
Persis seperti yang sudah kuperkirakan. Belum sampai empat hari Paul di Spanyol, rumor pertama dari ratusan yang akan menyusul di kemudian hari, terbit di sampul majalan gosip murahan.
...'Paul Klug Berkencan Dengan Seorang Model Seksi Spanyol!'...
Beruntung, Paul langsung menjelaskan tentang foto itu sebelum aku meledak. Dia mengirim pesan padaku.
From: Paul: Love, kau sudah melihat fotonya? Itu foto editan, mereka menggunakan foto kita saat berciuman di taman waktu lalu... Jangan mencemaskan apapun. Aku mencintaimu x
***
"Bee, ayo, kau harus menemaniku memeriksa Mrs. Stanley."
Aku berbalik dan mendapati Stacey berjalan ke arahku lalu tersenyum padanya dan menganggukkan kepala. "Okay. Apa masalahnya kali ini?"
"Dia terpeleset di kamar mandi dan kepalanya terbentur cukup keras..." gumam Stacey menjelaskan ketika kami mulai melangkah ke ruang perawatan wanita tua yang ramah itu.
Senyumku memudar. "Oh. Seberapa parah?"
Stacey mengatakan Mrs. Stanley dilarikan ke rumah sakit karena pingsan akibat terkena serangan jantung saat terjatuh.
"Dia sedang di isolasi, dan sangat parah. Retak tulang tengkorak yang berdampak pada cedera otak bagian kiri, dan juga punggungnya."
"Apa dia sudah sadar?" tanyaku lagi saat kami mendekati ruang perawatan.
"Menurut pemeriksaan sementara, dia koma. Bagian pada kepala yang terbentur sangat luas." Stacey menggelengkan kepala sambil meringis.
Kami masuk ke ruang perawatan dan mendapati Mrs. Stanley terbaring di atas ranjang pasien. Berdasarkan pengamatanku pada mesin EKG, detak jantungnya cukup pelan namun teratur. Selang infus sudah menancap di punggung tangannya untuk memasukkan obat dan cairan infus agar tubuhnya tetap terhidrasi dengan baik, sementara di mulutnya terpasang selang ventilator.
Aku bergeser untuk melihat papan informasi kesehatannya dan meringis begitu membaca cedera otak yang dialaminya memang cukup parah. "Astaga, dia mengalami kerusakan saraf yang serius." gumamku sambil mengamati beberapa catatan yang ditulis oleh dokter yang menanganinya.
"Kita harus segera membawanya untuk scan MRI dan EEG," sahut Stacey selagi menyuntikkan obat ke selang infus Mrs. Stanley.
Aku menelan ludah, turut merasa sedih karena dia harus mengalami ini. "Dia tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya saat terbangun nanti." gumamku lemah, tak percaya keaadannya menjadi semakin parah. Padahal baru dua hari yang dia keluar dari rumah sakit.
Aku meletakkan papan klip dan mendekati Stacey. "Sini, biar kubantu."
***
"Oh, sial! Aku minta maaf..."
Aku merasakan cairan hangat membasahi bagian depan seragamku. Dengan mulut mengaga, kumundurkan kakiku selangkah dari seseorang yang baru saja menabrakku di saat aku berbelok di ujung koridor rumah sakit, dan menyadari seragamku menghitam akibat tumpahan kopi yang di bawanya.
"Jesus!" dengusku dan menaikan untuk melihat siapa yang menabrakku.
Aku memandang seorang pria muda tampan, mungkin sekitar satu atau dua tahun lebih muda dariku, sedang berdiri dengan ekspresi gugup.
"Aku benar-benar minta maaf," katanya sungguh-sungguh. "Entah apa yang salah denganku hari ini, otakku tidak bisa fokus sama sekali."
Aku menghela nafas sembari menebak mungkin dia baru memulai studinya dengan Dr. Grey di rumah sakit ini. Aku ingat kerasnya tekanan yang kudapatkan pada masa-masa awal studiku, seperti membawakan kopi Dr. Grey kemanapun dia melangkah.
"Okay, tidak apa-apa." kataku mencoba terdengar tenang meski sebenarnya sedikit kesal. "Kau mencari siapa?"
"Dr. Grey." Dia tersenyum, dan aku mengangkat alis.
"Oh," satu tawa halus keluar dari mulutku. "Kau sangat beruntung..."
"Sebenarnya tidak, aku..."
"Itu kalimat sindiran," cetusku merasa geli karena dia benar-benar salah mengartikan maksudku. "Dia jauh lebih ramah saat ini, meskipun di awal kau akan tetap kelimpungan menghadapinya. Dia pasti mengetesmu sesering mungkin untuk melihat sejauh mana kesungguhanmu."
"Oh, bagus sekali. Aku sudah tak sabar menantikan itu." sahutnya. "Omong-omong, aku Elliot."
"Terima kasih... Sekali lagi, aku minta maaf."
"Lupakan. Setiap orang pernah mengalami hari yang buruk." balasku, lalu menuntunnya ke lantai dua.
"Boleh aku mentraktirmu sebagai permintaan maaf? Malam ini di Leo, mungkin?" Dia berdeham, dengan hati-hati memegang cup agar tidak menumpahkan kopi yang tersisa di sana.
"Terima kasih untuk tawaranmu, tapi kurasa itu tidak perlu." tolakku dengan halus. "Ini bukan masalah besar, lagi pula aku masih punya seragam cadangan di ruang ganti."
"Kau yakin? Aku berharap bisa mengenal staf lain di rumah sakit ini." sambungnya. "Aku tidak kenal siapapun selain Dr. Grey, tentu saja. Dan tidak mungkin aku mengajaknya nongkrong."
Aku tertawa. "Benar sekali, itu akan menjadi malapetaka. Kita akan sering bertemu disini, Elliot. Tidak perlu membuang-buang uang untuk mengenalku."
"Okay, baiklah kalau begitu." Dia tersenyum padaku.
"Sudah sampai," Aku berhenti lalu membalas senyumnya.
"Terima kasih. Kuharap kita bisa berjumpa lagi."
"Pasti. Tapi, hati-hati, ya. Jangan sampai kau kembali menumpahkan kopi ke bajuku." cetusku bergurau. Elliot tertawa. Kemudian tepat sebelum dia membuka pintu ruangan Dr. Grey, aku berbicara lagi. "Oh, biar kuberitahu padamu... Dr. Grey suka kopi dicampur susu dan enam balok gula. Dan jangan pernah membelikannya kopi hitam, atau nyawamu taruhannya."
***
To: Paul: Hei, aku sedang dalam perjalanan ke rumah ibumu. Kau sedang apa? x
Sudah satu minggu berlalu sejak keberangkatannya ke Spanyol. Agar membuat segalanya terasa lebih mudah untuk kulewati, aku sengaja menghapus Twitter dari ponselku karena menyadari aplikasi itu hanya akan membuatku semakin gila dengan banyaknya rumor, foto, dan beragam komentar keji. Mulai banyak berita tentang Paul bersama wanita bermunculan di majalah, koran, dan situs gosip, yang kemudian tidak bisa kulupakan begitu saja.
Paul dan aku berupaya sebaik mungkin untuk tetap saling berkirim pesan setiap hari dan menyempatkan mengobrol melalui sambungan telepon walau hanya beberapa menit. Jarak kami yang bisa ditempuh dalam dua jam perjalan dengan pesawat seharusnya tidak terlalu sulit untuk kami bisa bertemu, tapi dengan kesibukanku pada masa-masa akhir kuliah, dan situasi Paul yang baru bergabung dengan Real Madrid, tentu tidak memungkinkan aku mendatanginya atau sebaliknya.
Namun tetap, kami bisa melewatinya sejauh ini dan itu sedikit memberi harapan padaku.
From: Paul: Ya, mom sudah bilang padaku. Dia sangat senang, love. Aku baru pulang latihan untuk pertandingan pertamaku bersama Real Madrid minggu ini. Kau dimana?
To: Paul: Mantap. Semangat, ya! Aku sedang berhenti di pom bensin, mencari makanan. Kelaparan karena buru-buru dan tak sempat makan malam...
From: Paul: Kuharap kau bisa tenang, love. Karena kau bukan dirimu saat kelaparan.
To: Paul: Aku berbeda hanya jika kita bersama, Paul, dan kau penyebabnya. Haha!
From: Paul: Benarkah? Ah, aku jadi semakin merindukanmu.
Aku tersenyum sambil membaca ulang pesan terakhirnya. Hatiku terasa sesak memikirkan betapa sulitnya hubungan kami. Kalau boleh, aku ingin mendebat Tuhan dan memintanya membiarkan Paul dan aku bersama. Tapi, aku tahu itu tidak mungkin. Dia sudah cukup baik dengan mempertemukan kami, masalah bagaimana akhirnya, itu kembali kepada usaha Paul dan aku.
To: Paul: Ah, aku juga merindukanmu ;)
From: Paul: Kabari aku begitu kau tiba di rumah ibuku, okay? Aku akan meneleponmu nanti.
To: Paul: Okay ♥️
From: Paul: ♥️
Sambil menghabiskan roti dan kopi yang kubeli di toko pom bensin, aku menyempatkan menelepon Camille untuk memastikan Frosty baik-baik saja. Dia menawarkan diri menjaga Frosty selagi aku berada di rumah orang tua Paul karena hubungannya dengan Aaron kembali hancur untuk yang ke seratus kalinya.
Lalu, kukirim pesan kepada ibu Paul dan memberitahunya kalau akan segera tiba.
To: Anne: Hai, Anne! Aku akan sampai dalam dua puluh menit. Oh, aku bawa wine!
From: Anne: Sempurna!