
"Tolong nyalakan radio, Paul." kataku, mulai gugup duduk di kursi penumpang di mobilnya dengan kaki bergerak naik-turun gelisah. Paul menurut dan menyalakan radio sambil melirik ke arahku sekilas. Alisnya berkerut, tampak bingung dengan raut bertanya kenapa aku harus buru-buru ke rumah sakit.
..."... Sejauh ini diperkirakan terdapat dua puluh korban di Jembatan Glienicke, dan masih akan terus bertambah. Dua petugas polisi telah tertembak, dan penyerang berhasil dibekuk..."...
"Ya Tuhan..." kata Paul dengan nada tak percaya, tak tahu bagaimana harus merespon berita itu selain menggelengkan kepala.
"Apa ini saluran Deutschlandfunk?" Aku bertanya sambil meraih ponselku untuk membaca beberapa pesan lain dari rekan kerjaku yang mengatakan agar pergi ke pusat darutat sesegera mungkin. Untuk beberapa alasan yang tak masuk akal, Dr. Gray meminta semua orang kesana secepatnya karena kami sedang kekurangan petugas.
"Ya, ini Deutschlandfunk."
Aku mengerang. "Paul, bisakah kau lebih cepat?" kataku, sebisa mungkin mencoba tidak terdengar kesal.
Aku kesal karena aku sedang gugup, aku belum pernah mengalami situasi seperti ini meskipun aku bekerja cukup lama di Indonesia. Aku takut keadaan di rumah sakit benar-benar kacau sekarang, dan aku tidak tahu harus melakukan apa.
"Love, ini batas kecepatan maksimum yang di ijinkan. Kita akan mendapat masalah baru jika aku menambah kecepatan." balasnya tenang. Aku mengembuskan napas putus asa seraya menyusurkan jemariku ke rambut. "Dengar... kau akan baik-baik saja. Tidak usah khawatir, cukup lakukan seperti yang sudah kau pelajari. Oke, love?" dengkurnya, mengusap pahaku dengan lembut.
Entah bagaimana Paul seakan mengetahui kalau aku sedang cemas memikirkan pekerjaanku saat ini, dan aku sangat menghargai sikapnya yang dengan cepat bisa membaca situasi.
Aku membalas perkataannya dengan senyum lembut sementara senyumnya perlahan tampak semakin lebar. Aku terpaksa mengalihkan pandangan ke depan, menatap jalanan begitu kurasakan mata Paul yang gelap mulai membuatku merasa panas dan terbakar.
Tak satu pun dari kami yang berbicara di sepanjang sisa perjalanan menuju rumah sakit, berita mengerikan yang terdengar dari siaran radio memenuhi telinga dan pikiran kami.
Begitu kami tiba, aku membuka sabuk pengaman bahkan sebelum mobil berhenti di depan lobi rumah sakit. Aku bisa melihat beberapa mobil ambulan masuk melalui pintu belakang, dan segera menyadari aku harus bersiap secepatnya.
"Hei, tenanglah." kata Paul sambil menahan tawa, sejak tadi kami terdiam karena mendengar berita yang mengerikan itu.
Aku menoleh padanya lalu menarik napas dalam. "Maaf, aku hanya... aku benar-benar harus segera masuk."
Paul menganggukkan kepala. "Baiklah," Aku sudah membuka pintu mobil dan bersiap untuk keluar.
Kemudian tiba-tiba Paul menangkup wajahku lalu menarikku untuk satu ciuman perpisahan. Aku yang lengah sontak membuatkan mata, namun dengan cepat mengendalikan diri dan membalas ciumannya. Mendadak sekujur tubuhku seakan menyala, dan aku mengangkat satu tangan menyusuri rambutnya selama kami berciuman.
Daya tarik yang kurasakan padanya baru tumbuh selama dua hari terakhir ini, dan kesadaran akan situasi rumah sakit membuatku terpaksa mundur bahkan sebelum dia sempat memperdalam ciumannya.
Paul mengamatiku lekat-lekat, aku berdeham. "Terima kasih untuk semalam, aku benar-benar menikmati waktu bersamamu." gumamku pelan di depan bibirnya.
"Ya, aku juga." balasnya setuju. "Aku akan menghubungimu begitu kembali ke Berlin."
"Oh, sure.." sahutku seperti orang bodoh, baru teringat kalau dia harus berlatih di luar kota selama beberapa minggu ke depan. "Bersenang-senanglah dan hati-hati, oke?"
"Terima kasih, Rapunzel."
Aku langsung keluar dari mobil, lalu dengan setengah berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit dan menuju ruang ganti untuk mengenakan seragamku. Setelah itu, aku buru-buru melangkah ke pusat darurat. Segala sesuatu disana tampaknya berlangsung dengan kacau.
Tanpa kusadari, waktu bergulir begitu cepat. Ada sepuluh orang di bawah perawatan Dr. Grey. Syukurlah keadaan mereka tidak terlau parah, namun tetap terluka dan mendapatkan beberapa jahitan kecil atau perawatan lain semacamnya.
Aku berderap mendekati seorang anak laki-laki yang belum lama kuobati sambil membawa sekotak jus. "Hei, boy, mau jus?"
Dia sedang berjalan sendirian di sepanjang jembatan ketika peristiwa itu terjadi. Kedua orang tuanya masih dalam perjalanan menuju rumah sakit, tapi jelas dia terlihat sangat takut pada jarum suntik dan kondisinya itu cukup membuatku kesulitan saat menjahit luka di pahanya.
Dia masih tampak agak pucat, namun tetap menerima kotak jus itu dengan senyuman kecil di bibirnya. "Terima kasih."
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanyaku padanya, berdiri di samping ranjang tempatnya berbaring. Kutebak umurnya tidak lebih dari sepuluh tahun.
"Aku baik-baik saja. Kau terlihat hampir sama takutnya denganku ketika kau membalut lukaku, apa kau tahu itu, Miss?" Dia meminum jus itu menggunakan sedotan kecil, menatapku dengan rasa ingin tahu.
Aku sangat lelah dan bersyukur bisa beristirahat meski sejenak hanya untuk memastikan anak ini baik-baik saja. Kami tidak terlalu sibuk sekarang, dan para perawat magang sedang memeriksa pasien di pusat gawat darurat.
Tawa kecil meluncur dari mulutku, bahu dan punggung bagian atasku masih terasa sangat tegang. Aku bekerja selama sekitar enam jam terakhir, bolak-balik bergantian mengurus para korban penyerangan di jembatan Glienicke.
"Oh, aku tidak takut, kid..." balasku, menggeleng seraya tersenyum simpul. "Mungkin sedikit. Kau tahulah, jarum suntik benar-benar menyeramkan."
Dia mengangguk, dengan penuh semangat menyetujui. Sebelum salah satu dari kami melanjutkan obrolan, radio pemanggil yang tergantung di pinggang celanaku mulai berbunyi. Benda itu sudah bergetar tanpa henti selama berjam-jam, tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda.
Seketika senyumku redup saat membaca pesan di radio pemanggilku, dan dengan cepat aku mengucapkan selamat tinggal pada anak laki-laki itu lalu melangkah keluar dari bilik perawatannya.
"Cepat kemari, Bianka! Tahan kain kasanya..." Dengan suara yang kencang, nyaris membentak, Dr. Grey berbicara begitu aku masuk ke ruang perawatan lainnya.
"Dia kehilangan terlalu banyak darah, dok..." Aku berbicara sedetik kemudian, menyadari luka yang kupegang sudah tertutup kain kasa namun tidak cukup menahan derasnya aliran darah, sementara Dr. Gray mundur beberapa langkah untuk mengambil jarum suntik dan beberapa alat medis lainnya.
Kemudian aku menyadari sesuatu. "Pembuluh arterinya robek," kataku panik sambil menoleh Dr. Grey yang kini buru-buru mendekatiku. Wanita paruh baya yang sedang kami tangani itu tidak sadarkan diri dan detak jantungnya meningkat dengan cepat. "Oh, God... dia akan mengalami serangan jantung..."
"Awas!" ucap Dr. Grey sambil mendorongku dan berdiri di tempatku sebelumnya. "Emma, bantu aku,"
Persis seperti anak kecil yang baru saja dimarahi oleh orang tuanya, aku mundur selangkah, menatap tak berdaya pada perawat lain yang menggantikanku sementara Dr. Grey mulai memberinya instruksi. "Istirahatlah, Bianka. Kau sama sekali tidak bisa diharapkan saat ini." katanya, nadanya terdengar lebih jahat karena suasana hatiku amat buruk. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa, aku meninggalkan ruangan itu dan langsung menuju lift.
Aku malu, namun segera menyadari tidak seharusnya aku merasa begitu. Aku sudah bekerja dengan baik selama beberapa jam terakhir, dan ini merupakan situasi paling gila yang pernah kualami selama menjadi perawat.
Aku masuk ke dalam lift lalu turun ke lantai dua. Disana terdapat ruang perawatan yang sedang di renovasi. Ada beberapa tempat tidur yang sering digunakan para petugas jaga untuk beristirahat selama shift panjang. Aku termasuk perawat baru disini dibandingkan rekanku yang lain, tapi setiap hari selalu ada kejutan yang membuatku merasa lelah secara fisik dan mental. Suasana bekerja di Jerman sangat berbeda dengan di Indonesia.
Aku duduk di salah satu ranjang lalu menyandarkan punggungku ke dinding dan memejamkan mata sambil mengembuskan nafas. Aku merasa tenang sejenak sebelum ketenanganku terganggu oleh ponsel yang bergetar di saku belakang celanaku.
From: Stacey: Bee, aku sempat melihat kejadian di ruang perawatan tadi. Apa kau baik-baik saja?
To: Stacey: Ya, aku baik-baik saja. Itu bukan masalah besar, aku hanya perlu istirahat selama beberapa menit dan kembali bekerja.
From: Stacey: Ah, jangan sok kuat... Terkadang Dr. Grey memang agak keterlaluan tapi dia salah satu yang paling baik disini. Istirahatlah, aku akan menggantikanmu sementara. Love you...
To: Stacey: Thank you x
Tepat saat aku akan berbaring, ponselku bergetar lagi. Tapi kali ini bukan Stacey yang mengirim pesan...
From: Paul: Hei, apa kau sibuk?
To: Paul: Tidak sesibuk tadi pagi. Aku sedang istirahat sebentar...
From: Paul: Bagus.. kau baik-baik saja?
To: Paul: Ya. Bukankah kau bilang akan mengabariku setelah kembali ke Berlin?
From: Paul: Bianka, apa kau sudah melihat berita yang sedang viral sekarang?
To: Paul: ???
From: Paul: Baiklah, aku akan mengirim screenshot-nya. Tunggu sebentar...
Aku memekik begitu melihat tangkapan layar yang baru saja di kirim oleh Paul padaku. Sebuah artikel dari situs gosip terkenal dengan judul:
..."Paul Klug, Sang Penyerang Tengah Sekaligus Asisten Kapten Legendaris, Berkencan Dengan Seorang Gadis Misterius."...
Artikel iti disertai satu foto buram yang di ambil ketika kami sedang makan malam kemarin, namun wajah kami berdua cukup jelas untuk bisa dikenali. Di foto itu aku menyeringai merespon sesuatu yang dikatakan Paul, dan kami tampak santai.
To: Paul: Apa-apaan itu?!
From: Paul: Semacam hiburan untuk ibu-ibu rumah tangga. Aku hanya ingin mengingatkanmu sebelum terjadi sesuatu, love. Ada artikel lain juga, cukup banyak, tapi aku suka mereka menyebutku legendaris...
Aku tidak membalas pesannya, bingung harus mengatakan apa menanggapi pesannya. Kemungkinan orang-orang akan mengenaliku melalui foto itu seketika membuatku takut dan aku benar-benar ingin tidur sekarang, berharap semoga saat aku terbangun nanti masalah ini akan hilang begitu saja.
"Hi, there..." Aku terlonjak, nyaris menjerit ketika mendengar seseorang berbicara padaku. Aku mengangkat kepala dan mendapati seorang dokter muda berdiri di ambang pintu.
"Oh, Gosh, kau membuatku takut." kataku sambil terkekeh pelan.
Sungguh, sebuah pemandangan terbaik yang bisa kusaksikan sepanjang hari aku berada di rumah sakit. Dia terlihat cukup tampan dengan rambut pirang gelap dan mata birunya yang cerah, ditambah lagi, dia seorang dokter.
"Apa harimu sedang berat, Bianka?" tanyanya sembari mendudukkan bokongnya di sebelahku. Hm... rencana tidurku akan terganggu dengan kehadiran pria ini.
"Ah, kau tahu namaku?" Dr. Grey merupakan dokter yang bertanggung jawab mengawasiku dan beberapa perawat magang lainnya, dan juga, rumah sakit tempatku bekerja cukup besar dan aku tidak mengira dia akan mengetahui namaku.
Dia mengedikkan bahu. "Dr. Grey sering membicarakan tentangmu. Dia bilang kau salah satu perawat magang terbaik yang pernah ditemuinya." Dia mengamatiku sejenak, sementara aku merasa agak terhibur dengan ucapannya yang secara tidak langsung memujiku. "Omong-omong, aku Travis." katanya memperkenalkan diri.
"Senang berjumpa denganmu, Travis." Diam-diam aku menguap, memasukkan kembali ponselku ke dalam saku celana.
"Bagaimana jika kita keluar dan mencari kopi? Kurasa itu akan membuatmu sedikit lebih baik."