My Love Journey's

My Love Journey's
Drowning in pain.



...Author's POV....


Bianka terusik oleh suara bip yang mengayun teratur, pikirannya agak berkabut. Dia membuka mata, hanya untuk mendapati pancaran cahaya buram. Dia terpejam sekali lagi dan menarik napas panjang, mencoba mengingat dimana dia berada. Hal terakhir yang muncul di kepalanya adalah dia hendak masuk ke kamar untuk tidur dan lantai yang tampak semakin dekat sebelum semuanya berubah hitam.


Sial!


Bianka membuka mata dengan pandangan yang lebih jernih, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah sakit! Pikirnya, mengerang pelan.


"Bianka?"


Dia tersentak mendengar suara berat dari sisi kirinya, lalu berpaling dan mendapati raut cemas Paul Klug, kekasih hatinya.


"Hei," bisik Paul, berdiri di samping Bianka, tangannya mengusap lengan Bianka dengan lembut. "Bagaimana perasaanmu? Kau membuat kami khawatir, tahu! Apa kau menginginkan sesuatu? Ada yang sakit? Aku akan memanggil perawat, okay?" Paul hendak melangkah, tapi Bianka meraih tangannya.


"Aku tidak apa-apa, Paul. Bisa tolong bantu aku duduk?"


"Tentu," jawab Paul, bergerak dengan hati-hati.


Bianka mengawasi setiap gerakan pria itu layaknya seekor elang dalam perburuan. Pakaiannya kusut tak beraturan, kemudian dia menoleh sebuah kursi di belakang Paul.


Paul pasti tidur disana. Apa dia benar-benar mengkhawatirkanku? Pikir Bianka.


"Sudah berapa lama aku pingsan? Jam berapa sekarang?" kata Bianka setelah meneguk setengah gelas air.


Paul kembali duduk di samping Bianka. Bianka belum tahu harus bersikap bagaimana di dekatnya. Beberapa jam lalu, jelas sekali Paul tidak mau berurusan dengannya, dan sekarang dia justru bertahan di ruang perawatannya.


Apa aku sudah mati? Oh, ya Tuhan! Tapi... apakah hal yang buruk jika aku benar-benar mati? Bukankah memang itu yang kuinginkan? Tidak ada lagi penderitaan!!!


"Beberapa jam. Sekarang jam 11 malam." ujar Paul, membuyarkan pikirannya.


"Wow! Ada apa denganku? Aku tidak mati, kan?"


"Tentu saja tidak. Jangan konyol!"


"Paul, tadi kau bahkan tak mau melihatku leboh dari lima detik, jadi apa yang menahanmu disini saat ini? Apa yang salah denganku?"


Paul berdiri dan menyurukkan tangan ke saku celana jinsnya. Bagaimana cara mengatakan padanya?


"Paul?" desak Bianka. "Aku ingin bicara dengan dokter."


"Kau bisa bicara dengannya besok. Well, kau pingsan karena kelelahan, dan tubuhmu butuh istirahat. Itu saja. Jangan khawatir, yang ada yang perlu kau cemaskan."


Bianka mengernyit. Paul jelas menyembunyikan sesuatu darinya. Dia bisa merasakan itu, tapi tenaganya belum terkumpul untuk memperdebatkan apa pun.


"Aku tahu kau menutupi sesuatu dariku, Paul. Tapi, kita akan membahasnya besok."


"Aku tidak..."


"Jangan bohong." Bianka menyela, lalu menguap. "Kita bahas besok saja."


Paul hanya mengangguk, melemparkan seulas senyum tipis.


Bianka bangun keesokan paginya, merasa agak lebih ringan. Dia membuka mata dan menyadari bahwa saat ini dia hanya sendiri. Perlahan-lahan, dia bangkit, membawa botol infus dan melangkah ke kamar mandi. Dia tidak mungkin bisa mandi dengan selang menempel di tangan. Tapi dia mencoba membuat dirinya tetap layak tampil. Ketika merasa sudah cukup segar, Bianka kembali ke ruang perawatan dan mendapati Paul disana.


Bianka mengamati Paul diam-diam. Penampilannya masih sama seperti kemarin, pakaiannya belum berganti, matanya agak merah. Dia bisa merasakan ketegangan di pundak Paul selagi pria itu menarik napas.


"Kau lapar? Apa kau ingin makan sesuatu? Apa? Katakan saja." Paul mencoba terlihat santai.


Namun, Bianka menyadari keanehan sikapnya. "Aku tidak lapar."


"Bianka, kau harus makan. Berat badanmu turun drastis. Kau tidak boleh melewatkan jadwal makanmu lagi."


Bianka memutar mata jenuh padanya. "Bisakah kau memanggil dokter? Tolong."


"Aku serius, Bianka."


"Aku juga serius, Paul! Panggil saja dokternya. Atau apa aku sendiri yang harus memanggilnya?"


"Perawat sudah memeriksamu pagi ini, dan dia bilang kau baik-baik saja. Apa ada yang sakit?" tanya Paul, alisnya berkerut.


"Tidak ada yang sakit. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku."


Paul menyusurkan jari dengan gusar ke rambutnya. "Kau mengalami gegar otak karena kepalamu menghantam meja atau sesuatu saat kau pingsan. Dan dokter bilang kau pingsan karena kelelahan, dehidrasi, serta tekanan darah rendah. Kemungkinan karena stres."


"Kau yakin hanya itu?" Bianka memperhatikan Paul dengan seksama, tapi pria itu tak mau menatapnya. "Paul?" desaknya sekali lagi. "Apa yang terjadi, Sialan?" Bianka mendengus kesal.


Paul tahu tidak mungkin menutupi berita itu lebih lama lagi, jadi dia mencari kekuatan dari helaan napas. "Kau... Kau keguguran." gumamnya lirih, memberanikan diri melihat Bianka.


Rahang Bianka membuka lebar. "Itu tidak mungkin. Aku tidak... Aku tidak hamil. Pasti ada kesalahan."


"Maafkan aku."


"Tidak!" cetus Bianka, menggelengkan kepala.


"Love..."


"Tutup mulutmu!" gertaknya, turun dari ranjang.


"Apa yang kau lakukan, Bianka?" tanya Paul dengan nada was-was. "Kau harus..." Ucapannya terpotong oleh gelak tawa Bianka.


Tubuhnya membungkuk, kedua tangannya menahan perut yang mungkin terasa melilit karena ledakan tawa. Paul menatapnya dengan ekspresi bingung sebelum maju mendekatinya. Bianka terbahak seperti orang gila.


"Bianka, bisakah kau tenang?"


"Ini pasti lelucon, iya kan?" tanyanya, menghampiri Paul lalu merenggut kaosnya dan mengguncangnya dengan keras. "Tidak mungkin. Katakan kalau kau berbohong. Aku tidak mungkin keguguran lagi, Paul. Kumohon, katakan bahwa hanya ingin menyiksaku lebih jauh. Bahwa ini hanya semacam upaya balas dendam. Kau bohong... kumohon katakan kalau itu tidak benar." Sekarang Bianka memohon dengan segenap hati, tawa histerisnya berganti menjadi isak tangis putus asa.


Hatinya hancur lebur. Tak mampu menerima kenyataan. "Tidak mungkin. Tidak, tidak, tidak..." Dia terus mengulangi ucapannya sementara tubuhnya mulai merosot ke lantai, menjerit dalam kesedihan yang menyesakkan, wajahnya dipenuhi air mata.


Paul ikut terduduk di lantai, menangis bersama kekasihnya yang malang. Pada saat itu, tak ada yang lebih penting baginya di banding ada disana untuk Bianka. Dia berharap bisa menggantikan Bianka menghadapi rasa sakit itu, tapi tak ada yang bisa dilakukannya.


Meskipun mereka pernah mengalami hal yang sama sebelumnya, tapi Paul tidak melihat reaksi Bianka saat itu. Dia tidak menyaksikan momen kehancuran wanita yang dicintainya karena dia langsung pergi. Tapi kali ini situasinya berbeda, Bianka tertekan karena masalah yang mereka hadapi, dan yang lebih parah, Paul justru membiarkannya melewati penderitaan seorang diri meski tujuan sebenarnya bukan itu, tapi Paul menyadari bahwa sikapnya telah mendorong Bianka terperosok ke dalam jurang kehancuran.


Entah apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki ini. Paul tidak tahu.


Jika... seandainya memang ada jalan untuk mengembalikan segala sesuatu pada tempatnya, Paul tetap menyadari tidak akan ada kemudahan.