"Oh, mengerikan sekali, ya." Aku menghela napas. "Sejujurnya, tidak masalah meskipun kita hanya makan malam seperti biasanya. Mungkin di restoran tempatmu menginap?"


"Love, kau datang jauh-jauh dari Jerman ke Rusia untuk menemuiku selama beberapa hari," gumam Paul, namun sebelum dia sempat melanjutkan kalimatnya, aku menambahkan.


"Dan Cristiano Ronaldo, kalau kau ingat."


Paul tertawa. "Ya, tentu saja. Tapi, aku mau kau menikmati perjalanan singkatmu untuk membayar semua yang kau lakukan sepanjang minggu ini di rumah sakit demi bertemu denganku."


"Aku melihatmu. Itu sudah cukup membayar semuanya, Paul." ucapku meyakinkannya.


"Aw, kenapa ada jarum yang menusuk dadaku?" Aku tertawa mendengar celotehnya yang riang.


Aku menguap. "Aku sekarat, semenit lagi suaramu akan hilang. Bagaimana kalau kita lanjutkan besok malam?"


"Besok malam kami bertanding melawan Inggris. Bagaimana kalau besok siang?" Paul balas bertanya.


"Aku kerja." Tanpa sadar, aku termenung. Kami jarang sekali mengobrol sejak hari terakhir aku mengantarnya ke bandara, bahkan sekarang pun aku terlalu lelah untuk berbicara dengannya.


"Baiklah, uhm... kalau begitu, kabari aku saat waktumu luang dan tubuhmu segar. Aku akan menyempatkan meneleponmu, oke?"


"Oke." sahutku malas sambil menutup mata.


"Selamat malam, love."


"Selamat malam, Paul."