
Demi mempertahankan kewarasan yang tersisa secuil di kepala, aku menghabiskan waktu seharian bermain dengan Kevin, Ben, dan Lily di rumah kakakku. Ini ketiga kalinya aku membawa Kevin ke rumah mereka, dan dia terlihat sangat senang.
Meskipun daya tahan tubuhnya terbatas, namun Kevin tetap bisa menyesuaikan diri. Dan, aku terus berusaha memastikan agar dia tidak kelelahan.
Ketika Kevin dan aku menunggu ibunya menjemput di rumah Panda, Ben dan Lily sudah tertidur lelap. Aku menemaninya duduk di sofa. "Hei, kenapa wajahmu serius begitu?" tanyaku dengan nada ringan.
Dia menaikkan pandangan menatapku, dan aku tersenyum sementara dia kembali menunduk. "Aku benci seperti ini. Kenapa mommy harus pergi bekerja? Kenapa dia tidak diam di rumah dan bermain denganku seperti ibu lainnya?" Matanya tampak agak basah.
Aku menghela napas, ikut merasakan kesedihannya. "Mommy harus melakukan itu karena dia menyayangimu, Sayang. Dia ingin hidupmu bahagia saat kau besar nanti." kataku, tahu bahwa ibunya bekerja mati-matian sebagai orang tua tunggal untuk Kevin. "Aku yakin dia juga sangat ingin menemanimu bermain."
Kevin meremas tali ranselnya. "Aku tahu. Tetap saja, ini tidak adil." Dia berpura-pura kesal.
Aku mencoba mencerahkan suasana dengan mengacak-acak rambutnya sambil tertawa. "Ayolah, tidak mungkin seburuk itu, kan?"
Aku melirik jam tangan dan menyadari masih banyak waktu sebelum Paul datang ke rumahku. Hari ini dia baru kembali dari luar kota dan berjanji akan menemuiku jam sembilan malam. Satu jam dari sekarang.
Sambil menunggu, kami membicarakan beberapa hal yang disukai Kevin, dan berakhir dengan memperdebatkan siapa superhero paling keren. Setelah dua puluh menit berlalu, ibunya akhirnya datang.
Saat kami melangkah ke pintu depan, Kevin membalikkan tubuh. Aku lega karena melihat wajahnya sedikit lebih cerah sekarang.
"Tidak bisakah kau ikut denganku ke sekolah?" tanyanya dengan ekspresi penuh harap.
Aku tertawa. "Maafkan aku, Kevin, tapi itu tidak mungkin. Kau tahu aku sudah terlalu tua untuk sekolah disana."
Kekecewaan melintas di wajahnya, dan dia merengut. "Aku ingin teman-temanku percaya bahwa aku punya pacar yang cantik. Mereka bilang ingin melihatmu secara langsung."
Kalimat itu hampir membuatku meledak dalam tawa. Ya Tuhan, kenapa anak ini menggemaskan sekali?
Aku membuka pintu dan melihat ibu Kevin berjalan keluar dari dalam lift, menghampiri kami, sementara Kevin langsung berlari ke pelukan ibunya. "Mommy!"
"My boy!" Mereka berpelukan erat, lalu ibunya mencium pipi Kevin. "Aku minta maaf membuatmu menunggu terlalu lama," Kesedihan memancar dari wajah ibunya, tapi Kevin tampak biasa saja.
"Aku senang bermain dengan Ben dan Lily." Kevin menyeringai. "Ben mengajakku berenang dan bermain bola."
Ibunya merespon dengan tersenyum lebar sebelum menatapku. "Maaf kalau dia merepotkanmu."
Aku menggeleng. "Tidak sama sekali. Aku senang bisa membantu. Lagi pula, sepertinya Kevin sudah tak sabar menunggu hari liburku yang berikutnya, bukan begitu, Kevin?"
Kevin menyeringai lagi, lebih lebar dari sebelumnya, kemudian mengangguk penuh semangat.
"Terima kasih, Bianka."
"Sama-sama."
Aku kembali ke dalam rumah untuk mengambil tas dan kunci mobil, sekaligus pamit pada Panda lalu langsung melaju ke rumahku.
"Hey, love!"
Aku terlonjak, jantungku nyaris melompat dari rongga dada akibat terkejut. "Oh, Tuhan, Paul!" Dengan sebelah tangan aku menutup pintu sementara tangan yang lain menyentuh dada.
Aku tidak menemukan sesuatu yang lucu, tapi begitu melihat Paul amat sangat terhibur dengan keterkejutanku hingga tertawa terbahak-bahak, bibirku justru tersenyum. "Kau hampir membunuhku."
Dia memegang perutnya, mengusap setitik air mata di sudut matanya sebelum memelukku. "Maaf, tapi kau lucu sekali." Tawanya kembali meledak.
Paul balas menciumku. "Aku rela menderita selama bersamamu." jawabnya cuek. "Bagaimana kabar kekasihku hari ini?"
Kami masih berpelukan di depan pintu. "Bahagia karena kini bertemu pujaan hatinya."
"Benarkah?"
Aku mengangguk. "Hm."
Aku menangkap sesuatu yang lain di wajah Paul saat kami melangkah ke sofa, seakan ada hal yang ingin dia sampaikan, tapi sesuatu yang lain menahannya. "Paul?" panggilku lembut. Dia menoleh, tampak gugup. "Ada apa?"
Paul menarik napas, mengusap wajahnya dengan kasar sebelum menatapku. "Aku, uhm... aku menemui ayahmu sebelum kemari."
"Kau... Apa?"
"Aku bertemu ayahmu dan kami mengobrol. Oh, tidak, lebih tepatnya aku yang berbicara sebelum dia mengusirku dari sana."
"Ya Tuhan!" Aku menggeleng keras. "Kau tahu tidak seharusnya kau melakukan itu."
Dia mengerang sambil berdiri, terlihat putus asa. "Aku perlu melakukan sesuatu, Bianka. Aku tahu dia ayahmu, tapi aku tidak bisa memahami kenapa dia harus semarah itu hingga tidak mau menganggapmu sebagai anaknya lagi."
Aku berusaha menelan rasa kesal karena dia memutuskan mendatangi ayahku sendiri. Apa yang membuatnya mengira bahwa ayahku akan melunak dengan mudah? Tentu, dia mengenal ayahku, tapi tidak sebaik aku mengenalnya.
Dengan tangan terkepal, aku bertanya. "Lalu, apa yang kau dapatkan, hm?"
"Love..."
"Paul!" Aku menggeleng lagi. "Bisakah kau bersabar sedikit? Kumohon, jangan memperkeruh suasana dengan..."
"Memperkeruh suasana? Astaga, Bianka! Itukah caramu menilai upayaku memperbaiki kekacauan ini?" Entah siapa yang memulai, tapi kami berdua sudah berada dalam posisi siap meledak. Aku tidak menyukai ini, tapi sebagian dari diriku juga ingin Paul mengerti bahwa dibutuhkan kesabaran yang sangat banyak untuk menghadapi ayahku.
Aku masih terdiam, sementara Paul lanjut berbicara. "Aku benar-benar tak habis pikir. Aku mencoba melihat dari semua sisi, mengingat kembali kesalahanku, tapi kurasa reaksi ayahmu terlalu berlebihan. Aku bersungguh-sungguh saat meminta maaf padamu, Bianka. Bahkan, aku menerima pekerjaan yang sebenarnya tak menghasilkan apapun untukku. Uang yang kudapatkan disini bukan apa-apa jika dibandingkan bisnisku di Jerman. Tapi aku melakukannya untukmu. Aku ingin berada di dekatmu. Kenapa ayahmu tidak bisa menilai kesungguhanku dari situ?" Napasnya tersengal-sengal sementara wajahnya mulai memerah.
"Paul..."
"Tidak. Diam dan dengarkan! Sebut saja aku bodoh, tolol, buta, atau apapun sebutan yang kau inginkan, aku tidak peduli. Kau tahu kenapa? Karena yang terpenting bagiku adalah menjagamu tetap di sisiku. Karena aku sangat mencintaimu, Bianka. Aku menjadikanmu prioritas dalam hidupku. Kenapa tak seorang pun yang bisa memahamiku? Kenapa..."
Rasa bersalah menggunung di hatiku. Aku sama sekali tidak bermaksud menekan Paul, tapi kenapa malah seperti ini akhirnya. Bukan ini yang kuharapkan. Aku menghela napas. "Aku tidak mencoba membenarkan sikap ayahku. Semua yang terjadi belakangan membuatku menyadari bahwa sepertinya aku tidak bisa memilih jalan hidupku, bukan karena ayahku, tapi karena aku sendiri memang tidak sanggup kehilangan orang tuaku. Tapi, aku masih ingat dengan jelas mengatakan kalau aku memilihmu, dan kau masih meragukanku? Aku mencintaimu, Paul."
Paul melirikku, terlihat putus asa. "Coba katakan, apakah cinta saja cukup?"
"Tidak, tapi..."
"Nah, itu dia! Cinta saja TIDAK cukup. Kurasa jawabannya sudah jelas, kita butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Apa maksudmu?"
"Aku menginginkan yang terbaik untukmu. Tapi saat ini, aku tidak yakin meneruskan hubungan kitalah yang terbaik. Jika memang kita ditakdirkan bersama, aku akan sangat bahagia. Namun, jika tidak, maka tak ada yang bisa kulakukan untuk merubahnya. Mungkin, kita perlu berpisah untuk sementara waktu."
Aku menelan ludah, merasa kalah. Aku tahu bahwa aku akan menyesali kata-kata yang berikutnya kuucapkan, tapi untuk saat ini aku membiarkan sisi egois dalam diriku berbicara.
"Mungkin."