My Love Journey's

My Love Journey's
Start From Tonight



"Itu benar-benar mengerikan," gumam Paul sambil memasang sarung pengamannya.


Paul dan aku sudah sama-sama polos. Tak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuh kami dan sekarang kami sudah berada di dalam kamarku. Aku mengamati Paul yang bergerak dengan tenang di antara kedua pahaku.


Aku tidak bisa berhenti menyeringai menyaksikan wajahnya yang jelas masih tampak tidak senang karena harus pergi keluar lalu berjalan ke mobilnya dan mengambil dua buah pengaman dari sana. Dia bilang yang kedua hanya untuk berjaga-jaga jika yang pertama rusak, tetapi aku punya firasat dia sedang merencanakan sesi kedua untuk malam panas ini.


"Tidak mungkin seburuk itu," sahutku, dengan suara sedikit malas untuk mendapat perhatian mata gelapnya kembali. Aku mengulurkan tangan membantunya, menyelesaikan urusan pengamannya.


Kemudian aku menggenggengam kejantanannya yang luar biasa menggiurkan dan perlahan menggerakkan tanganku disana, dalam hati bersorak senang bisa menyaksikan efek dari sentuhan tanganku yang langsung tergambar di wajahnya.


"Wanita tua yang tinggal di rumah di seberang jalan menatapku dari jendela rumahnya," kata Paul seraya mengangkat alisnya padaku, dan aku tidak sanggup menahan tawa yang meluncur begitu saja dari sela-sela bibirku.


Aku mengedikkan bahu. "Maafkan aku, Paul. Tapi aku sangat yakin kau menyukai perhatiannya..."


Paul menjatuhkan diri, menopang tubuhnya yang kekar di atas tubuhku dengan lengannya yang kuat. Bibirnya menyusuri rahangku sementara aku dengan lembut dan sedikit menggoda menariknya lebih dekat agar menipiskan jarak di antara tubuh kami.


"Satu-satunya perhatian yang kuinginkan saat ini hanya darimu, Rapunzel." Suara Paul yang serak seketika membuat tubuhku merasakan panas, dan punggungku melengkung indah.


"Kau sudah mendapatkannya..." Aku mendesah, mencengkeram kejantanannya lebih kuat.


Paul menggeram nikmat. "Kau siap?" desahnya di depan wajahku. Bibirnya menggoda bibirku sekilas kemudian menggerakkan ujung kejantanannya menyapu kewanitaanku beberapa kali. Tekanan yang diberikan Paul sukses membuatku mengerang, merasakan semacam kelegaan setelah ketegangan yang menumpuk di dalam diriku selama beberapa bulan belakangan.


"Yes, yes..." Aku mengangguk tanpa ragu, mencengkeram lengannya yang besar dan kuat untuk mengantisipasi, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak pernah berhubungan badan dalam beberapa bulan belakangan, jadi ini pasti akan sedikit menyakitkan, terutama karena kejantanan Paul begitu besar.


Paul menciumku, meredam suara serak dan tercekik yang keluar dari tenggorokanku ketika dia mendorong dirinya ke dalam diriku. Dia melakukannya perlahan dan hati-hati, berusaha agat tidak menyakitiku.


Aku mendesah sementara Paul menggeram, suara-suara kenikmatan itu tertahan di dalam mulut kami saat Paul menciumku lagi. Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas sekali sembari menikmati bagian dirinya yang terbenam seluruhnya di dalam tubuhku.


Paul menggodaku dengan mulutnya yang lihai selagi dia bergerak menyiksaku dengan kejantanannya yang penuh. Bersamaan dengan itu, tubuh kami berguncang indah di atas ranjangku.


Aku menarik nafas setelah dia menggerakkan bibirnya ke rahangku dan kemudian turun ke leherku. "Ahh, Paul..."


Aku menggerakkan tangan di sepanjang lengan hingga ke bahunya, sementara desakannya bertambah cepat begitu kami berdua merasa nyaman. Dari bahunya, aku menyusurkan tanganku bergerak ke punggungnya sementara kukuku meninggalkan bekas cakaran di sepanjang tubuh berototnya yang indah.


"Apa kau menyukainya?" bisiknya, menyapukan napasnya yang panas di kulit leherku.


Aku mengangguk cepat. "Ya, sangat...." Mataku berputar ke belakang ketika dia menghujam titik terdalam dengan cara paling nikmat di dalam diriku dengan dorongannya yang halus dan tepat.


"Kau sangat nikmat, Bianka." Dia mengerang sebelum menarik kembali agar dapat mengamati wajahku. Dengan mulut yang agak terbuka, aku membuka mata untuk menatapnya.


Aku menyusurkan jemariku ke rambutnya dan menarik kepalanya ke bawah untuk membalas ucapannya dengan ciuman penuh gairah.


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mencapai puncak setelah itu. Aku meluangkan waktu sejenak mengagumi kenikmatan ini karena aku tidak ingat kapan terakhir kali aku mencapai puncak saat bercinta, bahkan tanpa perlu menyentuh diriku sendiri. Punggungku melengkung sementara pahaku bergetar hebat saat gelombang kenikmatan itu mengalir deras di sekujur tubuhku.


"Jesus..." aku mengerang, menggenggam lengan pria di atasku sementara dia mendesakku lebih dalam dan cepat.


Paul menggeram dan melepaskan gairahnya di dalam tubuhku, well, secara teknis di dalam sarung pengamannya. Kemudian menarik bagian tubuhnya yang nikmat itu keluar dari tubuhku dan jatuh telentang di sampingku.


"Wow," Paul terkekeh geli dengan nafas tersengal-sengal saat aku berjuang mengatur nafasku sendiri. Dia melepas pengaman dari tubuhnya lalu mengikat dan melemparnya ke dalam tong sampah kecil yang berada di dekat meja di sisi ranjangku.


"Boleh aku menginap disini?" lanjut Paul lagi, bertanya padaku sambil menarik selimut menutupi tubuh kami yang polos dan penuh keringat.


Aku tertawa pelan, mengangguk lemah. Masih merasakan desiran halus yang tersisa di antara kedua pahaku. "Tentu boleh. Kuharap apa yang baru kita lakukan tidak akan berdampak buruk terhadap gegar otakmu..." Aku tersenyum geli, menahan selimut menutupi dadaku lalu memiringkan tubuhku menghadapnya.


Paul tertawa. "Rapunzel, satu kata lagi tentang gegar otak yang keluar dari mulutmu, maka aku bersumpah..." Paul menatapku seraya menggoyangkan kepala lalu menyisir rambut dengan jemarinya. Aku senang bisa melewati malam ini bersamanya. "Aku ada jadwal latihan besok... eh, atau hari ini?" sambungnya, melirik jam tangannya.


Aki tidak mau repot-repot mengetahui jam berapa sekarang, menyadari pola tidurku akan sangat kacau begitu hari senin datang dan menghancurkan semuanya.


"Apa menurutmu aku akan baik-baik saja saat latihan nanti?" Paul bertanya lagi.


"Ya," gumamku mengangguk. "Jam berapa kau harus pergi?" Aku berharap jika Paul bangun lebih awal, dia akan membangunkanku juga supaya aku bisa belajar sebentar dan tak menghabiskan waktu untuk tidur seharian.


Aku tidak pernah membayangkan betapa tampannya Paul Klug, hingga sekarang dia berbaring dengan rambut berantakan di sampingku... di dalam kamarku yang gelap... di bawah selimutku...


"Sekitar jam empat sore. Kita masih punya waktu seharian besok, beruntunglah kau, aku membawa pengaman kedua." Paul memberiku seringai yang paling menggemaskan, membuat hatiku tersenyum, begitu pula dengan bibirku. "Aku suka senyummu, love." Mendadak wajahnya berubah lebih serius, matanya yang gelap mengamati wajahku lekat-lekat.


Paul masih telentang, kepalanya menoleh ke arahku sementara aku bergerak di sisiku untuk menghadapnya. "Kau sudah mendapatkan yang kau inginkan, Paul... tidak perlu menyanjungku lagi." balasku dengan tenang, tersenyum lebih lembut.


"Aku tidak harus menyanjungmu untuk mendesakmu, love." Dia terkekeh, menggelengkan kepala padaku. "Tapi, aku akan berhenti jika kau tidak menyukainya."


"No, no," sahutku cepat. Percintaan kami beberapa saat yang lalu merupakan perasaan paling indah yang pernah kurasakan. Aku mengarahkan tangan menyentuh otot dadanya yang keras dan terpahat sempurna. "Yang tadi itu... sangat luar biasa. Aku belum pernah merasakan senikmat itu saat bercinta."


Paul terkekeh, lalu tersenyum genit padaku. "Kurasa aku butuh pengaman lebih banyak sekarang."