
Author's POV.
Paul memandangi istrinya. Bianka kembali mengenakan pakaian semalam, sama sepertinya. Hanya selembar seprai di pundak yang menangkal hawa dingin yang dirasakan Bianka, sementara itu Paul belum bisa menebak reaksinya setelah berita itu tersampaikan.
"Jadi?" desak Bianka saat Paul tak kunjung menjawab.
Paul sadar tidak ada jalan untuk melarikan diri dari percakapan itu, maka dia meraih ponsel, lalu membuka video itu dan menunjukkannya pada Bianka. Paul mengamati setiap perubahan ekspresinya dengan seksama. Tapi, entah kenapa tidak ada sedikitpun perubahan disana. Bianka hanya menonton video itu, kemudian membaca postingan Paul di twitter-nya sebelum mengbalikan ponsel Paul.
"Jadi?" tanya Paul, meniru nada Bianka. Dia menjaga tangannya di punggung wanita itu agar Bianka tidak bangkit dan buru-buru menyembunyikan diri di kamar mandi karena marah padanya. Namun, Bianka hanya mengangkat bahu. "Kau tidak ingin mengatakan sesuatu? Tidak marah padaku?" celoteh Paul, keheranan.
"Kenapa?" jawab Bianka dengan bingung, alisnya berkerut. "Tak ada yang ingin kukatakan. Kita melewatkan malam yang luar biasa. Yang dimana, omong-omong, tidak membuatku keberatan jika harus mengulanginya dalam waktu dekat." katanya sambil menyeringai. "Mengapa kita harus terganggu dengan orang tolol yang tidak memiliki pekerjaan yang lebih penting selain merekam kegiatan kita? Kuharap mereka bisa membiarkan kita hidup dengan tenang. Namun, aku bersyukur karena setidaknya itu bukan video saat kita bercinta di taman. Kalau iya, maka sudah jelas aku akan menghilang dalam sekejap." Bianka tersenyum geli.
"Oh!" seru Paul, tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. "Kau benar. Kau pasti membunuhku kalau itu terjadi. Tapi, aku tetap tak menyangka reaksimu akan seringan ini. Aku tidak bisa menebak, tapi sudah tentu ini tidak di pikiranku. Jadi..." gumam Paul, menyusun kata-kata sejenak. "Santai saja? Yah, santai saja."
"Kenapa lagi? Bukankah kau sudah menanganinya?" sahut Bianka, merujuk pada postingan Paul di twitter. "Oh, dan... Aku mencintaimu, Klug."
Paul menyambut dengan satu senyum lega saat Bianka menabrak bibir Paul dengan bibirnya, sebelum memperdalam ciuman mereka.
Paul mendorong Bianka lebih dekat hingga menempel di tubuhnya, membuat seprai di pundaknya merosot ke lantai. Tangannya menyusup ke bawah rok gaun Bianka, menjalar ke arah bagian sensitif wanita itu. Dengan satu gerakan, Bianka menahan tangannya. "Uh, oh! Tidak ada 'sarapan' untuk pagi ini, Sir! Kekasihmu membutuhkan istirahat, setidaknya beberapa jam lagi."
"Oh, ayolah... main cepat saja, love." Paul merengek seperti anak kecil, mengundang gelak tawa kekasihnya.
"Tidak. Tahan sebentar lagi." sahut Bianka, tertawa sambil mendorong dada Paul.
"Baiklah."
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Siapa yang menelepon?"
"Oh, itu hanya Julia yang berusaha merusak suasana hatiku."
Bianka terkekeh. "Bisakah kita kembali ke dalam? Di luar sini benar-benar dingin."
"Tentu." Paul menangkup tubuh Bianka, menggenggamnya dengan mantap sebelum membawanya ke dalam. Dia duduk di salah satu kursi dengan Bianka di pangkuannya. Bianka menyurukkan wajah ke ceruk leher Paul, merentangkan tangan ke sekeliling bahunya.
"Kita membutuhkan pakaian ganti, love. Kalau tidak, kita tidak bisa tinggal lama-lama disini." Paul menggumam halus.
"Aku tahu, tapi aku belum mau pulang ke rumah kakakku."
"Tidak harus kesana, love. Aku punya apartemen. Kurasa kita bisa pulang kesana, tentu saja setelah mampir di rumahmu."
"Tidak." tegas Bianka.
"Dengar..."
"Paul, no! Aku tidak mau kemana-mana, setidaknya sampai pikiranku lebih tenang. Kita tinggal disini atau menyewa apartemen lain untuk sementara waktu." Bianka berkeras bahwa tak satu pun dari tempat-tempat itu yang membuatnya rindu.
Menumpangkan dagu di kepala Bianka, Paul menghela napas berat. "Aku tidak suka kita berdebat untuk hal-hal semacam ini." Dia menarik napas lagi sebelum melanjutkan. "Jika kau tidak mau ke rumah kakakmu, atau ke rumahmu, atau ke apartemenku, yah... tidak apa-apa."
"Kita tidal berdebat, Paul."
"Okay." sahut Paul.
Mereka tetap dalam posisi itu selama beberapa saat tanpa bicara. Sungguh sebuah keheningan yang menenangkan.
"Bianka, kita tidak bisa seperti ini. Aku bersikap seperti halaman buku yang terbuka untukmu. Aku menceritakan apa pun padamu. Perasaanku, ketakutanku, semuanya. Tapi kau... Kau menutup segala sesuatunya untuk dirimu sendiri. Aku mau kau mengungkapkan bagaimana perasaanmu, berkomunikasi denganku. Aku ingin menjadi lebih dari sekedar pasanganmu, aku ingin menjadi temanmu, bahu tempatmu bersandar saat kau membutuhkan, telinga yang siap mendengar segala keluh-kesahmu. Aku ingin kau percaya sepenuhnya padaku, baik untuk hal-hal remeh atau masalah besar sekalipun."
Bianka masih terdiam untuk sejenak, sebelum sebelum melepaskan pelukan di leher Paul. "Aku membencimu."
Paul terperangah memandangnya. "Maaf, apa?"
"Kau bilang ingin mendengar keresahanku, maka inilah yang kurasakan. Aku membencimu. Bukan sebagai dirimu, tapi lebih kepada pekerjaanmu. Sejak dulu, kau sudah tahu aku tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh, tapi pekerjaanmu mengharuskan kita terus berpisah. Yah, memang bukan untuk waktu yang lama, tapi tetap saja... Aku tahu hanya itu yang bisa kau lakukan untuk bertahan hidup, tapi Paul... Aku tidak menyukainya. Aku merasa seperti pelampiasan untukmu, seperti simpanan..."
Paul melongo. "Oh, kau tidak pernah bilang seperti itu. Kupikir kau sudah bisa menerimanya. Aku bisa mencari pekerjaan lain kalau memang..."
"Kupikir kau akan paham."
"Love! Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Bagaimana caranya aku dapat mengetahui apa yang kau rasakan jika kau tak mengatakannya?" kata Paul, ini semacam berita baru untuknya. Selama ini dia mengira Bianka baik-baik saja dan benar-benar tidak tahu kalau wanita itu merasa tertinggal. Ini lebih meresahkan baginya daripada mengakui bahwa Bianka tidak percaya padanya.
Bianka menunduk lemah, menatap dada Paul sementara jemarinya bermain di ujung lengan kaos pria itu. "Kurasa kau benar. Seharusnya aku mengatakannya padamu." Dia mengakui. "Aku tahu mungkin akan terdengar bodoh sekarang, tapi aku hanya tidak mau membuatmu terganggu."
"Aku ingin kau terus menggangguku. Bahkan meski hanya untuk segelas air atau memijat kaki. Aku mencintaimu, Bianka. Aku minta maaf karena tak menyadari telah membuatmu merasa seperti itu."
"Aku minta maaf karena begitu menutup diri. Aku akan mencoba yang terbaik untuk lebih terbuka."
"Terima kasih." balas Paul dengan perasaan lebih tenang. "Mau mencoba lagi? Menceritakan mimpimu?"
Bianka menghela napas dan bangkit dari pangkuan Paul, kemudian berjalan beberapa langkah. "Apa lagi yang harus kukatakan?" Ketika berbalik, matanya sudah merah. "Aku terus mengalami mimpi yang sama. Kau sudah tahu keseluruhannya." Dia mengangkat bahu. "Apa yang ingin kau dengar sebenarnya? Bahwa aku berharap mereka ada disini dan akulah yang mati? Kau sudah mendapatkannya. Puas?" Air mata mengalir di pipinya.
Rahang Paul menggantung. Dia berdiri dan mengikis jarak di antara mereka. "Jangan berkata seperti itu!" gumamnya dengan suara pelan namun tegas, kedua tangannya di pundak Bianka.
"Kau ingin tahu bagaimana perasaanku. Inilah yang kurasakan. Setiap kali aku terbangun setelah mimpi itu, aku ingin mati." Bianka tersedu-sedu.
"Kau tidak boleh menyerah." desis Paul sambil menarik Bianka ke dadanya. Matanya sendiri mulai basah. "Kau tidak boleh mati dan meninggalkanku sendiri. Kita akan punya anak lagi, Bianka. Selusin kalau kau mau. Tapi aku menolak kehilanganmu."
Paul menangkup wajah Bianka dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu menatapnya. Satu-satunya yang bisa dia lihat di mata wanita itu hanya keputusasaan. "Berjanji padaku, Bianka... Berjanjilah kau tidak akan melakukan hal bodoh. Kita akan melewati ini bersama-sama. Jangan takut rasa sakitmu akan mempengaruhiku. Kita bisa melakukannya, lebih baik dan lebih kuat. Berjanjilah padaku."
Bianka mengangguk, kembali menempatkan kepalanya di dada Paul sementara pria itu memeluknya lebih erat. Mereka terisak, saling memeluk dan menguatkan satu sama lain sampai ponsel Paul mendadak berdering.
Bianka mengurai pelukan mereka. "Angkatlah. Aku juga ingin ke kamar mandi sebentar." gumamnya, langsung melangkah ke kamar mandi.
Paul menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Halo?"
"Selamat pagi, Mr. Klug. Aku sudah menitipkan kunci di bagian resepsionis hotel seperti yang anda katakan. Silahkan beritahu saya jika anda membutuhkan hal lain."
Senyum Paul terbit. Dia benar-benar tidak mengingat rencananya memberi kejutan untuk Bianka. "Terima kasih." balasnya. "Aku akan kembali menghubungimu."
"Baiklah. Saya harap kekasih anda menyukainya."
"Aku juga mengharapkan hal yang sama. Terima kasih, dan sampai nanti."
"Selamat pagi, Mr. Klug."
Paul memutus sambungan dengan senyum mengembang sangat lebar, tak sabar menunggu hingga beberapa jam ke depan.