My Love Journey's

My Love Journey's
Attention.



"Hai, apa kau wanita yang bersama..."


"Bukan. Maaf..." gumamku memotong ucapan salah satu dari tiga remaja yang berbicara padaku lalu dengan cepat berjalan melewati mereka.


Sudah seminggu berlalu sejak fotoku saat makan malam bersama Paul tersebar luas di media sosial dan majalah gosip. Aku belum berbicara padanya sejak hari itu, dan terpaksa kabur setiap saat orang-orang mengenaliku dan bertanya tentang hubunganku dengan Paul.


Aku agak beruntung, kesibukan bekerja di rumah sakit membuatku tidak memiliki waktu yang banyak untuk berada di luar dan mendapatkan perhatian dari orang-orang yang tidak pernah kuharapkan sama sekali. Aku yakin berita itu akan menghilang secepatnya.


"Hai, maaf aku terlambat." Aku tersenyum kepada Travis, menempelkan bokongku di kursi yang berseberangan dengannya. Travis mengajakku makan siang di sebuah bistro tak jauh dari rumah sakit.


Jam makan siangku baru saja dimulai dan, karena keadaan di rumah sakit tidak terlalu sibuk hari ini, aku memiliki waktu untuk berkencan sebentar dengan dokter tampan yang sudah membantuku melepaskan stres pasca serangan di jembatan Glienicke.


"Tidak apa-apa. Aku libur hari ini dan kau bekerja," balasnya beralasan. "Oh, aku sudah memesan makanan, apa kau tidak masalah dengan itu?"


"Ya, tidak masalah." Aku mengangguk setelah beberapa saat keheranan. Dia tidak tahu jenis makanan apa yang kusukai, jadi keputusannya memesan makanan menurutku agak kurang sopan.


"Apa harimu menyenangkan? Kau terlihat bersemangat, Bianka." Travis bertanya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


Aku mengernyit sekilas. "Oh, ya? Hm.. mungkin karena aku terlalu banyak minum kopi hari ini." balasku, lalu tersenyum.


"Bisa jadi. Tapi kulihat kau juga agak gelisah, apa Dr. Grey memarahimu lagi?" gumamnya menggodaku. Aku terkekeh pelan.


Seorang pelayan datang membawa dua gelas wine.


"Maaf, Travis.. aku masih harus bekerja setelah ini dan aku tidak mungkin mengurus pasien dalam keadaan mabuk." kataku padanya, menoleh segelas wine yang tampak menggiurkan di atas meja.


Travis tersenyum menanggapi ucapanku. "Non-alkohol, darling."


"Oh, baiklah."


Rasanya agak aneh melihatnya mengenakan kemeja dan celana jins, karena aku sudah terbiasa bertemu dengannya di rumah sakit dimana dia selalu mengenakan jas dokternya.


Kami mengobrol santai selama beberapa saat hingga makan siang kami tiba. Aku sangat kecewa sekaligus bingung ketika semangkuk salad diletakkan di hadapanku. Kelihatannya enak, tapi aku masih memiliki hari yang panjang dan berharap bisa mendapatkan tambahan tenaga dari makanan selain semangkuk salad.


Travis dan aku menghabiskan waktu cukup banyak selama seminggu ini, kami berbagi beberapa hal dan aku mulai merasa dia seakan menarikku agar mengikuti gaya hidupnya yang terlampau sehat.


"Kau gadis yang menyenangkan, Bianka." kata Travis setelah beberapa saat kami terdiam untuk menikmati makanan.


"Terima kasih." balasku sambil tersenyum.


Mata biru Travis menatapku dengan sorot kekaguman, membuatku merasa aneh alih-alih nyaman dan hangat seperti yang kurasakan ketika Paul menatapku. Paul sangat baik dan siapapun yang berhasil meluluhkan hatinya pasti akan menjadi wanita yang sangat beruntung. Namun dia bukan untukku, gaya hidupnya sangat tidak cocok denganku.


"Hei, kenapa para remaja itu memotret kita?" tanya Travis, dan seketika aku merasa jantungku mengkerut.


Aku memalingkan wajah mengikuti arah pandangannya lalu menghela napas berat ketika melihat tiga remaja yang tadi sempat bertanya padaku saat aku masuk ke bistro, mengarahkan kamera ponsel mereka kepada kami.


"Oh, Lord..." gumamku panik, memutar kepala dan mengangkat kedua tangan menutupi wajahku. "You've got to be kidding me."


Beruntung, mereka hanya remaja biasa yang mungkin merupakan penggemar berat Paul dan bukan segerombolan paparazi. Meskipun begitu, aku tidak ingin wajahku kembali memenuhi laman majalah gosip dan beredar luas di sosial media.


"Ada apa, Bianka?" Travis terlihat sangat bingung, dia memandangku dan tiga remaja itu bergantian. "Mereka sudah pergi..."


Aku mengintip melalui sela-sela jemariku dan menarik napas lega begitu menyadari mereka benar-benar sudah pergi. "Ceritanya panjang." kataku, melanjutkan makan.


"Waktu kita masih banyak, bukan?"


Aku melayangkan tatapan putus asa padanya. Kemudian menceritakan semua tentang Paul dan aku, mulai dari dia mengalami gegar otak sampai foto kami tersebar luas di media.


"Itu... maaf, aku tidak tahu harus mengatakan apa." Travis menggelengkan kepala setelah aku menjelaskan semuanya selama dua puluh menit terakhir, kemudian dia terkekeh pelan, benar-benar kehilangan kata-kata. "Apa kau dan Paul... berkencan?"


Travis mengangguk seraya tersenyum malu-malu. "Bagus. Aku menyukaimu, Bianka. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi kurasa sesuatu yang lebih serius akan terjadi setelah ini."


"Tentang kejadian tadi?" Aku menggodanya dengan tatapanku, sejujurnya agak bingung dan sedikit terkejut dengan ucapannya yang terkesan seakan dia mengharapkan sesuatu terjadi di antara kami.


Travis terkekeh. "Bukan. Tentang kita. Hubungan kita."


Dear Christ in Heaven! Kami nyaris tidak memiliki sesuatu selain obrolan yang menyenangkan dan kekaguman terhadap satu sama lain sebagai teman. Hubungan asmara antara perawat dan dokter? Ewh, sangat klasik...


Aku hanya bisa tersenyum merespon kata-katanya.


***


Tepat saat waktu menunjukkan hampir tengah malam, aku tiba di rumah dan sekarang sudah berganti pakaian. Aku duduk di sofa sambil menjulurkan kaki, memusatkan pandangan ke arah TV yang menayangkan acara komedi lokal. Kemudian ponselku bergetar di pangkuanku, aku menoleh dan mendapati pesan dari seseorang yang tidak kukira sama sekali.


From: Paul: Hei, sedang apa?


Aku mengamati pesan itu selama beberapa saat, bertanya-tanya dalam hati kenapa aku masih merasakan kegembiraan kecil yang menggelegak di perutku hanya dengan membaca pesan darinya.


To: Paul: Nonton TV. Kau?


From: Paul: Baru kembali dari sauna dan sekarang bersantai sambil minum bir dengan teman-temanku. Bagaimana kabarmu?


To: Paul: Baik.


Aku tidak menerima pesan balasan selama beberapa menit. Lagi pula, tidak ada yang harus dibalas, dan aku tidak tahu apa yang sebenarnya kuharapkan. Meskipun hubungan kami hanya sebatas percintaan semalam, namun Paul mengatakan bahwa kami masih akan bertemu setelah dia kembali.


Kupikir aku akan melihat kemana arah hubungan kami nanti sebelum benar-benar mendepaknya dari kehidupanku, meski tetap saja gaya hidupnya yang selalu menarik perhatian bukanlah sesuatu yang kuinginkan. Terutama setelah foto-foto kami tersebar luas, itu membuatku risih dan tak tenang.


From: Paul: Apa kau tidak marah padaku karena foto itu?


To: Paul: Kenapa aku harus marah? Bukan kau yang memotretnya dan menjualnya, kan?


Aku agak marah padanya karena dia adalah pria luar biasa yang berhasil membuatku merasakan hal-hal baru dan tersenyum seperti orang gila, tetapi dia memiliki gaya hidup yang tidak pernah bisa kuikuti. Dan semua itu bukan salahnya, jadi kurasa aku hanya sedang marah pada dunia.


From: Paul: Kupikir kau marah karena kau tidak membalas pesanku hari itu.


To: Paul: Aku bekerja di rumah sakit, Paul. Selalu ada drama dadakan disana.


From: Paul: Oh, baiklah. Omong-omong, besok aku libur, Carl mengajakku ke Berlin untuk mengunjungi kekasihnya. Apa kau ada waktu besok?


Carl Austerlitz punya kekasih? Itu jelas bukan informasi umum, setidaknya bagiku. Dia merupakan kapten tim nasional, jadi jika dia memiliki seseorang kekasih, berita itu pasti akan terpampang di setiap majalah. Cukup masuk akal, karena hal yang sama terjadi pada si asisten kapten yang berkencan denganku.


To: Paul: Oh, aku tidak tahu kalau Carl punya kekasih. Maaf, besok jadwalku padat...


From: Paul: Mereka sengaja menutupinya, publikasi cenderung merusak hubungan. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu jika kau bisa meluangkan waktu sebentar, Bianka.


Sikapnya yang memohon seperti ini hanya membuatku semakin pusing, tapi aku mencoba mengacuhkannya. Ditambah kenyataan bahwa Paul percaya padaku dengan memberiku informasi penting tentang sahabatnya merupakan sesuatu yang menarik. Aku harus mempertimbangkan tawarannya. Paul Klug, hanya dengan mengirimiku pesan dia bisa membuatku merasakan sesuatu yang aneh dan lebih dibanding ketika aku bertemu dan berbicara langsung dengan Travis. Apakah ini sesuatu yang baik? Kurasa, ya. Eh, atau tidak?


To: Paul: Lusa aku punya waktu saat jam makan siang. Bagaimana?


From: Paul: Aku latihan hari itu. Kalau besok kau tidak bisa berarti kita akan bertemu setelah aku kembali?


To: Paul: Ya, kurasa begitu. Selamat malam, Paul x


Aku meletakkan ponsel dan kembali mengarahkan pandangan ke TV, satu hembusan napas cemas keluar dari sela-sela bibirku.