My Love Journey's

My Love Journey's
Pillow Talk



Kepalaku dipenuhi dengan segala macam perasaan yang campur aduk, namun aku segera mencoba menepisnya untuk menikmati ketenangan dan kepuasan yang diberikan Paul kepadaku. Kebiasaan burukku yang terlalu berlebihan dalam memikirkan sesuatu sering membuatku ragu dan tanpa kusadari itu membuatku tidak menikmati hidup.


Alasan kenapa aku merasa perlu membantu orang dan menjadi perawat, sesungguhnya berawal dari masa kecilku, yang secara tidak langsung mendorongku menjadi seorang pemikir.


Berbeda denganku, Paul tampaknya tidak mengkhawatirkan apapun, itu merupakan satu hal lain yang membuat kami sangat berbeda.


Dengan semua perbedaan yang jelas di antara kami, bagaimana bisa situasi ini dibenarkan? Aku berbaring di sisinya, berpelukan dengannya tanpa mengenakan apapun, terjepit di antara tubuhnya dan sandaran sofa. Jemariku bermain di dadanya sementara tangannya menahanku punggungku.


"Apa yang ingin kau lakukan soal kencan kita besok?" Suaranya terdengar memecah keheningan yang terjadi selama beberapa saat setelah percintaan panas kami.


Aku sadar seharusnya aku tidur sesegera mungkin, namun pikiranku masih berkecamuk, aku tidak akan bisa menutup mata.


"Bisakah kita menganggap ini sebagai kencan?" dengkurku lembut, mata terpaku pada kegelapan di sekujur tubuhnya di ruang tamu.


"Tidak. Katakan padaku apa yang kau sukai, Rapunzel. Bagaimana dengan makan malam di rumahku?"


"Agar kau bisa melayaniku dan melakukan sesuatu yang disukai oleh para wanita?" kataku mengulangi ucapannya, dan dia terkekeh.


Paul mengeratkan pelukannya. "Tepat sekali, babe."


"Paul, dengar..." Aku mendongakkan kepala sedikit untuk menatapnya. "Kita harus menghentikan ini."


Paul mengernyit sementara sorot matanya berubah mendung. Dia terdiam selama beberapa saat sebelum berbicara. "Apa kau sungguh ingin kita berhenti disini?"


Aku membuang napas berat seraya menggeleng. "Ini memusingkan, Paul, dan bukan aku yang membuatnya begitu. Aku takut. Aku menginginkan kehidupan yang damai dan tenang, kumohon jangan mengacaukan semuanya dengan memaksaku masuk ke dalam kehidupanmu yang penuh sorotan. Aku menyukaimu, tapi..."


"Aku tidak pernah memaksamu,"


"Ya, kau memang tidak memaksaku. Tapi setiap kali kau bersama seorang wanita, akan selalu ada berita miring setelahnya. Aku sudah mengalaminya, dan aku tidak ingin selamanya terjebak dalam keadaan seperti itu."


Paul menghela napas, menyusurkan tangan ke rambutnya. Aku tahu dia lelah, tapi kami perlu meluruskan ini. "Aku bosan dengan kesendirian, kau tidak akan tahu betapa memuakkan kehidupanku, Bianka."


Apa maksudnya? Apa dia sedang mencoba mengatakan kalau dia menyukaiku? Apa dia ingin aku menemaninya? Maksudku, mengisi hari-harinya yang memuakkan? Wow.


Pau berdeham. "Aku tahu kau tidak suka menjadi pusat perhatian, tapi aku juga tahu kau peduli padaku." katanya menambahkan. "Kita bisa menyembunyikan hubungan ini kalau memang itu yang kau inginkan."


Aku terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa karena ini jenis hubungan yang sangat baru untukku. Aku pernah behubungan dengan seseorang di masa lalu, tapi tidak serumit ini. Paul dan kehidupannya, entah kenapa aku merasa tidak akan sanggup beradaptasi dengan semua itu.


"Kumohon katakan sesuatu, Bianka. Jangan membuatku malu."


Paul menarik napas dalam-dalam. "Aku sadar kehidupanku memang selalu disorot, dan kalau kau mengira aku tidur dengan setiap wanita..."


"Aku tidak berpikir seperti itu. Kau bilang jangan percaya begitu saja dengan gosip yang beredar, dan aku melakukannya. Soal fotomu dan Valerie, orang-orang mengira dia hanya salah satu wanita yang akan menghangatkan ranjangmu tapi aku tahu kau hanya membantu Carl dan Valerie agar hubungan mereka tetap tertutup." gumamku menjelaskan. "Kau pria yang baik, Paul. Hanya saja..."


"Hanya saja... tidak untukmu?" Nada Paul jelas terdengar kecewa dan aku merasa buruk karena sudah mematahkan hatinya, terutama karena dia sudah mencoba bersikap baik dan jujur padaku.


"Aku tidak ingin memberimu harapan palsu," kataku. "Seperti yang kau bilang, aku peduli padamu, lebih dari yang seharusnya. Tapi aku ragu. Bukan padamu, tapi pada perhatian yang akan kudapatkan jika kita berhubungan."


Paul berdeham lagi. "Oke, aku mengerti sekarang, kau berpikiran terlalu jauh. Kita bisa melakukannya, Bianka."


"Tidak. Ini yang terjadi sekarang. Kau mungkin mengira ini biasa saja, seluruh perhatian yang kau dapatkan tidak akan berdampak apa-apa padamu karena kau sudah terbiasa dengan semua itu. Tapi tidak untukku, Paul. Aku tidak akan mampu membiasakan diri dan beradaptasi dengan lingkunganmu yang penuh drama."


"Bianka..."


"No. Dengarkan aku," segahku cepat. "Kehidupan kita sangat berbeda, tidak perlu diragukan lagi. Aku tidak tahu bagaimana denganmu, tapi aku menyukai kehidupanku yang tenang sebelum kita bertemu. Aku bebas melakukan apaun, di manapun, dan dengan siapapun tanpa perlu merasa khawatir, namun semua ketenangan itu berubah sejak kita makan malam. Kita hanya makan malam, Paul, tapi lihat dampaknya... dan aku yakin kau tahu apa yang akan terjadi kedepannya jika kita melanjutkan ini."


"Belum lagi soal Travis. Dia tidak tahu apa-apa, namun sekarang ikut terseret ke dalam masalah kita. Itu bukan berarti aku menyalahkanmu, hanya saja ada sebagian orang yang tidak menyukai perhatian, dan aku salah satunya. Aku ingin menjaga hidupku untuk diriku sendiri, bukan untuk disebarkan dan menjadi konsumsi publik. Percayalah, kita tidak bisa bersama."


"Bianka, kenapa kau sangat keras kepala? Sudah kubilang..."


"Aku tidak bisa!" gumamku dengan suara keras, membuat Paul tersentak dan aku segera sadar bahwa reaksiku terlalu berlebihan. "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu."


"It's okay. Aku paham maksudmu. Tapi kumohon, bisakah kau memikirkannya sekali lagi?"


Aku membuang napas frustasi, dalam hati mengerang karena dia terlalu gigih mengharapkan hubungan kami berlanjut ke arah yang lebih serius, dan itu menakutkan bagiku. Well, kami tidur bersama, tapi tidak ada perasaan lebih selain untuk memenuhi kebutuhan seksual, setidaknya itulah yang kurasakan. Aku menganggapnya tidak lebih dari sekedar teman berbagi ranjang. Tidak ada perasaan cinta dan semacamnya...


"Kau tahu? Kau terlalu mendesakku, Paul, dan itu mulai membuatku takut."


"Aku tidak bermaksud menakutimu, Bianka. Aku hanya ingin kau tau apa yang kurasakan padamu." Pau mengusap punggungku dengan lembut. "Aku bisa memberimu waktu sebanyak yang kau butuhkan, tapi tolong pertimbangkan ucapanku, hm? Kumohon..."


Aku menatapnya, mencoba mencari tahu apakah ada kebohongan di matanya. Tapi yang kulihat hanya sebuah harapan yang besar, seakan dia memohon dengan bersungguh-sungguh.


Aku menarik napas sebelum menganggukkan kepala. "Okay."


Paul mengejutkanku dengan mencium keningku sekilas lalu kembali memelukku. "Good night, Bianka."


"Good night."