My Love Journey's

My Love Journey's
A chance.



"Love."


Seketika tubuhku membeku. Aku mengenal suara dalam dan serak itu. Aku mengenalnya selama bertahun-tahun. Kumohon, jangan dia. Kumohon, Tuhan, jangan...


Aku berbalik dan tatapanku beradu dengan sepasang mata gelapnya. Oh, tidak, itu benar-benar dia! Mendadak semua orang di ruangan menghilang, aku merasa seolah terhisap ke dalam lubang yang sangat dalam lalu terkunci di sebuah ruangan bersamanya. Aku hanya melihat matanya, wajahnya, senyumnya, dan sekujur tubuhnya. Suara yang kudengar hanya detak jantungku dan helaan napasnya meski dia cukup jauh dariku. Ini pasti mimpi.


"Bianka," katanya, dengan nada yang sama, kelembutan yang sama, seperti dulu saat dia memanggilku. "Happy birthday, Love."


Aku ingin memeluknya, tenggelam ke dalam dirinya, namun tiba-tiba sekujur tubuhku menegang begitu mengingat hari dimana dia marah, merendahkan, dan mendorongku menjauh dari hidupnya lalu menghilang begitu saja. Daguku gemetar sementara aku mengepalkan kedua tangan kuat-kuat.


"Siapa yang mengijinkanmu masuk ke rumah ini?" dengusku tajam, menahan air mataku agar tidak tumpah.


"Love," Dia melangkah hendak mendekatiku.


"Stop!" bentakku, mengalihkan pandangan darinya. Aku berusaha mengendalikan amarah di dadaku dengan menarik napas dan memejamkan mata. "Jangan coba-coba mendekat."


"Bisakah kita bicara?" bujuknya lembut, amat sangat lembut sampai aku merasa tertarik ke dalam dirinya.


Aku mendengus jijik. "Tak ada yang ingin kubicarakan denganmu." Aku memandang Melissa. "Terima kasih karena sudah menyiapkan hari ini, tapi maaf aku tak bisa berlama-lama. Aku akan mampir lain kali." kataku, lalu bergegas melintasi ruangan dan keluar.


Aku bisa mendengar derap langkahnya mengejarku dan aku terus berlari, mengambil langkah sepanjang dan secepat yang kubisa hingga berhasil masuk ke dalam lift dan turun tepat sebelum dia mencapai pintu lift. Kusandarkan punggungku ke belakang dan aku menutup mata sambil mengatur napas. Fu¢k!


Apa yang dilakukannya di sini, dan bagaimana dia mengetahui rumah Panda? Ah, tentu saja ayahku yang melakukan itu. Ayahku selalu mengatakan bahwa ada sesuatu yang memaksa Paul meninggalkanku, tapi dia tak mau mengatakannya. Di awal-awal, aku mencoba percaya, tapi semakin lama rasanya semakin menyesakkan karena Paul tak pernah menunjukkan tanda-tanda akan kembali padaku. Lantas sekarang, setelah tiga tahun menghilang dan menikmati hidup dengan tenang sementara aku menghabiskan setiap detik dengan bertanya-tanya, dia justru datang dengan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. What the fu¢k!


Ketika lift akhirnya berhenti dan pintu terbuka, aku langsung berlari keluar menuju area parkir. Aku nyaris mencapai mobil saat seseorang menarik lenganku.


"You can't run from me."


Sial! Aku berbalik, mengertakkan rahang sambil melepaskan diri darinya. "Let me go, you fu¢king asshol€!" kataku berteriak, masih memberontak.


Dia tertawa seperti iblis, membuatku yakin dia telah kehilangan kewarasannya. "Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kita berbicara. Aku tidak menggigit. Tidak perlu takut, Rapunzel." Dia menarikku secara paksa hingga berhenti di depan sebuah mobil, membuka pintu dan mendorongku ke dalam, lalu menyusul dari pintu pengemudi.


"Aku bukan Rapunzel!" Aku mengumpat dan meringis saat merasakan sakit akibat cengkeramannya di lenganku. "Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa yang kau inginkan?" Aku merasakan wajahku memanas dan mataku mulai basah. Terakhir kali dia bertindak sekasar ini adalah sesaat sebelum dia pergi meninggalkanku. Tiga tahun lalu.


Dia menoleh sekilas, menghidupkan mesin mobil, tapi tidak ada tanda-tanda akan mengemudi. "Aku hanya ingin bicara denganmu, Bianka. Berbicara. Aku tidak akan menyakitimu jika kau menurut. Jadilah gadis yang baik." Dia menyandarkan kepala ke belakang sementara aku membuang pandangan ke luar melalui jendela di sisiku.


Aku menelan ludah dan berusaha agar tidak melihatnya. Aku tidak akan menyerah dengan mudah setelah apa yang dia lakukan padaku meski jauh, jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku sudah kalah begitu mendengar suaranya. Dan, aku yakin dia juga mengetahui itu.


Tidak ada satu pun dari kami yang bersuara hingga keheningan terasa mencekam. Aku tidak mau mengatakan apa pun, setidaknya sampai aku mendengar sesuatu yang masuk akal darinya, seperti alasan dia menghilang seolah seseorang telah menguburnya hingga ke dasar bumi.


"Bianka," katanya dengan nada lebih pelan. "Banyak hal yang ingin kusampaikan padamu. Tapi, pertama-tama, aku minta maaf karena telah menyakitimu." Dia berdeham. "Sial! Maukah kau ikut denganku? Sebentar saja. Kumohon."


Aku mendengus. "Tidak. Aku sudah memaafkanmu kalau memang itu masalahnya," tolakku keras. "Katakan apa pun yang ingin kau katakan. Dan, kita tak perlu bertemu lagi."


Dia menghembuskan napas, terdengar putus asa. "Kumohon, Bianka. Ibuku juga berada di sini. Dia sangat ingin bertemu denganmu." gumamnya frustasi.


Apa aku tidak salah dengar? Aku mengeluarkan tawa getir, tak percaya dengan kata-katanya. "Oh, bagus sekali. Dulu kalian semua memperlakukanku seperti sampah, dan sekarang tiba-tiba kalian datang seolah tidak terjadi apa-apa. Menurutmu, aku harus bersikap bagaimana, Paul?" tanyaku sinis sambil menatapnya. "Saat kau menghilang, tak seorang pun bersedia memberiku penjelasan, termasuk ibumu. Berkali-kali aku mendatangi rumahnya, berdiri di depan pintu seperti pengemis hina selama berjam-jam, tapi dia tidak pernah membukakan pintu untukku padahal aku tahu dia ada di dalam. Kau tahu itu, kan? Semua teman-temanmu menjauhiku. Semuanya. Bahkan Valerie, yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri juga ikut memusuhiku." Tenggorokanku tercekat saat rasa sakit akan hari-hari kembali melintas di benakku.


"Apa yang membuatmu merasa bahwa aku pantas mendapat perlakuan seperti itu? Apa karena aku tak bisa menjaga anak kita? Itu bahkan bukan kesalahanku sepenuhnya. Aku benar-benar tidak mengetahuinya sampai kita ke rumah sakit. Dan, kalau kau merasa kecewa karena kehilangan, apa kau pikir aku bahagia? Seharusnya kau ada di sampingku. Seharusnya kita melewatinya bersama-sama. Aku sangat membutuhkan dukunganmu, tapi kau..." Aku menggelengkan kepala. "Kau pergi, Paul. You left me when I needed you."


Dia berdeham. "Love, percayalah, ada alasan masuk akal kenapa aku meninggalkanmu. Dan, kau perlu mendengar semuanya,"


"Setelah tiga tahun?" Aku mendengus. "Kurasa tidak. Aku tidak perlu mendengarkan apa pun. Aku sudah baik-baik saja, jadi tak perlu merasa bersalah. Well, pada akhirnya semua orang tetap menyalahkanku."


Aku tidak tahu apakah pikiranku benar, tapi setidaknya begitulah yang bisa kusimpulkan saat semua orang menjauhiku. Orang-orang terdekatnya.


"Bianka," panggilnya dengan nada putus asa dan aku menggelengkan kepala.


"It's okay, Paul." desisku, lalu menurunkan pandangan ke sekujur tubuhnya dan tersenyum getir saat mataku melihat tubuhku sendiri. "Kau terlihat baik-baik saja. Setidaknya itu cukup membuktikan bahwa kehidupanmu tidak berubah sedikit pun setelah kau meninggalkanku." Aku benci mengakuinya, tapi dia tampak sangat menggoda.


Namun, pada saat ini aku menyadari betapa bodohnya diriku yang tidak bisa melupakannya sehingga tanpa sadar hidupku sendiri telah rusak. Hatiku sudah mati. Aku tak bisa melihat ke arah lain. Pikiranku selalu berpusat padanya. Mungkin aku benar-benar mencintainya, atau mungkin aku hanya terobsesi untuk mendapatkannya kembali lalu menghancurkan perasaannya, seperti yang dia lakukan padaku. Entahlah, aku tidak tahu.


Keheningan terjadi selama beberapa saat yang terasa mencekam hingga dia memanggilku lagi. "Love," Aku diam. "Kumohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Setelah itu, kau bebas memutuskan apa pun. Aku tidak akan memaksamu untuk kembali padaku." katanya dengan nada memohon.


Aku menarik napas. "Spill. Waktuku tidak banyak. Aku harus bekerja dalam dua jam."


Dia tertawa. "Kau libur hari ini, love." Saat menatapnya, aku melihat dia tersenyum penuh kemenangan. "Kita ke hotel, ya? Ibuku sedang menunggumu."


Aku terdiam sejenak mempertimbangkan apakah aku harus mengikutinya atau tidak, dan pada akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah." Kurasa tak ada salahnya mendengarkan penjelasan mereka. Lagi pula, aku ingin jawaban atas semua rasa penasaran yang selama ini berkecamuk di kepalaku.


Dia memandangku dengan ragu-ragu. "Uhm, aku..." Jarinya mengetuk-ngetuk stir kemudi dengan tidak sabaran sementara dia menunduk.


Aku tahu maksudnya. "Okay, get out." Dia tersenyum puas lalu keluar dan berjalan mengitari mobil selagi aku berpindah ke bagian pengemudi. "Hotel apa?"


"Kempinski."


"Of course. Rich people do have a life. Always have a life."


"Apa kau menyindirku?" tanyanya tak senang.


"Aku mengatakan fakta. Tidak perlu tersinggung." sahutku datar.


"Kau mengenalku Bianka,"


Aku mulai melajukan mobil sambil berkata, "Aku mengenal pria hangat, lembut, dan penuh kasih sayang yang menikahiku beberapa tahun lalu. Bukan pria bajingan yang meninggalkanku saat aku kehilangan anakku." kataku dengan sinis.


Aku mendengar dia menghela napas. "Aku juga kehilangan, Rapunzel. Bukan hanya kau, jadi..."


"Jadi, kau memilih melemparkan semua kesalahan padaku seakan aku sendiri menginginkan itu? Aku tahu, aku tahu." Aku menelah ludah, berjuang menahan air mata.


"Bianka, please..."


"Don't talk. I need to focus."


"Okay."