My Love Journey's

My Love Journey's
Dad's Birthday



"... happy birthday to you!" Kami menutup secara serentak, lalu bertepuk tangan meriah setelah ayahku meniup lilin pada kue ulang tahunnya.


Aku maju untuk memeluknya dan melabuhkan satu ciuman di pipinya. "Happy birthday, dad."


"Terima kasih, terima kasih semuanya..." kata ayahku dengan mata basah, aku tidak sanggup membayangkan betapa berarti momen ini baginya.


Kami berkumpul di ruang makan, menikmati kue ulang tahun ayahku dan beberapa camilan lain sambil mengenang cerita lucu tentang Louis dan aku pada masa kecil kami.


Aku senang karena Paul sudah bisa berdaptasi dengan ayah dan adikku, yang merupakan fans fanatiknya, tapi aku sama sekali belum melihat dia berbicara dengan Lucy. Entah apa yang sedang dia sembunyikan dariku. Lucy terlihat sangat berusaha bersikap manis, namun aku belum mampu melihat sifat aslinya. Kuyakin dia juga memiliki masa lalu yang sulit kalau memang dia benar-benar terjebak di pusat rehabilitasi, dan aku cukup bangga pada hubungan yang terjalin di antara dia dan adikku.


"Oh, dad, Paul dan aku punya sedikit hadiah untukmu." kataku begitu mengingat apa yang sudah kami siapkan untuknya, lalu aku merunduk untuk meraih satu totebag kecil di kursiku.


Ayahku menggeleng seraya tersenyum lembut. "Aku sangat bersyukur kalian mau datang kesini, seharusnya tidak usah repot-repot menyiapkan hadiah lain."


Aku menyerahkan totebag itu padanya, menantikan dengan perasaan tak sabar ingin melihat ekspresinya saat dia melihat isinya. "Cokelat!" Dia mengeluarkan sekotak cokelat dari Pierre Marcolini, senyumnya mengembang. "Kau selalu ingat kesukaanku."


"Bagaimana mungkin aku lupa? Sejak kecil dad selalu memenuhi kulkas dengan cokelat." kataku sambil tertawa halus, menautkan jemariku pada Paul di bawah meja.


Kemudian ayahku mengeluarkan amplop kecil dari totebag yang sama. "Dan, apa ini?"


Aku benar-benar nyaris tak bisa menyembunyikan perasaan senangku karena tahu dia akan sangat menyukai itu. Aku tersenyum pada Paul, yang juga sedang tersenyum padaku. Memberi hadiah untuk orang lain merupakan satu hal yang paling kusukai, aku senang melihat perubahan ekspresi setiap orang yang menerimanya.


Ayahku mulai membuka amplop. Dia mengamati selembar kertas dari dalamnya dengan alis mengkerut lalu menoleh Paul dan aku.


"Tiket menonton pertandingan kandang klubku selama satu musim penuh," kata Paul. "Kau akan duduk di kursi terbaik bersama seseorang, siapapun yang kau ajak."


"Sungguh? Apakah ini nyata?" Ayahku tertawa dengan wajah bahagia bercampur tak percaya. "Ya ampun, ini tidak mungkin!"


Aku meremas tangan Paul dengan lembut untuk menyatakan rasa terima kasih kepadanya. Ini merupakan kejutan luar biasa untuk ayahku karena dia, untuk beberapa alasan, sangat menggilai klub sepak bola Paul sejak dulu. Bayern Munchen.


Aku mengalihkan pandangan kembali ke ayahku, yang kini sedang tersenyum dengan mata berbinar-binar. "Aku tidak tahu bagaimana cara mengucapkan terima kasih kepada kalian berdua, ini sangat sulit kucerna."


"Kami senang kalau kau menyukainya, dad. Aku hanya berusaha memberikan sesuatu yang kau sukai, meskipun sebenarnya itu adalah ide Paul." gumamku, membalas senyumnya.


Paul berdeham. "Aku punya semacam firasat yang bagus." ucapnya seraya tertawa.


Louis dan Lucy memberikan sebuket bunga indah dengan berbagai macam jenis dan kue coklet yang nikmat dengan campuran raspberi.


Ayahku, sebagai pria yang memiliki rasa tanggung jawab yang kuat, tidak pernah berniat meninggalkan kami. Dia berjuang amat keras untuk membesarkan Louis dan aku di samping kewajibannya mencari nafkah.


Matahari sudah terbenam dan kami akan segera kembali ke kamar masing-masing begitu selesai membereskan dapur. Aku pamit untuk ke kamar mandi, dan saat aku kembali, aku melihat Louis dan ayahku sudah duduk di ruang keluarga menonton berita. "Dimana Paul?" tanyaku pada mereka berdua, karena dia tidak bergabung disana.


"Masih merapikan dapur bersama Lucy," sahut Louis, menoleh sambil tersenyum sekilas. Dia juga terlihat senang pada apa yang kami lakukan untuk ayahku.


"Oh, okay." Aku agak bingung kenapa Paul dan Lucy bersama-sama, namun aku berharap setidaknya mereka bisa mengobrol dengan pantas.


Aku melangkah menuju dapur, beberapa gelas yang ketenggak tadi membuatku sedikit merasa hangat. Selagi mendekati pintu dapur, aku menajamkan pendengaran pada gumaman yang kudengar dari balik pintu, yang anehnya tertutup rapat. Tidak ada alasan yang tepat yang bisa kupikirkan kenapa pintu itu tertutup karena kami selalu membiarkannya terbuka.


"Kau harus membayar lebih," Aku mendengar suara Lucy sedang berbicara.


"Aku tidak akan melakukannya. Ini pelanggaran, kau harus berhenti sebelum semuanya menjadi lebih kacau dan kau tidak mungkin menghadapinya." suara Paul terdengar tenang, juga marah pada saat yang bersamaan.


Aku mengernyit. Apa yang dimaksudnya dengan pelanggaran? Mereka tidak mungkin membicarakan narkoba, kan? Tidak mungkin atlet secemerlang Paul menggunakan narkoba, dia akan tertangkap dan karirnya pasti hancur.


Aku menggoyangkan kepala, mengusir segala macam pikiran buruk itu, meyakinkan diriku bahwa aku hanya sedang mabuk dan tanpa sadar membayangkan yang aneh-aneh.


"Menurutmu, bagaimana dia akan bereaksi jika mengetahui ini, sayang?" kata Lucy, dengan nada yang sama sekali berbeda dari yang kudengar sebelumnya.


Sesuatu menghantamku. Sesuatu yang sangat kuat membuatku ingin menendang seseorang yang memanggil kekasihku dengan sebutan 'sayang'.


"Aku akan membayarmu, hanya saja..." Paul mengembuskan napas kasar, namun aku segera memotong dan membuka pintu.


Paul sedang duduk salah satu kursi di meja dapur sementara Lucy berdiri di seberangnya dengan kedua tangan terlipat di dada. Mereka menatapku.


"Aku akan menyalakan mesin pencuci piring, terima kasih sudah membantu, Paul." kata Lucy sambil tersenyum pada Paul.


Dia menghela napas, menyurukkan tangan ke rambutnya, mengalihkan pandangan dariku dan menunduk menatap meja di hadapannya. Aku mengamati Lucy selagi dia berputar dan mulai menyalakan mesin pencuci piring.


Seperti orang bodoh, aku berdiri disana. Bingung dan menunggu Paul mengatakan sesuatu. Setelah beberapa saat, dia bangkit dan berderap menghampiriku. Sekarang dia terlihat agak menakutkan. "Paul..." Aku semakin bingung saat dia berjalan dan melewatiku begitu saja.


Aku memutar arah untuk melihatnya naik ke lantai atas, otot punggungnya jelas terlihat sangat tegang. "Aku akan berlari sebentar." gumamnya dengan nada sedingin es.


Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkannya padaku malam itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara Paul dan Lucy, dan tidak ada sesuatu yang masuk akal yang bisa kutangkap dari obrolan mereka. Kalau ini bukan soal obat-obatan terlarang, lalu soal apa?