
Paul mengajak ibunya dan aku berkeliling untuk lihat-lihat sekitar rumah yang ditempatinya di Madrid, Spanyol. Namun sepanjang waktu itu, nyaris seluruh perhatianku terpaku pada Paul. Pesonanya jauh lebih menarik dibanding rumah itu sendiri.
Rambut panjang dan janggut yang menghiasi wajahnya berpadu dengan kantung mata hitam dan tebal yang sebelumnya tidak pernah kulihat membuatku penasaran apakah dia benar-benar tidur dengan baik atau tidak.
"Bianka?" panggilnya, menarik kembali pikiranku.
Aku berdeham sekali. "Hm?" Dia menyadari kalau aku sedang memperhatikannya, terlihat dari seringai genit di sudut mulutnya.
"Aku sudah menyiapkan makan malam." Ulang Paul karena aku tidak mendengar saat dia berbicara, sementara ibunya tersenyum penuh arti disampingku.
"Ah, bagus sekali," Aku menganggukkan kepala, gugup saat bertatapan dengan matanya yang terlihat begitu 'kelaparan'. Aku benar-benar tenggelam dalam tatapannya sampai telingaku menangkap suara dehaman dari ibunya.
"Aku akan mandi sebentar dan segera menyusul," kata ibu Paul. "Kalian boleh makan duluan kalau sudah lapar..."
"Okay," Paul menganggukkan kepala lalu mengembalikan pandangan ke arahku. Aku bahkan tidak menyadari ibunya sudah berjalan menaiki anak tangga menuju kamar tamu, sampai Paul meraih tanganku dan menuntunku ke ujung ruangan yang agak tersembunyi.
"Kau benar-benar membuatku gila," gumam Paul. Punggungku bersandar di dinding, merasakan aliran darahku yang memanas.
"Paul, aku..."
"Sssh, baby," Dia menyapukan bibirnya sekilas ke bibirku sementara tangannya mencengkeram pinggulku. "Kau tidak akan tahu betapa aku merindukanmu. Aku tidak bisa tidur nyenyak tanpamu, Bianka. Astaga..."
Aku menghembuskan nafas gemetar. "Kita perlu meluruskan sesuatu terlebih dahulu..."
Dia mundur sedikit untuk menatapku. Pikiranku mulai melayang kemana-mana saat aromanya menusuk hidungku. Kalimat yang sudah kususun sebelumnya seolah hilang begitu saja. Meskipun aku sempat kesal karena beberapa gosip tentang Paul bersama model Spanyol, pada kenyataannya aku tidak bisa marah setelah kami berhadapan seperti ini. Perasaan rinduku lebih besar dari apapun.
"Maaf, sikapku memang berlebihan," katanya dengan kepala tertunduk lalu menyusurkan tangan ke rambutnya. "Tidak kusangka aku yang pertama kali terusik dengan ini. Tadinya kupikir kau yang akan uring-uringan, jadi aku menunggu kau mengatakan seauatu... Tapi tidak mengeluh, Bianka. Well, itu mengejutkan."
"Aku hanya mencoba menjalaninya dengan santai, dan aku tidak mau kau melampiaskan kekesalanmu padaku..." Aku tersenyum padanya, menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan mengusap lembut pipinya. "Sungguh, aku ingin datang minggu lalu dan aku benar-benar tidak tahu Dr. Grey berencana memberiku kejutan dengan memberiku waktu libur lebih panjang."
"Seharusnya kau tetap bilang padaku, love. Jet-ku sudah menunggumu di bandara..." Dia menggeleng seraya terkekeh. "Tapi itu sudah berlalu. Aku minta maaf atas sikapku yang berlebihan, rasa takut kau meninggalkanku membuatku tak bisa berpikir jernih."
"Paul..." Aku mengernyit, tidak ingin dia merasa khawatir aku meninggalkannya. "Jangan berpikir seperti itu. Ini saat-saat terbaik yang kita miliki sekarang, berhenti memikirkan hal yang tidak penting."
"Ah, astaga... aku sangat merindukamu, love."
Aku menarik nafas sambil tertawa halus. "Aku juga. Kita bisa melaluinya sejauh ini, dan ku..."
Serangan mulut Paul membuatku terdiam. Aku balas menciumnya tanpa ragu, kedua tanganku menangkup wajahnya sementara dadaku menempel di dadanya.
Paul menyusupkan tangan ke balik bajuku, bertahan di tempat yang pantas karena menyadari ibunya bisa turun kapan saja. "Apa kau memakai cincinmu?" gumamnya di bibirku.
Aku mengangguk. "Tidak pernah lepas sejak kau memberikannya padaku..."
"Bagus, love." Dia menggigit bibir bawahku lalu menurunkan mulutnya menyusuri leherku.
"Jangan sekarang, Paul..." Aku merasakan napasku semakin pendek karena serangan luar biasa dari bibirnya pada bagian tubuhku yang begitu sensitif, membuatku menggila. "Bersabar sebentar, kita punya waktu semalaman begitu masuk ke kamar..."
Aku tahu ucapanku tidak masuk akal, benakku terlalu sibuk dengan berbagai jenis pemikiran liar untuk memahami hal lain sepenuhnya. Tapi aku tetap harus menahan diri sebelum dia bertindak lebih jauh.
"Ya, ya..." Paul terlihat tidak peduli sama sekali, dan sekarang dia malah menghisap leherku dengan cara yang membuatku nyaris pingsan karena merasa nikmat, ditambah lagi sapuan nafasnya yang panas di kulit leherku. Aku benar-benar akan meleleh.
Paul menggerakkan tangannya di sepanjang bagian sisi tubuhku, merasakan kulitku yanh memanas sampai gerakannya berhenti di punggungku. Awalnya kukira dia hendak mendorongku hingga dada kami semakin menempel, namun dengan satu sentakan ahli Paul justru melepaskan kaitan braku.
"Boleh kubuka, love?" tanyanya, kembali mencium bibirku. Aku merasakan kejantanannya mengeras di balik celananya, dan aku tahu tubuhku yang menyebabkan itu.
"Ya," balasku dengan bisikan gemetar. Aku membiarkannya mundur sedikit untuk memberi ruang agar aku bisa melepaskannya lalu menyerahkannya kepada Paul.
"Aku akan menyimpannya baik-baik." Paul menyeringai nakal dan menyelipkan braku yang terlipat ke dalam saku depan hoodienya. Aku mengangkat alis padanya, sementara bibirku menirukan seringai di mulutnya.
"Apa aku sudah mengatakan kalau kau terlihat lebih tampan? Dengan rambut panjang ini?" kataku, memanjakan penglihatanku sambil mengagumi ketampanannya.
"Kau suka?" Dia memutar kepalanya ke kanan dan kiri agar aku bisa mengamatinya baik-baik. Kemudian, dia menggoyangkan alisnya untuk menggodaku.
Aku tertawa dan mengangguk. "Kurasa sangat cocok denganmu..."
"Aku pasti memotongnya kalau tahu kau datang." dengkurnya lembut seraya menaikkan pandangan ke mataku. "Janggutku pasti membuatmu geli saat aku menciummu."
Kepalaku menggeleng cepat. "Ciumanmu selalu nikmat, dan... aku bisa merasakan sensasi baru dengan rambut-rambut itu..."
Aku terkekeh dan menarik pinggulnya lebih dekat. "Pada semua janggut kurasa, tapi milikmu lebih spesial."
"Aw, aku belum pernah mendengar seseorang mengatakan itu..." katanya sambil tergelak.
"Pfft, mereka hanya terlalu malu mengakuinya." godaku dengan genit, hampir tak sanggup menahan diri lebih lama. "Cium aku."
Paul menurut tanpa menunggu lama. Dia menepis jarak di antara kami seraya menyusupkan tangannya ke balik bajuku, perlahan naik ke atas hingga menangkup dadaku. Sentuhannya begitu lembut dan hati-hati seakan dia takut kukunya menggores kulitku, membuatku merasa pertemuan ini benar-benar melegakan.
Tak peduli sekeras apapun usahaku untuk berhenti memikirkan situasi kami saat ini, tapi aku tidak pernah bisa benar-benar melupakannya. Aku merasa kami harus membicarakannya sekali lagi, setidaknya untuk menyampaikan bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadap keadaan ini sebelum sesuatu yang buruk terjadi dan kami tidak bisa menghentikannya.
"Paul, kita harus menghentikan ini," gumamku di bibirnya, menyadari aku tidak akan bisa mengendalikan hasratku jika dia terus menggodaku seperti ini.
"Aku tahu, love." Dia menciumku sekali lagi, lebih dalam dan lama, kemudian menarik diri dariku.
Jantungku masih berdegup amat kencang akibat kegiatan saling menggoda barusan. Hasrat dan gairahku benar-benar sudah terkumpul di antara kedua pahaku.
Paul mengusap rambutnya dengan wajah frustasi yang amat jelas. "Ayo ke ruang makan," cetusnya serak, lalu berdeham.
Dengan punggung yang masih menempel di dinding, aku menganggukkan kepala. "Okay."
Beberapa detik berlalu, tak satupun dari kami beranjak ke ruang makan. Masih banyak yang ingin kukatakan padanya, begitu pula dengan keinginanku untuk menyentuh tubuhnya lebih lama.
"Bianka, jangan menatapku begitu..." Dia tergelak menahan tawa, nadanya lebih rendah selagi dia menundukkan kepala. "Kau tahu, matamu melakukan itu lagi. Kumohon berhenti, aku sedang berusaha menjernihkan pikiranku agar tidak menyeretmu ke kamar."
"Oh," desisku bingung, aku sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan oleh mataku, yang kutahu hanya perasaan membutuhkan dirinya tumbuh semakin besar saat ini.
Paul Klug, pria tampan dan baik hati yang berdiri di hadapanku saat ini merupakan tunanganku. Ya Tuhan... aku belum percaya itu sepenuhnya. Sejauh ini, belum ada yang mengetahui soal pertunangan kami kecuali keluarga. Paul dan aku memutuskan untuk tetap merahasiakannya sampai hari pernikahan kami yang sama sekali belum terpikirkan hingga saat ini. Aku tidak mau mengambil langkah gegabah hanya karena perasaan bahagia yang baru beberapa saat kurasakan. Tentu, aku percaya padanya, tapi menikah merupakan hal serius yang perlu dipikirkan dengan baik.
"Lihat, kau melakukannya lagi, love." satu tawa halus mencelos dari sela-sela mulutnya ketika pandangan kami kembali beradu. "Astaga, aku benar-benar tidak menyangka kau datang, Bianka. Kau tahu, aku merasa seperti anak kecil di Hari Natal."
Aku tersenyum seraya menegakkan tubuh. "Aw, manis sekali. Senang kalau kau bahagia, aku sengaja melakukannya untuk menebus kesalahanku minggu lalu, seharusnya kita bisa berjumpa saat itu..."
"Sudahlah, lagi pula kau ada disini sekarang." Dia membalas senyumku lalu menautkan jarinya padaku dan kami mulai melangkah ke ruang makan. "Dengar, waktu kita tidak banyak, tapi kalau nanti tenagamu masih tersisa, aku ingin kita membahas sesuatu."
"Membahas sesuatu? Tentang apa?" tanyaku selagi kami memasuki ruang makan.
"Bukan hal serius. Aku hanya ingin mengobrol, seperti yang selalu kita lakukan."
"Yang selalu kita lakukan?" kataku mengulangi sambil menaikkan alis. "Itu berarti kita bercinta dan berakhir membicarakan hal remeh sampai jam tiga pagi..."
Paul tertawa, melepaskan genggaman tangannya lalu menarik kursi untukku. "He? Siapa bilang remeh? Aku menikmatinya, ya. Kita sangat jarang mengobrol sejak aku pindah kesini."
"Jadi, kau hanya ingin mendengarku berbicara?" Aku mendaratkan bokong di kursi dan memutar tubuh menghadapnya.
Sambil bersandar, Paul mengeluarkan senyum manis yang selalu membuatku meleleh. "Hm, kau melupakan bagian pentingnya, love."
Aku tertawa seraya menggelengkan kepala. "Ah, ya, kau benar. Baiklah, kita akan bercinta seperti orang gila, lalu mengobrol selama yang kau inginkan, atau sampai aku tertidur."
"Bagus. Uhm, love... aku mau kau menonton sesi latihanku besok." cetusnya seringan debu.
"Apa itu perintah, Baginda Paul?" godaku sembari tersenyum genit, membuat Paul menggeleng tak percaya.
"Sama sekali tidak. Kurasa ibuku ingin jalan-jalan selama berada disini dan aku sudah menyuruh Alfred menemaninya. Jadi, apa kau mau menontonku selagi dia menghabiskan di luar?"
"Okay. Apakah ada pria tampan di Real Madrid?" tanyaku bercanda, membuat ekspresi Paul berubah seketika. "Maksudku, harus ada pemandangan yang menarik selagi aku menunggumu, kan?" sambungku, mengangkat bahu cuek.
"Jangan memancing, Rapunzel. Kau tidak tahu bagaimana frustasinya harus berjauhan denganmu, dan sekarang kau menggodaku?" Paul menghela nafas seraya memijat hidungnya.
Aku terkekeh dan mendorong tubuhku lebih dekat padanya lalu mengarahkan wajahnya agar menatapku. Tanpa mengatakan apa-apa, aku mencium bibirnya dengan serakah, menyatakan kalau aku tidak serius dengan ucapanku.
"Okay, maaf, sikapku berlebihan." gumamnya begitu ciuman kami terlepas.
Sekali lagi, tanpa mengucapkan satu patah katapun, aku kembali menciumnya. Bersamaan dengan itu, terdengar derap langkah ibunya menuruni anak tangga dan aku segera menarik diri dari Paul.
Paul tersenyum sambil berdeham, "Kita lanjutkan setelah makan malam, Bianka..."