
Author's POV.
Bianka berbaring di ranjang bersama Paul. Dia sudah membuka mata sejak dua jam lalu, dan memanfaatkan waktu untuk menyegarkan diri sebelum memulai hari. Setelah selesai, dia kembali ke dalam kamar dan berbaring di sisi Paul, pandangannya menyapu seluruh sudut wajah kekasihnya.
Paul menelungkup, kepalanya menghadap Bianka, kedua tangan menyilang di bawa kepala. Dia kelihatan lebih muda dan segar. Dengan pelan, Bianka mengusap garis-garis wajah Paul dengan ujung jemarinya, sentuhannya selembut angin. Bianka tidak mau mengganggu tidurnya. Dia menyukai momen damai seperti itu, dimana hanya hembusan napas mereka yang terdengar di udara.
Telunjuknya menyentuh kerutan kecil di sekitar mata Paul. Kerutan itu hanya samar-samar, hampir tak terlihat, namun Bianka tak menganggapnya sebagai masalah. Karena sebaliknya, kekurangan itu justru membuat Paul tampak lebih tampan. Pandangannya kemudian beralih pada hidung dan bibir Paul, sebelum mencondongkan tubuh ke depan dan mengecup singkat disana. Paul mengerutkan hidungnya dan memutar kepala ke arah lain, belum mau membuka mata.
Bianka mengayunkan tangan dan menggambar pola acak di bagian belakang leher Paul, menyukai perbedaan warna kulit mereka yang sekarang terlihat lebih mencolok. Bianka tahu Paul tidak suka dibangunkan tanpa alasan yang jelas, khususnya setelah mereka melewati malam yang panjang.
"Stop!" Paul mendesis, suaranya berlapis kantuk.
Bianka mendorong tubuhnya ke depan dan mencium tengkuk Paul. "Bangun, sayang."
"Noooo! Biarkan aku tidur satu jam lagi dan kau boleh melakukan apa pun setelah itu."
"Tiga puluh menit." dengus Bianka, mengalah dan berguling ke samping. Dia memejamkan mata, menarik napas panjang lalu membukanya lagi. Dia masih tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu hingga mereka tiba pada pagi hari Natal. Bianka hanya ingin berbaring dan bermalas-malasan seharian dengan Paul. Namun, itu bukan pilihan. Mereka harus mengunjungi keluarganya untuk acara santap siang Natal.
Bianka beringsut duduk di tepi ranjang dan melayangkan pandangan ke seluruh ruangan yang masih kosong itu, kecuali sebuah matras yang mereka gunakan saat itu dan satu pohon Natal hiasan yang berdiri di salah satu sudut kamar. Paul menyatakan dengan tegas bahwa itu merupakan kebutuhan mutlak sebelum mereka membelinya dua hari lalu.
Paul ingin merayakan Natal tahun ini di rumah baru mereka, yang dia anggap sebagai hadiah Natal untuk mereka berdua. Dan dia berharap mereka bisa tinggal disana bahkan sebelum arsitek yang akan merombak kekurangan di sana-sini mulai bekerja. Setelah beberapa saat, Bianka beranjak keluar dari kamar.
Tidur Paul terusik oleh suara Bianka yang sedang bernyanyi. Dia belum membuka mata, berpikir jika dia mengabaikannya, mungkin wanita itu akan memberinya waktu untuk tidur lebih lama.
I don't want a lot for Christmas...
There is just one thing I need...
I don't care about the present...
Paul menggerutu dalam hati, dia tahu Bianka tipikal wanita pagi. Tapi, kenapa harus hari ini? Tidak bisakah dia kembali ke kamar dan tidur sebentar lagi?
Underneath the Christmas tree...
I just want you for my own...
More than you could ever know...
Paul merasa kasur di belakangnya menyusut selagi Bianka duduk disana, suaranya terdengar lembut dan pelan tapi cukup keras untuk membangunkan Paul. Dia tak bisa apa-apa selain tersenyum, lalu berguling dengan mata madih terpejam.
Make my wish come true...
All I want for Christmas is you...
Paul merasakan jari lentik kekasihnya menusuk dadanya sementara dia terus bernyanyi. "Buka mata indah itu untukku, Paul." bisik Bianka.
"Aww! Menurutmu mataku indah?" tanya Paul menggodanya, suaranya serak dan berat.
"Matamu indah dan mengagumkan. Suatu anugerah terbaik dari Tuhan." jawab Bianka.
Paul terkekeh, Bianka terdengar seperti anak kecil dengan nada yang mengejutkannya lebih tinggi dari biasanya. Paul membuka mata dan mengangkat sebelah alis. "Baiklah. Aku, aww..." Dia berhenti sesaat sebelum melanjutkan. "Apa itu?" tanyanya, matanya membelalak sebesar mangkuk bubur.
Paul tak dapat memalingkan wajah dari dada Bianka. Ini sama sekali tak terduga. Alisnya mengernyit. "Apa itu, love?" tanyanya sekali lagi.
Paul mengulurkan tangan dan menyentuh benda itu. Wow, lembut sekali.
"Kau boleh mengambilnya. Itu milikmu." bisik Bianka, dan Paul langsung menurut.
Dia mengangkat seekor anak anjing yang mendekap di dada Bianka ke tangannya. Anjing labrador kecil berwarna cokelat. Anjing itu merengek sedetik dan menengadah melihat Paul. Matanya hijau. Dia memiringkan kepala dan mendengus pelan kemudian beralih memandang Bianka, sebelum menatap Paul lagi dan menjilat lengan pria itu, ekornya bergoyang.
Paul tertawa dan meregangkan kepala. "Siapa namanya?" Dia bertanya sambil meletakkan anjing itu di kasur lalu mengajaknya bermain.
"Aku tidak tahu. Dia milikmu, kau yang harus memberinya nama."
Paul mengangguk, masih bermain-main di atas kasur dan tertawa. Dia sama sekali tidak mengharapkan hadiah. Sejujurnya, Paul malah dengan tegas mengatakan pada Bianka untuk tidak memberinya apa pun. Tapi hal kecil ini membuatnya bahagia, tidak terlintas di pikirannya bahwa dia menginginkan seekor anjing.
"Hey, kawan! Dengan nama apa kami harus memanggilmu?" tanyanya pada anjing itu.
Makhluk mungil itu mendadak berhenti melompat dan berselonjor di kasur, telinganya menjuntai dan matanya menatap Paul. "Oscar? Milo? Archie?" Paul mulai mengeluarkan beberapa nama, menopang dagu dengan tangan. Si anjing memandangnya tanpa ekspresi. "Jack? Nick?" Dia mengangkat kepala, seringai senang muncul di sudut bibirnya. "Aku tahu. Kita akan memanggilmu Benji!"
Si anjing menggonggong dan melompat dengan cakarnya, ekornya bergoyang. Paul terkekeh. "Kalau begitu, sudah resmi, Benji."
Bianka menyaksikan selagi Paul bermain dengan Benji, yang terlihat seperti anak kecil kegirangan mendapatkan mainan baru kesukaannya. Tapi, Bianka perlu memastikan. "Apa kau menyukainya?"
Paul memajukan wajah dan mencium kekasihnya. "Ini hadiah terbaik yang pernah kudapatkan. Terima kasih, love."
Setelah beberapa saat, Paul beranjak dari ranjang dengan Benji di tangannya. Dia berjalan ke kamar ganti sambil membawa sebuah bingkisan di tangannya. "Bukalah." katanya.
Bianka menerima bingkisan itu, mengguncangnya sekilas dan berusaha menebak-nebak isinya. "Kupikir kita sudah setuju tidak ada hadiah untuk tahun ini?"
Paul menggeleng. "Kurasa kita berdua ingin membahagiakan satu sama lain. Meskipun mungkin itu juga hadiah yang lebih tepatnya membuatku bahagia."
Bianka mengerutkan alis, tatapannya lebih serius. Dia membuka bingkisan itu dan mengeluarkan isinya. "Kaos?" tanyanya, bingung.
"Lihat bagian depannya, love." desak Paul sambil menyeringai.
Seketika Bianka tercengang membaca tulisan di kaos itu.
...'Kekasihku pemilik benda pusaka... maksudnya hati.'...
"Sungguh, Paul?" dengus Bianka. "Berapa umurmu sebenarnya?"
"Lho, kenapa? Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kau sudah ada yang punya." balasnya sembari tertawa dan menurunkan Benji.
"Ugh! Kalau begitu, aku akan memakainya hari ini, di depan ibumu dan keluargaku. Dan, akan kupastikan Anne tahu inilah yang kau siapkan sebagai hadiah Natal untukku." ancam Bianka sambil menahan tawa saat melihat wajah Paul mendadak pucat.
"Jangan coba-coba!"
"Lihat saja nanti." balas Bianka, melepas kaos yang dikenakannya dan hendak menggantinya dengan kaos pemberian Paul.
Tapi, Paul buru-buru merebut kembali kaos itu. "Aku akan memberikannya padamu besok."
Bianka berdiri dan mengejar Paul, mencoba merebut kaos itu. "Kau curang! Kembalikan hadiahku!" Dia merengek dan menginjak-injak lantai dengan kedua kaki.
Sementara itu, Paul hanya tertawa, menyempatkan merunduk meraih Benji dan melarikan diri dari serangan kekasihnya.